
...Jangan biarkan yang benar benar sayang pergi dan yang setengah hati mendekat...
...Pertahankan yang pantas untuk diperjuangkan...
Di dalam kantornya terlihat Brian sedang duduk sambil melamun. Netranya menatap lekat ke arah foto keluarganya. Sebuah foto yang ia ambil ketika mereka berjalan-jalan di Australia.
Tawa mengembang keluarganya di dalam foto itu membuatnya rindu. Ia rindu Bella menyapanya tiap pulang ke rumah. Ia rindu tidur bersama istrinya, memeluknya membelainya penuh kasih.
Sebanyak apapun tarikan nafasnya di dunia. Apabila kesempatan hidup pada akhirnya rasanya sepahit ini, sungguh Brian benar-benar tak ingin.
Permintaan Bella adalah sebuah perintah untuknya namun kali ini sebuah hal yang diminta olehnya sungguh membuatnya tak mampu menerima.
Itu adalah hal yang sangat sulit untuk ia terima. Bahkan Eddie saja tidak ingin mengakui Sienna sebagai keponakannya lalu mengapa ia harus mengakuinya.
Namun berbeda dengan para istri mereka yang masih mau menerima kehadiran Sienna. Entah apa yang membuat mereka mudah sekali menerima kehadiran anak tidak sah itu.
Sejenak Brian menyentuh dadanya, sakit sungguh. Dilema ini menyiksanya. Bahkan putranya saja tidak ingin berbicara dengannya. Ia mungkin kaya raya bergelimpangan harta. Namun untuk mendua itu tidak akan mungkin.
Bella adalah satu-satunya cinta yang tidak akan perna Brian sakiti. Frustasi dengan apa yang terjadi Brian pun mengacak-acak surainya. Lalu membuang nafasnya kasar, apa yang harus ia lakukan untuk memperbaiki hubungan yang renggang ini.
**Tokkkkk
Tokkkkk**
Brian mengalihkan netranya tepat ke arah pintu. Dalam kepalanya ia ingat bahwa hari ini tidak ada pertemuan apapun untuk di selesaikan. Namun siapa yang datang mengganggu waktunya itu?
"Masuk!" Ucap Brian.
Ketika pintu itu terbuka terlihat disana Eddie datang seorang diri. Raut wajah adiknya itu terlihat di penuhi kekesalan. Sepertinya ada sesuatu yang sedang mengganggu kepalanya saat ini.
"Ada apa Ed?" Tanya Brian padanya.
Eddie masuk ke dalam lalu menutup kembali pintunya. Ia berjalan mendekati kakaknya lalu menarik kursi yang ada dihadapannya dan duduk.
"Kakak, ini perihal Prince!"
Mendengar nama anaknya di sebut hal itu membuat Brian serius kali ini.
"Ada apa lagi sekarang? Apa yang terjadi padanya?" Tanya Brian bertubi-tubi.
"Kakak dia tidak ingin datang kemari untuk latihan! Dia bilang jika Sienna tidak di ajak maka dia tidak akan pernah datang kemari." Jelas Eddie padanya.
"Huft..."
__ADS_1
Hanya itu saja yang mampu Brian lakukan. Pasalnya ia sudah cukup lelah meladeni Bella nya dan Prince. Keduanya sama-sama keras kepala, ditambah dengan dirinya juga keras kepala.
"Memangnya apa salahku jika tak ingin menerima anak itu? Bukankah aku sudah memberinya kehidupan, kemewahan, fasilitas apa itu masih kurang?" Tanya Brian pada adiknya.
"Jika bagi kita itu cukup, tapi tidak untuk seorang wanita kakak!" Jelas Eddie.
Ya itu benar sekali. Bella tidak akan pernah puas pada apa yang sudah Brian berikan pada Sienna.
"Bella mengatakan padaku untuk menerima anak itu!"
"Huh?"
Eddie tentu saja terkejut mendengar itu. Permintaan itu terlalu besar bagi Brian, ia tau itu. Itu adalah hal mustahil yang sulit Brian terima sampai kapan pun.
"Entah mengapa seiring bergantinya tahun, hatiku masih sebeku ini. Bahkan sekalipun anak itu bersikap baik padaku rasanya seperti tidak ada yang berubah! Istri dan anakku di rumah mendukung gadis kecil itu. Rasanya aku seperti tinggal di area musuh saja!"
Jelas Brian padanya, Eddie menatap miris ke arah kakak nya itu. Sungguh iba rasanya melihat apa yang Brian alami. Jikalau kecelakaan itu tidak menimpanya maka mungkin kehidupannya tidak akan sepedih ini.
