Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Konspirasi Kecil #1


__ADS_3

...Hukum lama tentang mata diganti mata...


...Membuat semua orang buta...


Malam ini didalam ruang rapat Kaneki Corps, terdapat banyak sekali manusia yang hadir memenuhi meja panjang itu. Tempat ini adalah tempat diskusi, dimana biasanya Brian dan Eddie membahas tentang perkembangan bisnis dan bisnis baru apa yang akan mereka kembangkan.


Namun, hari ini berbeda, bukan Bisnis yang akan di bahas tapi sebuah rencana. Satu kursi utama, di ujung meja, terlihat Brian yang duduk sambil memasang raut muka serius. Mereka yang berada dalam ruang rapat ini adalah, bawahannya yang paling ia percaya. Mafia yang pernah bertarung dan menjalankan misi bersamanya. Nampak raut wajah geram, terlukis jelas pada wajah disana. Mereka tak terima, atas tragedi yang akan merenggut nyawa Tetua nya lagi.


"Kita harus menemukan orang itu segera!" Seru Themo, itu mengundang sorakan dari kawanannya.


"Ya!!! Kita harus membinasakan iblis itu!" Ujar semuanya.


"Tetua, beri kami perintah. Jika segalanya menyangkut keselamatanmu, kami akan mempertaruhkan nyawa kami untukmu." Ujar Themo serius, Brian membuang nafasnya kasar mendengar itu.


Memang mereka sangat setia sekali padanya, tapi bukan itu yang Brian inginkan. Dia tidak ingin membunuh lagi.


"Dengar!" Satu kata dari Brian, seketika membungkam sorak seru kawanannya. Mereka diam, dan mulai mendengarkan apa yang akan Brian katakan.


"Aku dan Eddie menyimpulkan satu hal disini, ada dua lawan yang akan mengincar nyawaku. Pertama, mungkin militer Amerika mengetahui aku masih hidup, sehingga mereka ingin membinasakan diriku lagi. Tapi, melihat apa yang terjadi padaku kemarin itu bukan ulah militer. Mereka, akan mengeksekusi melalui jalur hukum, tidak mungkin mereka bertindak secara terang-terangan. Kedua, Shawn memang sudah mati. Tapi, akar dari dirinya masih ada, mungkin aku tidak menggunakan prinsip mafia ku ketika dia mati, yaitu membunuh seluruh keturunannya seperti yang selalu dia katakan, bereskan dan bunuh semuanya. Aku merasa, hal itu tidak benar dilakukan." Jelas Brian, tak jauh dari sana Eddie, Angela dan Bella memperhatikan diskusi yang mereka bahas.


"Ed, mengapa kau tak ikut bergabung bersamanya?" Tanya Bella, seraya masih memperhatikan kekasihnya dari atas.


"Aku bukan ahli strategi seperti Brother, tapi aku akan mengambil peran untuk menjadi tamengnya. Aku akan bergerak sesuai perintahnya, dan aku akan lakukan apa yang ku bisa." Ujar Eddie, ia juga masih memperhatikan Brian dari sana.


"Sementara ini, jangan biarkan Brian pergi kemanapun. Karena aku yakin, mereka pasti masih berkeliaran disini. Tolong, jaga dia tetap disini. Aku akan mencoba mengumpulkan informasi, dari kamera pengawas." Ujar Bella, Eddie mengangguk menanggapi itu.


"Kau akan terjun sebagai seorang detektif lagi?" Tanya Eddie.


"Tentu saja, bagaimana aku bisa diam melihat kematian sedang mengintainya lagi. Bukankah sepuluh tahun itu sudah cukup lama, untuk jarak memisahkan kami. Aku tidak akan, membiarkan dia berjuang sendiri." Jawab Bella, ia pun pergi dari sana. Hari ini, ia akan begadang dan sedikit sibuk. Mengecek data yang ada di dua gedung, markas ini juga hotel Kaneki.


"Dia sangat mencintai Brian ya?" Ujar Angela, Eddie tersenyum mendengar itu.


"Ketika mereka akan meresmikan hubungan mereka, justru masalah baru datang lagi." Ucap Eddie, Angela mengangguk mendengar itu.


