
...Keegoisan adalah kutukan terbesar umat manusia...
...Kita semua harus bangkit, di atas awan kebodohan, kepicikan, dan keegoisan...
Siang ini adalah jam para tahanan untuk makan usai mereka di pekerjakan untuk memukul batu yang akan dikirim sebagai bahan bangunan. Brian duduk berhadapan dengan Marc mereka makan bersama dimeja yang sama, ini adalah hari kedua mereka berada dipenjara rasanya Brian mulai terbiasa dengan banyaknya rentetan jadwal dalam penjara itu bahkan tindakan semena-mena dari para militer sering ia saksikan. Pagi ini sudah ada lima belas manusia babak belur yang di keluarkan dari sel tahanan entahlah mereka akan dibawa kemana, wajah mereka berdarah penuh lebam, mungkin itu ulah mereka sendiri adu mekanik sesama Napi mencoba mengunggulkan dirinya, dan mendominasi para napi lain.
Selama dua hari itu Brian menemukan lima orang yang memiliki ponsel disini, jeli matanya masih setajam dulu ia memperhatikan hal-hal kecil untuk mendapatkan informasi itu. Disana terbesit dalam pikiran Brian untuk meminta bantuan salah satunya, meminjam ponselnya mencoba menghubungi Bella kekasihnya. Rindu yang membara itu membuatnya tak mampu menahan, hasrat untuk sekedar berbicara juga memastikan keadaan Bella dan Eddie.
Pria yang baru saja ia kenal itu duduk tepat disamping Marc, raut muka masam itu mencoba mendominasi Brian seakan ingin membuat Brian takut. Namun Brian tetap tenang tak ada sedikitpun rasa takut itu menjalari tubuhnya bahkan kuduknya pun tak berdiri.
"Jadi kau yang memanggilku ya?" Tanyanya dingin, sejenak Brian meletakkan sendok juga garpu miliknya lalu tersenyum menatapnya.
"Ya, tentu saja aku yang memanggil dirimu."Jawab Brian, muak rasanya Pria itu melihat raut muka itu.
"Apa maksudmu tersenyum semacam itu padaku?" Tanyanya geram namun Brian masih tersenyum.
"Lantas aku harus menunjukkan raut muka semacam apa padamu?" Tanya Brian lagi.
Brakkkkkkkkk
"Kacung kecil berani sekali kau padaku!" Geram Pria itu menggebrak meja lalu berdiri, mencengkram kerah baju Brian.
"Hei kau ini kenapa? Aku hanya ingin meminta bantuanmu!" Ujar Brian masih dengan nada tenangnya, Brian melihat Marc yang mulai naik pitam namun dengan aba-aba dari Brian, Marc menghentikan niatnya untuk membantu Brian.
"Kalau begitu kalahkan aku dalam pertempuran ini! Maka akan ku turuti apa yang kau inginkan." Ujarnya, Brian tersenyum mendengar itu ia menggeleng.
"Jika ada jalan damai, mengapa harus memilih jalan yang penuh dengan konflik?" Tanya Brian seraya melepaskan cengkraman tangan kekar itu dari bajunya.
"Penjahat banci semacam dirimu, terlalu banyak cakap!" Geramnya, satu pukulan penuh kekesalan itu dilayangkan begitu saja pada Brian. Brian tersungkur menerima itu, namun bukan Brian namanya jika sekali pukul tumbang.
Brian bangkit saat itu juga, beberapa sorak ria para tahanan itu meriuh memeriahkan suasana. Sepertinya mereka ingin pertunjukkan lebih, Brian memberi isyarat pada Marc untuk mundur kali ini di tengah para tahanan yang memutar mengelilinginya Brian juga Pria itu saling bertatapan.
__ADS_1
"Lihatlah bedebah ini lemah sekali hahaha..." Sorak Pria itu penuh dengan nada bangga.
"Hancurkan dia!!!" Teriak para tahanan, Brian hanya tersenyum mendengar itu rasanya tak ada salahnya memberi manusia sombong ini pelajaran sekarang, karena untuk menghantamnya ia sudah memiliki alasan.
"Baiklah akan kulayani kau!" Ujar Brian mengambil kuda-kudanya seraya menatapnya, Pria itu berseringai ia juga mulai berancang-ancang disana.
Buaghhhh
Baku hantam kedua belah pihak terjadi keduanya bertarung sangat sengit, Brian yang memang notabennya ada di bidang militer mencoba mencari celah yang pas untuk melumpuhkan Pria besar ini. Ketika celah itu ada Brian menggunakan teknik pelumpuhannya, menyebabkan Pria itu terjungkal tak sadarkan diri. Sorak riuh itu perlahan mulai meredup mereka tak percaya jagoan tahanan disini tumbang, dikalahkan oleh seorang Narapidana baru.
Marc tersenyum melihat itu ia mulai menghampiri Brian disana.
