Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
132 : IPHTV : Menurunkan


__ADS_3

Tok...tok..tok...


Suara ketukan pintu itu berhasil menyita perhatian Risyella yang sedang kesusahan untuk melepas resleting dari gaun pengantinnya.


"Ya, tunggu sebentar." Ucapnya, agar orang yang baru saja mengetuk pintu itu menunggunya sebentar, karena Risyella sendiri sedang kesusahan, gara-gara gaunnya yang cukup berat itu menyusahkan dirinya untuk membawanya pergi lagi ke ambang pintu.


KLEK...


Satu-satunya orang yang bisa mengetuk pintu kamarnya ketika di Villa hanya ada dua orang pengantin baru, itulah dia, Vatler.


Vatler memandangi Risyella dari atas sampai bawah. Tidak ada perubahan sama sekali dalam penampilannya, padahal sepuluh menit yang lalu dia sudah menyuruh Istrinya itu agar pergi mandi dan mengganti pakaian.


"Apa kamu ingin terus memakai itu hingga kamu sakit? Kalau suka, aku bisa membelikannya yang lain. Tapi jangan sampai kamu saki, itu akan sangat merepotkan, kan?" Kata Vatler, tanpa basa-basi lagi dia dengan beraninya langsung menyelonong masuk kedalam kamar yang di huni oleh Istrinya itu.


Revina menautkan kedua alisnya, dan mejawab. "Siapa yang bilang ingin memakai ini terus?" sedikit mengangkat sisi gaun pengantinya, lalu dia berbalik dan melihat Vatler sudah duduk di tepi tempat tidurnya.


Seperti yang di dug,a aroma sabun dan sampo yang lewat itu benar-benar berasal dari suaminya yang tampan bertampang tembok beton yang dingin sedingin es.


"..........?" Vatler tentu saja menyadari tatapan yyang diberikan Risyella kepadanya. Tapi Vatler lebih memilih diam, karena dia sudah tahu akan tatapan yang dimiliki oleh wanita yang baru saja menginjak umur dua puluh tiga tahun itu.


Itu adalah tatapan mata sedang terpesona kepadanya, jadi Vatler pun mau tidak mau harus memaklumi tindakan yang dilakukan oleh Risyella itu.


"Tapi buktinya kamu masih memakai gaun itu." Sahut Vatler atas ucapannya Risyella barusan, kalau Risyella sebenarnya tidak akan memakai gaun itu terus? Lalu kenapa Risyella masih memakainya?


Risyella menggeleng pelan kepalanya untuk menyadarkan otaknya yang terus saja dipenuhi dengan wajah suaminya yang terus saja memikat minatnya untuk tidur bersamanya.


"Ini...gara-gara aku tidak bisa menggapai resleing yang ada di punggung aku."


"Kamu kan bisa merobeknya dengan cara di gunting?"


Risyella sedikit mundur, dan berkata. "Mana bisa, ini kenang-kenangan paling menakjubkan untukku. Lagi pula ini kan mahal, kenapa juga harus di digunting?" Protes Risyella atas saran tidak berguna yang dimiliki oleh Vatler.

__ADS_1


"Jadi maksudnya, kamu ingin aku membantumu?" Akhirnya Vatler pun menanyakan hal itu pada Risyella yang terlihat sudah berharap dari tadi, untuk mendapatkan bantuan dari orang lain? Tidak, tapi kepada suaminya sendiri.


"I-iya." Lagi-lagi telinganya memerah karena malu, saat mendengar pertanyaannya Vatler.


Padahal itu adalah pertanyaan sederhana, tapi sayangnya di Risyella sendiri, itu adalah pertanyaan yang paling Risyella tunggu.


Untuk sesaat kamar itu pun dalam keheningan yang cukup hakiki. Padahal ada sepasang pengantin baru, dan benar-benar baru resmi menjadi pasangan suami dan istri yang sudah sah di mata agama juga hukum, akan tetapi sebagai dua orang asing yang terpaksa menjalin kisah rumah tangga itu, mereka berdua pun dalam suasana aneh dan cukup canggung.


Bagaimana tidak aneh dan canggung, ketika Vatler yang tidak begitu peduli dengan wanita, semenjak dirinya menjalin hubungan dengan Risyella ini, Vatler lumayan menyadari semua yang dia lakukan itu seakan adalah sebuah perhatian khusus untuk wanita di depannya itu.


Sedangkan Risyella sendiri, dia merasa canggung karena notabene dari diri Risyella sebenarnya adalah dia tidak begitu dekat dengan seorang pria.


Tapi apa yang terjadi di hari ini dan beberapa hari sebelumnya?


