
...BIla kau mencintainya, berilah kebebasan...
...Bila dia mengkhianatinya, maka dia hanya mencintai kebebasan, bukan dirimu...
Satu persatu kamar sudah Brian cek. Kali ini hanya tinggal satu lorong saja yang belum ia cek. Brian dan Rey sama sekali tak lelah, mereka sejak tadi bergerak tanpa henti.
"Kosong!" Ucap Rey, lalu berlari membuka pintu lain.
"Kosong!" Ucap Rey lagi.
"Sial!" Umpat Brian.
Tibalah mereka dipintu terakhir. Pintu itu sedikit sulit saat itu ketika dibuka. Brian dan Rey sejenak bertatapan. Duplikat kunci tiap kamar sudah ada ditangannya. Pegawai kapal lah yang memberikannya padanya.
"Mari kita buka Tuan!" Ucap Rey pada Brian.
Brian mengangguk mendengar apa yang Rey katakan. Rentetan ku cil dari dalam saku jasnya ia keluarkan. Kunci kamar nomor 110F. Brian mencolokkan kunci itu kelubang pintu, lalu membukanya pelan.
Betapa terkejutnya netranya saat melihat Reiner dengan segala kelakuan bejatnya. Reiner berada di atas tubuh Bella saat ini, ia sedang mencumbunya.
"Brengsek!!!" Pekik Brian melempar kunci yang ia bawa sembarangan.
Teriakan dari ambang pintu seketika membuat Reiner mengalihkan netranya. Ia membulatkan mata tak percaya atas kedatangan siapa yang berada di ambang pintu itu.
"Sial kau, cari mati kau!" Teriak Brian dipenuhi amarah. Ia berjalan ke arah Reiner mencengkram kerah baju pria itu.
Brakkkkkk
Brian menghempaskan tubuh Reiner ke dinding. Lalu menariknya lagi, menghempaskannya kembali ke arah lemari kaca.
"Ughh..."Reiner memekik ketika kepalanya terbentur keras ke arah lemari kaca.
"Biar ku bunuh kau disini!" Pekik Brian menghempaskan Reiner lagi ke lantai. Sejenak Brian menginjak dada Reiner lalu menodongkan pistol ke arahnya.
Rey dibuat terkejut melihat aksinya. Apa Brian sudah kehilangan akal disini? Apakah todongan pistol itu serius ditujukan untuk membunuh Reiner.
"Tetua, kau!" Pekik Rey tak percaya.
Namun Brian yang sudah gelap mata, menatap penuh kebencian ke arah Reiner. Disana Pria itu menguasap ujung bibirnya yang berdarah lalu berseringai ke arah Brian.
Sungguh, Reiner benar-benar tidak menyayangi nyawanya. Padahal sekali pelatuk itu tertarik, nyawa miliknya akan terbang melayang.
__ADS_1
"Apa kau ingin membunuhku? Katakan!" Ucap Reiner berseringai.
"Kenapa tidak! Kau manusia sialan tak tau malu, membawa istri orang lalu kau hendak menidurinya?" Pekik Brian.
"Apa bedanya denganmu? Kau meniduri Tasya, sampai ia hamil sekarang. Tak ada bedanya Brian, kau pun harus rela apabila Istrimu dilakukan semacam ini. Sebab itulah karmanya!" Ucap Reiner.
Deppp
Brian kembali menodongkan pistolnya ke arah Reiner. Kali ini ujung pistol itu berhenti tepat di kening Reiner, menempel disana.
"Aku tidak membuat hal itu dengan sengaja! Kau, Nami, Tasya beserta segala konspirasi kejimu itu yang menjebakku. Kenapa kau tak ambil bayi itu saja? Sampai matipun, aku tidak akan menerima bayi dari Tasya." Ucap Brian geram.
Apa yang Brian ucapkan membuat Reiner disana terkekeh. Baginya itu lucu, Brian menolak keberadaan benihnya semudah itu.
"Kau tidak akan bisa membuangnya! Dunia akan menuntutmu atas itu!" Jawab Reiner.
"Sial!" Geram Brian.
"Hunny!!!" Nada bicara lirih itu sekejap menghentikan aksi Brian yang hendak mengeksekusi Reiner disana.
Brian mengarahkan netranya ke arah Bella, yang sedang berbaring disana dengan pakaian yang sudah acak-acakan.
Terlihat Rey berdiri menggantikan Brian saat ini. Todongan pistolnya masih mengarah tepat ke arah kepala Reiner.
