
BRUK....
Akhirnya kisah dari satu orang, berakhir lagi.
Peti mati yang menyimpan tubuh Risya saat ini perlahan di kuburkan. Dan Vatler sendirilah yang menguburkannya.
Dia kini membuang tanah yang sempat di galinya ke dalam lubang kuburan lagi. Sampai lebih dari setengah jam kemudian, Vatler berhasil menguburkan peti mati Risya dengan cukup sempurna.
Sehingga kini hanya ada mereka berdua saja yang berdiri di depan makam milik Risyella dan Risya, dan sisanya adalah Risyella dan Risya yang sudah dalam kondisi menjadi arwah, juga sama-sama berdiri di depan makam mereka sendiri dan berusaha untuk bergandengan tangan dengan kedua pria yang masih hidup ini.
"Jadi inilah akhir dari rumah tangga kita? Vatler?" Tanya Risyella. Tangan kirinya yang mencoba seolah sedang bergandengan tangan dengan Vatler, dan wajahnya tetap menghadap ke depan, melihat bau nisan miliknya sendiri, serta adanya satu batu nisan lainnya yang merupakan milik dari anak perempuan mereka berdua.
Vatler hanya diam membisa seraya memperhatikan kedua makam itu dengan wajah penuh sesal.
"Aku akhirnya bisa bersama dengan Ibu. Terima kasih sudah mengajariku semua pelajaran yang tidak aku tahu, Arshel." Ungkap Risya dari dalam hati terkecilnya dengan tatapan sendu, melihat makamnya sendiri saat ini sudah berada di samping makam sang Ibu. "Tapi sekarang kamu tidak perlu susah payah mengajariku lagi, karena sudah ada Ibu yang akan menemani hari-hariku." Imbuhnya.
Vatler dan Arshel, mereka berdua yang mendengar hal itu sama-sama saling mengeratkan genggaman tangan mereka berdua. Sebab, teman milik mereka yang seharusnya terus menemani jalan hidup mereka berdua, kini sudah berganti alam.
"Padahal masih banyak yang harus kamu pelajari." lirih Arshel, menahan air matanya lagi.
"Kenapa juga aku harus belajar lagi. Kan aku hanyalah salah satu orang bodoh yang tidak akan tahu apa yang kamu ajari jika dalah prosesnya saja kamu saja seperti tidak punya perasaan. Yah...walaupun sekarang hal itu sudah tidak berguna, aku tetap akan berterima kasih kepadamu, Arshel.
Seangkuh-angkuhnya dirimu, masih mau mengajariku di tengah kesibukanmu sendiri, itu juga merupakan hal luar biasa sebagai kakak yang cukup baik kepada adiknya yang bodoh ini." Balas Risya. Dia pun melepaskan usahanya untuk terus bergandengan tangan depan sesuatu yang pada dasarnya tidak bisa Risya pegang sama sekali.
"Sekarang sudah tidak sendirian, ya kan?" Tiba-tiba Vatler yang sedari tadi bungkam, akhirnya angkat suara juga.
"Begitulah. Karenamu, aku jadi bisa merasakan untuk bisa bersama Risya, anak kita berdua. Aku tidak tahu bagaimana caranya menyalahkanmu. Tapi karena semua ini sudah berakhir, kita akan jalani hidup kita masing-masing." Jawab Risyella, seraya melepaskan genggaman tangan yang tidak penah terwujud itu.
Risya pun berjaln satu langkah ke depan, dan sama hal nya dengan apa yang di lakukan oleh Risya, Risyella pun melakukan hal yang sama juga. Risyella ikut melangkah ke depan dan sama-sama mengulurkan salah satu tangan mereka berdua untuk saling bergandengan tangan.
Karena sosok mereka berdua saat ini adalah sama-sama arwah, maka Risyella dan Risya pun bisa bergandengan tangan juga.
Memperlihatkan kedua belah pihak yang sudah punya tujuan masing-masing dengan kondisi dari wujud mereka berempat yang sudah berbeda.
Ketika Risyella terus menatp mata Vatler yang ternyata bisa menyimpan kesedihan juga, maka Risya pun menatap mata Arshel yang sama-sama merasakan kesedihan, tepat di sepasang mata yang sama dengan apa yang di miliki oleh Risya.
Sebuah bukti kalau mereka berdua memang saudara kembar, tapi nyatanya sudah berpisah.
"Apa tidak bisa lebih lama lagi?" Pinta Vatler dan Arshel secara bersamaan.
__ADS_1
Risyella dan Risya pun menggelengkan kepalanya pelan sebagai jawaban mereka berdua kepada kedua orang pria di depan mereka, kalau waktu mereka berdua untuk tinggal di dunia manusia sudah tidak ada lagi.
"Ayo" Risyella mengajak Risya untuk ikut bersamanya.
Risya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan senyuman dari wajah yang terlihat bahagia.
Sampai Arshel sendiri langsung terpegun melihat perubahan ekspresi Risya yang ternyata bisa memperlihatkan senyuman cerah dan secantik itu.
"Risya-" Arshel yang benar-benar jadi berat hati untuk di tinggal pergi oleh Risya, perlahan mengangkat tangan kirinya. Dia berusaha untuk meraih bahu Risya.
Sama hal nya dengan Risya yang terlihat senang bisa menemui Ibu nya yang selama ini di impikannya, maka Risyella pun merasakan hal yang sama juga.
Risyella pun untuk pertama kalinya memperlihatkan senyuman lembut layaknya seorang Ibu yang akhirnya bisa memiliki teman hidup, dan itu adalah anaknya sendiri.
