
...Mungkin satu-satunya cara untuk menyatukan orang-orang...
...Adalah melalui pertempuran dan kesakitan...
...Konfrontasi dan persaingan...
...Mungkin intinya adalah selamat dari sesuatu...
Sembilan jam sudah penerbangan dari Perancis ke Amerika saat ini pesawat mereka berlabuh tepat di Bandara Internasional San Fransisco, California. Dari dalam kabin pesawat VIP para agen CIA mulai bersiap keluar dari pesawat mereka menempatkan Brian ditengah-tengah mereka antisipasi barangkali Brian akan kabur dari mereka.
Bersamaan dengan itu Bella juga Stevan turun dari pesawat mereka lebih dulu turun dari sana karena memang mereka hanyalah penumpang biasa, namun Brian juga Agen CIA entah apa yang mereka diskusikan dengan petugas Bandara disana, dari kejauhan Bella dan Stevan memperhatikan itu hampir menghabiskan waktu sepuluh menit mereka mengobrol setelahnya mereka mulai berjalan keluar dari pesawat.
Bella dan Stevan mengikuti rombongan Agen CIA itu tanpa sepengetahuan mereka. Sebuah mobil sport hitam berada tepat dihadapan Bandara ada tiga mobil Sport sengaja memang berada disana untuk menjemput para Agen CIA. Para agen masuk bersamaan dengan Brian yang juga digiring masuk ke mobil. Disana Bella dan Stevan hanya menatap kepergian mobil itu tak ada apapun yang mampu mereka lakukan jika mereka bergerak gegabah maka akan menimbulkan kecurigaan.
Ponsel Bella berdering ia mengambil ponsel itu dari sakunya ada sebuah panggilan itu dari Eddie. Bella mengangkat panggilan itu sembari mencari tempat duduk yang kosong lalu duduk disana sambil bicara dengan Eddie.
"Kakak ipar, apa kau sudah menaruh alat pelacak itu padanya?" Tanya Eddie diseberang sana.
"Ya Ed, itu sudah ada dalam tubuh Brian sekarang. Lalu rencanamu selanjutnya apa?"
"Sebenarnya tidak ada yang mampu kita lakukan untuk saat ini kakak. Karena kau juga Stevan adalah kartu AS untuk mematahkan argumen yang menyudutkan esok maka, diam dan pasrah untuk saat ini itu penting." Bella menaikkan satu alisnya mendengar itu, apa-apaan itu apakah mampu ia diam ketika kekasihnya dalam bahaya.
"Ed bagaimana jika sesuatu terjadi pada Brian?" Kini nada bicara Bella cemas sekali. Stevan memperhatikan segala kekhawatiran yang ada dalam diri Bella sepertinya memang benar kakaknya ini tak akan mampu berpisah dengan Brian.
"Aku memahami segala kekhawatiranmu kak, bersabarlah aku akan memikirkannya."
"Tapi Ed?"
__ADS_1
tutttttttttt
Panggilan itu terpotong Eddie mematikan panggilan mereka dari sana, Bella menghembuskan nafasnya berat kali ini.
"Apa militer tidak akan melakukan hal keji padanya Steve?" Tanya Bella pada Stevan disampingnya pandangan kosong terlarut memikirkan kekasihnya disana.
"Kalaupun sesuatu dilakukan padanya kau memiliki kamera dalam sakunya untuk ditarik. Gunakan itu untuk menuntut mereka kembali nanti!" Jawab Stevan.
"Jadi apa tandanya aku harus merelakan apapun terjadi padanya sekalipun itu merenggut nyawanya lagi?" Tanya Bella pada Stevan kali ini ia menatap Stevan serius.
"Aku tidak akan sanggup kehilangan dirinya lagi!" Ujar Bella tersenyum pilu ke arah Stevan.
Melihat itu iba seakan merasuki hati Stevan dari sana setelah membuang nafasnya kasar dalam tekadnya ia sungguh akan membebaskan Brian dengan cara apapun. Hanya Bella yang ia miliki disini, seluruh keluarganya sudah tak ada. Apapun yang terjadi kebahagiaan kakaknya itu penting bagi Stevan tak ada prioritas utama lagi selain itu.
"Tenanglah kak, aku akan membantumu bagaimanapun caranya. Sekarang mari kita cari penginapan untuk berfikir dengan tenang mengenai masalah ini!" Jawab Stevan ia berdiri dari duduknya, Bella pun juga berdiri.
Dilain tempat Eddie beserta kawannannya sibuk memperhatikan komputernya. Lokasi Brian sudah ditemukan itu adalah penjara paling berbahaya dalam sejarah Amerika sampai detik ini. Penjara bagi buronan internasional yang kejam dikurung disana.
