Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
116 : IPHTV : Bersama ibu


__ADS_3

"Dimana Ayah?" Tanya Risyella tiba-tiba.


"Ayahmu ada diluar. Dia sedang berbicara dengan Nyonya Marlina." Jawab sang Ibu.


"Begitu ya?" Tanya Risyella dengan lirih.


Dia sebenarnya sama sekali belum melihat Ayahnya yang terus saja bekerja di kota, karena itu dia sebenarnya juga merindukannya.


Tapi karena suatu alasan yang cukup sepele, dia terasa takut untuk menemuinya. Apa alasan dari dirinya sedikit takut dengan sosok Ayahnya? Tidak lain adalah dia takut karena pernah dimarahi, dan dirinya juga pernah Ayahnya itu memarahi ibunya.


Apakah nanti dirinya juga ada satu waktu bisa di marahi oleh suaminya sendiri?


Itu hanya tinggal menunggu waktu saja.


"Bagaimana kehidupanmu bisa tinggal di rumah seperti ini?"


Mendengar Ibunya benar-benar penasaran akan kehidupannya tinggal di kota, membuat Risyella melepaskan pelukannya itu dan menjawab, "Hanya beda ukuran rumah saja, jadi tidak ada bedanya juga sih."


"Tapi kamu senang kan? Bisa dapat laki-laki setampan dan sekaya dia?"


BLUSHH....


"Jangan membicarakan itu lah Bu..aku malu." Rungut Risyella.


Ibunya Risyella pun tersenyum tipis melihat tingkah anaknya yang masih saja kekanakan. Tapi melihat Risyella sudah seperti ratu, dia jadi iri, karena tidak seperti kakaknya yang mendapatkan lelaki biasa dari kalangan biasa, Risyella justru mendapatkan jodoh yang lebih mapan dalam segala hal.


"Aku jadi bingung mau bicara apa." Kata Risyella, dengan senyuman kecut. Karena dia sungguh kehilangan kata-kata untuk membuat sebuah obrolan kecil dengan Ibunya itu.


Sang Ibu yang sudah tahu karakter dari Risyella yang tidak akan banyak bicara jika memang tidak ada yang ingin di bicarakan, maka mau tidak mau dirinya harus memberikan pertanyaan ataupun nasihat saja kepada anaknya ini.


"Tidak perlu bicara. Bertemu seperti ini saja sudah membuat Ibu sangat senang. Risyella~"


Suasana itu tiba-tiba saja berubah menjadi lebih serius. Karena itu, Risyella pun menatap wajah Ibunya itu. Tidak seperti Ibunya Vatler yang sering melakukan perawatan kepada kulitnya sehingga tampak lebih mudah dari umurnya yang sebenarnya, maka tidak dengan Ibunya ini.

__ADS_1


Umurnya sudah hampir menginjak lima puluh lima tahu, tapi karena hanya hidup biasa-biasa saja, maka jelas sekali wajah Ibunya yang sudah keriput itu.


Dari sinilah, terbesit rasa bersalah yang dimiliki oleh Risyella terhadap kedua orang tuanya, apalagi Ibunya ini.


Dua puluh tiga tahun sudah dirinya di rawat oleh kedua orang tuanya, tapi rasa sedih yang sedang Risyella alami ini adalah karena selama ini dirinya belum bisa membalas kebaikan yang selama ini kedua orang tuanya berikan kepadanya.


Karena itu, saat bertatap mata seperti ini saja, sebenarnya hati Risyella sudah merasa trenyuh. Sebab sebentar lagi dirinya akan berpisah dengan dua orang yang sudah merawatnya dengan susah payah ni.


'Ibu!' Panggil Risyella di dalam hatinya.


"Jaga dirimu baik-baik ya? Ibu sudah memberitahumu berulang kali, kalau bangun itu janngan sampai di bangunkan. Kamu paham apa yang Ibu maksud kan? Apalagi setelah ini, yang harus kamu layani adalah suamimu. Jadi jangan bermalas-malasan seperti sebelum menikah." Jelasnya.


