Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
50 : IPHTV


__ADS_3

"Aku...aku sedang ikut pertandingan basket." Jawab Arshel.


"Jika saja kau terus pakai jam tanganmu-" Vatlert sudah tidak bisa berkata apapun lagi. Jika mulutnya terus berbicara, yang ada adalah Arshel akan jadi pelampiasan kesalahannya lagi.


Sekarang yang harus Vatler lakukan adalah bagaimana caranya agar Risya kembali sadar. Hanya itu saja yang Vatler harapkan.


Selepas menempuh perjalanan, mereka akhirnya sampai di salah satu gedung pencakar langit. Gedung ITVR, milik Vatler sendiri yang dia rancang sebagai tempat laboratorium komputer miliknya sendiri.


Sedangkan Arshel, dia hanya bisa melihat wajah serius dari Ayahnya saja sambil membatin, 'Apa yang sebenarnya terjadi pada Risya? Kenapa-' Arshel berusaha menghentikan pikiran negatifnya bahwa Risya meninggal.


"Tuan?! Apa yang terjadi pada nona?" Salah satu perempuan yang merupakan pegawai perusahaannya vatler.


"Kumpulkan semua tim, apapun itu kalian harus menyelamatkannya!" Perintah Vatler


pada wanita berambut pirang itu.


Wanita tersebut sesaat melihat wajah dari Nona Risya. Sama seperti apa yang akan dipikirkan orang lain, wajah Risya yang semakin pucat itu benar-benar sudah menunjukkan kalau Nona RIsya sudah tidak bisa diselamatkan.


Tapi demi membuat harapan baru, maka mereka akan mencoba yang terbaik untuk menyelamatkannya?


*****************


"Nyonya." Seorang pria muda awal 30 tahunan itu menghampiri seorang anita tua yang saat ini sedang menyiram bunga di dalam rumah kaca.


"Edwin? Apa yang membuatmu datang kemari? Apakah hadian yang aku pesan untuk kedai cucuku sudah disiapkan?" Tanya balik wanita tua ini.


Tanpa menatap lawan bicaranya itu, wanita tersebut bergeser ke kanan dua langkah, lalu kembali menyemprotkan air yang sudah diberi obat khusus untuk tanaman bunga miliknya.


"Saya sudah menyiapkannya. Tapi alasan saya datang kesini adalah saya mendapatkan berita bahwa Tuan Vatler tiba-tiba pergi ke sekolah dengan helikopter."


"Apa yang dilakukan anak itu sampai mengundang perhatian?" Gerutu wanita ini, baru kali mendengar kalau Vatler pergi ke tempat umum dengan helikopter yang akan membawanya masuk kedalam pusat perhatian banyak orang, terutama dari kalangan wanita.


"Sa-" Belum sempat menjawab pertanyaan dari majikannya itu, pria ini mendapatkan satu panggilan yang harus segera dia jawab.

__ADS_1


"Kenapa kau diam?" Merasa aneh karena anak buahnya itu tidak cepat merespon, wanita ini segera berbalik. Tapi apa yang wanita ini temukan ketika menatap pria itu, sebuah ekspresi sedih jelas terukir di wajahnya itu. Tentu sja hal itu mengundang rasa penasarannya. "Apa yang terjadi?" Alisnya bertautan, dia bertanya untuk menuntut sebuah jawaban dari anak buahnya itu.


"Nyonya~ Nona muda."


"Kenapa? Jangan membuatku menunggu! Cepat katakan apa yang terjadi dengan Risya?" Protes wanita ini.


"N-nona muda sudah meninggal." Jawab pria ini dengan ekspresi wajah takut, kalau nyonya majikannya itu melempar botol penyemprot tanaman itu ke wajahnya.


"A-apa?" Tapi tidak sesuai dengan harapan dari pria itu, wanita ini justru menjatuhkan botol tersebut ke lantai.


Ekspresi dari wajah terkejutnya jelas mengatakan kalau dia tidak menyangka kalau salah satu cucunya tiba-tiba dinyatakan meninggal?


Antara percaya dan kurang percaya, wanita ini langsung bergegas keluar dari rumah kaca.


Sama hal nya dengan mereka yang tidak ingin berlama-lama menempuh perjalanan darat karena menguras waktu, maka wanita itu pun menggunakan alat transportasi udara.


"Katakan! Kenapa Risya tiba-tiba meninggal? Dia tidak kecelakaan kan?" Tanyanya dengan wajah kekhawatirannya.


Sejujurnya dia sendiri merasa enggan untuk mengatakannya, tapi Korean tuntutan dari pekerjaannya, mau tidka mau harus menjawab dengan jujur.


