
...Tidak ada jalan menuju kebahagiaan...
...Satu di antara rahasia untuk mendapatkan kebahagiaan hidup...
...Adalah terus menerus melakukan sesuatu yang sederhana...
Alcatraz adalah penjara dengan pengamanan kelas tinggi. Itulah mengapa banyak sekali penjahat kelas kakap yang dimasukkan ke dalam penjara terisolasi ini. Salah satu tahanan paling fenomenal bernama Al Capone yang merupakan seorang gangster dengan banyak sekali kasus kriminal di Amerika.
Penjara Alcatraz memiliki sekitar 300 sel yang setiap ruangan hanya berisi 1 orang. Penjagaannya super ketat. Bahkan tak ada jaminan bisa keluar dengan selamat. Setiap tahun ada sekitar 36 orang mencoba melakukan misi meloloskan diri dari tempat ini. Namun semuanya berakhir dengan mengerikan.
Berita diruang makan kemarin tersebar luas di seluruh penjara, Brian dipisahkan dari Marc. Dirinya digiring mengarah ke Blok A, dimana sel penjara A dan B adalah yang paling mengerikan dan kejam disini.
Penjara Alcatraz memiliki 4 blok yang berbeda. Blok B dan C biasanya digunakan untuk memenjarakan narapidana yang “anteng”. Sedangkan Blok A dan D digunakan untuk memenjarakan narapidana yang selalu memberontak dan banyak sekali membuat masalah di dalam penjara.
Di bawah blok A terdapat sebuah ruangan luas dan sering disebut dengan Spanish Dungeon. Tempat ini jarang sekali dipakai karena gelap dan sangat pengap. Beberapa narapidana percaya jika tempat ini digunakan untuk eksekusi mati narapidana dan jenazah langsung dibuang di laut lepas.
Lorong suram itu cukup mengerikan kira kanannya adalah sel, beberapa netra mengarah ke arah Brian memperhatikannya seakan mencoba mengintimidasinya. Ada satu sel ujung lorong ini sel itu terletak tepat ditengah, seorang lelaki memunggunginya Brian memperhatikan lelaki itu, surainya panjang, tubuhnya kekar, baju yang ia kenakan pun ada noda bercak darah, kepulan asap mulai keluar dari balik tubuhnya, sepertinya lelaki ini sedang menikmati rokoknya.
Petugas penjara membuka sel lain disamping sel ini, Brian masih fokus pada lelaki besar itu.
Klekkkkkk
Ketika pintu penjara itu terbuka Brian digiring masuk kesana.
"Aaaaaaaa!!! Kalian sialan, aku tak bersalah!!!"
Baru beberapa detik masuk kemari suara teriakan seakan menahan siksaan itu datang dari sel lain. Brian yang terkejut akan itu berjalan mendekati jerujinya netranya mencari tahu sumber suara itu. Terlihat dua orang petugas sedang menyeretnya, mencoba mengeluarkannya dari dalam selnya, lelaki itu digiring paksa namun ia juga meronta-ronta menolak apa yang dilakukan aparat.
Ketika lelaki itu lepas dari cengkraman mereka, lelaki itu berlari tepat menuju arah Brian namun bukan berhenti tepat dihadapannya melainkan ia mencengkram jeruji sel tengah dimana disana lelaki besar penikmat rokok itu sedang memunggunginya. Lelaki itu berteriak padanya terus berteriak memanggil-manggil namanya.
"Alcapone! Alcapone, tolong aku!"
Teriakan itu terkesan histeris begitu mengharapkan pertolongan, namun lelaki didalam sel itu sepertinya acuh ia tak bereaksi sama sekali.
__ADS_1
"Alcopone!"
Teriaknya lagi, kali ini ada tindakan dari dalam sana lelaki bernama Alcopone itu berbalik mendekatinya menatapnya lekat-lekat.
"Sudah kubicarakan denganmu? Perdagangan barang haram itu harus hati-hati. Kau membawa sebagian barangku lalu berniat kabur dari sini, kau waras?"
Ujar Alcopone pada lelaki itu, lelaki itu membulatkan matanya tak percaya mendengar itu seakan mengisyaratkan bagaimana manusia ini tau niatnya.
"Bajingan kau aku akan di eksekusi! Ini semua karenamu!"
Alcopone menatapnya datar tak berekspresi sama sekali lalu, gema tawanya menggelegar memenuhi ruangan. Seputung rokok yang masih menyala seketika di jejalkan begitu saja ke arah mata lelaki itu.
"Arghhhhhhhhh! Mataku!!!!"
Pekik lelaki itu menjauh dari sana sambil memegangi matanya, bagaimana rasanya bara sejumput itu membakar matamu, entahlah. Brian masih lekat memperhatikan lelaki besar bernama Alcopone itu, hingga netra mereka pada akhirnya bertemu.
Alcopone memperhatikan Brian dengan seksama, bersamaan dengan itu dua orang petugas membawa lelaki korban dari kekerasan Alcopone tadi. Alcopone maju mencengkram jerujinya lalu berseringai menatap Brian.
