
Sunyi sama sekali tak ada obrolan sepanjang jalan, sama sekali tak ada tujuan yang di tuju. Bella yang masih sangat syok, dengan mata yang sembab berjalan tanpa tujuan.
Disampingnya ada Brian yang sedaritadi memikirkan dalang di balik peristiwa yang baru saja terjadi, ada satu nama dalam fikirannya saat ini, yang menurutnya adalah pelaku dari tragedi kali ini.
Brian menggelengkan kepalanya mencoba menyingkirkan sejenak pikiran mengenai tragedi yang baru saja terjadi, netranya melirik Bella yang berjalan tak semangat.
'Dia yang begitu ceria, ada saatnya diam ketika melihat sesuatu yang menyedihkan seperti itu. Tapi aku tidak tega melihatnya seperti ini!' Fikir Brian, tangannya menggenggam erat telapak tangan Bella, merasakan hal itu Bella pun melirik kecil Brian yang berjalan menatap depan.
"Bukankah kita sudah cukup jauh dari tempat itu? Kenapa kau masih murung?" Lirih Brian.
"Nostalgia buruk yang hampir ku lupakan muncul kembali, mengoyak lubang duka yang susah payah ku timbun."
"Sebegitu takutnya kau dengan ledakan?"
"Sangat, ledakan dengan sekejap merubah hidupku."
Brian iba mendengar hal itu, ia memikirkan bagaimana rasanya menjadi keluarga korban yang ditinggalkan. Sebelum ini pun Brian sudah pernah merasakan betapa pahitnya kehidupan.
"Sebelum dirimu menerima kesunyian, aku lebih dulu menerima kesunyian itu daripada dirimu. Kau beruntung masih sempat menikmati hangatnya kasih sayang hingga usai saat ini." Ujar Brian, Bella melirik kecil Brian.
"Apa maksudmu?"
Tanpa menanggapi ucapan Bella, Brian menemukan sebuah Starbuck yang masih buka. Brian menarik pergelangan tangan Bella masuk kedalam starbuck itu. Mereka berdua duduk dekat jendela, pemandangan malam dibalik jendela seakan menjadi figuran yang cukup indah. Seorang pelayanan muda menghampiri Brian dan Bella.
"Anda ingin memesan, tuan?" Ujar Pelayan.
"Dua gelas Matcha."
"Baiklah tuan, apa masih ada yang di inginkan?"
"Tidak terima kasih, itu saja sudah cukup."
Pelayan itu pun pergi membuatkan pesanan Brian. Dengan seksama Brian memperhatikan gadis didepannya yang sedang melamun menatap jendela. Brian membuang nafasnya kasar, kesepian melandanya entah mengapa hatinya begitu merindukan sosok Bella yang ceria.
"Bella." Bella mengalihkan pandangannya ketika namanya dipanggil.
"Apa?"
"Ada apa denganmu?"
"Aku baik baik saja."
"Tingkahmu tidak menunjukkan kau baik baik saja!"
"Kenapa kau baru peduli sekarang? Bukankah aku gadis menyusahkan? Kenapa kau peduli?"
Mendengar itu Brian sedikit merasa bersalah. Tapi bukankah Brian sudah memutuskan untuk mengatakan sesuatu yang sangat penting pada Bella hari ini juga.
"Maafkan aku." Bella mengalihkan pandangannya lagi ke arah Brian, pemandangan didepannya sedikit membuat hatinya menghangat. Lucu baginya, melihat Brian menjewer kedua telinganya sambil menatapnya.
"Apa kau memaafkanku?" Berhasil, kali ini Brian berhasil membuat Bella tersenyum karenanya.
__ADS_1
"Apa yang kau lakukan?" Lirih Bella menahan tawanya.
"Aku suka senyuman itu, usahakan tetap seperti itu selama kau bersamaku!" Ujar Brian, Bella sedikit tidak yakin dengan apa yang Brian katakan.
"Apa yang kau katakan?"
"Setelah ini kita pulang, kau harus istirahat!"
Sifat Brian yang mendadak hangat membuat Bella bahagia, perubaham sifat yang begitu drastis menurutnya. Ketika pesanan mereka datang, Brian dan Bella mulai menikmati pesanannya. Sembari menikmati segelas matcha Bella sedikit mengingat sesuatu, naluri detektifnya mulai muncul.
"Kenapa kau bisa tau didalam gedung itu ada bom?" Brian menatap Bella sejenak.
"Kau detektif bukan? Lalu mengapa sama sekali kau tak tau gerak gerik mencurigakan disana?" Bella terkejut mendengar itu, bagaimana dengan teliti Brian mampu memperhatikan gerak gerik aneh di dalam pesta, Bella kagum kali ini padanya.
"Bagaimana kau tau aku seorang detektif?"
"Itu tidak penting bukan? Habiskan matcha mu lalu pulang."
"Apa kau seorang detektif juga?"
"Habiskan! Lalu pulang, jangan terlalu banyak bertanya!"
