
Sejak pertemuannya dengan Bella dan seluruh penjelasan Nami. Hal itu membuat Annie semakin dekat dengan Bella. Ia juga sering kali mengunjungi rumah Bella. Sebab ia ingin menjenguk keponakannya Sienna disana.
Hal itu selalu di sambut baik oleh Bella. Tak jarang bagi Bella menawari Annie untuk ikut makan pagi bersama mereka.
Kira-kira ini sudah seminggu sejak kejadian itu. Sejak saat itu tak ada lagi masalah yang datang ke keluarga mereka.
Prince juga saat ini sudah semakin membaik kondisinya. Walaupun ia saat ini sangat ketergantungan oleh obat dokter.
Perihal dokter yang di sekap oleh Annie.
Saat ini ia sudah di lepaskan di bebaskan. Annie juga membayar sejumlah uang untuk menebus kesalahannya pada dokter itu.
Beruntungnya dokter itu setuju dengan japan damainya. Ia menerima uang itu beserta dengan jalan damainya.
Di meja makan seperti biasanya suasana hangat terjadi antara Bella dan Kedua anaknya. Berbeda dengan Brian yang saat ini sedang sibuk dengan ponselnya.
"Hunny, kau pulang jam berapa hari ini?" Tanya Bella pada suaminya yang sibuk.
Brian melirik sebentar Bella lalu kembali lagi pada ponselnya.
"Kira-kira sekitar jam delapan malam. Aku tidak bisa menjemput anak-anak ya sayang! Maafkan aku!" Ucap Brian menjelaskan.
Bella mengangguk sambil tersenyum. Olesan roti dengan selai sudah selesai. Bella memberikan itu pada suaminya.
"Tidak ingin di masakan beef?" Tanya Bella padanya.
Brian melirik lagi istrinya. Bella tersenyum disana.
"Boleh... Tapi mungkin saat pulang nanti aku sudah mengantuk. Jadi tidak usah, terima kasih tawarannya. Aku akan senang jika kau menyambutku di kamar."
"Uhuk..."
Bella terbatuk mendengar itu. Nada bicara nakal itu tentu saja Bella paham. Prince dan Sienna menatap heran pada kedua orang tuanya.
"Ada apa Mommy?"'Tanya Prince dengan nada polosnya.
"Tidak apa sayang..." Jawab Bella meraih gelas berisi air lalu meminumnya.
"Hati-hati makannya, pelan-pelan! Kau ini!" Tutur Brian di sampingnya sambil membelai punggung Bella.
"Nanti malam kau jangan lupa ya sayang. Hari ini Valentine!" Bisik Brian lagi.
Bella memicingkan matanya ke arah suaminya itu. Lihatlah betapa tidak tau situasinya suaminya ini.
"Hunny... Ada anak kita disini!" Lirih Bella padanya.
Cuppppp
Brian mencium bibir Bella sekilas lalu meraih roti yang Bella buatkan dan pergi segera dari hadapannya.
__ADS_1
"Sayang aku berangkat! Prince, Sienna Daddy tunggu di mobil!" Ucap Brian pergi.
Melihat tingkah laku suaminya Bella mendengus kesal. Tatapannya kini kembali pada kedua anaknya yang sedang menutup matanya.
"Aku tidak melihatnya Mommy! Kau tenang saja!" Jawab Prince.
"Aku juga Mommy!" Jawab Sienna lagi menimpali.
Bella membuang kasar nafasnya lalu beranjak dari duduknya.
"Prince dan Sienna makan pelan-pelan ya! Nikmati saja tidak usah terburu-buru. Lagi pula jam masuk kalian masih cukup lama." Tutur Bella pada kedua anaknya.
Ia mulai membawa piring kosong Brian ke dapur. Anggukan dari Prince dan Sienna membuat Bella tersenyum.
Kedua anak nya itu kembali menikmati makanannya. Mereka makan dengan sangat lahap.
"Kakak, Percy bilang dia merindukanmu!" Ujar Sienna menceritakan pada kakaknya hal apa saja yang terjadi selama dia tak ada.
"Benarkah? Wah jarang sekali dia merindukanku disini." Jawab Prince pada adiknya.
"Ya, seperti biasa mereka selalu mengantri di kantinku kakak. Mereka selalu membeli kue kentang disana." Ucap Sienna lagi.
"Sebab kue kentang disana itu yang paling enak Siena! Di kantin kami, kue kentangnya tidak terlalu gurih seperti di kantinmu. Itulah mengapa Percy rela mengantri panjang asalkan ia mendapatkan kue kentang itu." Jelas Prince padanya.
Sienna hanya manggut-manggut saja mendengar penjelasan kakaknya. Sejujurnya Sienna senang sekali melihat kakaknya sehat kembali. Ia sangat merindukan Prince.