Disana Brian terlihat sudah selesai dengan rapatnya, para kawanan Mafia itu pun keluar dari ruang rapat. Sekarang hanya tersisa Brian sendiri disana, bersama Eddie dan Angela yang turun menghampirinya.


"Brother, kau sudah memperkuat keamanan. Jadi, saranku untuk saat ini jangan keluar dari markas ini. Sebelum..." Jelas Eddie, terpotong.


"Sebelum wanitaku menemukan identitas penembak itu?" Tambah Brian, Eddie mengangguk mendengar itu.

__ADS_1


"Iya Brother." Jawab Eddie.


"Aku memang mempercayainya, aku pun juga tidak akan melakukan hal bodoh. Tapi, selama dia mencari informasi itu tolong jaga dia. Jangan sampai dia terluka." Jelas Brian, Eddie tersenyum lalu mengangguk.


"Baik Brother, aku akan menjaga kakak ipar." Jawab Eddie.


Tenang rasanya mendengar jawaban itu dari Eddie. Sejenak Brian menyamankan dirinya di kursinya, lalu menatap langit-langit ruangan.


"Sepertinya, aku tidak dibiarkan tenang oleh takdir ya." Ujar Brian.


"Itu tidak benar, masalah yang terjadi dulu belum kau selesaikan sepenuhnya. Aku yakin, mereka adalah komplotan yang sangat setia pada Shawn." Jelas Eddie, Brian tersenyum mendengar itu. Itu benar menurutnya, sempat ada penyesalan dalam hatinya. Mengapa ia tidak menghabisi keturunan dari mafia itu juga.


Tapi, siapakah manusia yang ada kaitannya dengan Shawn. Sedangkan selama ini, Lelaki Tua itu mendirikan organisasi mafia itu sendiri. Bukankah ia juga sebatang kara? Lantas, siapakah manusia yang begitu kehilangan atas kematiannya. Brian yakin, orang itu pasti bukan hanya sekedar bawahan. Orang itu, pasti ada kaitannya erat dengan Shawn.


_____


"Mari kita rayakan, kematian penjahat itu!" Sorak seorang berjas hitam, berdiri tepat di atas meja. Seraya menggenggam sebotol bir di tangannya, ia bersorak bahagia atas kabar kematian seseorang yang disampaikan kacungnya.


"Tuan, kau memang hebat!" Puji seorang kacung.


"Manusia itu pantas binasa! Mengingat pelenyapan yang dia lakukan pada banyak manusia, itu keji!!!" Ucap Pria berjas hitam itu lagi, ia meneguk habis bir itu. Lalu membuangnya asal, dibawah kakinya masih banyak bir yang terisi penuh. Pria itu mengambil satu botol lagi, lagu meneguknya.


"Sialan!!! Sialan!!! Mengapa, dia membuat kami sengsara!!! Lalu, dia hanya berdiri di atas kemewahan, setelah banyak mayat yang ia lenyapkan?!! Kakakku, pasti sangat tersiksa disisinya!!!" Ucapnya lagi, mabuk itu sudah menguasainya sekarang. Dialah orang yang menembak Brian kemarin.


"Aku pasti akan membunuhnya!!! Ayah, aku janji!!!" Ucapnya, bersimpuh seraya menatap langit-langit ruangan.


Seorang Gadis Jepang memperhatikannya sedari tadi, geram dengan tingkahnya yang terlalu berisik itu ia pun maju dan mendekatinya. Setelah cukup dekat, gadis bernama Nami ini memukul tengkuk pria berjas itu. Pria itu kehilangan kesadarannya, beberapa anak buah pria itu terkejut. Namun mereka juga tidak bisa berprotes pada Nami, karena dia juga salah satu bos mereka.


"Sudah, kalian beristirahat saja sekarang! Pria menyebalkan ini, tinggalkan saja disini. Esok masih ada misi yang harus di selesaikan. Ingat, aku tidak ingin ada kata gagal dalam misi ini esok." Jelas Nami, pada para bawahannya.


"Ba...baik Nona!" Teriak mereka serentak, lalu bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Disana Nami masih memandangi pria berjas hitam itu.


