
...Beberapa orang nyata. Beberapa orang baik. Beberapa orang palsu dan beberapa orang benar-benar pandai berpura-pura...
________
Stevan membulatkan matanya tatkala melihat nama siapa yang tertera didalam laptopnya. Bagaimana mungkin, padahal ia sudah melarang hati juga pikirannya agar tidak berburuk sangka pada nama manusia itu.
"Mengapa kau melakukan ini Nami?" Batin Stevan.
Ia benar-benar tak percaya akan meringkus Nami dengan kedua tangannya sendiri. Seluruh pencariannya berbuah hasil pada akhirnya. Pihak korban mobil pencurian, salah seorang anggota keluarganya melihat seorang wanita masuk kedalam mobil itu.
Anak buah Stevan yang ia tugaskan untuk mencari tau mengenai mobil siapakah yang dipakai untuk mencelakai kakaknya. Ia menemukan satu fakta disana, dimana ketika kerabat dari pemilik mobil itu ditanya. Mereka menjelaskan ciri-ciri orang itu.
Melalui tangan seorang seniman, sebuah sketsa wajah dibentuk sesuai dengan apa mereka katakan. Hasil akhir dari lukisan itu sekejap membuat Stevan bungkam.
Ia memang patuh pada keadilan, namun apabila perasaanya sedikit ada untuk Nami, rasanya tangannya gemetar ketika menangkap manusia itu. Mungkinkah ini simpati, namun Tuan Brad pernah mengatakan. Untuk keadilan kita tidak boleh bertoleransi.
Tempat dimana Stevan duduk saat ini itu karena ayahnya. Ayahnya yang mengajar padanya mengenai dunia juga politiknya.
Tak hanya itu, Ayahnya juga sosok heroik bagi Stevan. Dimana Tuan Brad juga pernah mengatakan padanya, bahwasanya antara keadilan dan cinta salah satu dari hal itu harus kita pilih nantinya.
Rasanya Stevan mulai bernostalgia saat ini. Tubuhnya bersandar nyaman di punggung kursi. Netranya menatap lekat ke atas, ke arah atap-atap putih ruangannya.
"*Ayah, apakah pekerjaan apa yang paling berat bagimu?"
Stevan kecil bertanya pada Tuan Brad. Mereka berdua duduk didepan teras saat ini sambil menikmati secangkir teh bersama.
"Pekerjaan paling berat ya? Sepertinya bagi ayah, pekerjaan paling berat adalah memakmurkan keadilan."
Stevan yang masih polos hanya menatap ayahnya heran. Namun perkataan itu seakan terpatri dalam kepalanya. Sebuah kalimat jawaban keramat yang akan senantiasa menghantui seorang Stevan.
"Apa itu keadilan ayah?" Tanya Stevan lugu. Disana ada Bella, ia yang duduk disamping adiknya sekejap dibuat tertawa.
"Kau ini memang sangat polos ya!" Ujar Bella seraya mengusap lembut kepala adiknya. Disana terlihat Tuan Brad Drew selaku ayah mereka juga tersenyum.
"Kau ingin menjadi apa bila besar nanti nak?" Kali ini Ayahnya bertanya pada Stevan.
"Aku ingin menjadi seperti Ayah! Penegak keadilan!"
Jawaban polos Stevan saat itu membuat Tuan Brad menghangat. Sepertinya rantai komando dalam keluarganya akan terus berjalan, entah sampai pada generasi berapa nantinya.
"Itu adalah sebuah cita-cita yang baik nak!" Jawaban Ayah mereka sekejap mengundang tawa bahagia, bagi Bella juga Stevan disana. Tiga orang manusia itu begitu harmonis sekali*.
Stevan membuka matanya ketika memori itu berakhir. Dahulu begitu indah sungguh, sebelum dirinya mengenal tentang dunia dan politik.
"Dahulu indah sekali, mengapa segalanya berlalu cepat ya?" Lirih Stevan.
Rasanya memori itu mulai membawa kembali semangatnya. Sekalipun hatinya begitu berat saat ini, namun tugas tetaplah tugas. Stevan bangkit dari duduknya ia berjalan ke arah centelan kemeja, mengambilnya lalu memakainya.
Usai mengenakan kemejanya Stevan sedikit merapikannya. Dengan berat hati, Stevan memaksa langkahnya pergi meninggalkan ruangannya.
