
...Kita harus merasakan kesedihan, tetapi tidak tenggelam di bawah penindasannya...
"Wah.. langitnya cerah sekali, tenang sekali pagi ini sungguh. Akhirnya aku pulang juga ke rumah."
Bella mengagumi kuasa Tuhan sambil memegang matchanya. Ia memilih duduk di ayunan panjang balkon, netranya tak henti-hentinya menatap ke arah langit megah dengan beberapa burung yang berterbangan disana.
Sejenak Bella menyandarkan tubuhnya di ayunan, menyamankannya. Ia meletakkan secangkir matcha miliknya lalu kembali menikmati alam.
"Sayang, maaf ya! Sebelum kau berada dibumi ini, ada banyak hal yang sulit sekali menimpamu. Kau harus tau, kehidupan Daddy dan Mommy mu ini sulit sekali. Kisah cinta kami rumit, semoga saja kami bisa memberimu kebebasan ya. Hanya itu saja harap kami untukmu."
Bella mengusap-usap perutnya yang mulai membesar. Ia terus berbicara pada calon anaknya didalam sana. Berharap, bagian dari dirinya disana mendengarkan, juga memahami tiap perkataan yang Bella lontarkan.
Sepasang mata dari bawah balkon sejak tadi menatapnya. Itu adalah Tasya, wanita ini sudah sejak tadi merencanakan sesuatu untuk mencelakai Bella.
Namun Bella sama sekali tak tau apabila ada bahaya yang sedang mengintainya. Tasya berjalan ke arah dapur saat ini. Terlihat disana tak ada siapapun, sungguh kesempatan baginya untuk menjalankan aksinya.
Tasya mendekati belender yang menganggur disana. Sepertinya pagi ini satu rencana dengan bumbu aktingnya sudah cukup. Dari dalam lemari es Tasya mengambil satu kotak salad buah yang sering Bella makan.
Tasya membawanya mendekati belender. Tepat dari dalam sakunya, rupanya Tasya memiliki serpihan kaca. Ide gila dalam kepalanya adalah, membelender pecahan kaca itu hingga menjadi serbuk. Lalu menaburnya tepat di atas makanan yang selalu Bella santap.
Tasya memasukan serpihan kaca itu kedalam Belender lalu menekan tombol on nya begitu saja. Kaca itu sekejap berubah menjadi serpihan, ketika hal itu berhasil. Tasya mengambil sendok lalu mengambilnya menabur serpihan yang menjadi bubuk itu di atas salad buah kesukaan Bella.
Ketika selesai dengan aksinya, Tasya mengembalikan lagi makanan itu masuk kedalam lemari es.
"Jika kau mampu bercakap begitu manis dengan suaramu. Maka, aku akan buat suaramu hilang dalam seketika. Jadilah bisu untuk beberapa saat. Dengan begitu, kau tidak akan mampu berbicara padaku beberapa hari setelah ini." Ucap Tasya.
Wanita setengah iblis ini pun pergi dari dapur. Ia pergi meninggalkan dapur menuju ke arah kebun. Rasanya ia masih ingin mengeksplor seluruh tempat tinggal Brian.
________
Ditempat lain saat ini Brian dan Eddie, dua pengusaha ternama ini sedang duduk di ruang rapat mereka. Setelah perbincangan mereka perihal usaha baru. Eddie mulai mengusut satu topik perihal Reiner.
__ADS_1
Ia menceritakan kepada Brian, bagaimana dirinya membuat Reiner diam dan bertekuk lutut padanya. Disana Brian benar-benar dibuat puas atas apa yang Eddie rencanakan. Itu cukup bagus, uang sewa sepuluh kali lipat bukanlah hal yang sedikit.
Eddie juga mengatakan padanya, apabila ia mampu membayarnya lalu berniat pindah mencari lahan untuk bisnisnya. Maka Eddie sudah membeli seluruh area strategis di Perancis.
Area itu sudah menjadi milik Kaneki Corps. Pengusaha menengah seperti Reiner, tidak akan mampu membayar sewa sepuluh kali lipat berkala. Reiner pasti akan bangkrut.
"Wah aku tidak tau adikku begitu pintar rupanya. Aku senang sekali mendengar apa yang kau katakan ini, Ed! Dan ya, aku tidak sabar melihat itu terjadi."
Puji Brian pada Eddie dihadapannya, tak lupabia meneguk segelas wine sebagai pelengkap pembicaraan.
