
'Kenaa aku harus mneermia kejadian seperti tadi?' Pikir Vatler. Saat ini sedang berada di dalam kamar mandi dari rumah Risyella. Sangat kecil untuk ukuran kamar mandi jika dilihat dari sudut pandang Vatler sendiri. Tapi mau bagaimanapun dia harus menggunakannya untuk tempat dirinya mengganti celananya.
Hingga saat Vatler hendak menggantungkan celana kotornya di dinding, dia secara kebetulan juga melihat sesuatu yang harusnya sudah disingkirkan lebih dulu yaitu pakaian d*l*am wanita, yang tidak lain adalah milik wanita itu, Risyella.
'Dia wanita yang sangat ceroboh. Bagaimana bisa dia tidak memperhatikan kebersihan dan kerapian? Sampai tamu sepertiku jadi harus melihat itu!' Benak hati vatler, ternyata baru juga sampai di tempat asing, tapi dirinya sudah mendapatkan banyak peristiwa diluar perkiraan Vatler sendiri.
Merasakan beban berat ketika melihat dua hal itu, Vatler yang kebetulan melihat ada baju kotor yang menggantung disebelah pakaian d*l*am it, segera Vatler taruh untuk menutupinya.
**********
"Ma! Apakah mama kenal dengan mereka?" Tanya Risyella kepada Ibunya.
"Aku pikir mereka berdua kenalanmu." Ibunya risyella pun menggeleng tidak tahu siapa kedua tamu asing itu.
"Sana, mama saja yang bicara dengan mereka." Pinta Risyella, sduah tidak punya muka lagi untuk menghadapi mereka berdua setelah kejadian beberapa saat tadi.
"Iya. Tapi kau buat minuman untuk mereka."
"Iya." Sahut Risyella dengan singkat.
KLEK...
Mendengar pintu kamar mandinya terbuka, Risyella seketika terkejut dengan ditandai beberapa detik itu pula kedua bahunya terangkat.
".............." Tanpa sepatah kata, Vatler pergi begitu saja.
'Hah~' Dalam diam Risyella bernafas lega karena pria asing itu tidak menuntut apapun setelah apa yang terjadi.
"Sana buatkan minum untuk mereka." Pesan sang Ibu kepada RIsyella sebelum Ibunya Risyella pergi menghadap kedua tamu itu.
'Tapi kira-kira apa yang mereka bicarakan ya?' Pikir RIsyella. Sebab antara dapur dan ruang tamu letaknya cukup jauh, Risyella jadi tidak bisa mendengar apapun.
Setelah Risyella membuatkan 2 cangkir teh dan dua toples beriis biskuit, dia pun membawa keluar untuk dihidangkan pada kedua tamu itu.
"Kalihatannya kalian berdua bukan berasal dari daerah sini." Tebak Ibunya Risyella. Itu jelas terlihat dari satu koper besar dan tas yang di bawa olhe Vatler dan IBunya.
"Hahahah....anda betul Kami memnag bukan berasal dari sekitar sini ataupun kota ini. Kami berdua dari kota A, ingin sekali merasakan kehidupan di Desa. Paling lama 1 minggu, dan alasan kami datang kesini apakah kami berdua boleh menginap disini?" Ujar Marlina kepada Ibunya Risyella.
"Ibu, apa yang Ibu katakan? Kenapa harus menumpang segala?" Tanya Vatler tidak mengerti.
"Shht...!" Marlina mencubit paha Vatler dengan kuat agar tidak usah banyak bicara.
__ADS_1
"Soal itu, kam-"
"Kami bisa membayar anda, jika anda mengizinkan kami menginap diisni." Sela Marlina detik itu juga.
Di tengah-tangah pemibacaraan itu, Risyella tiba-tiba datang. "Silahkan diminum dulu." Tawar Risyella dengan nada ketus.
"Terima kasih. Jadi merepotkanmu." Sahut Marlina. Sebagai bentuk hormat pada pemilik rumah, dia langsung menyeruput teh itu. Walaupun sangat terasa murahan, Marlina tidak akan protes, karena bagaimanapun mereka berdua sudah disambut dengan cukup baik. "Ei, kamu mau kemana?" Marlina menahan Risyella untuk tidak pergi.
"Ke belanag?"
"Ngapain? Duduk diisni juga." Pinta Marlina.
'Apa yang ibu pikirkan sih? Jelas dia mau kabur. Dari sikapnya itu tentu saja dia tidak mau ikut pembicaraan ini.' Tebak Vatler.
"Namamu siapa?" Tanya Marlina.
"Risyella."
"Umurmu?"
'Kenapa dia menanyakan umur sih?' merasa canggung, Risyella hanya bisa menjawan seadanya. "Besok 23 tahun."
"Wah...Jadi besok hari ulang tahunmu?" Tanya Marlina dengan wajah senang. "Apakah hari ulang tahunmu dirayakan?"
'Pfft...ternyata dia punya sudut pandang yang berbeda dari kebanyakan perempuan yang sering aku temui. Biasanya uang tahun, harus mereka rayakan dengan meriah, tapi perempuan ini? Dari karakternya, dia pasti bukan tipe perempuan yang suka menggamburkan uang dengan hal yang tidak bermanfaat sama sekali.' Pikir Marlina, merasa tertarik dengan cara berpikir Risyella yang sebentar lagi akan berumur 23 tahun. 'Rasanya sudah cukup umur untuk Vatler.' Imbuhnya.
"Oh ya, hampir lupa. Saya Marlina dan ini anak saya Vatler, dia umurnya baru 27 tahun."
'Wah..27 tahun? AH~ Kenapa ibu ini membawa anaknya yang tampan sih?!' Risyella benar-benar lemah terhadap pria yang punya wajah lumayan itu.
