
Esok harinya.
Pagi itu, tidak seperti biasanya di mana rumah itu akan memiliki banyak sekali kehangatan, karena semua orang bisa makan bersama di meja bersama, aka tidak dengan hari ini.
Disini, pagi hari yang biasanya di isi dengan kesibukan sang Bibi Jeni untuk memasak kedua majikannya yaitu untuk Arshel juga Risya, maka hari ini hanya ada Vatler saja.
Pria yang biasanya pergi untuk bekerja dan akan pulang paling tidak satu atau dua minggu sekali, kini benar-benar ada di dapur untuk memasak.
Sampai Arshel yang baru saja turun dengan mulut menguap dalam kondisi masih setengah sadar, langsung di buat sadar sepenuhnya, setelah melihat sang Ayah rupanya bisa memasak?
"Ayah memasak?"
"Kalau bukan masak memangnya Ayah sedang melakukan apa?" Tanya balik Vatler.
"Buat ramuan?" ledek Arshel.
Mungkin memang karena aura yang dimiliki Vatler yang selalu saja terlihat gelap dan suram, maka Arshel yang berdiri jauh di belakangnya, jadi memiliki satu kesan yang cukup kuat, kalau Ayahnya sedang membuat rencana jahat untuk orang-orang yang berhasil mengusiknya.
'Lihat saja sorotan matanya. Ayah memang sungguh-sungguh terlihat seperti orang yang sedang merencanakan hal jahat dengan masakannya sendiri.
Sebenarnya aku penasaran, kenapa Ibu bisa jatuh cinta dengan Ayah yang sifatnya saja bisa langsung mengatakan hal kasar, dan kelihatannnya Ayah juga melakuan hal yang sama dengan Ibu. Di abaikan, aku merasa begitu, tapi kenapa Ibu bisa suka dengan Ayah? Apakah hanya karena wajah Ayah yang tampan itu, makannya Ibu bisa bertahan dengan rumah tangganya? Tapi sampai detik ini pun, aku akhirnya tidak pernah melihat wajah Ibuku.' Tiba-tiba Arshel jadi melamun sendiri.
Memang, baru juga satu hari di tinggal pergi saudarinya untuk selama-lamanya, tapi-
Tapi ketika Arshel menoleh ke belakang, tepatnya di pintu kamar Risya, dia benar-benar merasa kalau waktu yang berlalu itu sudah seperti satu bulan.
'Aku juga sangat jarang bisa makan bersama.' Melirik ke arah meja makan, dimana di ujung meja yang menjadi tempat duduk favorit Risya, kini sudah kosong. 'Dan Ayah, dia bahkan menyiapkan empat piring. Padahal yang hanya perlu di siapkan itu dua piring saja, kenapa jadi empat piring?'
Arshel yang penasaran itu pun pergi menghampiri sang Ayah yang sudah selesai memasak dan saat ini sedang menyiapkan makanan untuk di letakkan di atas meja makan.
"Ayah, kenapa di meja ada empat piring?"
Menyinggung piring yang memang sengaja di letakkan atas meja makan, padahal hanya untuk dua orang saja, membuat Vatler hanya diam saja.
Melihat keterdiaman sang Ayah, Arshel pun ikutan diam. Dia salah, dia salah karena menanyakan hal yang sensitif itu kepada Ayah nya yang pastinya masih dalam posisi merasa kehilangan.
Tidak seperti Arshel yang meraakan kehilangan Risya saja, sebab dari awal Ibunya sudah tidak ada, maka Vatler jauh lebih berbeda ketimbang Arshel.
Vatler mengalami dua insiden yang sama, dimana dia di tinggal pergi sang Ibu yang meninggal karena melahirkan, dan Risya yang meninggal karena suatu penyakit.
Rasa sedih itu pun kembali menghantui Arshel, sebab Arshel sungguh tidak terbiasa dengan keheningan yang terjadi saat ini.
'Padahal di jam-jam seperti ini, aku biasanya sudah bertengkar dengan Risya. Tapi sekarang?' Arshel pun menarik salah satu kursi yang ada dan memilih duduk di sebelah kanan dari sisi meja itu, dan membiarkan kursi paling ujung yang ada sebelah kiri Arshel persis itu kosong, karena Vatler dan Arshel pun tahu, kalau tempat itu adalah tempat favorit Risya.
