Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
82 : IPHTV : Keteguhan hati


__ADS_3

'Aku tahu aku ini memang tidak cantik. Aku memang sadar dengan itu, tapi kenapa hanya ucapan seperti itu saja membuatku sakit hati? Padahal apa yang dikatakannya juga tidak salah. Tapi...belum apa-apa ternyata sudah lelah seperti ini.' Benak hati Risyella seraya duduk di sofa dan merenungi apa yang barusan dia dapatkan.


Sudah sepantasnya menjalin hubungan seseorang yang memiliki status yang bagus dan tinggi, harusnya memiliki pendamping yang sama-sama memiliki posisi yang setara.


Tapi karena perbedaan yang ada pada diri Risyella dan Vatler cukup jauh itulah yang menjadi poin utama untuk Risyella...


'Apakah aku benar-benar pantas berada bersamanya?' Pikir Risyella dengan memejamkan matanya. Dia mencoba berpikir apa saja yang mampu dilakukan oleh Vatler itu adalah satu hal yang menjadi pemicu kalau yang harusnya berada di sisi adalah wanita cantik, punya kemampuan yang setara juga, bukan seperti dirinya yang tidak punya pendidikan tinggi, pekerjaan yang tetap, ataupun status sosial yang tinggi.


Dan tentu saja sorang pria tampan maka akan cocok dengan wanita yang cantik, dan Risyella benar-benar menganggap dirinya itu tidaklah cantik, maka dari itu dia pun merasa minder saat di sindir secara terang-terangan oleh pria tadi.


Hanya saja, mau mencoba memikirkannya berapa kalipun, jika Risyella tidak menerima keputusan mengiyakan perjodohan itu, yang ada Risyella akan mendapatkan penyesalan terbesarnya.


Dan Risyella selalu saja mendapatkan penyesalan jika mengikuti pendapat orang lain. Maka dari itu, Risyella pun akan membuat pilihannya sendiri bahwa menikah dengan Vatler, adalah keputusan yang tepat?


Ya...


Risyella menyentuh dadanya dan merasakan jantung juga hatinya merasa senang jika dirinya bisa memiliki pria itu untuk dirinya seorang.


Merasa sudah kembali tenang dengan kepala yang sudah dingin, Risyella membuka matanya lagi dan menepuk kedua pipinya dengan kedua telapak tangannya.


PLAKK..


'Ayo Risyella. Karena aku sudah di ajak kesini oleh Vatler, berarti Vatler memang berusaha agar aku memperhatikan penampilanku. Lagi pula aku sudah mengatakan pada mereka kalau akulah yang akan jadi Istrinya, jadi buat apa aku merasa sedih seperti ini? Yang terpenting adalah jika aku mengikuti sesi ini, aku pasti akan jadi cantik. Bukannya semua wanita jika ingin cantik harus dimulai dari awal dulu?'' Dengan hati yang sudah tenang, dan tekad yang meneguhkan dirinya agar tidak lagi terhasut dengan ucapan dari orang-orang mengenai dirinya, Risyella pun kembali bersemangat.


Apa yang membuatnya semangat adalah karena beberapa hari lagi Vatler akan menjadi suaminya seutuhnya, maka dia harus semangat untuk menampilkan dirinya di acara resepsi nanti secantik mungkin.


Dengan semangat yang kembali membara, entah apapun yang terjadi kedepannya, karena yang ada di dalam pikiran dan hatinya hanya ada pria itu seorang, maka Risyella akan mendengarkan hal yang baik dan membuang yang buruk.


Setidaknya hanya itulah yang bisa dia lakukan sekarang ini. Baik demi dirinya sendiri maupun demi hubungan yang akan dia jalani dengan Vatler.


'Awas saja, kalau dia menghinaku lagi, aku akan memukulnya.' Setelah memantapkan dirinya, Risyella bangkit dari kursinya dan berjalan menuju pintu keajaiban itu.


KLEK...


"............?!" Baru juga membuka pintu, Risyella langsung mendapati pria tadi sudah ada di depannya persis seperti hendak mengetuk pintu. "Apa lagi?" tanya Risyella.


