
...Siapapun pasti pernah melakukan kesalahan...
...Yang terpenting adalah mengambil pelajaran dari kesalahanmu...
______
Ditengah kesibukannya yang berbelit-belit mencaritahu perihal antagonis yang berani menyakiti Bella. Brian tak ingin terlalu terlalu pada hal itu saja.
Saat ini, Istri tercintanya sedang mengandung. Mungkin perhatian ekstra untuknya itu prioritas. Seperti saat ini, Brian sedang berada di toko kue.
Mungkin memang hari ini bukan ulang tahun Bella. Namun dirinya ingin pulang ke rumah, membawa buah tangan. Pekerjaan hari ini membuatnya cukup lelah memang.
Namun ketika mengingat wajah sumringah istrinya dirumah, rasanya lelah itu hilang. Sejenak Brian menepis rasa malasnya, ia memaksakan kakinya masuk kedalam toko roti.
Sambutan hangat dari para pegawainya ramah, menyambut Brian dengan penuh senyuman. Dalam etalase terlihat beberapa contoh roti dengan hiasan di atasnya.
"Aku ingin yang ready, apakah ada?" Tanya Brian pada salah satu pegawai yang sedang berdiri dihadapannya.
"Tentu saja Tuan, didalam etalase kami semuanya Ready!" Jawabnya ramah.
"Baiklah, tolong bungkus black forest ini satu ya! Tambahkan buah Cherry diatasnya."
"Baik Tuan!"
Pegawai itu menuliskan sesuatu dalam sebuah kertas memo. Sebelum pesanannya dibuat ia menyerahkan memo itu pada Brian. Brian menerimanya, itu adalah daftar harga kue.
Dari dalam saku, Brian mengeluarkan kartu kreditnya memberikannya pada pegawai toko. Pegawai toko itu menerimanya, satu gesekan dari dalam kartu kreditnya melunasi pesanannya.
"Baiklah, mohon ditunggu Tuan!" Pegawai itu tersenyum sambil mengarahkan tangannya ke arah kursi meja yang masih kosong.
Brian yang tau apa ma maksudnya pun mengangguk. Brian duduk di salah satu kursi disana. Sejenak ia menyandarkan tubuhnya, sambil sesekali berdoa, berharap bahwa usahanya dan Stevan berhasil. Sebuah usaha meringkus tersangka penabrakan istrinya.
"Hawa disini semakin dingin saja!" Lirih Brian.
Sepertinya musim dingin akan segera tiba. Salju aka. segera turun, mengingat kondisi cuaca disana yang mulai dingin seiring berjalannya waktu.
Tinggg
Bunyi bel dari pintu masuk menandakan bahwa ada seseorang datang memasuki toko roti. Brian yang masih sibuk menggosok tangannya tak menyadari, bahwa manusia yang datang kesana adalah Tasya.
Tasya mengedarkan pandangannya tatkala usai memesan kue. Netranya terkejut menemukan Brian yang duduk seorang diri disana.
Hatinya berbunga-bunga rasanya, tanpa berpikir panjang.Tasya pun mendekati Brian disana. Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu Brian disini.
"Tuan?" Sapaan suara itu sekejap membuat jantung Brian meronta-ronta.
Suara ini, Brian sangat familiar sekali. Ketika ia mendongak benar saja dugaannya, pemilik suara itu adalah Tasya. Entah suatu kesialan atau keberuntungan bertemu dengannya disini.
"Wah aku tidak menyangka akan bertemu anda disini!" Tasya berucap sambil duduk disamping Brian.
"Aku juga tidak percaya bertemu dengan dirimu disini, Nami!"
Tasya mengangguk mendengar itu. Ada banyak pertanyaan dalam kepalanya. Mengapa Brian berada di toko roti saat ini, hal itu membuatnya penasaran.
"Mengapa anda berada di toko roti Tuan?" Tanya Tasya padanya.
"Istriku sedang berulang tahun! Aku harus memberinya sebuah kejutan!"
Brian sengaja memang memberi jawaban palsu disana. Ia ingin Tasya cemburu lalu pergi menjauh darinya. Namun sayang sungguh sayang, gadis itu malam menyentuh pergelangan tangannya.
"Hei?!" Pekik Brian sambil menarik tangannya dari cengkraman Tasya.
__ADS_1
"Tuan, kau tidak mengundangku? Aku ingin datang lalu memberi ucapan selamat ulang tahun pada Nyonyamu!"
Ucapan itu membuat Brian membulatkan matanya. Yang benar saja, bahkan gadis ini masih tersenyum padanya. Raut muka cemburu sama sekali tak ada disana.
"Kau ingin menemui Nyonyaku?" Tanya Brian tak percaya, namun sebuah anggukan mantap ia dapatkan.