"Iya, aku mengerti." Risyella menunduk karena merasakan kesedihan yang cukup mendalam, karena status lajangnya sebentar lagi agan berganti, dan di saat yang sama harus melayani orang itu?


Orang asing yang di kenalkan oleh Ibunya Vatler?


'Tapi memangnya aku bisa? Melihat sifatnya itu, dia seperti orang yang lebih suka menyendiri, dari mana akunya yang harus melayani laki-laki seperti dia itu?' Pikir Risyella, itu adalah salah satu kekhawatiran lain yang dia miliki itu.


"Ris," panggil Ibunya lagi. Membuat segala pikiran yang dia miliki tadi langsung dia tarik kembali.


"Semoga bahagia ya?"


Ucapan yang terdengar seperti salam perpisahan itu sontak membuat Risyella perlahan mengeluarkan buliran air matanya. 'Kenapa Ibu mengatakannya dengan nada seperti itu?'


Melihat Risyella yang hendak menangis itu, tangannya buru-buru meraih tisu yang kebetulan ada di atas nakas.


"Kenapa menangis? Nanti make up mu luntur." Peringatnya.


"Aku juga tidak tahu kenapa. Tapi rasanya sedih saja, karena aku tidak tinggal lagi dengan Ibu." Risyella meraih tisu yang diambil oleh sang Ibu, dan sedikit mengusap lembut sudut matanya secara perlahan agar make up nya tidak luntur.


"Hanya karena itu?" Senyuman tipis itu terukir di bibirnya.


"Hmm...."

__ADS_1


"Risyella, semua itu butuh proses. Maksudmu sedih itu karena kamu akan kesepian kan? Tiba-tiba hidup berdua dengan suamimu?"


DEG!


'Kenapa ibu bisa tahu saja maksud dari ucapanku tadi?' Hilang sudah rasa sedihnya karena ibunya bisa menebak dengan benar.


TOK...TOK....TOK....


"Kepada mempelai wanita, agar segera bersiap. Karena sebentar lagi acaranya akan segera dimulai." Kata seorang perempuan di luar kamar, memberikan peringatan kepada Risyella.


"Iya." Jawab Risyella. Lalu dengan buru-buru dia mengambil sepatu high hiels yang sudah disiapkan itu agar dirinya terlihat lebih tinggi?


Risyella sebenarnya tidak terlalu suka dengan sepatu yang didapatkannya itu, tapi karena hanya tinggal pakai saja tanpa perlu membayar, apalagi sepatu yang dia terima harganya juga mahal, maka mau tidak mau Risyella harus memakainya.


Alasan paling sepelenya adalah agar dirinya bisa terlihat tinggi dan mampu menyamai tinggi Vatler yang seperti tiang listrik itu.


Bagaimana tidiak, jika Vatler itu betulan punya tinggi tubuh lebih dari 185 sentimeter, sedangkan Risyella justru hanya memiliki tinggi 160 centimeter.


"Hati-hati, jangan sampai keseleo." Peringat sang Ibu.


"Iya.." Risyella mencoba duduk lebih dulu di kursi, lalu memasang sepasang sepatu setinggi tujuh centimeter itu ke kedua kakinya itu.


TAP..


"Uhh..." Tubuh Risyella sedikit oleh gara-gara sepatunya terlalu tinggi, dan kebetulan belum pernah sekalipun memakai sepatu hak tinggi.


Tapi sang Ibu benar-benar sudah bersiap dalam situasi apapun, Ibunya langsung menangkap tangan Risyella agar anaknya itu tidak sampai terjatuh dan merusak segala aksesoris yang Risyella pakai saat ini.


"Susah ya?"


"Iya. Ini terlalu tinggi." Jawab Risyella. 'Kenapa aku dapat sepatu setinggi ini. Aku benar-benar takut bisa keseleo. Jika itu terjadi, hancur sudah pernikahanku ini.' keluh Risyella.


"Seharusnya kamu berlatih dulu."

__ADS_1


'Aku mana bisa berlatih, jadwal pernikahanku saja di majukan. Jadi mana ada waktu untuk itu, bahkan aku sendiri hanya tidur dua jam saja.' Batin Risyella.


__ADS_2