Tidak seperti tadi yang terasa seperti orang yang mudah hancur hanya karena sebuah kata-kata belaka dan diakhiri dengan tangisan kecil, sekarang ekspresi Risyella berubah menjadi lebih dingin layaknya orang yang sedang marah dengan anak buahnya sendiri yang bekerja tidak becus.


"...............!" Kevin yang melihat ekspresi dingin dari perempuan yang sama, membuat tangan Kevin yang sesaat tadi hendak mengetuk pintu, segera dia turunkan dan menjawab, "Semuanya sudah dipersiapkan, anda tinggal duduk saja dan para karyawanku akan mengerjakan pekerjaannya dengan sebaik mugkin." Kata Kevin.


"Ok." Ketus Risyella.


Tidak seperti sesaat tadi, kini Risyella hanya bersikap dan berkata seadanya.

__ADS_1


Sampai Kevin yang melhat perubahan sikap itu jadi dibuat merinding karena tatapan matanya jadi jauh berbeda dari yang tadi, seolah itu adalah tatapan merendahkan.


'Wanita ini benar-benar sesuatu. Padahal beberapa saat tadi dia seperti anak kecil yang menangis, tapi sekarang? Dia jadi seperti serigala. Dari mana anda bisa mendapatkan wanita seperti dia, Tuan.' Batin Kevin.


************


Jam 5 sore.


"Sebaiknya untuk satu minggu kedepan, jangan menganggungku dulu." Ketus Vatler kepada seseorang yang berada di ujung telepon.


"Jadi kali ini benar-benar urusan pribadimu ya?" tanyanya. Pemilik suara itu adalah seorang perempuan. Dimana perempuan tersebut adalah Angie, yang saat ini ada di luar negeri.


"................" Vatler tidak menggubris pertanyaan dari tebakan yang dilakukan Angie kepadanya.


"Maaf deh. Soalnya yang terlintas di pikiranku tadi hanya kamu saja. Apakah kamu marah kepadaku?" Tanya Angie lagi, dengan suara seperti orang yang sedang merasa bersalah, sebab sudah membuat Vatler terpaksa pergi jauh untuk mengirimkan barangnya yang tertinggal di apertement miliknya, dan itu adalah sesuatu yang berharga, dimana apa yang terlintas di pikiran Angie tadi, Vatler adalah sati-satunya orang yang bisa Angie andalkan.


Keterdiaman Vatler akhirnya kandas jika Angie tiba-tiba tanya 'Apakah kamu marah?' Itu seperti kalimat yang tidak boleh Vatler ungkapkan jika sebenarnya Vatler sendiri memang kesal. Hanya saja karena suatu alasan, Vatler pun hanya menjawab, "Tidak." dengan cukup singkat.


".............." Keterdiaman Angie sesaat itu adalah mengulas senyum lembut. Karena entah berada dimanapun dan kapanpun itu, orang yang bisa Angie andalkan itu hanya Vatler seorang. "Sekarang kamu ada di mana?" Tanya Angie mencari topik lain, agar pembicaraan mereka berdua bisa bertahan lama.


"Aku sedang di jalan. Jadi leb-" Ucapan Vatler pun tiba-tiba saja terpotong saat ada satu panggilan masuk. "Angie, aku tutup dulu."


"Eh..ta-" Sayangnya belum sempat mengatakan apa yang ingin di katakannya kepada Vatler, Vatler lebih dulu memutuskan pangilan diantara mereka berdua. "Tch...."Decih Angie, merasa kesal karena telepon nya tiba-tiba di tutup. "Apakah karena wanita itu?" Pikir Angie. Dia masih mengingat momen pertemuan pertama dimana dia bertemu dengan Vatler dan juga seorang wanita, dimana wanita itu digendong oleh Vatler?


Meskipun begitu, Angie bukan termasuk dalam golongan seperti wanita pada umumnya, karena Angie dimata Vatler adalah hal penting yang akan diutamakan dalam segala situasi.