"Apa salahnya jika aku ingin tau sedikit?"
"Habiskan lalu pulang!" Bella membuang nafasnya kasar, tak lama mereka berdua pun mulai menikmati matcha nya lagi.
Cukup lama berada di dalam Sturbuck, Brian dan Bella memutuskan pulang setelah menikmati dua gelas matcha. Trauma, rasa takut akan masa lalu yang menghantui Bella masih tetap ada sampai saat ini.
Brian melirik gadis disampingnya yang menunduk seperti sedang memikirkan sesuatu, telapak tangan kekarnya meraih tangan Bella menggenggamnya erat.
Hangat, kehangatan yang begitu menenangkan bagi Bella ia membiarkan telapak tangan itu tetap menggenggam tangannya.
Banyak pertanyaan dalam fikirannya saat ini mengenai kejadian beberapa saat lalu, membuat hatinya sedikit ragu pada pemuda disampingnya itu, berbagai pertanyaan sudah dilontarkan namun sama sekali tak ada jawaban untuk semua itu.
Pikiran negatif tiba tiba terarah pada Brian, apakah Brian adalah salah seorang anggota dari organisasi keji? Tetapi jika itu mungkin Brian tidak akan membiarkan dirinya selamat, dengan kegigihan yang cukup kuat kali ini Bella ingin memberanikan dirinya untuk bertanya.
"Bisa kutanyakan beberapa pertanyaan untukmu?" Lirih Bella sambil menghadap Brian, menatapnya serius.
"Tentu saja." Bella mengangguk mendengar persetujuan itu.
"Bagaimana kau bisa tau, aku adalah seorang detektif? Bagaimana kau begitu cerdas mengetahui situasi mencurigakan didalam gedung tadi?" Brian tersenyum kecil ke arah Bella.
"Pertama, aku pernah melihat lencanamu juga tanda pengenalmu, disana tertulis jabatanmu... Dari situlah aku mengetahuinya."
"Kapan itu?"
"Ketika kau pingsan di tepi pantai." Bella mencoba mengingat kejadian yang di jelaskan Brian padanya, ia pun mengingat kejadian itu.
"Kedua, aku adalah anak seorang marinir yang begitu jenius layaknya seorang seorang detektif apa yang orang tua ku pelajari di ajarkan padaku." Jelas Brian.
Kecurigaan pun sirna dari dalam hatinya, namun tetap saja trauma yang dirasakan Bella masih tetap ada. Ingatannya tak pernah lepas dari tragedi yang melenyapkan keluarganya. Bella menundukkan kepalanya, berjalan dengan rasa takut yang menghantuinya, Brian memperhatikan itu melihat gadis didepannya yang rapuh membuat hatinya sakit.
__ADS_1
Entah mengapa Brian begitu ingin melihat senyumannya saat ini juga. Brian berjalan mendahului Bella, berdiri tepat dihadapannya, lalu menatap dalam gadis rapuh itu.
"Bisa, tidak kau pikirkan lagi kejadian itu? Aku tau kau pasti sangat takut, tapi itu sudah terjadi bukan?" Ujar Brian, Bella menghentikan langkahnya sejenak.
"Aku berusaha melupakannya tapi tak bisa?" Brian menatap miris gadis di hadapannya itu, tangannya menangkup wajah Bella mengarahkannya untuk menatapnya.
"Lupakan, apa kau ingin hidup dengan rasa takut seumur hidupmu? Tidakkah kau ingin melupakan itu? Jika memang itu sangat menyakitkan bagimu, lalu untuk apa mengingatnya? Jalan hidupmu masih panjang, jangan jadi pengecut yang terpuruk dalam duka yang sudah terjadi?" Terkejut mendengar penuturan yang begitu bijak dari pemuda di hadapannya ini Bella pun tersenyum kecil.
"Terima kasih, atas saran yang begitu baik itu." Brian tersenyum kecil mendengar itu, tangannya ia jauhkan dari wajah Bella kali ini ia genggam sepasang tangan lembut milik Bella.
"Terima kasih kembali, berkatmu aku pun tak lagi terpuruk dalam nostalgia terburuk yang ku alami. Lima hari lagi kau harus angkat kaki dari rumahku, Bella dengarkan aku! Ketika aku tau didalam gedung itu ada Bom, orang pertama yang paling ingin ku lindungi saat itu, adalah kau!" Bella masih setia menatap mata tajam Brian yang kini sedang menatapnya.
"Entah ada apa dengan hatiku yang beku, setiap kali bersamamu seakan kebekuan itu sirna! Bisa kau sirnakan itu setiap saat, aku ingin aku kembali melangkah untuk hidup dengan hati itu. Bisakah lima hari yang akan usai itu kau lupakan? Jangan pergi, tetaplah bersamaku! Tidakkah kau melihat pemuda dihadapanmu ini begitu sangat menginginkanmu! Bisa ku minta sedikit lagi belas kasih untukku yang berkali kali menyakiti hatimu, aku janji setelah ini tak lagi ada ucapan kasar untukmu! Bisakah kau izinkan aku, untuk bertamu dalam hatimu, Bella aku mencintaimu, aku ingin membuka lembaran baru bersamamu!" Entah pernyataan cinta setulus apakah itu hingga mampu membuat Bella sedikit meneteskan air matanya ia tidak menyangka, Brian mencintainya. Bella mencoba melepaskan genggaman tangan Brian pada tangannya.