Sedangkan di seberang meja Arshel, adalah kursi Favorit milik Risyella sang istri Vatler sekaligus Ibu untuk mereka semua.
Karena itu, Vatler jadinya duduk di sebelah kursi kosong yang ada di sebelah kursi milik Risyella.
"Sepi ya?" Tiba-tiba Arshel bertanya. Kepalnya menunduk, menatap piring kosong miliknya, dan ekspresi wajahnya terus mengisyaratkan rasa sedihnya, karena hari ini adalah hari pertama mereka menjalani hidup berdua saja.
Tanpa Ibu, dan tanpa Risya.
Takdir yang begitu menyakitkan hati Arshel dan Vatler, sebab mereka berdua harus menghadapi ujian berat itu bersama-sama.
"Hm.." Dehem Vatler. Dia sendiri pun tidak tahu harus berkata apa untuk menjawab pertanyaan yang jawabannya saja sudah cukup jelas, kalau suasana di rumah Vatler saat ini lebih sepi dan terasa lebih dingin. Bahkan menurut Vatler sendiri rasanya lebih dingin ketimbang dulu pernah di kosongkan, sebelum dirinya menikah dengan Risyella.
__ADS_1
Dan kedua laki-laki itu pun hanya menatap sendu piring kosong mereka berdua, sekalipun di depan mereka berdua sudah ada beberapa santapan makanan untuk di jadikan sarapan mereka berdua.
Vatler memejamkan matanya, dan hasilnya dia jadi membayangkan kalau di sebelahnya ada Risyella yang sedang duduk di sebelahnya, juga Risya yang duduk di kursi utama.
"Kenapa wajah suamiku bisa tetap awet muda seperti ini. Aku sungguh iri, bahkan sangat..sangat iri sekaligus beruntung, kalau aku bisa mendapatkan pria sepertimu Vatler." Ucap Risyella dalam khayalan yang bisa Vatler buat kapan saja.
Dan saat ini Risyella tidak terlihat berminat untuk makanan yang ada di depannya itu, melainkan lebih berminat untuk terus menatap wajah Vatler.
"Jadi aku sebenarnya cukup penasaran juga, aku menyukaimu karena kamu punya tampang dan penampilan yang sesuai dengan seleraku. Jadi itu termasuk definisi jatuh cinta padamu atau bukan ya? Kalau iya, apakah aku terlalu egois, karena aku saja tidak bisa secantik seperti wanita yang pernah kamu temui, tapi aku sendiri ingin memiliki pria sepertimu." Ungkap Risyella, tidak bisa mengalihkan perhatiannya dari Vatler yang akhirnya menoleh ke arah samping kanan dan menatap lembut wanita yang sejujurnya sudah tidak ada itu.
'Tidak masalah jika punya keegoisan, dan untuk apa merasa minder kalau wajahmu di lihat tidak cantik, padahal...di mataku saja wajahmu cukup cantik.' Pikir Vatler. Karena waktu dulu, dia pernah mendengar guman yang sama persis seperti itu dari mulut Risyella sendiri, dan jawaban itu akhinya baru terjawab hari ini oleh Vatler.
"Tapi karena kamu sudah menjadi suamiku, aku jadi tidak akan bosan, memandangi wajahmu. Bahkan setiap hari...setiap hari pasti aku bisa melihat wajahmu saat bangun tidur, ya kan?"
Tapi kenyataannya, sampai terakhir sekalipun, Vatler dan Risyella selalu tidur di kamar terpisah.
Jadi apanya yang bisa Risyella nikmati, di kala diri vatler saja lebih suka menghilang di pagi hari dan pulang di malam hari pula.
'Kalau saja waktu memang bisa di putar. Aku ingin memperbaiki kesalahanku.' Vatler kembali menatap piringnya dan mulai memejamkan matanya kembali. 'Aku sangat ingin bersama dengan Risyella lagi. Terlepas seberapa banyak kecerobohan yang dia lakukan, aku sudah sadar, kalau aku memang sungguh mencintainya. Risyella, Risyella, Risyella, aku sangat ingin sekali bisa memperbaiki hubungan kita. Apakah permintaan yang seperti ini, bisa aku dapatkan? Risyella, kamu pasti dengar kan? Apakah kamu setuju jika kita bisa mengulang kembali kisah kita dari awal?' Pikir Vatler.