Di tengah lamunannya itu Brian mengingat sesuatu. Jika hari ini Eddie tidak membawa Prince lantas anak nya itu pulang dengan siapa.
"Prince!!!" Pekik Brian pada adiknya.
"Ya kakak? Ada apa?" Tanya Eddie membulatkan kedua matanya ketika mendengar pekikan Brian yang begitu tiba-tiba.
"Ya Tuhan!"
Pada akhirnya Eddie mengingat bahwa Prince dan Sienna mereka berdua sama sekali tak ada jemputan. Baik Eddie dan Brian mereka berdua pun keluar dari dalam ruangan. Mereka keluar menuju parkiran mobil.
Mereka masuk ke dalam mobil lalu mulai menjalankannya pergi dari sana. Sungguh Eddie benar-benar menyesali hal ini. Kekesalannya membuatnya melupakan keponakannya saat itu.
_________
**Tinnnnnn
Tinnnnnn**
Suara klakson mobil itu membuat Prince dan Sienna tersenyum. Itu adalah mobil Bella. Ketika Mommy nya itu membuka kaca ia tersenyum.
"Hei, apakah sudah lama kalian menunggu?" Tanya Bella padanya.
Kedua anaknya itu tersenyum lalu menggeleng kepalanya.
"Tidak Mommy, ini tidak terlalu lama!" Jawab Prince padanya.
__ADS_1
"Ya sudah, mari masuk sayang!" Ucap Bella pada kedua anaknya.
Prince mengangguk mengajak Sienna masuk ke dalam mobil bersama. Ketika kedua anaknya itu sudah masuk kedalam mobil. Bella pun menjalankan mobilnya.
"Mommy, bolehkah aku berbicara pada paman Stevan?" Tanya Prince padanya.
"Untuk apa Prince?" Tanya Bella sambil melihat spion mobil di atasnya mencoba melihat anak laki-lakinya dari sana.
"Mommy ini urusan Pria! Mommy tidak boleh tau hal ini!" Tambah Prince.
Bualan nya ini membuat Bella dan Sienna tertawa. Dia baru saja bilang bahwa dia seorang pria. Seorang pria jelas sudah tidak bersekolah, tetapi dia masih berseragam dan berucap demikian.
"Hahaha..." Tawa Sienna dan Bella bersamaan.
"Hei kenapa kalian tertawa?" Tanya Prince menatap keduanya bingung.
"Kau ini menggemaskan sekali sayang! Kau berkata bahwa kau seorang Pria sedangkan dirimu masih berseragam." Jawab Bella menjelaskan.
"Polisi dan Tentara juga berseragam! Mereka tetap di sebut seorang pria, apa yang salah dengan seragam?" Tanya Prince lagi padanya.
"Prince, seragam yang mereka kenakan itu untuk bekerja. Mereka tidak menuntut ilmu lagi. Mereka yang sudah memiliki penghasilan sendiri di usia yang matang, mereka itu manusia dewasa. Usia ku masih belum cukup untuk menjadi seorang Pria!" Jelas Bella lagi.
Prince menghela nafasnya, perdebatan yang terjadi bersama Mommy nya tidak akan pernah usai apabila dilanjutkan. Prince lebih memilih mengakhiri itu sekarang.
"Jadi Mommy aku ingin bicara dengan Paman Stevan!"'Jawab Prince padanya.
"Untuk apa?"
Pertanyaan itu pada akhirnya membuat Prince menyerah. Sepertinya ia harus jujur pada Mommnya. Tanpa sepatah katapun, Prince pun beranjak dari duduknya lalu mendekati Mommnya. Tepat di telinganya Prince pun membisikkan ke inginannya.
Satu keinginan yang membuat hati Bella menghangat. Satu keinginan yang membuat Bella tidak akan menolaknya. Sungguh ia di berkati dengan putra yang sangat baik.
"Bagaimana Mommy?" Tanya Prince setelah membisikkan rencana nya.
"Iya sayang, aku akan menyampaikan itu pada Stevan setelah ini." Jawab Bella padanya.
"Kakak berbicara apa dengan Mommy?" Tanya Sienna pada mereka.
"Adikku kau tenang saja, aku pasti akan mengajakmu nanti. Ini surprise dan kau jangan banyak bertanya!"
Jelas Prince kembali duduk. Bella tersenyum mendengar itu. Netranya pun kembali fokus pada jalanan.
...Dunia sering terbolak-balik...
__ADS_1
...Orang yang menyayangimu sepenuh hati, bisa berubah membencimu setengah mati...