Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler

Istri Pembelenggu Hati Tuan Vatler
45 : IPHTV


__ADS_3

"Kau-" Satu kalimat yang terucap dan menggantung itu pun berhasil membuat wanita itu semakin penasaran.


"A-ada apa ya?" Reaksi wajahnya berubah menjadi ekspresi cemas.


Vatler semakin menatap wanita tersebut dengan sangat dingin. "Apa yang barusan kalian katakan tadi?" Tanyanya.


"Apa? Memangnya kami mengatakan apa?" Baik dirinya maupun teman disebelahnya semakin dibuat tertekan dengan aura yang keluar dari tubuh Vatler.


"Ternyata kau tidak punya otak yang bagus untuk mengingat apa yang baru saja kau katakan. Apa gunanya cantik tapi otak saja hanya ada untuk pajangan saja?" Cibir Vatler.


"A-apa?1 Kau menghin-"


"Intinya aku sudah mengingat wajah kalian berdua dan Cctv akan menjadi buktinyya. Mulai saat ini kalian berdua tidak akan pernah bisa menginjakkan kaki ke mall." Jelas Vatler.


"Tunggu! Memangnya kau siapa? Mall ini tempat untuk umum. Siapapun bisa mengunjunginya, jadi jangan sembarangan kalau bicara."


"Ha~" Vatler tiba-tiba tersenyum miring, dan sudut matanya semakin memicing kearah wanita tersebut. "Jangan sembarangan bicara? Tapi apa kau tahu? Kalau apa yang mulut busukmu katakan tentang perempuan yang ada dibelakangku tadi, dia adalah anakku, dan kau menyebut dia saudara jauh Arshel? Lalu kau mengatakan kalau dia tidak cantik? Kau harus sadar, kalau apa yang mulutmu perbuat dengan otak bodohmu itu sudah menghinaku juga." Terang Vatler dengan nada paling dingin dan rendah.


Vatler, dia sebenarnya mendengar semua apa yang dikatakan oleh orang-orang yang berpapasan dengannya. Tetapi siapa yang akan menduga kalau ternyata ada yang berani menghina Risya sebagai saudarajauh, dan tidak cantik?


Terbesit rasa sakit yang tiba-tiba muncul di dalam dadanya. Risya yang memang memiliki rupa wajah yang lebih mirip ke Ibu kandungnya, sama saja seperti kalau ucapan tidak cantik tadi digunakan untuk menghina Istrinya.


Sungguh luka yang tidak bisa Vatler obati, karena obatnya sudah tidak ada.


'Menghina? Perempuan tadi ternyata anaknya?!' Racau wanita ini, semakin dibuat resah karena dia salah membicarakan orang.


Sampai tidak berapa lama kemudian, dua orang scurity datang menghampiri, dan salah satu diantara mereka langsung bertanya, "Tuan, ada apa ini?"


Sudut matanya melirik kearah dua orang scurity itu, dan berkata : "Kalian terlambat. Urus mereka berdua dan buat agar semua mall di seluruh kota tidak mempebolehkannya masuk." Perintah Vatler.

__ADS_1


"S-seluruh kota?!" Pekik wanita ini.


"Tidak seluruh kota. Bahkan aku bisa membuat kalian tidak bisa berbelanja, entah dimanapun itu, baik disini maupun luar negeri. Aku bisa melakukannya dengan mudah, camkan itu." Sarkas Vatler, lalu memutuskan pergi.


"Ayo Nona, anda harus keluar." Bujuk scurity ini kepada dua orang wanita itu.


"Kau jangan sentuh aku!" Menepis tangan pria tersebut.


"Aku akan mengadu dia pada ayahku agar dia kena imbasnya, sudah mempermalukanku." prites wanita ini, saat tangannya hendak dicegkram oleh scurity yang satunya lagi.


"Apa yang mau diadu? Kalian berdua sudah menyinggung keluarga Ellistone." Sela scurity ini, agar mereka berdua sadar, kalau perbuatannya yang menghina Risya tadi adalah awal dari permasalahan yang mereka dapatkan, karena Risya termasuk keluarga ternama di kota A, yaitu Ellistone.


"E-ellistone? J-jangan-jangan dia tadi adalah-"


"Makannya, punya mulut harus dijaga. Tanpa disadari kalian sudah menggali lubang kuburan sendiri." Ujarnya lagi, mengejek nasib mereka berdua.


'Dia pasti merasa sangat tersinggung. Kenapa apa yang aku lakukan jadi serba salah?' Rutuk Vatler dalam diam.


Sedangkan Arshel yang melihat kepergian Ayahnya tanpa sepatah kata pun pada Arshel, membuat Arshel jadi geram sendiri. Kedua tangannya langsung Arshel kepal dengan begitu kuat. 'Ayah, demi Risya, Ayah meninggalkanku disini tanpa mengatakan apapun? Demi Risya juga, sampai mau repot-repot memberikan kedua wanita tadi pelajaran mengatasnamakan kekuasaan?'


Arshel merasa marah dengan Ayahnya sendiri. Bagaimana tidak marah, jika yang selalau Ayahnya perhatikan adalah Risya. Bagi Arshel, Risya itu seperti seorang sampah yang punya otak bodoh, dan hanya tahu pulang pergi dari rumah tanpa tujuan yang jelas. Itulah sudut pandang dari Arshel terhadap Risya, yang notabene mya, Risya adalah adiknya.