"Kami berdua ingin sekali merasakan kehidupan di desa, paling tidak selama 1 minggu. Karena itu saya ingi meminta Izin, apakah kami berdua boleh tingal disini emnetara waktu?" Imbuh Marlina.
'Kenapa jadi seperti ini? Apakah IBu berbohong soal teman? Jangan-jangan tebakanku soal itu benar?' Lirik Vatler pada mereka bertiga secara bergantian.
'Kenapa dia menatapku?' Risyella sontak langsung memlingkan pandangannya ketempat lain.
"Ibu sebaiknya jangan merepotkan orang lain. Kita bisa mengingat di hot-" Vatler segera dibuat bungkam setelah salah satu kakinya di injak.
"Kami bisa bayar berapapun." Bujuk marlina.
'Jangan-jangan mereka punya modus tertentu. Berapa banyaknya? Bukankah artinya dia punya uang banyak? Kenapa juga harus menginap disini? Kan ada tempat yang lebih bagus?' Segala pertanyaan pun berdatangan menghampiri otak Risyella saat memberikan tatapan menyelidik kepada mereka berdua yang bersikap aneh dan membuat hati Risyella ada yang mengganjal.
__ADS_1
"Aku akan coba telepon suamiku." Ibunya RIsyella pun pergi untuk menelepon sang Ayah. Sedangkan Risyella di tinggal sendirian dengan kedua tamu itu.
"Maaf, tapi kenapa memilih tempat ini?" Akhirnya Risyella memberanikan hatinya untuk bertanya langsung pada orang yang bersangkutan. "Kan bisa tinggal di hotel?"
"Itu memang bisa sih. Tapi tujuan utama kami kan hidup di desa, bukan di Hotel."
'Eh? Benar juga. Tapi kenapa mereka berdua punya selera yang aneh ya?' Batin Risyella tidak bisa mengerti jalan pikiran dua orang di depannya itu.
Sampai tidak selang berapa lama, Ibunya Risyella kembai dengan membawa kabr : "Kalian boleh tinggal disini."
'Ha?!' Risyella terkejut karena membiarkan dua orang tak dikenal itu tinggal dirumahnya.
"Kata suamiku, berapa lama pun tidak masalah." Imbuhnya lgai.
'Ha?! Apa yang papa dan mama pikirkan?1 Keapa mengisizinkan mereka berdua tinggal disini?' protes RIsyella. Sekalipun ungkapan dari protesnya itu tidak bisa dia utarakan, karena Ibunya sudah terlanjur bicara seperti itu.
"Kalau begitu saya titip pesan terima kasih untuk suami anda." Kata Marlina.
"Iya."
"Vatler, lihat meraka. Akhirnya mengizinkan kita tinggal disini." Bisik marlina pada putranya yang dari tadi diam.
"Ibu sudah menggunakan cara apa sampai suaminya mengizinkan kita tinggal disini?" Tanya Vatler balik dengan nada berbisik juga.
"Kan sudah Ibu bilang, karena teman ibu." Jawabnya.
Setelah mengizinkan Ibu dan anaknya tinggal dirumah Risyella, RIsyella yang terheran karena keputusan dari sang Ayah, membuatnya terpaksa bertanya kepada Ibunya. Alasan dibalik Marlina dan anaknya di izinkan tinggal.
Setelah dijelaskan secara singkat oleh Ibunya, dari situlah dijelaskan kalau Marlina dan anaknya yaitu Vatler di izinkan menginap di rumah, sebab Bos dari tempat Ayah Risyella bekerja memiliki seorang kenalan yang ingin pergi berlibur di Desa, dan Bos dari Ayah Risyella pun merekomendasikan tempat tinggal Ayahnya Risyella sebagai tujuan dari Marlina dan anaknya berlibut.
Maka dari itu, Aahnya Risyella pun terpaksa mengizinkan mereka berdua tinggal.
'Hah~ Ternyata begitu. Tapi apakah aku bisa bertahan dengan keberadaan Vatler itu?' Risyella membatin, karena mulai hari ini, mererka akan sering bertemu. "Kalian bisa tinggal dikamar kakakku." Risyella pun menawarkan kamar kosong yang sudah tidak digunakan kakaknya lagi. Yang pada dasarnya letaknya di sebelah runag tamu persis. "Maaf jika kecil." Tambahnya.
Marlina mencoba melihatnya, dan kamarnya memang kecil. Tapi dia tidak peduli dengan itu. "Untuk apa minta maaf. Ini sduah lebih dari cukup unutk sekedar tidur, ya kan Vatler?"
Mendengar namanya lagi-lagi dipanggil, Vatler akhirnya angkat bicara. "Iya. Lagi pula kami tidak akan ting-" Mendapatkan jelingan tajam dari sang Ibu, Vatler langsung meralat ucapannya tadi. "Yang penting kita bisa tidur." Vatler seketika mengernyitkan matanya dan berpikir, 'Kenapa aku malah jadi mengatakan itu?'
'Apa?' Dari sudut pandang lain yang Risyella miliki, dia pun setengah terkejut karena kalimat ambigu dari Vatler. 'Kenapa seperti terdengar aku dan dia yang penting bisa tidur bersama?'
'Mereka berdua sangat lucu.' Marliina hanya menahan tawanya saat melihat dua orang itu punya ekspresi wajah yang sama-sama aneh, gara-gara ucapan yang terlontar dari mulut Vatler benar-benar ambigu.
__ADS_1
"I-iya." Risyella jadi ikut termenung sendiri, 'apa yang aku iyakan tadi?!' Pekik Risyella di dalam hati.
"Pfftt...." Risyella semakin terkekeh dengan tingkah mereka berdua.