"Terkadang kita perlu tegas apabila keluarga yang kita cintai di lecehkan. Kakak, aku senang kau pulang!" Ucap Eddie.
Brian tau itu ia paham betapa Eddie sangat menyayangi dirinya dan Bella. Adiknya ini adalah manusia yang penuh kasih. Sama seperti Angela, Eddie bahkan jauh lebih sabar daripada Brian.
Jika Brian lebih suka menyiksa musuhnya dengan amarah dan kekerasan fisik, tidak dengan Eddie. Pria ini lebih akan menekan finansial mereka lalu menjatuhkannya.
Bagi Eddie, menyerang tanpa menyentuh tubuh lawan itu perlu. Sebab ia menyerang sayap-sayap lawannya, kedua sayap sumber kebahagian mereka.
**Tokkkkk
Suar ketukan pintu membuat kedua saudara ini saling menatap ke arah pintu. Siapa yang mengganggu acara bersantainya para Tuan Besar ini.
"Masuklah!" Ucap Brian meninggikan suaranya.
Ketika pintu terbuka terlihat disana Themo dan Rey berdiri sambil menatap mereka. Bawahan paling setia milik Brian dan Rey.
Dua orang yang sudah mengenal mereka sejak dalam organisasi gelap. Kedua orang itu tersenyum menatap Brian dan Eddie.
Brian mengerti apa maksud dari senyuman itu. Rey dan Themo ingin bergabung dal pembicaraannya. Brian mengangkat segelas wine ke arah Themo sebagai simbol agar mereka bergabung bersama dengan mereka disini.
Baik Themo dan Rey keduanya tersenyum mendapati apa yang Brian lakukan. Itulah yang sejak tadi di tunggu oleh keduanya.
__ADS_1
"Wah Tetua, kau benar-benar tau saja apa yang kami inginkan!" Ucap Themo ketika berada tepat dihadapan Brian.
Tangan kekar itu mulai mengambil satu cangkir kosong lalu menuang birnya disana.
"Tentu saja aku tau, memangnya sudah sejak kapan kita berteman?" Ujar Brian meneguk wine nya.
"Nikmatilah, terima kasih untuk usaha kalian! Kalian benar-benar yang paling baik dari segalanya!" Ucap Eddie bersandar di kursinya.
"Tentu saja, kami ini anak buah paling setianya kalian!" Kali ini Rey berucap sambil meneguk wine nya.
Tiba-tiba Themo kembali diingatkan perihal kakek dan nenek yang mereka temui di pelabuhan.
"Tuan, aku ingat perihal kakek nenek itu!" Ucap Themo tiba-tiba.
"Kakek nenek?" Tanya Eddie tak mengerti apa yang Themo bicarakan.
"Iya, dua pasang suami istri tua, yang kami temui di pelabuhan. Ketika Brian akan baik kapal pesiar, disana memerlukan tiket. Dan kakek nenek itu salah membeli tiket, itulah mengapa Tetua membeli tiketnya sambil menyerahkan kartu VIP Kaneki Corps pada mereka."
"Lalu?" Tanya Brian mencoba mencari tau akan kemanakah pembicaraan mereka ini.
"Ketika aku mengantarnya pulang, mereka berbicara perihal helikopter. Mereka bilang bahwa mereka ingin sekali naik ituk sampai ke Amerika. Disitu aku ingat, kalian juga memiliki fasilitas penerbangan bukan? Bagaimana jika kita beri mereka tumpangan kesana?"
Saran dari Themo membuat Brian tersenyum. Itu adalah hal baik dan tentu saja Brian akan menyetujuinya.
"Baiklah, perintahkan saja anak buah kita di bagian itu untuk mengaturnya. Lalu bawa mereka, antarkan mereka kesana!"
Kali ini Themo mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari Tetuanya. Menggunakan pesawat saja perjalan dari Perancis ke Amerika membutuhkan waktu sekitar tujuh jam lebih.
Helikopter lebih lambat daripada pesawat. Themo berpikir akan mengantar mereka menggunakan helikopter lalu menurunkannya di bandara.
Selebihnya untuk sampai ke Amerika, Themo akan membawa kedua pasangan tua itu masuk kedalam pesawat pribadi Kaneki Corps dengan segala pelayanannya.
__ADS_1
"Kau harus membawa mereka Themo, jaga mereka sampai ke tujuan!" Perintah Brian.
Rasanya itu berita baik untuk Themo dan Rey. Mereka bisa mengunjungi keluarga mereka disana. Sudah cukup lama rasanya sejak mereka pergi dan menetap di Perancis.