Tapi apa yang dirasakan Arshel, dia merasa kalau dirinya bukanlah anak kandung Ayahnya, karena sikap sang Ayah yang terlihat lebih memeprhatikan Risya ketimbang dirinya.


'Setelah waktu itu Ayah menamprku, dua hari yang lalu Ayah juga sampai merendahkanku, dan sekarang yah meninggalkanku begitu saja demi Risya? Kenapa Ayah sangat [erhatian pada anak yang tidak berguna itu ketimbang aku?' Benak hati Arshel.


*************


Risya saat ini sedang berada di dalam mobil. Demi menekan rasa sakit hati yang sedang dirasakannya, Risya pun berbaring di kursi penumpang sambil mendengarkna musik. Dan alunan musik dari segala lagu yang dimainkan dengan alat musik Piano pun membuat Risya masuk kedalam mode tidur.

__ADS_1


Walaupun sakit, tetapi ternyata rasa sakit itu tidak akan pernah sebanding dengan rasa sakit di dalam hatinya.


Rasa sakit karean ternyata dirinya seperti orang lain ketimbang saudara kandung dari Arshel sekaligus anak dari sang Ayah. Setelah mengalami banyak hal dalam waktu yang sangat berdekatan itu, hal tersebut pun berhasil melemahkan hatinya yang awalnya terus dibuat tegar, sampai akhirnya di dalam tidurnya itu, Risya meneteskan air mata kesedihannya.


Akibatnya, Vatler yang hendak masuk kdalam mobil untuk membicarakan masalah tadi, segera Vatler urungkan karena melihat Risya sudah tertidur lelap di bangku penumpang.


Terbesit rasa bersalah ketika melihat Risya menangi tanpa suara. Tangisan yang cukup mirip dengan sang Ibu, Risyella yang merupakan Istrinnya Vatler. Sampai Vatler sendiri menyadari sepenuhnya atas semua kesalahan yang sudah dia lakukan secara tidak langsung itu.


'Apa yang harus akulakukan?' Detik hati Vatler ketika melihat Risya tertidur dengan wajah tenang. Ekspresi wajah seperti Risyella untuk yang terakhir kalinya. 'Tidak! Apa yang abrusan aku pikirkan?!' Batin Vatler sambil memegang kepalanya sendiri, karena tidak menyangka terselip perbandingan antara masa lalu dan masa sekarang, benar-benar melekat pada diri Risya.


Sampai Vatler melirik pada cincin yang ada di jari manisnya sendiri. Vatler benar-benar sudah terbeleggu pada masa lalunya. Masa lalu dengan Istrinya yaitu Risyella.


Vatler sebenarnya cukup lelah untuk menghadapi semua itu. Akan tetapi, Vatler tidak bisa membenci atas keadaan yang harus yang harus dia hadapi itu. Vatler tidak tahu kenapa, tetapi semua itu benar-benar kondisi yang tidak bisa Vatler buang atau tinggalkan sesuka hatinya.


'Sebainya, aku kembali menemui Arshel' Pikirnya. Tapi disamping Vatler hendak berbalik untuk menyusul Arshel yang tadi sempat Vatler tinggal begitu saja di dalam Mall, rupanya Arshel sudah berdiir di belakangnya persis.


"Daripada dipaksa lanjut, lebih baik pulang saja." UJar rshel, mecuri kesempatan sang Ayah berbicara lebih dulu. Setela itu, Arshel langsung membuka pintu mobil dan masuk kedalamnya.


Vatler sektika terpegun, karena pada akhirnya dirinya benar-benar berjuang untuk menghadapi kedua anaknya itu sendirian. Tetapi karena tidak ada pilihan lain lagi karena semua rencananya untuk berbelanja bersama sduah hancur, Vatler pun memutuskan untuk pulang saja dan akan melakukannya di lain hari.


DRAP........DRAP........DRAP.........


"Hah..hah...hah......, aku terlambat." Lirih perempuan paruh baya ini. Dengan nafas yang sudah tersengal-sengal sebab berlari demi mengejar orang yang ingin ditemuinya. Tapi semua usahanya itu tidak membuahkan hasil, sebab orang yang dia kejar, sekarang sudah naik ke dalam mobil dan langsung pergi keluar dari area parkir basement Mall.


BRUMMM.........


Perempuanparuh baya in hanya bisa melihat kepergian dari dua orang pria dengan wajah yang cukup mirip, yaitu Vatler dan Arhsel. Tapi secara tidak sengaja juga, dia sempat melihat seorang gadis yang sednag tertidur tepat di bagian bangku penumpang.


"Gadi itu, memang benar-benar cukup mirip!" Gumam wanita ini sambil merogoh tas miliknya, lalu mengeluarkan sebuah kotak kecil yang tidak lain adalah kotak perhiasan. Kotak tersebut berwarna biru Navy, dimana tepat di bagian tepi tutup kotak periasan itu memiliki garis tepi berwarna emas, yang memperlihatkan kesan mewah. "Setidaknya, sekarang aku tahu, gadis itu sekolah dimana." Gumamnya lagi.

__ADS_1


__ADS_2