Sepertinya tak ada pilihan lain. Mungkin mengajaknya bertemu Bella malam ini hal yang benar. Barangkali setelah melihat kemesraannya dan Bella, gadis disampingnya ini akan sadar perihal dirinya bukan lagi seorang bujang.
"Apakah boleh Tuan?" Tanya Tasya. Brian mengangguk mendengar itu.
"Tentu saja, silahkan!" Jawab Brian.
Disana Tasya tersenyum. Banyak obrolan yang Nami lontarkan sembari menunggu pesanan kue mereka. Duduk disana bersama gadis ini, sedikit membuat kepala Brian pusing.
Jika saja ia masih berjiwa mafia, mungkin manusia disampingnya ini sudah di granat olehnya. Namun apa daya dirinya, ia adalah seorang manusia yang bertobat.
Sekalipun bau anyir darah dalam tangannya masih sering ia cium. Bau dari para nyawa yang sudah ia regang, namun Brian yang sekarang berbeda.
Tinggggg
Bel dari salah satu pegawai berbunyi. Seorang pegawai tersenyum ke arah mereka sambil membawa dua kotak roti. Brian dan Tasya datang menghampirinya.
"Terima kasih untuk pesanan hari ini! Semoga kalian puas dengan pelayanan kami!"
Ucap pegawai itu ramah sambil menyerahkan kotak roti itu pada mereka. Baik Brian dan Tasya keduanya sama-sama mengambil milik mereka.
Setelah kotak roti berada ditangan mereka masing-masing, mereka pun berlalu pergi dari dalam toko itu. Didepan terlihat dua mobil mereka yang terparkir. Mereka berdua masuk kedalam mobil mereka, menyalakan mesinnya, mengendarainya pergi dari sana.
_________
Bella sedari tadi dibalkonnya mondar-mandir. Ia mencemaskan suaminya yang tak kunjung pulang disana. Mengapa Brian sama sekali tak mengangkat telfonnya. Ini sudah sangat larut, jam bahkan menunjukkan tengah malam lewat.
Tuttttt
Lagi-lagi suara panggilan darinya sama sekali tak dijawab. Bella yang kesal pun memilih duduk diatas ayunan panjang. Disana ia bersandar, netranya menatap jauh ke arah langit.
"Hunny sungguh, aku tidak memahami hatiku. Bagaimana aku bisa mencintai manusia serumit dirimu."
Bella sambil memandangi langit, menerka-nerka lagi. Bagaimana awal pertemuannya dengan suaminya dulu. Segala ingatan itu muncul begitu saja. Kesunyian membawanya kembali.
Dari atas sana, lamunan Bella sedikit terbayar. Melihat gerbang halaman terbuka. Disana masuklah dua mobil mewah. Bella tersenyum melihat itu. Segera ia pun berlalu dari atas balkon, menuju lantai bawah. Mobil itu milik suaminya, Bella sangat mengenalinya.
"Hunny!!!" Bella berteriak kecil layaknya seorang anak kecil sambil berlari menghampiri Brian.
Sikap manjanya ini membuat Brian tersenyum senang. Brian merentangkan tangannya, detik itu juga Bella masuk kedalam pelukannya. Sejenak Brian menciumi wangi kepala istrinya itu, mengusapnya lembut.
"Sayang, kau belum tidur?" Tanya Brian, dalam dekapan itu Bella menggeleng.
"Bagaimana aku bisa tidur jika suamiku tak ada disampingku?"
Ungkapan itu membuat Brian tersentuh. Dari dalam mobil lain, Tasya keluar membawa sekotak kue. Nami berjalan mendekati Brian dan Bella.
"Selamat ulang tahun ya, Nyonya Bella!"
Ucapan itu membuat Bella mengerutkan dahinya. Ini bukan hari ulang tahunnya. Sebelum Bella menjawab ucapan itu, Brian lebih dulu mengambil kotak kue itu dari tangan Tasya.
"Selamat ulang tahun sayang! Ku harap kau selalu memahamiku!"
Bella memperhatikan raut wajah itu. Brian tersenyum, namun ada sebuah isyarat dalam senyuman itu. Sebuah teka-teki, Bella mencoba mencari tahu apa maksud dari ucapan itu.
Tak membutuhkan banyak waktu, Bella pun mengerti. Dengan senang hati Bella meraih kotak kue itu, sambil masih tersenyum.
__ADS_1
"Terima kasih ya! Aku senang sekali ada yang datang repot-repot kemari, hanya untuk memberiku sekotak kue." Ucap Bella ramah.
Disana Tasya hanya mengangguk. Bella menghampirinya menarik lembut tangan Nami, menuntunnya masuk kedalam kediamannya. Brian mengekori mereka dari belakang.