Penjara Alcatraz berada di teluk San Fransisco, California, Amerika Serikat. Tempat menampung beberapa penjahat yang paling sulit ditangkap dan berbahaya di Amerika selama beberapa tahun.
Alcatraz memiliki julukan lain yaitu The Rock, karena lokasinya berada di pulau karang. Fasilitas keamanannya ekstra ketat dan super-eksklusif. Oleh karenanya, tidak pernah ada narapidana yang berhasil kabur.
Untuk menemukan lokasi Brian sudah satu jam Eddie habiskan menghadap komputer itu, melihat kondisi penjara juga fakta tentang penjara itu membuat dirinya resah. Kekerasan disana akan dibiarkan begitu saja, banyak tahanan yang mati disana sebelum di eksekusi, apakah tak ada harapan lagi sekarang. Namun Eddie percaya Brian pria yang kuat ia yakin kakaknya itu mampu melewati segala siksaan disana sebelum sidang eksekusi, ia adalah Masternya adu mekanik Eddie berusaha meyakinkan dirinya bahwa segalanya akan baik-baik saja.
Themo dan Rey melihat ekspresi tak biasa itu dari wajah Eddie, mereka menghampirinya menepuk bahunya.
"Ada apa Ed?" Tanya Themo, namun Eddie hanya menunjuk ke arah komputernya. Disana baik Rey dan Themo masing-masing memperhatikan dengan seksama apa yang ingin Eddie tunjukkan.
__ADS_1
Mata mereka membulat ketika melihat nama Alcatraz tertera dalam komputer itu, disana juga ada lokasi alat pelacak berhenti tepat disana. Themo mengepalkan tangannya kuat melihat itu, ia murka naik pitam sekarang.
"Sialan CIA! Apa mereka akan membunuhnya disana!" Murka Themo frustasi ia memang sangat dekat dengan Brian sehingga rasa kesetiakawanan nya tinggi sekali bahkan Themo siap menjadi tameng untuk Tetuanya jika itu perlu.
"Sialan anggota CIA! Bolehkah kami melakukan penyerbuan demi nyawa Tetua?" Tanya Rey seraya masih memandangi komputer itu.
"Tidak jangan, itu akan menimbulkan banyak masalah nantinya. Saat ini kita benar-benar dibuat tidak berdaya, ini keputusan Tuhan ingin kita menyelesaikan segala masalah ini dengan jalan tanpa perang." Jawab Eddie.
"Tapi jika mereka mengibarkan bendera perang, membunuh Brian sebelum eksekusi diberikan maka jangan hentikan kami membumi hanguskan setan-setan berdasi itu." Ucap Themo geram, Eddie pasrah mendengar itu ia mengiyakan apa yang Themo katakan.
"Kita akan mengamuk jika ketidakadilan menimpa Tetua! Saat itu terjadi kau setuju atau tidak tapi kami akan terus bergerak maju! Tak peduli kau halangi kami atau tidak, Tetua kami lebih penting nyawanya dari siapapun. Dialah yang merubah status kami menjadi manusia membersihkan nama kami juga membuat kami bertobat di jalan ini! Kami tidak akan biarkan apapun terjadi padanya!" Geram Rey dengan segala argumennya.
Mereka pergi dari hadapan Eddie kemudian entah akan kemanakah mereka mungkin mereka ingin menghilangkan segala kekesalan mereka sejenak.
Buaghhhhhh
Dilain tempat satu tendangan kasar itu menjatuhkan Brian masuk kedalam sel. Itu ulah Gabriel dengan kasarnya kaki itu menendang Brian dari belakang sampai terjungkal.
"Nikmati masa-masa surammu sebelum mati!" Ujar Gabriel seraya menutup pintu sel itu lagi. Brian berdiri lalu berbalik menatapnya.
"Terima kasih, VIP rasanya di antarkan oleh agen CIA yang hebat ini kemari." Ucap Brian seraya tersenyum menatap Gabriel. Sedang yang ditatap hanya memasang wajah muak ke arahnya.
"Teruslah berucap satu Minggu lagi persidangan kematian itu akan membawami kembali ke hadapan sang pencipta, kau akan mati!" Ucap Gabriel, berlalu dari sana.
"Semua orang pasti akan mati, termasuk kau!" Ucap Brian setengah berteriak. Tak lama ia tersenyum lalu duduk diantara kayu-kayu penjara. Sejenak ia memejamkan matanya.
...Sebab musuh utama kita bukan penjajah atau bencana...
__ADS_1
...Tetapi ketakberdayaan yang beranak pinak dalam diri...