Tapi mengingat Vatler bertindak demikian, maka Angie tahu, kalau wanita yang Angie temui itu punya hubungan spesial dengan Vatler.


******


Selepas memutuskan panggilan dengan Angie, Vatler saat ini sedang menerima telepon dari satu orang yang beberapa jam lalu sempat Vatler tinggal, yaitu Risyell.


"Vatler, kamu dimana?" Tanya Risyella, mencoba mencari tahu keberadaan Vatler karena Risyella sendiri sudah lama menunggu Vatler kembali.


"Aku masih ada jalan, ada apa?" Vatler yang saat ini sedang menyetir mobil, mengambil jalan kearah kiri.


Sedangkan di ujung telepon, Risyella hanya mengulas senyum malu-malu. Setelah rangkaian prosesi perawatan kulit yang cukup panjang, akhrinya sekarang Risyella bisa duduk santai berendam di bathtup bertabur dengan bunga mawar.


"Apakah masih lama?" Setiap kali berbicara dengan Vatler, perasaan gugup itu pun kembali muncul sesuka hatinya tanpa bisa Risyella kontrol.


"Tidak, kurang lebih lima belas menit lagi." Jawab Vatler.


Seperti angin yang berhembus membawa kata-kata yang barusan mereka ucapkan, keheningan diantara mereka pun terjadi.

__ADS_1


"Apa aku boleh minta sesuatu?"


"................, katakan."


"Donat."


"Makanan?"


"Iya."


"Berapa?"


"Terserah."


Di bilang terserah oleh Risyella, Vatler akhirnya mengiyakan saja permintaan ringan itu. "Nanti akan aku belikan."


"Terima kasih dan hati-hati dijalan." Imbuh Risyella sebelum akhirnya Risyella mematikan telepon diantara mereka berdua.


'Apa Tuan Vatler tahu, seperti apa wajah calon Istrinya saat ini?' Batin Kevin saat tidak sengaja melihat senyuman penuh harapan iu terus tersungging di bibir mungil itu.


Risyella yang masih berendam di dalam kumpulan taburan kelopak bunga mawar itu langsung menundukkan kepalanya dan memeluk kakinya sambil mengumbar senyuman bahagia.


Kebahagiaan karena untuk pertama kalinya, Risyella menelopon Vatler, dan disaat itu juga Vatler langsung mengangkat panggilannya.


'Karena aku tidak tahu mau bicara apa, aku spontan jadi minta donat. Memalukan,' Pikir Risyella, lalu tiba-tiba memukul permukaan air dengan keras.


PHAK...


"Ah......apa anda tidak tahu kalau saya ada disini?" Tukas Kevin, dia yang dari tadi duduk sambil membaca majalah dalam posisi memunggungi Risyella yang sedang berendam itu, terpaksa harus menerima imbas, karena sekarang bajunya jadi sedikit basah, dan majalan yang sedang dia baca pun terkena imbas dari apa yang dilakukan oleh Risyella itu.


"Maaf," Jawab singkat Risyella saat mengetahui Kevin ternyata masih berada disana.


Namun yang membuatnya sedikit bingung adalah, kenapa Kevin ada duduk di sana?!


"Jika anda penasaran kenapa saya menunggu anda disini, karena saya harus mengawasi anda."


'Kenapa dia harus mengawasiku? Memangnya aku akan kabur?' Batin Risyella tidak paham dengan keberadaan dari Kevin itu.


Mata mereka berdua pun bertemu. Dan di detik-detik dimana mereka berdua saling diam dan saling pandang satu sama lain, sebauh teriakan langsung datang sambil meneriaki nama dengan cukup keras.


"Kevin!"


"Ah...sudah aku duga." Si empu, langsung meletakkan majalannya di atas meja, lalu Kevin pun segera beranjak dari sana. "Anda disini saja, dan jangan keluar selangkah kakipun, karena saya harus mengurus satu orang yang merepotkan."

__ADS_1


Dengan hormat, Kevin berlalu pergi dari tempatnya, dan meninggalkan Risyella yang masih berendam sambil menikmati pemandangan kolam renang yang ada tepat di depan sana.


__ADS_2