Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
169 : IPHTV : Keinginan kecil yang sama


__ADS_3

'Kenapa dengan mereka berdua?' Batin gadis ini.


Dia awalnya hanyalah perempuan biasa, yang tiba-tiba tertarik dengan ketampanana dari dua orang yang ternyata ayah dan anak ini. Sehingga saat berada di bus sekolah tadi pagi, dia pun memberanikan dirinya untuk menyapa mereka berdua dengan lambaian tangannya.


Tapi siapa yang akan menyangkanya ketika rupanya hal itu membawa dirinya bisa bertemu secara langsung seperti ini?


"Jadi apa yang akan kita lakukan Tuan?" Tanyanya dengan sopan.


Vatler berdiri dan menatap perempuan di depannya itu dengan seksama, dan menjawabnya, "Kita akan bermain di sini. Itu yang di inginkannya." Lirikan matanya tertuju pada Arshel.


Tentu saja kembarannya Risya itu jadi sedikit bingung, 'Kenapa aku hanya di undang untuk bermain bersama dengan mereka berdua? Dan yang menginginkan aku agar bisa bermain adalah dia?' Perempuan ini melihat ke arah Arshel.


'Apakah Ayah sampai menyuruhnya menggunakan sotlens?' Arshel juga melihat saat ini kedua mata perempuan di depannya itu berubah jadi berwarna biru layaknya mata mereka berdua.


"Jadi kita mau bermain apa?" Akhirnya perempuan ini bertanya kepada salah satu diantara mereka berdua. Sebab sendirinya juga bingung, mau bermain apa dengan dua orang pria yang terlihat tidak tahu caranya bersenang-senang.


"Biasanya kalau perempuan bermain apa jika di pantai?" Arshel yang sedari tadi diam, akhirnya angkat bicara juga, walaupun jadi terkesan menambah suasana canggung di antara mereka bertiga.


"Biasanya mereka suka bermain air, atau membuat istana pasir. Ada banyak sih~" Perempuan ini lalu menundukkan kepalanya memberikan penghormatan kepada Vatler dan Arshel. "Terima kasih karena sudah mengundang saya agar bisa bermain dengan anda. perkenalkan, saya Arfiy." Itulah awal perkenalannya kepada kedua laki-laki di depannya tu.


'Dia seperti seorang pelayan saja, bertingkah sopan seperti itu.' Pikirnya. "Tidak perlu membungkuk. Lakukan saja yang biasanya kamu lakukan kepada teman-temanmu." Ucap Arshel selagi dia melepaskan blazer miliknya.


"B-baik." Arfiy segera berdiri sempurna dan menatap kembali kedua pria ini.

__ADS_1


"Ya sudah, ayo lakukan apa yang biasanya seorang keluarga lakukan jika sedang bermain bersama di pantai." tawar Vatler seraya menarik ujung lengan jas miliknya sampai ke siku, sehingga memperlihatkan sepasang tangannya yang berotot itu.


"Wowww..." Arfiy yang terkejut itu segera menutup mulutnya dan mengambil satu langkah mundur, saking terkejutnya melihat fisik dari tubuh Ayah Arshel yang cukup memukau.


'Perempuan memang pada dasarnya suka hal yang seperti ini ya?' Vatler pun tersenyum tipis bisa melihat reaksi lucu yang diberikan oleh Arfiy itu juga cukup mirip dengan anakny, yaitu Risya. 'Kalau Risya tidak takut kepadaku, dia pasti sudah suka minta di gendong.'


Tapi semua khayalan itu sudah tidak berguna lagi, sebab anak yang ada di imajinasinya itu tidak akan kembali ke sisinya.


"I-itu, a-apakah saya boleh memegangnya?" Mencoba bertanya dengan hati-hati.


Namun siapa yang akan menyangka kalau permintaan kecil dan sepele seperti itu membuat Vatler jadi teringat dengan Istrinya, dimana tepat di hari ulang tahunnya Risyella, yang di minta Risyella hanyalah ingin memegang tangannya Vatler.


