
"Hari ini kita hanya meletakkan semua properti itu disini. Besok kalau tidak hujan, barulah kita dekor."
"Baik madam Lin Da." Jawab semua orang dengan serentak.
Mendengar semua karyawannya sudah mengerti aturan yang sudah dia buat, Lin Da mengamati jam tangannya. 'Sudah jam sebelas, kenapa perempuan itu lama sekali?' Pikirnya.
Karena dirasa lama, Lin Da pun pergi untuk mencari Risyella.
Tapi belum sempat berangkat, terlihat Risyella sudah keluar dari rumah sambil membawa jus.
"Kenapa kamu lama sekali?"
"Jika ada yang mebantuku, setengah jam juga kelar." Kata Risyella, dia berani menjawabnya karena dirinya juga sudah lelah. Lelah karena datang-datang sudah seperti kena omel. 'Padahal kenal juga tidak, kenapa aku dirasa seperti pembantu?' Risyella tiba-tiba saja tersenyum mencibir.
Sekarang dia sudah tahu kalau dirinya memang dianggap oleh Lina Da sebagai seorang pembantu.
"Kenapa kamu senyum begitu?" Tekan Lin Da.
"Karena ada hal yang lucu saja." Sahut Risyella di detik itu juga.
"Wah, itu minuman untuk kita ya?"
"Kebetulan sekali aku sedang haus."
"Lumayan itu, panas-panas seperti ini minumannya yang dingin-dingin seperti ini."
Melihat Risyella datang dengan membawa banyak jus, satu per satu dari mereka langsunng berjalan mendekat.
"Ini untuk kami kan?"
"Iya." Jawabnya.
"Terima kasih," Mengambil gelas berisi jus jambu merah.
"Iya, makasih ini. Aku jadi bisa minum jus setelah lelah bekerja seperti ini."
"Kamu buat sendiri?" Linda sedikit penasaran dengan jus buatan Risyella. Karena itu, dia pun mencicipinya untuk satu teguk.
"Iya, itu aku am-" Tapi belum sempat menjawab dengan kalimat sempurna, dia langsung diguyur dengan jus itu.
BYURR....
"Pembantu tapi kerjanya tidak becus. Aku tidak suka terlalu manis seperti ini!" Seru Lin Da.
__ADS_1
Risyella yang baru saja kena siram, langsung menyeka wajahnya dengan tangannya sambil berbicara, "Kenapa tadi tidak bilang?"
"Aku itu banyak pikiran, jadi jika tidak tanya, aku mana mungkin memberitahumu."
"Eh..madam Lin Da, jangan marah padanya seperti itu." Salah satu diantara mereka mencoba menengahi pertengkaran yang akan terjadi itu, atau memang sedang terjadi?
"Apa kamu sedang memerintahku?" Lin Da melotot kepada mereka yang hendak angkat bicara.
Karena Bos nya sudah memberikan tatapan seperti itu, diantara mereka pun jadi tidak ada yang berani untuk bersuara,
"........." Risyella yang tidak mau masuk kedalm keributan itu, buru-buru berjalan pergi, tapi sayangnya..
"Hei! Kamu, siapa yang menyuruhmu pergi!" Seru Lin Da saat melihat Risyella hendak kabur dari pandangannya.
"Apa lagi sih!" Jawabnya dengan nada sudah menahan kesalnya sendiri.
"Kamu harus ganti minuman itu dengan yang lain!" Peirntahnya lagi.
"Kenapa aku juga? Memangnya aku siapamu? Lalu untuk apa dua kaki itu? Pajangan?" Sindir Risyella secara terang-terangan.
"Kau-" Lin Da yang sudah terpancing dan merasa tidak terima dengan provokasinya Risyella, dia langsung berjalan menghampiri Risyella.
Risyella yang melihat hal tersebut, langsung mundur ke belakang karena merasa terintimidasi dengan aura yang muncul dari tubuh Lin Da itu sangatlah mencekam.
Dan jika Risyella sudah membuatnya marah seperti itu, apa jadinya nanti?
"Dimana nyalimu tadi? Coba katakan lagi." Kata Lin Da dengan nada penuh penekanan.
'Apakah aku akan dituntut?' Satu langkah belakang terus Risyella ambil.
BRUK.
"..........?!" Risyella yang merasa dia baru saja menabrak sesuatu, buru-buru lah dia menoleh ke belakang.
'Tuan?!' Detik hati Lin Da saat mengetahui siapa orang yang baru saja Risyella tabrak itu.
"Aku menyuruhmu datang kesini untuk bekerja, tapi apa-apan ini?" Suara berat khas milik pria, yaitu Vatler langsung mengisi suasana mencekam diantara mereka semua.
"Maaf Tuan, tapi pembantu anda secara sengaja membuat saya minum jus yang terlalu manis."
