
"Apa? Kenapa kenapa kamu tiba-tiba jadi cengeng seperti itu?" Tanya Risya.
Mendengar adanya suara yang cukup familiar, Arshel yang saat ini sedang menahan kesedihannya di dalam kamarnya sendiri, dan dalam kondisi menyembunyikan wajahnya di dalam tumpukan kedua tangannya yang ada di atas meja, perlahan menoleh ke samping kiri.
Saat itu, Arshel langsung membelalakkan matanya, sebab adiknya saat ini sedang duduk di atas meja belajarnya sambil menghitung sesuatu dengan ke sepuluh jarinya.
"Bukannya kamu laki-laki, aku pikir tampangmu yang seperti tembok yang cukup mirip dengan Ayah, tidak membuat orang sepertimu bisa menangis seperti itu.
Yah...pada dasarnya, lelaki itu menyedihkan. Di luar terlihat tegar, tapi nyatanya di dalamnya cukup rapuh, seperti tulang yang keropos.
Tapi semua itu, tidak ada bedanya dengan aku, aku juga sepertimu. Jika aku di kamar sendirian, maka-" Risya kemudian menoleh ke arah Arshel dan berkata lagi. "Aku juga akan menangis dalam diam sepertimu ini." Ungkap Risya.
"Jadi kamu juga seperti ini, jika di dalam kamar? Apakah seperti waktu itu?"
"Ya...aku anak yang cengeng. Tapi aku tidak mau memperlihatkannya kepadamu, karena aku malas jika di hina olehmu terus. Sakit tahu, jika di hina. Tapi akhirnya kamu merasakan sakit hati juga kan, karena aku akhirnya bisa meninggalkanmu.
Eh..sakit tidak? Jangan-jangan kamu bahagia?
Aku tidak punya ke pekaan yang tinggi seperti orang lain jika tidak mengatakannya kepadaku langsung, jadi aku tidak tahu, kamu sebenarnya sedih atau bahagia, kan tidak ada yang bisa membuatmu marah lagi, karena aku sudah tidak ada di dunia ini lagi." Jelas Risya panjang lebar.
Arshel tetap pada posisinya, hanya melihat punggung Risya yang saat ini ada di depannya, tengah duduk di atas meja belajarnya dengan pakaian seragam sekolah, menjadi penampilannya saat ini.
Ya..itu seragam terakhir yang menjadi akhir saksi bisu si pemilik menghembuskan nafas terakhirnya.
"Aku sedih."
"Ha? Jangan-jangan aku salah dengar nih, seharusnya waktu itu telingaku di bersihkan sebelum aku mati, biar aku mendengarnya lebih jelas apa yang kamu katakan tadi." Ugkap Risya dengan terang-terangan, tanpa memperdulikan Arshel yang saat ini jadi semakin bersalah sendiri, karena perempuan yang ada di depannya itu keberadaannya sudah lagi ada di dunia ini.
"Coba katakan lagi, aku ingin dengar, apakah telingaku ini tidak rusak?" Imbuhnya, mencoba memprovokasi Arshel yang masih menitiskan air matanya.
__ADS_1
Karena terpancing dengan apa yang Risya itu katakan, Arshel pun tanpa ada kata sabar langsung berteriak, "Aku sedih kehilanganmu Risya! Jangan membuatku mengulanginya lagi! Apa kamu paham?!"
Risya yang sesaat tadi hanya mencoba membuat lelucon, kini ekspresinya jadi diam dalam seribu bahasa.
Seorang Arshel menangis dalam diam di dalam kamarnya sendiri.
Apa yang laki-laki batu ini tangisi?
Arshel menangisi kepergian Risya?
"Jadi, aku tidak salah dengar?" Tanya lagi Risya dengan ekspresi wajah antara percaya dan kurang percaya.
"Ya! Kamu tidak salah dengar! Aku benci mengatakan ini, tapi-" Arshel langsung mengangkat kepalanya, air matanya masih mengalir, dan ekspresi dari wajah Arshel yang sedang menangis itu pun Arshel perlihatkan kepada Risya dan berkata lagi dengan cukup lantang."Aku sengat kehilanganmu Risya! Karenamu, sekarang aku sendirian!" Ungkap Arshel lagi.
Dalam seketika itu juga kedua mata Risya membulat dengan cukup sempurna, karena dia terkejut mendengar pernyataan dari Arshel ini, ketika akhirnya pria ini bisa mengunkapkan perasaannya dengan lantang terhadapnya, sampai memperlihatkan ekspresi dari wajah cengeng itu.
Itu benar-benar sungguh di luar dugaan.
Senyuman yang pastinya sangat jarang Risya perlihatkan kepada orang lain, kecuali kepada paman Freddy.