Tidak ada satu pun yang di inginkan oleh mendiang Istrinya itu selain ingin merasakan sendiri bisa memegang tangan dan lengannya.


'Dia mirip dengan Risyella juga. Apa-apaan dengan dunia ini? Aku harus mendapatkan ujian menghadapi orang yang punya wajah dan permintaan aneh yang bisa-bisanya sama dengan Risyella dulu.' Benak hati Vatler.


"Eh..m-maaf jika tidak sopan. Maafkan sa-"


"Tidak perlu minta maaf. Kita kan sudah sepakat bisa bermain di sini bersama-sama, jadi apa yang kamu inginkan tadi, aku akan mengizinkanmu memegang tanganku." Jelas Vatler, berjalan menghampiri Arfiy yang terlihat takut akan dimarahi itu.


Setelah berada di depan Arfiy persis, Vatler kemudian mengulurkan tangannya ke depan Arfiy untuk Arfiy sentuh.


"Saya boleh memegangnya, Tuan?" Tanyanya, masih ragu dengan jawaban yang di berikan vatler tadi kepadanya.

__ADS_1


"Apakah aku harus mengatakannya dua kali?"


"T-tidak, tapi terima kasih. Sudah mau mengajak saya datang kesini dan betemu dengan anda." Jawabannya pun senantiasa sopan, karena dia memang di didik untuk sopan kepada orang lain, apalagi jika berhadapan dengan orang kaya seperti dua orang di depannya itu, maka dia pun harus menjaga sopan santunnya.


Dan seperti itulah.


Keinginan kecil yang di miliki oleh Arfiy pun menjadikan Vatler mengingat nuansa nostalgia dengan Risyella.


Seperti saat ini, Arfiy memegang tangannya Vatler dengan kedua tangan kecilnya itu.


Cukup menggemaskan, melihat dua tangan itu memegang tangannya yang memang besar dari anak SMP ini.


"Wah...tangan anda, besar dan kuat ya?" Puji Arfiy saat bisa memegang tangan vatler yang begitu berotot. Bagi Arfiy sendiri itu hal yang cukup menakjubkan. "Anda pasti sering berolahraga berat." Terka Arfiy sambil menenunng tanagn Vatler yang sangat di idam-idamkan oleh banyak wanita di luar sana.


Bagaimana tidak wajahnya sudah mendukung, di tambah punya tuuh yang bagus serta berasal dari keluarga yang kaya raya, maka sudah jelas kalau laki-laki di depannya itu menjadi banyak incaran semua wanita dari berbagai kalangan.


Tapi tidak akan ada yang menduga, bahwa laki-laki remaja yang berdiri di belakang Vatler persis adalah anaknya.


"Istri anda pasti merasa senang dan sangat beruntung bisa memiliki anda." Sebuah kalimat puji kembali di ucapkan.


Arshel yang sebenarnya geram, terpaksa harus menahannya karena sang Ayah sudah memberikan kode kedua agar bersabar.


"Ya. Apa yang kamu katakan memang benar, Istri saya senang dan sangat mencintai saya, walaupun dia sudah tidak ada di sisi kami berdua." Jawab Vatler, yang lantas membuat Arfiy segera melepaskan tanganya daripada menyentuh tangan pria ini.

__ADS_1


"Maafkan saya, saya tidak bermaksud untuk menyinggung keluarga anda. Maaf, maaf-" Entah kenapa di dalam hatinya jadi meraskan sakit yang sama ketika mendengar Tuan di depannya itu mengatakan kalau Istrinya sudah meninggal.


Makannya, Arfiy pun segera menyudahi perbuatannya dan mengambil langkah mundur dua langkah sambil membungkuk dengan kalimat permintaan maaf yang terus di ucapkan dengan nada bergetar.


__ADS_2