Di mobil bersama dengan ayahnya hanya ada sunyi disana. Namun jika Prince ada, maka suasana didalam mobil ketika berangkat dan pulang akan hidup.
"Mommy, kita sudah selesai makannya! Kami pergi ke sekolah dulu ya!" Ucap Prince menghampiri Bella.
Bella merentangkan kedua tangannya melihat itu. Sienna dan Prince yang paham pun berhambur ke arah Mommy nya memeluknya. Satu kecupan lembut mendarat di puncak kepala mereka.
"Hati-hati ya! Belajar yang giat kalian!" Tutur Bella pada kedua anaknya.
"Hari ini Valentine! Mommy ingin apa?" Tanya Sienna mendongak.
"Ingin apa ya? Emmm.. Mommy ingin kalian selalu bahagia saja!" Jawab Bella dengan tawanya.
Mendengar itu Prince berbisik pada Sienna. Sebuah bisikan yang hanya mereka berdua saja yang tau.
"Kalian sedang membicarakan apa?" Tanya Bella curiga.
Prince segera menggelengkan kepalanya mendengar itu. Ia menjauh dari Bella lalu menarik pergelangan tangan Sienna dan pergi.
"Bye-bye Mommy! Kami mencintaimu!" Ucap keduanya berlari.
Langkah kecil mereka yang berlari membuat Bella bahagia sekali. Mereka berdua terlihat sangat lucu. Sesekali ia mengucap syukur dalam hatinya. Sebab tak ada lagi hal yang terjadi dalam rumah tangga nya.
Bella berdoa semoga segala masalah usai. Sudah cukup bagi mereka di beri banyak masalah.
__ADS_1
Tinnnnn
Tinnnnn
Suara klakson mobil Brian di gerbang menandakan bahwa suami dan anaknya itu sudah keluar dari kediamannya.
Saatnya bagi Bella untuk bernafas lega. Mungkin sedikit menuangkan masalahnya dalam tulisan adalah alternatif terbaik.
Ketika Bella akan membersihkan piring dan beberapa alat makan lain. Seorang pegawai mencegahnya.
"Nyonya, mengapa anda tidak memanggil kami? Kami bisa membereskannya untuk anda!" Ucap pegawai itu.
Namun disana Bella menggeleng. Ia tak ingin itu. Masalah nutrisi anak dan suaminya harus dari tangan Bella sendiri.
"Tidak perlu, kalian atasi yang lain saja ya! Untuk merawat anak dan suamiku biar aku saja!" Jelas Bella.
Setelah usai ia pun pergi dari sana menuju kamarnya.
__________
Seminggu sejak kejadian itu juga. Annie, Stevan dan Nami bekerja dalam satu ruangan. Sebab ketiga nya adalah mata-mata, mereka saat ini sedang berada di kantor polisi.
Beberapa kasus terlihat menumpuk. Belum ada yang menyentuhnya. Hal itu membuat mereka bertiga menghela nafas melihat tumpukan berkas itu.
"Mengapa kasus nya sebanyak ini?" Tanya Annie tak percaya.
"Pak kepala bilang, katanya tidak ada yang mampu menyelesaikan kasus-kasus ini!" Jelas Stevan pada mereka berdua.
"Gilanya sampai sebanyak ini! Perkiraan ada sekitar lima belas kasus." Ujar Nami memperhatikan berkas itu.
Stevan melihat-lihat lembaran kasus itu. Menurutnya ada beberapa kasus yang bisa mereka tangani dengan kemampuan Nami. Dan beberapa lagi mungkin memang harus turun tangan ke jalanan mencari informasinya.
"Ada beberapa kasus yang bisa kau selesaikan sayang. Melalui sibermu, ini akan meringkas waktunya!" Jelas Stvan memberikan beberapa berkas pada Nami.
Nami mengambil berkas itu lalu membacanya. Setelah membacanya Nami mengangguk. Benar ini cukup dengan mengandalkan siber akan beres.
"Setelah kita menyelesaikan ini lalu menangkap pelakunya. Kerjakan yang lain! Kita akan sangat sibuk sepertinya selama dua bulan ini." Jelas Stevan pada mereka.
"Setelah seluruh tugas ini selesai, kau wajib mengadakan pesta barbeque!" Ujar Annie pada Stevan.
Nami tersenyum mendengar itu. Sepertinya itu adalah ide yang cukup bagus. Tak ada salahnya menghabiskan uang suaminya beberapa peser.
"Tidak!" Jawab Stevan singkat.
"Kau pelit sekali Stev?" Tanya Nami menatap suaminya.
Tatapan mengerikan dari istrinya membuat nyali Stevan ciut rasanya.
"Baiklah, kita akan adakan pesta Barbeque!" Jawab Stevan menyerah.
__ADS_1
Kedua wanita disana pun bersorak senang. Mendengar itu bagaikan amunisi, mereka pun kembali fokus pada berkas mereka.