"Jika dari kalian ada yang ingin menantangnya, majulah!!!" Teriak Marc pada seluruh Napi, nyali mereka seketika ciut, mereka kembali ke mejanya masing-masing menikmati kembali makan siang mereka. Brian dengan hati-hati mengambil ponsel itu dari saku Pria besar itu, lalu berbisik padanya.
"Sesuai perjanjian! Terima kasih!" Ucap Brian seraya pergi dari sana di ikuti dengan Marc dibelakangnya.
_______
Dilain sisi Bella bersama dengan Han,Stevan, Eddie dan Angela sedang berada disatu ruangan yang sama. Mereka akan membahas perihal persidangan Brian yang akan diadakan beberapa hari lagi. Persidangan itu tak hanya akan berdebat, namun satu hari itu juga keputusan akan diambil, hari itu juga jika Brian bersalah maka hukuman akan diberikan.
"Stevan dan aku berencana menggunakan siaran langsung ke negara ini. Dimana jika keberatan kami, atau kesaksian kami nanti untuknya ditolak. Tolong, buat warga negara ini mendukung kami melalui siaran itu. Aku ingin kalian memaparkan kebaikan apa saja yang sudah Brian lakukan, juga alasan mengapa dirinya menjadi seperti ini. Ambil hati mereka supaya dukungan penuh ada pada dirinya." Jelas Bella.
Han mengangguk mendengar itu begitu juga dengan Eddie. Angela yang berada disamping Bella hanya mengusap lembut punggung kakak iparnya itu seakan menyalurkan kekuatan agar tetap tabah.
"Baiklah aku mengerti apa maksudnya, jadi kau dan Stevan dulu yang maju. Kita melihat situasi? Begitukah? Jika gagal kita akan melakukan siaran langsung." Ujar Han, namun Bella menggeleng mendengar itu.
"Kita lakukan ini bersama, jangan menunggu keputusan itu diputuskan. Ketika aku masuk dalam ruang sidang sebagai seorang saksi maka kau pun sama, kau akan masuk memulai siaran itu memaparkan juga meyakinkan pada dunia,me jelaskan apa yang terjadi disini sebenarnya." Jelas Bella, kali ini baik Eddie dan Han tau mereka paham.
Mereka merasakan keresahan yang menghinggapi hati Bella, mereka disana dikumpulkan untuk membebaskan Brian. Mereka ingin menjelaskan pada dunia, bahwa manusia berhak mendapatkan kesempatan kedua, bahwa kesempatan Tuhan tidak layak ditentang oleh manusia, jika mereka menentang apa yang Tuhan berikan pada Brian tanya mereka juga menolak keinginan Tuhan.
**Drtttttttttt
__ADS_1
Drttttttttt**
Suara dering telfon itu menyita perhatian mereka, Bella meraih ponselnya disana terlihat nomor tidak dikenal sedang menghubunginya. Bella mengerutkan keningnya melihat itu, dari siapa ini? Nomor yang digunakan juga milik negara Amerika.
"Dari siapa?" Tanya Stevan, namun Bella menggeleng tanda tidak mengenali nomor itu.
"Angkatlah!" Ucap Stevan, Bella mengangguk mendengar itu.
"Speaker!" Tambah Han, sekali lagi Bella mengangguk patuh mendengar itu. Bella mengangkat telfon itu, mengaktifkan speaker agar seluruh manusia didalam ruangan ini ikut mendengarkan barangkali mereka tau siapakah si penelpon.
"Bella.." Suara Baritone itu Bella mengenalinya, itu suara Brian kekasihnya. Seluruh manusia didalam ruangan itu terkejut mendengar itu.
"*Hunny?"
"Ya Sayang, apa kau baik-baik saja disana?" Tanya Brian lembut.
"Iya aku baik.." Ujar Bella suaranya bergetar sekarang rasanya ia merindukan Pria ini sungguh.
"Hei jangan menangis, aku pasti bebas kau tenang saja."
"Apa militer berlaku kasar padamu kak?" Kali ini Eddie ikut menanyakan kabar Kakaknya.
"Bagaimana mereka berani padaku? Aku mantan singa yang ditakuti oleh mereka bukan. Kau tenang saja, aku baik-baik saja." Ujar Brian dengan nada tenangnya.
"Kau dapatkan ponsel darimana?" Tanya Bella.
"Ada manusia besar yang mencari gara-gara denganku, ia memukulku sampai tersungkur setelah itu aku menghajarnya memukulinya hingga pingsan. Lalu mengambil ponselnya. Sudah dulu ya, banyak penjaga berlalu lalang disini, aku mencintaimu Bella. Aku pergi*!"
Tutttttttt
Suara itu menandakan bahwa panggilan itu berakhir. Bella tersenyum mendengar keadaan kekasihnya baik-baik saja disana, lega rasanya, namun kalut itu masih beranak-pinak dalam hatinya sebab keputusan sidang beberapa lagi yang belum diketahui.
__ADS_1
...Cinta adalah yang paling egois dari semua nafsu...
...Keegoisan harus selalu dimaafkan karena tidak ada harapan untuk sembuh....