"Hanya karena itu, sampai menyiramnya?' Tanya balik Vatler.
'Aku malas mendengar perdebatan ini.' Sejujurnya jantungnya saja sudah berdebar tak karuan karena dia gugup, sekaligus takut. Takut kalau dirinya benar-benar dituntut karena menghina Lin Da, karena Lin Da memang bekerja atas perintah Vatler.
__ADS_1
Dan Risyella takut, kalau itu jadi merusak nama baik Vatler.
Makannya, setelah keceplosan menghina Lin Da di depan banyak orang seperti itu, hati Risyella seketika menciut karena memikirkan kembali konsekuensi jika menambah keributan dengan memprovokasi Lin Da ini.
"Mau kemana?" Vatler menahan Risyella pergi dari hadapannya dengan mencengkram tangan Risyella.
"............." Tapi Risyella hanya terdiam saja. Dia sudah tidak punya keinginan untuk berbicara lagi karena semuanya keberaniannya tadi sudah menghilang bersama dengan tiupan angin yang beberapa saat tadi datang.
Melihat wajah amarah Risyella, Vatler pun langsung melirik kearah Lin Da dan berkata : "Lin Da, sebainya bawa pergi semua properti yang sudah di tata itu."
"Apa?" Lin Da terperengah dengan perintah dari Vatler. "T-tuan, ini..kata anda kan anda ak-"
"Aku tidak membutuhkan orang yang tidak mengerti tempatnya sendiri. Apa yang kamu perlakukan padanya? Itu sudah menjadi bukti untukku kalau kamu sama saja menghinaku secara tidak langsung." Ujar Vatler dengan jelas.
Sampai Risyella sendiri langsung termangu dengan ucapannya itu. Kenapa? Itu karena Vatler baru saja melindunginya?
'Apa dia mengkhawatirkan aku?' Batin Risyella saat dia harus sedikit mendongak ke atas agar dia bisa melihat wajah Vatler yang selalunya memasang wajah yang cukup serius.
"Hei, jangan-jangan wanita itu adalah calon Istrinya. Itulah kenapa Tuan Vatler jadi merubah pikirannya untuk tidak memakai jasa Wedding Organizer kita."
"Aduh..padahal kita sucap lelah menyiapkannya dari beberapa hari sebelumnya, masa batal begitu saja? Apa jadinya jika kita tidak dibayar gara-gara madam Lin Da ini?"
Semua bisikan demi bisikan terucap dari satu dua orang karyawannya, membuat Lin Da seketika sadar, kalau dirinnya baru saja menghina calon mempelai perempuan dari Tuan Vatler?
"Tuan, ini sal-"
"Pergi." Kata singkat penuh dengan penekanan itu berhasil membuat Lin Da bungkam sepenuhnya. "Dan sebelum itu, kalian minum itu dan makan apa yang sudah dimasak oleh dia. Jika sudah, cuci dan bereskan semua ini." Imbuh Vatler.
Risyella yang mendengar hal tersbut benar-benar keluar dari mulut beracun Vatler, seketika Risyella memanggil, "Vat?"
Vatler hanya meliriknya sekilas, dan menjawab pangilan dari Risyella itu dengan sebuah perintah ringan. "Bersihkan dirimu dan jangan pedulikan mereka lagi."
"Iya." Jawab Risyella singkat, sebelum akhirnya Risyella pergi dari sana untuk mandi dan membersihkan diri.
Sedangkan Vatler, dia berdiri sambil mengawasi mereka semua.
"He, cepat-cepat...jangan sampai buat Tuan marah lagi." Bisik salah satu diantara mereka agar teman-temannya segera menghabiskan minuman yang mereka terima hasil dari jeri payah Risyella, setelah itu beberapa orang mengambil makanan yang ada di dalam dapur, yang ternyata Risyella hanya membuat salad buah sebagai pendamping jus tadi.
"Lin Da, jika itu bukan kamu, aku pasti sudah menuntut agar kamu dipecat dari tempatmu bekerja." Tukas Vatler kepada Lin Da.
"Maaf, saya memang bersalah. Terima kasih juga karena tidak membuat saya tidak dipecat dari pekerjaan saya." Kata Lin Da.
Tetapi meskipun Lin Da memang mengucapkan kata penyesalan kepada Vatler, sayangnya tidak dengan hatinya. 'Hahaha...aku pikir dia adalah pembantunya Vatler. Ternyata dia benar-benar calon Istrinya? Kenapa wanita jelek seperti itu justru akan menjadi Istrinya Vatler ketimbang aku yang cantik ini? Padahal kita berdua pernah kuliah bersama selama tiga tahun berturut-turut, kenapa kau memilih wanita seperti dia dari pada aku?'
__ADS_1
Dan tentu saja Chavire memperhatikan Lin Da yang saat ini sudah mengepalkan tangannya dengan kuat.