
‘Ah~ Begitu ya.’ Semakin lama waktu yang berjalan, kedua matanya akhirnya perlahan menutup. ‘Semua tergantung dari keinginan. Tapi memangnya apa yang aku inginkan?’ tak berselang berapa lama, Risya pun tertidur dan masuk kedalam alam mimpinya. “Ibu.” lirih Risya.
“....................” paman Ard pun sudah tidak bisa berkata apa-apa lagi, karena ternyata semua cerita singkat tadi, membuat nona muda yang dia layani akhirnya tertidur.
Tersirat sebuah kesedihan dimata paman Ard saat melihat nona muda nya tertidur dalam kesepian itu.
Tidak lama kemudian, Arshel sudah berada di depan mobil dan berjalan menghampiri pintu.
KLEK.
Ketika pintu belakang mobil sudah terbuka, dan ketika Arshel berniat duduk di kursi penumpang, dia langsung mengurungkan niatnya itu karena kursinya sudah dikuasai sepenuhnya oleh Risya yang sudah tidur meringkuk dengan tas sekolah sebagai bantal untuk kepalanya.
Arshel pun memutuskan untuk pindah ke kursi depan, dan duduk di sebelah paman Ard.
BRAK.
Paman Ard segera menyalakan mesin mobil dan menginjak pedal gas untuk meninggalkan sekolah.
“Apa tuan ditunjuk lagi untuk perlombaan?” tanya paman Ard kepada tuan Arshel.
“Ya. Mereka menginginkanku ikut lomba cerdas cermat.” jawab Arshel singkat sambil memainkan handphone nya.
“Selamat ya tuan.”
“Hm.” setelah itu Arshel melirik ke belakang. “Apa dia sudah lama tidur?”
“Belum juga tuan, Nona baru tidur 10 menit yang lalu.” jawab paman Ard.
“................” Arshel hanya menatapnya sekilas, sebelum akhirnya kembali menatap kedepan. “Begitu ya,”
Setelahnya, Arshel ikut memejamkan matanya.
Siapapun pasti akan lelah jika sudah mengeluarkan segala tenaga dan pikirannya dari pagi sampai menjelang sore.
Risya dan Arshel pun merasakan lelah yang sama, namun tetap saja mereka memiliki perbedaan rutinitas dalam kegiatan mereka.
Jika Arshel lelah karena harus menguras waktu yang digunakan dalam berpikir, maka tidak dengan apa yang dilakukan Risya.
Dimata paman Ard, apa yang Risya buang dalam seharian itu memang sama-sama dalam hal berpikir, tapi tidak hanya pikirannya saja, melainkan hatinya juga.
‘Setiap melihat tuan dan nona, hatiku tetap saja merasa sedih.’ batin paman Ard, ketika harus diingatkan bahwa dibalik keberadaan dari kedua majikan muda itu terdapat kisah kelam yang tersembunyi dengan rapat.
Lalu siapa yang tahu rahasia itu?
__ADS_1
__________________
DRRTT…….
DRRTT……
DRRTT……..
Di dalam sebuah kamar, pria yang sedang berteanjang dada dalam posisi tidur tengkurap ini sedang mencari-cari keberadaan dari handphone nya yang bersembunyi di antara bantal ataupun selimut.
Tangannya terus meraba hampir seisi kasur, sampai akhirnya dia menemukannya ada di sisi kakinya.
DRRTT…….
“Ehm….?” Pria bersurai coklat ini langsung mengernyitkan matanya saat harus melihat cahaya yang berasal dari layar handphone nya. “.................”
Karena malas membuat suara sapaan dengan kata ‘halo’ pria ini lebih suka menunggu alasan dibalik orang di ujung telepon itu menghubunginya.
“Apa kau sedang ada dirumah?”
“Hmm…”
“Aku sedang ada di depan rumahmu, buka pintunya.”