"Apakah ini benar dirimu? Darimana ungkapan manis yang menyentuh itu datang? Buku apa yang sedang kau baca sampai membuatmu rela menghafal kalimat kalimat manis itu? Kau yang kukenal tidaklah seperti ini, tolong jangan bermain main." Hatinya sedikit ragu dengan apa yang Brian ucapkan. Brian tersenyum manis mendengar itu.
"Tidak ada satupun buku yang kubaca untuk mengutarakan isi hatiku, ini aku! Dan seluruh ungkapan yang ku utarakan begitu tulus mengalun untukmu."
"Apa ini lelucon? Atau kau hanya ingin menggodaku saja?" Brian melepas genggamannya pada tangan bella, kedua telapak tangan itu terangkat mencubit gemas kedua pipinya, Brian tersenyum usai melakukan itu.
"Ya ini lelucon untukmu,dariku, jika kau ingin menganggapnya seperti itu, tetapi ketahuilah hatiku yang beku pun lelah berpegang teguh pada prinsipnya karenamu. Jangan anggap remeh hal yang ku ungkapkan hari ini untukmu, ingat itu! Aku tidak membutuhkan jawaban darimu sekarang, aku akan menunggunya sampai kau sendiri berbalik dan mengatakan padaku, kau pun juga sangat mencintaiku." Senyuman tulus untuk pertama kalinya Bella lihat dalam diri Brian, pemuda tampan tanpa warna di hidupnya kini tersenyum tepat untuknya.
Hatinya bergetar melihat senyum itu, manis begitu tulus senyum yang selama ini tak pernah ia lihat. Bella terpaku menatap pemuda dihadapannya itu, ungkapan yang manis baru di utarakan Brian padanya, sosok badai seakan hilang dalam diri Brian.
"Jangan terlalu lama menatapku, jangan sampai kau terpesona pada kharisma ku yang begitu menawan." Canda Brian sambil mengacak acak pucuk kepala Bella. Brian berbalik meninggalkan Bella yang masih terpaku akan ucapannya. Bella mencoba menetralisir perasaannya saat ini, kenyamanan memang selalu ada setiap kali Brian bersamanya. Saat ketika pemuda itu jauh dari pandangan matanya, rindu selalu menghantui hatinya, seakan tak rela pemuda itu jauh darinya. Bella mencoba memahami perasaan itu, entah sejak kapan hal ini terjadi padanya.
"Bodoh, kenapa tidak terfikir olehku?" Lirih Bella, matanya menatap tepat seorang pemuda di depannya yang berjalan acuh, tak lagi menengok ke belakang, pemuda yang baru saja mengetuk hatinya.
Ia berlari menyusul pemuda itu, tepat ketika jarak di antara mereka dekat, tangannya memeluk erat pemuda itu dari belakang. Brian berhenti merasakan beban di balik tubuhnya. Rengkuhan hangat yang begitu menenangkan dari seorang gadis yang teramat ia cintai.
"Anehnya, aku pun merasakan hal yang sama karenamu!" Lirih Bella. Senyuman manisnya kembali terukir pada wajah Brian, ia berbalik menatap Bella yang juga menatapnya lembut.
"Katakan padaku, apa kau juga mencintaiku?" Tanya Brian, Bella mengangguk mendengar itu.
"Aku ingin jawaban yang nyata bukan isyarat." Bella membuang nafasnya kasar.
"Ya, aku mencintaimu."
"Sekali lagi!"
"Aku mencin...." Ucapan manis itu terpotong ketika Brian menariknya masuk dalam rengkuhannya yang hangat, Bella terkejut sejenak namun tak lama ia pun menyamankan dirinya dalam pelukan itu.
"Terima kasih Bella." Lirih Brian, Bella mengangguk tak lama ia menjauhkan tubuhnya dari Brian.
"Bisa aku bertanya?" Brian mengangguk menanggapi ucapan Bella.
"Dari awal pertemuan kita hingga saat ini kau tidak pernah memberitahuku siapa namamu? Bisa kau beritahu aku sekarang?" Brian tersenyum singkat mendengar itu, bagaimanapun juga identitasnya tetap harus dirahasiakan meskipun itu pada gadis yang dicintainya.
"Panggil saja Nico! Lebih tepatnya Nicolas." Ujar Brian, Bella mengangguk mendengar itu.
"Baiklah Nic, mari kita mulai lembaran baru." Ujar Bella, senyuman tak sedikitpun pudar dari wajah Brian, ia begitu bahagia.
__ADS_1