Hari ini, ia harus segera menemui Nami. Rasanya ia ingin menanyakan berbagai hal pada mantan temannya itu. Mengapa ia tega hampir membunuh Bella.
Padahal Nami tau satu-satunya keluarga yang masih ia miliki adalah Bella. Lantas mengapa ia tega menyakitinya.
__ADS_1
________
Nami berada di atas gedung seorang diri saat ini. Gedung itu, gedung yang sama dimana saat itu ia dan Stevan bekerja sama untuk menghancurkan Bella.
Nami sengaja mengekspos dirinya disini. Ada satu alasan untuk itu, alasan itu adalah agar Stevan mampu menemukannya dengan muda.
Sembari menghisap vapor ditangannya, Nami dari atas sana mulai jenuh. Kesendirian ini membuatnya muak rasanya, pemandangan kota dibawah sana juga mulai memuakkan.
"Kenapa lama sekali dia? Bukankah seharusnya ia bertindak cepat?" Lirih Nami, ia menutup vapor miliknya lalu mengembalikannya ke saku.
Ditempat lain beberapa anak buah Stevan mulai ramai menghubungi Stevan. Pemuda itu berjalan diantara keramaian, mungkin angkutan umum hari ini untuknya tepat.
Setidaknya ia tidak perlu mengendarai mobil miliknya ketika kepalanya sedang frustasi saat ini. Stevan berhenti tepat didepan halte bus, disana cukup padat rupanya.
Banyak manusia yang mengantri menunggu bus datang. Beberapa pria kantoran berulang kali memeriksa arloji mereka. Sepertinya mereka berharap agar tidak telat.
Beberapa lama menunggu pada akhirnya sebuah bus tepat berhenti dihadapan mereka. Stevan masuk kedalam lalu duduk di atas kursi kosong.
Dering dalam ponselnya membuat Stevan memaksa tangannya, mengambil ponsel itu dari dalam sakunya. Rupanya ada banyak pesan masuk disana. Satu persatu pesan itu mulai Stevan cek, ada satu pesan yang menurutnya dekat dengan tujuannya.
Lokasi itu sedikit mengingatkan Stevan akan sesuatu. Satu perseteruan antara dirinya dan Brian saat itu. Disana Stevan yakin bahwa Nami ada ditempat itu. Dalam lima belas menit tujuannya akan segera sampai.
Sembari menunggu Stevan memilih bermain game sebentar didalam ponselnya. Bagaimana pun seorang penegak hukum juga butuh sebuah hiburan.
Lama menghabiskan waktu didalam bus. Pemberhentian ketiga membawa Stevan turun keluar dari dalam bus. Beberapa meter ketika bus itu pergi, netra milik Stevan melihat jelas gedung itu dari tempatnya berdiri.
Sedang dari atas gedung dengan teropongnya. Gadis yang tak lain adalah Nami ini tersenyum melihat kehadiran Stevan disana.
"Hahahaha... pada akhirnya aku pun bisa memancingmu kemari bukan? Sekalipun kau datang padaku untuk menangkapku."
Beberapa anak tangga mulai ia lewati. Anak tangga itu membawa tubuhnya semakin naik ke lantai atas. Tepat ketika dirinya berada dilantai atas, sebelum kesana ada sebuah pintu kayu. Sambil menghela nafas, Stevan membuka pintu kayu itu.
Grekk
"Welcome, Stevan!"
Suara itu muncul bersamaan dengan dirinya yang sedang membuka pintu. Sekejap Stevan yang sigap keluar dari dalam sana sambil menodongkan pistol. Melihat itu Nami sama sekali tak takut. Ia hanya menatap ke arah Stevan sambil tersenyum.
"Waspada sekali kau ternyata?"
Raut muka dingin miliknya sama sekali tak terlepas dari Nami. Kekesalannya semakin bertambah tiap kali gema tawa milik Nami menggema. Jika ia melupakan tugasnya mungkin ada kemungkinan terjadi kekerasan disini.
"Mengapa kau menatapku semacam itu, Stevan?" Tanya Nami antusias seraya tersenyum.
"Aku tidak memasang peledak disini. Kau tenang saja, lagipula apa tujuanmu kemari hah?"