'Apakah selama hidup, dia pernah tersenyum lembut seperti itu kepadaku? Kenapa aku menginginkannya? Aku ingin dia tersenyum lembut kepadaku juga. Tidak sekali tapi setiap hari.' Vatler pun mengulurkan tangan kananya ke depan. Dia ingin sekali meraih wajah itu, wajah yang sedang tersenyum cantik itu. Vatler ingin sekali bisa menyentuhnya. "Risyella-" Panggil Vatler pada wanita yang dulunya merupakan Istrinya itu.
Risyella dan Risya sama-sama menoleh ke belakang.
Risyella menatap Arshel dan berkata, : "Terima kasih sudah menjadi kakak untuk Risya ya, Arshel. Sayang sekali, aku tidak bisa melihatmu apalagi merawatmu setelah kamu lahir."
Lalu Risya menatap sanga Ayah nya juga lalu memberi pesan kepada pria itu, "Terima kasih Ayah."
Vatler mengeraskan rahangnya. Dia akhirnya bisa mendengar Risya memanggilnya ayah dengan wajah itu, wajah dengan senyuman jadi penghias bibirnya.
DEG!
Vatler jadi serasa baru saja mendapatkan sentakan yang cukup mematikan, karena apa yang di katakan oleh Risya adalah benar.
Dia memberikan segala kebutuhan Risya dengan sangat banyak juga lengkap, tapi dia tidak pernah memberikan pelangkap untuk melingkupi hati anaknya itu dengan sebuah kasih sayang, yang sebenarnya bisa Vatler berikan.
Tapi karena keegoisannya sendiri kalau waktu masih panjang, maka Vatler pun mengundur-undur pemberian kasih sayang itu, sampai Risya yang ternyata tidak memiliki waktu yang banyak itu, berakhir dengan hati yang masih belum tersentuh kasih sayang dari Vatler sendiri.
Lalu kedua perempuan itu pun menundukkan kepalanya sebagai salam perpisahan mereka berdua untuk Vatler dan Arshel.
Setelah itu, mereka berdua segera memutar tubuh mereka menghadap ke arah pohon Wisteria dan berjalan bersama melewati tengah-tengah makam milik mereka berdua.
"RISYA!"
"RISYELLA!"
__ADS_1
Satu langkah yang akan mereka berdua ambil itu langung di hentikan dengan adanya agin yang cukup besar.
WUSHH....
Karena angin itu membawa sejumlah debu, Vatler dan Arshel pun mengerahkan lengan tangan miliknya untuk menjadi sebuah tameng agar tidak matanya tidak kemasukan dengan debu.
Lalu angin yang ternyata hanya berlalu singkat itu, benar-benar membawa mereka berempat untuk saling berpisah satu sama lain.
Sebab kedua sosok perempuan yang sebenarnya mereka berdua sayangi dan cintai, kini sudah benar-benar pergi.
Dan hanya meninggalkan sebuah jejak dari aroma milik mereka berdua yang punya aroma yang sama.
WUSHH...
Angin hangan nan lembut itu pun kembali menerjang tubuh mereka berdua, sekaligus membuat seluruh bunga wisteria yang menggantung di pohon itu, ikut berkibar juga.
Sepi...
Itulah yang akhirnya di rasakan olhe Vatler dan Arshel, setelah mereka berdua benar-benar di tinggal pergi oleh Risyella dan juga Risya.
"Risya dan Ibu, sudah tidak ada. Apa yang akan Ayah lakukan setelah ini?" Akhirnya Arshel pun bertanya. Kini dia memandangi langit yang cerah, seperti senyuman yang Arshel lihat pada dua orang perempuan tadi.
Vatler hanya terpaku untuk menatap pada pohon wisteria itu dan juga anak pohon Wisteria yang tidak jauh dari tempatnya berdiri itu.
"Untuk saat ini Ayah belum punya rencana apapun selain tinggal di sana lebih lama lagi." Jawab Vatler seraya melepaskan genggaman tangannya dari Arshel.
Terbesit sebuah kesedihan, karena yang ada di depan mereka berdua adalah sunngguh keluarga kecil mereka yang sudah hancur.
Tapi apa yang mau di kata lagi, jika Tuhan lebih menyayangi Ibu dan juga Risya?
Vatler yang baru saja melepaskan genggaman tangannya dari Arshel, berjalan ke arah samping kiri dari makam milik Risyella, di mana Vatler sedang menghampiri anak pohon Wisteria itu.
Vatler meraih cangkulnya, lalu menggali sedikit dalam tanah yang menumbuhkuan pohon Wisteria yang masih kecil itu, sebab dia akan membawanya pulang, dan akan menanamnya di halaman depan persis.
"Bagaimana denganmu sendiri? Aku dengar kamu akan pindah sekolah ke luar negeri?" Tanya Vatler setelah berhasil mencangkul tanah dalam sekali percobaan, dan berhasil lah dia mendapatkan anak pohon Wisteria dengan tanah yang masih menempel pada akar pohon wisteria ini.
Arshel yang melihat sang Ayah memiliki anak pohon Wisteria yang tumbuh di sebelah makam sang Ibu, tiba-tiba membuat pikirannya tentang apa yang sedang di tanyakan oleh Ayahnya itu jadi berubah.
"Tidak." Jawabnya.
__ADS_1
Vatler yang terkejut dengan keputusan itu membuatnya langsung melirik pada satu-satunya anak yang masih tersisa itu untuk dia tatap dengan cukup dalam.
Mengerti akan tatapan sang Ayah yang menginginkan jawaban yang lebih jelas daripada satu kalimat tadi, Arshel pun menambahkannya. "Aku tidak jadi pindah."