"Permintaanmu menyusahkan, tapi aku iba padamu. Pria malang, yang kehilangan dua anggota keluarganya." Lirih Nami, seraya memperhatikan tubuh yang sudah tak bergerak itu. Usai mengatakan itu, Nami pergi darisana ada sesuatu yang harus dipastikan sebelum menjalankan penyerbuan esok.


Nami masuk kedalam ruang kerjanya, disana ia mulai mengotak atik komputernya. Mencoba menguak informasi, ia meretas beberapa akses dari Kaneki Corps. Disana ia menemukan sesuatu, target pelenyapan pria berjas hitam itu masih hidup. Dia terkejut, bagaimana mungkin? Bukankah peluru itu sudah menembus masuk kedalam kepalanya.


"Kucing, dengan sembilan nyawa!" Ucap Nami, seraya mematikan komputernya.


____

__ADS_1


Lelah rasanya, mengingat Bella sudah menghabiskan waktunya mencari informasi. Dari markas pusat, ia mengambil beberapa berkas nama tamu, disana Bella berinisiatif akan mengecek data itu saat di hotel.


Begitupun, setibanya di hotel, Bella juga sudah memeriksa kamera keamanan disana. Ia juga meminta berkas nama tamu disana.


Ada satu fakta yang ia temukan disana, revervasi atas nama Akashi. Itu adalah marga Jepang, Bella mencurigai itu saat ini. Namun rasanya lelah itu menjalar dalam tubuhnya, dengan berkas yang masih ia peluk Bella berjalan malas ke arah kamarnya.


Ketika ia membuka pintu kamar itu, terlihat Brian yang berdiri dihadapannya. Bella yang memang sudah sangat letih itu hampir jatuh, namun Brian menangkapnya.


"Hei, kau tak apa?" Tanya Brian khawatir.


"Hunny, aku lelah." Lirih Bella, ketika berada di dalam dekapan kekasihnya. Brian mengelus Surai panjang yang terikat itu. Brian menutup pintu itu dengan satu tangannya, lalu menggendong kekasihnya itu, membawanya ke atas ranjang, membaringkannya.


"Nyamankan dirimu, kau mau sesuatu?" Tanya Brian, Bella menggeleng. Ia membuka berkas itu sekarang, Brian memerhatikan apa yang Bella lakukan.


"Mari kita bahas sekarang, aku menemu..." Ujar Bella, namun ucapannya terpotong, karena jari telunjuk Brian berada tepat di bibirnya.


"Kita bisa membahasnya besok, sekarang, kau tidur ya. Kau terlihat sangat lelah, jangan paksakan dirimu." Tutur Brian lembut, Bella mengangguk.


Brian berdiri, membantu Bella melepas sepatunya. Menaruhnya di dekat pintu, lalu ia kembali lagi, menarik selimut itu menutupi tubuh Bella. Sebelum dirinya pergi dari sana, Brian mengecup lembut keningnya, ketika ia akan meninggalkan Bella.


Bella mencengkram lembut tangan itu, menahannya agar tetap berada disini.


"Tetap disini saja!" Lirih Bella, Brian tersenyum mendengar itu. Ia duduk di tepi ranjang Bella.


"Kau mau aku tidur disini malam ini?" Tanya Brian, Bella mengangguk.


"Kau yakin?" Tanya Brian lagi, Bella mengangguk lagi. Merasa mendapat tawaran yang bagus, Brian pun mengambil posisi disamping Bella. Namun, apa yang terjadi, satu tendangan dari Bella membuatnya terjatuh.


"Bukan disini, kau tidur saja di sofa." Brian membuang kasar nafasnya, namun tak lama ia pun tersenyum.


"Baiklah, tapi, berikan. aku satu ciuman sebelum kita tidur." Ujar Brian ia mendekat ke arah Bella. Satu ciuman lembut untuk malam ini, Bella berikan pada prianya. Beberapa menit setelahnya, pautan itu terlepas. Brian beranjak dari ranjang itu, seraya membawa bantal dan gulingnya ke arah sofa.


"Selamat malam Hun.." Lirih Bella, lalu berbalik memunggungi Brian.


"Selamat malam." Jawab Brian, yang juga ikut terlelap di atas sofa.


.


.

__ADS_1


.


_


__ADS_2