“Hmm…”
Setelah berhasil mematikan panggilan itu secara sepihak, pria ini segera melempar handphone nya lagi ke atas kasur, dan kembali menyembunyikan wajahnya di dalam bantal lagi.
TING...TONG…..
TING….TONG…..
“...................” Dalam waktu itu perempatan di dahinya langsung muncul setelah merasa terusik dengan suara bel rumah yang terus berbunyi itu.
TING….TONG…..
“Ahh~ Dasar mengganggu.” keluh pria ini.
Dengan perasaan malas yang sedang mendatanginya, pria ini tetap bangun dan berjalan keluar dari kamarnya dengan mata masih terpejam karena saking masih mengantuk.
KLEK.
Pintu pertama dari kamarnya sudah berhasil dibuka.
__ADS_1
TING….TONG…..
“Dia ini, suka sekali menggangguku jika aku sedang santai.” gerutunya.
Dengan langkah malas itu, pria ini tetap berjalan menuruni anak tangga dan pergi menuju pintu depan rumah.
TING...TONG….
KLEK.
“Kau ini berisik.” Ucap pria ini.
“Berteriak juga tidak, yang berisik kan bel rumahmu.” jawab pria ini kepada pria dari pemilik rumah.
“................!” secara emosinya langsung muncul tapi tidak bisa melakukan apapun, karena ucapan dari temannya itu memang masuk akal juga. “Jadi ada apa kau menghubungiku sampai datang kerumahku segala?” tanyanya sambil menguap lebar, karena masih merasakan kantuk yang cukup berat akibat bekerja berlebih.
“Sebelum aku menjawab pertanyaanmu, kau harus menjawabku dulu. Apa yang kau lakukan semalam sampai punya mata panda?”
“Ha? Aku baru selesai membuat sesuatu.” jawabnya dengan nada selamba.
“Wah!” wajahnya langsung bersemangat saat mendengar kata ‘membuat sesuatu’ keluar dari mulut sang pemilik rumah. “Fred, apa kau akhirnya baru saja membuat ‘baby’ dengan seorang wanita?” tanyanya dengan nada genit.
CTLAK!
“Aduh!” rintihnya, sambil mengusap dahinya yang baru saja mendapatkan sentilan keras.
“Jika kau hanya ingin membual denganku, pergi saja sana. Aku ingin lanjut tidur.” pria yang dipanggil Fred ini langsung mendorong bahu temannya itu, dan segera menutup pintu rumahnya.
Tapi semua itu tidak terjadi karena ada kaki yang menghalangi pintunya tertutup.
“Kau tidak mau pergi?” mendorong kuat pintunya, dan secara otomatis kaki itu langsung terhimpit.
“Kau yakin mau mengusirku? Bukannya kau sebulan lalu memberikanku pekerjaan untuk menemukan ‘itu’?” ujarnya, memberikan sebuah pancingan kepada Freddy agar tidak menutup pintu untuknya.
Mendengar hal itu, Freddy atau yang biasa dipanggil Fred ini, segera mengurungkan niatnya untuk menutup pintu. “Kau datang kesini, apa artinya kau sudah menemukannya?” tanya Freddy.
“Antara sudah dan belum.” jawabnya singkat, lalu berjalan masuk kedalam rumah milik Freddy ini.
“Apa kau sedang membohongiku?” tanya Freddy sambil memberikan jelingan dengan sorotan mata yang tajam, seakan dia sedang menatap musuh bebuyutannya sendiri.
“...........! Ayolah Fred, jangan emosi dulu. Aku juga belum mengatakan semuanya.” dengan percaya diri, pria ini merangkul Fredy dan pergi membawanya untuk duduk di sofa dan berbicara secara baik-baik.
“..................” Freddy terus menatapnya dengan wajah seriusnya, karena malas untuk menunggu dan mengulur-ulur waktunya. ‘Apa dia kali ini benar-benar menemukannya?’ pikir Freddy.
__ADS_1