Itu adalah hubungan yang baru pertama kali dia lakukan sampai dimana dirinya, tiba-tiba saja punya keberanian untuk mencium bibir dari pria yang terlihat bisa memarahinya kapan saja, karena tatapan dari sorotan matanya yang tajam itu cukuplah menusuk.


Vatler pun beranjak dari tempat tidur, dan berjalan menghampiri Risyella yang sedang di landa perasaan malu lagi?


"Kenapa pakai tanya itu sih? Aku malu karena kamu pria."


"Lah..memangnya aku harus jadi wanita agar kamu tidak malu?" Satu pertanyaan aneh itu tiba-tiba muncul begitu saja. 'Kenapa aku menanyakan hal konyol?'


"B-bukan begitu juga. Maksudku...penampilanmu itu, kenapa selalu waw...aku otomatis ya malu."


Vatler langsung tercengang dengan jawaban aneh Risyella itu.


'Kamu membuatku terpesona, siapapun yang melihatnya pasti akan merasakan hal yang sama sepertiku.' Batin Risyella.


Tidak mau membuang waktu lagi dengan bahasan aneh itu, Vatler pun meraih resleting yang ada di belakang punggung Risyella persis.


SRETT....

__ADS_1


Dan Vatler pun menariknya sampai bawah, hingga punggung Risyella sepenuhnya terlihat, dan tentu saja tidak terlihat kalau Risyella memakai bra.


Tentu saja hal itu berhasil membuat vatler bertanya-tanya pada dirinya sendiri, "Apakah model gaun seperti ini, membuatmu tidak memakai dal*a*manmu?"


".........!" Risyella mengangkat kedua bahunya terkejut, karena Vatler ternyata bisa bertanya seperti itu secara gamblang kepadanya? "Aku hanya menuruti perintah orang yang membantu aku memakai gaun ini." Jawab Risyella.


CTASS....


'Kenapa aku jadi bertanya langsung? Dia pasti jadi berpikir tentangku hal yang bukan-bukan.' terka Vatler, saat sadar dengan pertanyaan tadi ternyata langsung keluar dari mulutnya juga.


"Jadi...ya begitu. Aku tidak memakai apa yang kamu tanyakan tadi." Imbuh Risyella, menjadi penjelasan paling akurat untuk Vatler yang padahal tidak bertanya lebih dari itu.


'Kenapa dia melanjutkan jawabannya? Padahal aku tidak membutuhkan penjelasan lebih. Dia jadi seperti seakan ingin aku untuk melakukan sesuatu kepadanya. Ah...jangan-jangan Ibu sudah memerintahkan mereka untuk melakukan ini kepada Risyella. Mereka pikir aku ini apa? Aku tidak akan tergoda dengan tubuh kec-' Sayangnya semua kalimat di dalam pikirannya itu segera menggantung, sebab ketika dia melihatnya lagi, pungguh Risyella yang terlihat putih dan bersih itu, cukuplah menggoda?!


Vatler buru-buru menggeleng pelan kepalanya juga agar semua pikiran itu menghilang dari dalam kepalanya.


"Sudah-" Vatler mengatakan itu agar kecanggungan itu lepas lagi.


"Terima kasih." Kata Risyella. Dia pun berbalik seraya memegangi gaun bagian dadanya, agar tidak melorot. Setelahnya Risyella pun pergi masuk kedalam kamar mandi.


"Tunggu, kamu tidak bawa handukmu?"


"A-ahh...aku lupa. Tapi handuk punyaku ada di dalam bagasi mobil."


Vatler pergi menuju lemari, dan mengambilkan handuk kimono yang tersimpan rapi di dalam tumpukan, setelah itu, dia memberikannya kepada Risyella.


Risyella mengambilnya dengan menggunakan tangan kanan, tentunya. Akan tetapi karena hal itu juga, lengan di bagian kanannya pun jadi melorot.


"...........!" Sadar dengan hal tersebut, Risyella langsung saja kabur dari hadapan Vatler.


BRAK...

__ADS_1


"............" Tapi tidak sepeti yang dipikirkan Risyella jika Vatler memperhatikan bahunya yang polos itu, sebenarnya Vatler sedang mencoba memperhatikan punggung Risyella itu, karena dia tidak sengaja melihat adanya bekas luka yang cukup jelas di sana. 'Dia pernah terluka? Kenapa aku tidak menyadari saat dia memakai pakaian renang, kemarin ya? Dia dapat luka itu dari mana? Tapi melihat dari jenis bekas jahitannya, itu pasti luka hasil dari tikaman pisau. Jadi dia pernah mengalami hal buruk.'


__ADS_2