Dia benar-benar memiliki harapan yang sangat dalam pada waktu yang ingin bisa Vatler putar kembali.
Tapi apakah semua itu bisa vatler wujudkan?
"Hah~" Vatler tiba-tiba saja tersenyum tipis na pikirannya pun jadi berkata lain. 'Mana mungkin kan? Ini kan bukan dunia fantasi. Mana mungkin hal yang aku inginkan seperti bisa kembali ke masa lalu bisa terjadi.'
Jadi Vatler pun hanya bisa mengimajinasikan saja jika dirinya bisa kembali ke masa lalu.
'Apa yang ayah pikirkan lagi? Dia tidak jadi gila kan, karena kepergian ibu dan Risya?' Pikir Arshel, melihat Ayahnya yang ada di seberang meja itu tiba-tiba saja mengumbar senyuman tipis.
"Cepat makan, Ayah yang akan mengantarmu ke sekolah." Perintah Vatler secara tiba-tiba.
Sampai Arshel yang hendak menyuapkan sesuap nasi ke dalam mulutnya, nasi itu justru terjatuh kembali ke atas piring saking terkejutnya.
Arshel yang biasanya akan di antarkan oleh sang supir pribadinya, kini sang supir itu adalah seorang Ayah yang mempunyai ratusan juta pesona?
Apa yang akan di katakan oleh semua orang jika mereka semua melihat ini?
Kalau pria yang punya wajah mirip dengannya itu adalah benar-benar sang Ayah yang selama ini lebih menyibukkan dirinya dalam bekerja?
"Apakah Ayah sendiri yang akan mengantarkanku?"
"Kalau bukan Ayah lalu siapa lagi? Aku sudah menyuruh supirmu yang kemarin itu pergi dari sini, jadi tidak akan ada orang lain lagi yang akan mengantarmu kecuali Ayah. Apakah kamu keberatan?" Kata terakhir yang berisi satu pertanyaan simpel itu membuat Arshel buru-buru angkat bicara lagi.
"Tidak." Arshel mendundukkan kepalanya, dan kembali menatap makanannya sendiri sambil mengulas senyum simpul. "Jika saja waktu itu Ayah lebih awal melakukan ini, Risya pasti senang."
Vatler yang hendak mengangkat sedoknya pun langsung terdiam, menatap Arshel yang terlihat begitu kesepian.
"Hmm...harusnya Ayah melakukan ini lebih awal." Vatler pun jadinya mengiyakan akan kesalahannya sendiri di depan Arshel.
Setelah itu tidak ada lagi pembicaraan diantara mereka berdua.
_________
BRRMMM.........
__ADS_1
Tidak seperti biasanya, dimana Arshel akan di antarkan dengan mobil sedan berserta seorang supir prbadi, maka kali ini kedatangannya berbeda.
Dia memiliki supir pribadi, seorang juru masak pribadi dan sekaligus orang yang memerankan sebagai Ayah.
Vatler.
Setelah sekian lama menjadi sosok yang misterius di kalangan banyak orang apalagi sekolah yang di tempati oleh Arshel untuk menimba ilmu, kini Vatler pun memperlihatkan wajah aslinya di depan umum.
Mobil mewah dengan pintu kap terbuka itu menjadi alasan wajahnya langsung terpampang jelas di sepanjang jalan.
"Apakah tidak ada cara lain agar bisa membuat orang lain lebih heboh?" Tanya Arshel seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. Setiap kali mobil yang dikendarai oleh Ayahnya berheti di depan lampu merah, maka di saat itu juga banyak pasang mata yang langsung berkicau mengagumi ketampanan wajah milik Ayahnya.
"Apa yang kamu gumamkan tadi?" Vatler yang kebetulan sedang memakai headset bluetooth itu jadi menoleh ke arah samping kanannya, karena sempat melihat mulut Arshel yang dari tadi terdiam saja, tiba-tiba mengucapkan sesuatu yang samar.