"Tidak mungkin, padahal 1 minggu lalu dia terlihat sehat-sehat saja. Kau lihat sendiri kan? Bahkan Risya bisa naik ke pohon untuk mengambil kucingku, tapi kenapa-"


"Maaf jika ini lancang. Tetapi sepertinya Nona memang mampu untuk menyembunyikan penyakitnya itu." Ujar Edwin. "M-maaf jika terdengar lancang, sebenarnya ada salah satu kerabat saya yang menderita leukimia, dia bisa demam kapanpun tanpa kenal waktu, nafsu makannya perlahan berkurang, sering mual dan batuk darah, apalagi mimisan, selain itu setiap suhu udara yang ada disekitarnya berubah, itu juga akan memiliki efek langsung pada tubuhnya. Dan saya yakin, kalau Nona Risya juga mengalami itu semua, namun nampaknya Nona mampu menyembunyikan penyakitnya dengan sangat baik, agar anda tidak khawatir dengannya." Jelas Edwin panjang lebar.


Seketika wanita yang dipanggil Nyonya tersebut, teringat akan sesuatu yang cukup mencurigakan pada Risya saat 1 minggu alu Risya pergi mengunjunginya.


'Benar! Waktu itu Risya hanya makan sedikit dan beralasan sudah makan, dia juga tidur cepat. Aku juga sempat mendengarnya terbatuk, lalu berbeda dengan beberapa bulan yang lalu, Risya bisa memakai baju yang sedikit kekinian, mengikuti trend pakaian anak muda zaman sekarang, aku melihatnya dia memakai pakaian berlengan panjang!'


Dan tebakannya tepat sekali, saat seseorang menjalani kemoterapi maka ada satu waktu dimana di beberapa bagian tangan akan mendapatkan suntikan. Karena itu, demi menutupi bekas dari jarum suntikan, Risya memakai baju berlengan panjang.


"Nyonya, kita sudah sampai." Beritahu sang Pilot.


Tanpa basa-basi lagi, dengan pakaian yang masih memakai baju biasa layaknya seorang petani desa, wanita itu buru-buru keluar dari helikopter.

__ADS_1


"Anak itu memang tidak bisa di andalkan," gerutu wanita ini saat masuk kedalam lift.


RTING!


Bel lift tanda tujuan dari lift sudah sampai, langsung membuat wanita tersebut menggerakkan kembali sepasang kakinya yang masih kuat untuk berjalan cepat di usianya yang hampir menginjak umur 67 tahun itu.


Sesaat setelah keluar dari Lift, dia tidak sengaja melihat cucu laki-lakinya sedang berdiri sambil bersandar ke tembok.


Terlihat ekspresi wajah Arshel yang terlihat sedih merenungi atas kejadian yang menimpa saudarinya. Hingga Arshel pun menyadari keberadaannya, langsung menoleh kearahnya sambil memanggil "Nenek?"


Benar...


Wanita yang sudah berusia senja ini adalah Nenek dari Arshel dan Risya, sekaligus ibu Vatler.


"Dimana Ayahmu?" Tanya wanita ini sambil mengusap ujung kepala Arshel.


"Ayah..ada di dalam." Sahut Arshel singkat, dengan wajah kembali murung. Samapi Arshel juga turut melihat ekspresi neneknya yang terlihat sedih bercampur dengan amarah.


"Arshel, kamu diluar saja dulu. Nenek ingin menjenguk Risya."


".............." Arshel hanya memberikan anggukan pelan.


Setelah mendapatkan persetujuan dari Arshel, wanita ini masuk kedalam kamar.


"NYonya?!" 3 orang dokter yang ada di dalam kamar tersebut sontak langsung terkejut dengan kedatangan dari Ibunya Vatler, Nyonya.Marlina.


"Keluar." perintahnya. Dan dengan menurut, mereka bertiga pun buru-buru keluar dari sana, memberikan ruang kepada dua majikan besar mereka.


Nyonya Marlina sekilas melirik kearah selimut putih yang menutupi tubuh seseorang. Dia berjalan kearah sisi kanan dari tempat tidur itu. Setelahnya, Ny.Marlina membuka ujung dari selimut yang menutupi wajah RIsya?


"Akh~ Risya?" Panggilnya dengan nada bergetar. Butiran air mata yang awalnya menggenang di pelupuk matanya, akhirnya tumpah juga.


Terlihat wajah Risya yang begitu tenang, seakan merasakan kedamaian setelah mengarungi berbagai cobaan hidup yang begitu pahit juga berat untuk ditanggung oleh tubuh yang terlihat lebih kurus dari terakhir Ny. Marlina lihat.

__ADS_1


__ADS_2