Ucap Alcopene padanya seraya tertawa. Brian tak menggubris hal itu ia hanya diam seakan malas meladeni lelaki besar itu.
Salah seorang petugas datang menghampiri penjara kami, sejenak ia memperhatikan kedua sel kami. Petugas itu tersenyum menatap Alcopone yang masih menatapku, tiba-tiba petugas itu membuka pintu sel Alcopone lalu membuka sel ku.
"Kau ingin satu pertandingan dengannya?"
Ujar Petugas itu sepertinya ia sudah biasa melakukan ini, saling mengadu para tahanan satu sama lain.
"Kenapa aku harus menurutinya?"
Tanya Brian muak sekali rasanya beradu mekanik disini, demi untuk tidak diperlakukan semena-mena kekuatan dalam penjara adalah pertahanan terbaik.
Buaghhhhhh
Satu Bogeman mentah itu melayang begitu saja mengarah tepat ke wajah Brain, tinjuan tanpa alasan membuatnya tersungkur tubuhnya tertabrak jeruji besi. Aparat itu dengan santainya mundur memainkan pistolnya, seakan-akan antisipasi barangkali Alcopone menyerangnya.
__ADS_1
Tak terima akan hal itu Brian bangkit kali ini, tangannya menyapu aliran darah yang keluar dari hidungnya. Brian mengambil ancang-ancang kali ini, perkelahian itupun tak bisa dihindari keduanya saling melayangkan pukulan satu sama lain. Beradu sampai menemukan titik terang sebagai yang paling unggul.
Suara riuh para napi dalam sel yang turut serta menyaksikan itu semakin meriah. Tak ada teriakan untuk berhenti disini yang ada adalah teriakan untuk semakin melawan dan melawan. Mungkin ini alasan mengapa banyak napi yang mati sebelum di eksekusi, mengapa banyak napi yang memilih bunuh diri didalam sel. Kekerasan didalam sini rupanya sebebas ini bahkan aparat pun mengijinkannya mereka tak melerai, namun jika salah satu mati karena pertarungan maka yang membunuh pun juga ikut di eksekusi.
Brakkkkkkk
Kucuran darah itu deras memercik dilantai, keduanya sama-sama unggul. Usai tubuh mereka menabrak terhempas diantara jeruji nafas mereka tersengal-sengal, rasanya tenaga mereka sudah mulai habis. Mereka bertarung selama lima menit, mungkin itu waktu yang singkat bagi kalian yang menyaksikan namun bagi para petarung lima menit adalah waktu yang lama.
Petugas militer itu seakan kecewa dengan pertunjukan mereka, keduanya tak tumbang mereka masih sama-sama bertahan. Para Napi dalam sel itu terkejut melihat betapa kuatnya Brian menghadapi Gengster Penjara yang ditakuti itu.
Keduanya maju kali ini ketika saling berhadapan keduanya mencengkram kerah kemeja masing-masing.
"Siapa kau! Kau tahan dari segala serangan ku siapa kau?"
Capone menatap tajam bola mata sebiru safir milik Brian. Dengan wajah yang sama-sama lebam Brian tersenyum.
"Aku hanya seorang manusia yang bertobat, dan disini menjalani karma!"
Jawaban Brian membuat Alcopone diam lalu melepaskan cengkramannya. Alcopone berbalik menatap petugas militer itu sekarang.
"Kenapa kau menatapku seperti itu hah?"
Tanya petugas militer itu, namun Alcopene hanya berseringai tanpa peduli apapun ia kembali masuk kedalam penjara, menutup pintu selnya sendiri lalu berbalik memunggungi Brian juga petugas itu. Brian kembali masuk kedalam sel namun netranya masih memperhatikan lelaki itu, eneh menurutnya tingkahnya.
Ketika petugas kembali mengunci sel mereka, Alcopone berbalik menatap Brian kali ini.
""Penjahat adalah penjahat, dan ada sesuatu yang sehat tentang kejujurannya dalam masalah ini. Tetapi setiap pria yang berpura-pura menegakkan hukum dan mencuri otoritasnya adalah ular besar. Jenis terburuk dari punk ini adalah politisi besar. Kau hanya bisa mendapatkan sedikit waktunya karena dia menghabiskan begitu banyak waktu untuk menutupi sehingga tidak ada yang akan tahu bahwa dia adalah seorang pencuri. Seorang penjahat yang bekerja keras akan dan bisa mendapatkan selusin burung itu, tetapi tepat di dalam hatinya ia tidak akan bergantung pada mereka membenci pemandangan mereka." Ujar Alcopene.
Brian mencoba mencerna tiap perkataan yang Alcopene lontarkan. Namun fungsi otaknya rasanya tak mampu mengartikan itu. Yang Brian tau adalah Lelaki ini juga muak dengan aparat yang semena-mena dalam penjara.
...Dunia tak lagi sama tak selamanya memihak kita...
...Disaat kita mau berusaha di situlah kebahagiaan akan indah pada waktunya...
__ADS_1