Nami berpura-pura tak tau perihal apakah Stevan datang kemari. Ia ingin mendengar segala penjelasan itu dari Stevan sendiri.
"Kau, aku baru saja mendapat laporan dari anak buahku!" Stevan mulai mengatakannya saat ini.
"Oh ya, apa itu?" Tanya Nami penasaran, hal itu membuat Stevan memicingkan matanya.
Bahkan raut wajah Nami nampak tak berdosa disini. Gadis ini, apakah kejiwaannya mulai terganggu sekarang. Stevan memutuskan untuk mendekati Nami saat ini. Ia meletakkan kembali pistol miliknya dalam saku.
__ADS_1
"Sebenarnya apa rencana?" Tanya Stevan tak ingin berbasa-basi. Stevan menatap lekat ke arah bola mata Nami saat ini.
"Memang apa yang aku lakukan hah?" Jawaban itu membuat Stevan geram rasanya.
Mengapa gadis ini tidak mengatakan segalanya. Mengapa Nami senang sekali berbelit-belit disini.
"Kau mencoba membunuh kakak ku?" Tanya Stevan padanya lagi, disana sama sekali tak penyesalan. Namun yang Nami lakukan hanya mengangguk.
Grepppp
Hasil dari anggukan itu membawa telapak tangan kekar Stevan ke arah lehernya. Pria ini sedang gelap mata sekarang, berani sekali manusia dihadapannya ini menyentuh satu-satunya saudaranya.
"Bukankah sudah kukatakan padamu untuk tidak menyentuh keluargaku?!" Pekik Stevan.
"Hahahaha... kau marah?"
"Apa maksudmu, tentu saja aku marah disini, bodoh!!!"
"Kau marah sebab kau menyayanginya bukan? Lalu bagaimana denganku apakah kau peduli?"
"Aku peduli denganku itulah mengapa aku ingin kau sadar, Nami!"
Penjelasan itu membuat Nami mendorong kasar Stevan kebelakang. Stevan menatapnya lekat kali ini, namun Nami ia memalingkan pandangan wajahnya ke arah kota.
"Aku tidak ingin menyakiti seorang teman yang pernah menolongku. Namun kau bertindak berlebihan Nami." Jelas Stevan padanya.
"Jika kau ingin menangkapku, maka tangkaplah aku saat ini juga. Karena mungkin, kaburku hari ini akan membuatmu kewalahan." Penjelasan itu membuat Stevan mengeluarkan borgol dari dalam sakunya.
"Aku tanya satu kali lagi padamu, mengapa kau ingin membunuh kakak ku?"
"Karena aku juga membencinya! Kegelapan dendamku ikut membuat dirinya sebagai tersangka juga saat ini."
"Namun dia sama sekali tidak bersalah disini kau tau itu bukan?"
"Aku tau itu, namun dia tetap berada pada kubu musuh."
"Aku bahkan membelamu ketika namamu disebut pertama sebagai tersangka oleh Brian. Kau tau kenapa Nami? Sebab aku percaya padamu, sebab aku tau kau adalah manusia yang mampu memilah. Kau bukan sosok serakah yang akan membumi hanguskan tiap nyawa."
Deggggg
Penjelasan panjang itu perlahan menggetarkan hati Nami. Sebegitu percayanya Stevan padanya, padahal sudah banyak hal keji yang ia lakukan pada Brian.
"Untuk alasan apa kau membelaku sampai seperti itu?" Tanya Nami.
"Sebab aku menyayangimu!"
Nami membulatkan matanya mendengar itu. Netranya sontak beralih ke arah Stevan menatapnya lekat. Pria itu disana juga menatapnya.
"Jadi untuk menembus semua ini, kau harus menyerahkan diri!"
Stevan berucap sambil mendekatkan dirinya ke arah Nami. Sebuah kecupan lembut di bibir membuat Nami terbuai, ia bahkan tak sadar bahwa saat ini Stevan sudah memborgolnya.
Detik ketika Stevan berhasil menangkapnya, ia melepaskan pagutannya. Nami tersenyum menyaksikan apa yang Stevan lakukan disana, cara Stevan mengalihkan perhatiannya cukup unik rupanya, juga terkesan berani.
__ADS_1
...Saat kita tumbuh dewasa, kita menyadari bahwa menjadi kurang penting untuk memiliki banyak teman dan lebih penting untuk memiliki teman yang nyata...