Arshel menoleh ke arah Ayahnya, dimana mereka berdua kini sama-sama sedang memakai kacamata hitam, demi menghindari adanya debu yang masuk kedalam mata sekaligus untuk mengurangi rasa silau di mata mereka berdua.
"Jika Ibu tahu, ibu akan marah pada Ayah, karena mengumbar wajah Ayah itu." Sindir Arshel kepada Vatler.
Vatler membuka kacamatanya, kemudian melirik ke arah samping kirinya, dimana di sampingnya persis ada bus antar jemput murid sekolah, tapi berasal dari sekolah lain.
"Kyaaa....apakah mereka berdua artis?!"
"Lihat itu...dia melihat ke arah kita! Ayo lambaikan tangan." Perempuan yang kegirangan ini langsung melambaikan tangannya ke arah Vatler.
"Apakah kamu bodoh, kenapa melambaikan tangan padanya. Pasti dia hanya meliriknya sa-"
Belum juga mengatakan perkirannya, kalau lambaian tangan yang di lakukan oleh sahabatnya itu tidak akan di respon oleh Vatler, mereka semua langsung di kejutkan dengan tindakan Vatler itu.
Ya..
Vatler dengan begitu santainya membalas lambaian tangan dari anak perempuan yang terkena desakan tubuh dari teman-temannya sendiri.
Membuat Vatler jadi teringat dengan Risya, kira-kira bagaimana jika perempuan yang terhimpit itu adalah Risya, dan demi mendapatkan sapaan dari idolanya, Risya tetap berusaha menyapa idolanya walaupun tubuhnya di himpit oleh orang lain seperti itu?
"Pfft.."
"A-ayah! Kenapa ayah tiba-tiba melambaikan tangannya ke arah mereka dan tertawa sendiri?" Terkejut Arshel melihat tingkah Vatler yang bagi Arshel sendiri tidaklah biasa. 'Apakah karena Ayah merasa sangat kehilangan Risya, Ayah jadinya sering tersenyum dan tertawa sendiri seperti itu?' Pikirnya.
"Apakah kamu tidak lihat, anak itu terhimpit oleh taman-temannya, tapi demi Ayah, dia masih berusaha untuk melambaikan tangannya ke arah kita." Jawabnya.
Arshel pun jadinya mencoba melihat anak perempuan yang di maksudkan itu. Dan rupanya anak perempuan yang di bicarakan oleh Ayah nya adalah murid yang kebetulan duduk di bagian tengah, dan karena semua murid perempuan itu sangat pensaran dengannya juga sang Ayah, makannya bagian sisi kanan Mobil jadi lebih penuh karena semuanya ingin melihat ke arah mereka berdua, dan imbasnya tentu saja perempuan itu jadi terhimpit tubuh teman-temannya sendiri.
Hanya saja, Arshel jadi terpengaruh dengan apa yang di katakan oleh Vatler sesaat tadi.
Alasan kenapa Ayah nya itu bisa tertawa kecil seperti itu adalah karena apa yang Arshel lihat adalah perempuan itu ternyata wajahnya lumayan mirip dengan Risya.
Walaupun letak perbedaannya tentu saja jelas ada pada warna matanya yang berwarna hitam, tapi hal itu tidak membuat Arshel tidak mengenali wajah adiknya sendiri.
"Apakah aku berhalusinasi?" Arshel kembali menatap ke arah depan.
Vatler kembali menoleh kearah Arshel yang terlihat kembali mengulas kesedihannya, karena sudah pasti melihat apa yang Vatler lihat tadi.
TING.
Ketika lampu lalu lintas berwarna hijau lagi, Vatler kembali memakai kacamata hitam miliknya dan kaki kanannya pun menginjak pedal gas, membawa mereka berdua menyusuri jalanan kota yang sedang ramai itu sambil menjawab. "Tidak. Kamu tidak berhalusinasi. Karena sebenarnya ada lima persen di dunia punya wajah yang sama, jadi itu sudah pasti terjadi juga."
__ADS_1
Dan tepat di perempatan jalan kedua, bus sekolah itu pun berbelok ke arah kiri, sedangkan Vatler dan Arshel terus berada di jalan lurus.