"Hunny.. apa yang terjadi?" Tanya Bella berusaha menyadarkan dirinya.
"Tidak ada apa-apa! Bella kau tidur saja kembali!" Ucap Brian padanya.
Namun Bella tetaplah Bella, dengan segala keras kepalanya.
"Siapa itu?" Bella berusaha bangkit melihat siapakah manusia lain yang berada dalam ruangan ini bersamanya.
"Reiner?" Samar Bella melihat pria itu, tersungkur tak berdaya.
"Reiner?" Tanya Bella lagi pada Brian sekarang.
"Ya sayang itu Reiner!" Jawab Brian padanya.
"Lantas mengapa dia kemari?"
Brian diam mendengar itu, netranya berbalik menatap Stevan kali ini.
__ADS_1
"Bawa dia dan tahan dia! Lalu tutup pintu kamar ini!" Perintah Brian pada Rey disana.
Satu anggukan Rey berikan pada Brian, segera ia bergegas pergi meninggalkan Brian dan Bella sendiri dikamarnya.
"Lepaskan aku!" Ucap Reiner berontak, berusaha melepaskan dirinya.
Namun apa dayanya yang hanya pengelola bisnis kecil. Ia sama sekali tidak mengikuti militer, bahkan jarang berolahraga. Tenaga Rey jauh lebih kuat darinya.
"Sekuat apapun kau berontak atau berusaha kabur, kau tetap tidak akan mampu!" Ucap Rey padanya.
Reiner berdecak kesal mendengar itu. Satu langkah lagi, padahal rencanannya akan berhasil. Namun nyatanya Tuhan itu adil, ia sama sekali tak mengizinkan kebhatilan dunia menang.
Brian di kamarnya masih mengusap kepala Bella lembut. Wanita itu benar-benar tertidur kali ini. Surai panjang itu sedikit menutupi wajahnya, Brian menyingkirkannya lalu mengecup puncak kepalanya lama sekali.
"Mulai saat ini hanya akan ada aku, kau, dan anak kita ini! Segalanya telah usai!" Ucap Brian sambil mengusap lembut perut Bella.
Brian memilih ikut terlelap sekarang, bersama dengan Bella yang juga terlelap. Mereka tidur saling berhadapan. Posisi ini membuat Brian mampu mematri tiap wajah Bella yang indah baginya.
________
Berhasilnya Brian disana, membuat Eddie kalut rasanya. Kakaknya itu sejak tadi sama sekali tidak bisa dihubungi. Hal itu membuat Eddie bertanya-tanya sebenarnya apakah misi Brian tuntas atau tidak.
"Dia masih belum menelpon?" Tanya Stevan sambil melipat kedua tangannya.
"Belum, sejak tadi panggilanku sama sekali tidak dijawab olehnya!" Jawab Eddie padanya.
Mereka masih berada di atas atap gedung terbengkalai. Mereka tak pergi sebab mereka ingin beristirahat sejenak, membahas sambil menikmati kita cukup rasanya untuk mengusir jenuh dalam hatinya.
"Jika bedebah itu tidak berhasil membawa kakakku, maka aku akan membunuhnya!" Ucap Stevan.
Eddie yang masih sibuk dengan ponselnya sama sekali tidak menanggapi itu. Rasanya ia menyerah kali ini, dua ratus panggilan sudah ia lakukan pada Brian disana. Namun nihil, tak ada jawaban apapun untuknya. Usahanya ini sia-sia rasanya sungguh.
"Sudahlah, aku yakin mereka pasti berhasil!" Ucap Eddie menyerah.
Eddie kembali memasukkan ponselnya ke dalam sakunya. Lalu menatap ke arah kota, membuang kasar nafasnya. Selain berharap dan berdoa, tak ada lagi yang mampu mereka lakukan.
Padahal disana Brian telah berhasil mencapai tujuannya, yaitu mendapat Bella nya kembali. Tidak ada seorangpun yang tau bahwa ia berhasil disana.
Mungkin butuh waktu sekitar dua Minggu bagi Brian untuk sampai ke Australia. Sepertinya jalur cepatnya adalah jalur udara. Brian sudah memiliki satu ide, dimana ketika mereka sampai ke Aussie. Brian akan memesan tiket dan kembali pulang ke Perancis.
...Cuma sedikit orang yang menginginkan kebebasan, kebanyakan hanya menginginkan seorang tuan yang adil...
__ADS_1