"Aku tahu, kamu pada akhirnya bisa merasakan rasanya kesepian kan? Karena selama aku hidup, aku juga merasakan rasa sepi itu Arshel." Beritahu Risya seraya mengepalkan tangannya dan meletakkannya di depan dada.
"Perasaan sakit hati ini, sudah sering aku rasakan. Tapi lebih dari pada itu semua, rasa sepi yang aku miliki ini adalah sesuatu yang yang sering aku dapatkan selama aku hidup ini.
Kamu tahu apa artinya? Itu sesuatu yang tidak bisa di isi jika bukan orang itu yang mengisinya.
Paman Freddy selalu menemaniku, dia memang jadi pengisi rasa sepi dari kesendirianku dalam menghadapi rasa sakit yang aku rasakan di tubuh ini." Risya kemudian mengangkat kedua kakinya ke atas meja juga, dan membuat sebuah posisi meringkuk sambil memeluk lututnya sendiri. "Tapi dia tidak bisa benar-benar mengisi apa yang kosong di dalam diriku ini Arshel. Tidak ada seorang pun, karena setiap harapan yang aku miliki agar Ayah bisa menjadi pengisi kekosonganku ini, tidak pernah terwujud, makannya aku memilih lebih baik Ibuku saja agar dia menemaniku dalam kesepianku ini.
Dan itu semua sudah terwujud. Aku sudah lebih baik, tidak merasakan sakit, sepi, dan apalagi rasa dingin yang biasanya aku rasakan setiap kali aku demam karena penyakitku ini.
__ADS_1
Jadi tidak usah merasakan bersalah karena waktu itu membuatku kerja rodi sebagai murid dadakanmu itu." Imbuh Risya.
Mendengar penjelasan dari ungkapan milik Risya yang cukup panjang lebar, seketika membuat Arshel jadi tesadar kembali, kenapa Risya waktu itu menagis sejadi-jadinya saat hanphone yang Arshel lempar itu rusak, adalah karena di sanalah satu-satunya ada satu nomor yang bisa Risya hubungi saat kondisinya sedang dalam keadaan memburuk, sekaligus di dalam handphone nya Risya, disana sebenarnya ada beberapa foto milik Risyella, yaitu Ibu mereka berdua.
'Jadi itu alasannya dia langsung kabur dari rumah. Karena dia pergi untuk menemui orang yang tadi di sebutkan itu? Paman Freddy? Dia orang yang selalu menemani Risya saat dalam kondisi sakit?' Karena mendengar kenyataan yang sungguh di luar dugaan, karena dia sadar, kalau yang ada di depannya itu adalah halusinasi belaka, tapi sayangnya Arshel merasa kalau itu adalah jawaban yang cukup nyata.
"Jadi jaga dirimu baik-baik, apalagi karena aku sudah tidak ada lagi-" Risya pun turun dari meja, dan merapikan seragamnya yang dirasa kusut itu. "Jadi tidak akan ada yang mengusikmu lagi apalagi mengomelmu, karena kamu dulu yang selalu membuat rusuh." tambahnya.
Melihat Risya yang Arshel halusinasikan akan segera pergi, Arshel langsung berdiri. Dia mulai mengambil satu langkah ke depan, lalu mengulurkan tangan kanannya ke depan.
"Risya, kamu mau kemana?" Tanya Arshel dengan ekspresi wajah tercengang. Sebab kali ini, dia benar-benar melihat satu punggung yang akan meninggalkannya?
Risya kemudian menoleh ke belakang dan berkata : "Kemana lagi? Ini sudah bukan lagi duniaku, jadi aku harus kembali ke tempat asalku." Jawabnya dengan lugas.
Karena mau di tinggal lagi, Arshel pun dengan buru-buru melangkah cepat ke arah depan, dan langsung..
"Tunggu." Pintanya, dan segera merentangkan kedua tangannya untuk memeluk Risya itu, sebelum perempuan ini benar-benar pergi dari hadapannya.
"Aku sudah tidak bisa menemanimu lagi, selamat tinggal." Kata Risya dengan sebuah akhir dari senyuman iba menghiasi bibirnya.
Dan akhirnya...
GREP...
Arshel hanya bisa memeluk angin kosong saja.
"R-Risya!" Panggil Arshel dengan keras. "Arghh...! Kenapa kamu meninggalkanku?!" Dan Arshel akhirnya hanya bisa memeluk dirinya sendiri dan berakhir dengan tangis yang kian pecah.
Karena Risya, dia tidak akan kembali kedalam kehidupannya, dan saat ini Arshel benar-benar akan hidup sendirian.
__ADS_1
"Maafkan aku, seharusnya aku jadi kakak yang baik, tapi aku-" ucapannya pun Arshel telan kembali.
Dia sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa lagi, karena semuannya benar-benar sudah berakhir.