Sejenak, Tasya dibuat takjub akan isi rumah ini. Bangunan ini, elegan sekali sungguh. Letak tatanya sempurna juga beberapa lukisan terpajang didinding.
Bangunan ini aeshthetic bahkan sangat menawan. Bagaikan dihipnotis rasanya saat pertama kali masuk kemari.
Bella memperhatikan binar mata Tasya disana. Decak kagum pelan itu terdengar.
"Ini indah sekali sungguh!" Ucap Tasya sambil masih menikmati keindahan rumah ini.
"Syukurlah jika kau menikmatinya! Apakah kau ingin makanan, Tasya?"
Mendengar itu Nami menggeleng. Biar mata kagumnya sekejap meredup. Entah mengapa setiap kali Bella berbicara, hatinya selalu sakit.
"Tidak terima kasih! Sebenarnya aku kemari hanya karena ingin menyerahkan kue padamu. Lagi pula, aku juga tidak terbiasa makan malam. Aku sedang menjaga pola dietku disini, malam mengkonsumsi sesuatu yang kaya lemak akan membuat kita mudah gemuk."
Rasanya seperti ditampar saat mendengar penjelasan itu. Hal itu membuat Bella menyunggingkan senyumnya, sambil melirik ke arah Brian sekilas.
"Ah tentu saja, itu juga berlaku untukku! Aku akan sangat senang apabila kau duduk sebentar sambil minum teh bersama kami."
"Tidak terima kasih, menikmati isi rumahmu ini sudah cukup bagiku. Jadi, mungkin lebih baik aku pulang saja!"
"Apa tak apa? Kau membuatku tidak enak rasanya!"
"Tidak apa, lagi pula memang ini sudah larut bukan. Selamat menikmati waktu kalian, terima kasih untuk tawaran ramahnya mungkin lain kali aku akan mampir kemari menikmati segelas teh."
Ucapan dari Tasya membuat Bella mengangguk. Brian yang berdiri disamping istrinya bahagia sekali. Sekalipun hatinya iba melakukan ini, namun ini harus. Sebab agar Tasya paham, bahwa Brian hanyalah milik Bella seorang di bumi ini.
"Aku permisi Tuan, Nyonya!" Ucap Tasya.
"Baiklah, hati-hati ya!" Ucap Bella dan Brian.
Tasya pergi dari sana membawa hatinya yang patah. Terlalu lama menyaksikan kemesraan Brian dan Bella disana membuatnya semakin sesak.
Dimobil Tasya meneteskan air matanya, mengapa ia harus jatuh cinta pada manusia yang sudah beristri. Namun hatinya masih tetap menjerit disana, meminta Brian untuknya. Rumit sekali memang jika sudah menyangkut perihal hati, sungguh.
Beberapa waktu setelah hatinya tenang, Tasya menyalakan mobilnya lalu pergi dari sana.
Kita lihat sepasang suami istri didalam sekarang. Mereka sedang duduk bersama di meja makan. Sejak tadi Bella mengembungkan pipinya, Brian sama sekali tak tau perihal apakah wanitanya itu manyun.
"Sayang, kau kenapa?" Tanya Brian penasaran.
Namun disana Bella acuh, ia lebih memilih melanjutkan aktivitasnya yaitu memberi Brian makan. Malam ini Brian ingin makan sepotong kue bersama Bella.
"Kau sudah susah payah membelikanmu kue sayang! Lantas mengapa kau berwajah seperti itu padaku?"
Mendengar itu Bella menghela nafas, netranya menatap tepat ke arah Brian saat ini.
"Hunny, kau pulang begitu larut bersama seorang wanita! Lantas, bagaimana aku tidak over thinking disini."
Kecemburuan itu membuat Brian tersenyum lalu menggelengkan kepalanya.
"Sayang, aku hanya tak sengaja bertemu dengannya di toko roti. Lagi pula aku sudah bercerita padamu perihal dirinya bukan. Aku tidak akan melepasmu, kau satu bagiku selamanya."
Ucapan itu sekejap membuat Bella bahagia. Disana ia kembali tersenyum. Malam ini mereka berdua disini, duduk bersama saling bercengkrama. Menikmati sepotong kue bersama.
Sekalipun kecemburuan sempat merambati hari Bella, namun segala konflik itu selesai secara singkat. Sebab jika permasalahan dibuat panjang maka akan menghancurkan sesuatu ikatan bukan. Mengalah saling memaafkan adalah kunci mempertahankan hubungan.
...Tuhan tak akan menempatkan kita di sini melalui derita demi derita bila Ia tak yakin kita bisa melaluinya...
__ADS_1