Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Sebuah Pengakuan


__ADS_3

...Sakiti aku dengan kebenaran...


...Tapi jangan pernah menghiburku dengan kebohongan...


...Mereka yang bersedia memaafkan diri mereka sendiri dan berani menerima kenyataan itulah yang disebut kuat...


Brian POV


Aku melihatnya berjalan menuruni anak tangga pagi ini, setelah memasak ia sama sekali tak menyapaku. Ia hanya meletakkan beberapa menu makanan di atas meja, lalu kembali ke kamar. Ketika aku baru saja keluar dari dalam kamar mandi, aku melihatnya menyiapkan baju untukku, baju itu ia letakkan tepat diatas ranjang kami. Sama sekali tak mempedulikanku, ia duduk ditepi ranjangnya sambil memainkan ponselnya.


Mengapa sakit sekali rasanya diacuhkan seperti ini. Tapi bagaimana pun juga, tak pantas rasanya jika aku memakinya, toh memang diriku disini yang memulai lebih dulu. Maaf Bella, mau bagaimana lagi? Aku benar-benar tak ingin membagimu dengan siapapun. Bagaimana aku menjelaskan itu padamu, sungguh aku frustasi rasanya. Ditambah aku juga takut, jika kau melahirkan seorang bayi, lantas ada banyak hal fatal terjadi disana. Tidak, aku tak ingin kau pergi ataupun terluka.


Bella berada disampingku saat ini, ia mengambilkanku makanan lalu meletakkannya di atas piring. Tak lama ketika piring itu cukup penuh, ia memberikannya padaku.


"Kau akan kemana?"


Aku mencoba bertanya padanya ketika dirinya beranjak pergi meninggalkanku. Dia hanya menoleh sambil melempar senyum, lalu jarinya menunjuk ke atas.


"Bella!"


Kembali ia menghentikan langkahnya lalu berbalik. Tanganku menepuk satu kursi kosong disampingku.


"Duduklah, aku ingin kau juga ikut makan!"


Ucapanku itu hanya dibalas dengan senyuman olehnya, kepala itu menggeleng pelan lalu kembali menaiki anak tangga. Apakah aku semalam terlalu berlebihan, tidak biasanya dia mendiamkanku selama ini.


Sepertinya cukup untuk hari ini, mungkin aku memang harus mengatakannya. Sungguh, diacuhkan oleh orang yang paling kau cintai rasanya sangat tidak menyenangkan. Mungkin ini yang ia rasakan semalam, ketika menu makanan dalam piringku habis aku memutuskan menuntun kakiku kembali memasuki kamarku.


Pintu kamar itu terlihat terbuka sedikit, perlahan aku mendekati pintu itu lalu membukanya. Bella sedang berada di sisi ranjang rupanya, sambil bersandar di kepala ranjang netranya fokus ke arah layar laptopnya. Ketika kakiku masuk kesana, Bella sama sekali tak melihatku.


"Sayang, kau tak mau mengantarku kedepan?"


Tanyaku padanya, dia hanya mengangguk lalu berdiri menghampiriku. Ketika ia berjalan keluar dari dalam kamar kami, aku menarik pergelangan tangannya sontak ia berbalik menabrak tubuhku.

__ADS_1


"Kau pasti sangat marah padaku bukan?"


Bella hanya diam, wanitaku ini masih menunduk sepertinya kekecewaan memang sedang menghinggapi hatinya saat ini. Kekecewaan itu mungkin sangat besar untuknya. Terlebih lagi, yang menciptakan kekecewaan itu dalam hatinya, adalah aku.


"Katakan?"


Pertanyaan itu membuatnya mendongak kali ini, netra miliknyabitu sayu menatapku.


"Hun, aku mengatakan hal yang sama semalam. Tapi kau, lebih memilih bisu. Ketika aku memutuskan untuk diam, menirumu, kau pun meminta alasan untuk diamku? Mengapa lucu sekali hun?"


Sebuah senyuman kuberikan padanya sekarang, tanganku mencoba meraih pergelangan tangannya saat ini. Telapak tangan itu ku labuhan ke wajahku, menangkupnya, kali ini aku menundukkan kepalaku.


"Sayang, sebenarnya ada sesuatu yang mengusik hatiku. Maafkan tingkahku semalam, sejujurnya aku sama sekali tak bermaksud melukaimu."


"Katakan, aku ingin mendengarkan apa yang sedang mengganggu hatimu."


Aku menuntun Bella duduk ke arah ranjang saat ini, kami duduk berdua disana. Bola mata itu masih menatap ke arahku, bola mata itu masih mencari tau alasan apa yang sedang mengusikku.


"Aku takut, kehilangan dirimu!"


Sepertinya ia tak memahami perkataanku ini, aku mengangguk kali ini sambil tersenyum ke arahnya.


"Aku belum siap membagimu pada siapapun, termasuk anak kita nantinya!"


"Ya ampun!" Pekiknya padaku.


Usai mengucapkan itu, aku menunduk sedangkan Bella terlihat menahan tawanya disana. Sepertinya ia puas mendapatkan jawaban atas segala pertanyaannya. Apakah setelah ini ia akan mengejekku.


"Astaga Hunny! Kau ini lucu sekali! Bagaimana kau bisa mengatakan itu, sekalipun aku nanti melahirkan seorang anak. Aku masih istrimu! Aku masih milikmu."


"Aku juga takut, bagaimana jika hal fatal terjadi ketika kau bersalin nanti. Aku belum siap kehilangan dirimu."


"Bayi besar ini!"

__ADS_1


Bella menangkup wajahku dengan kedua tangannya, disana ia memainkannya. Sedikit risih memang, namun senyuman miliknya yang mengembang pagi ini melegakan hatiku. Rasanya ketegangan diantara kami akan segera sirna sebentar lagi.


"Iya sayang, entahlah aku memang terlalu mencintaimu. Maafkan aku yang terlalu posesif padamu ya!"


Ucapanku membuat senyumannya semakin merekah. Surai terurainya pagi ini cukup menawan sungguh, sudah sejak semalam aku mendiamkannya. Semalam bahkan aku tak memeluknya, sekarang melihat dirinya sebahagia ini rasanya hangat sekali hatiku.


"Hun, bolehkah aku menanyakan sesuatu padamu?"


Bella melempar sebuah pertanyaan padaku kali ini, aku hanya menatapnya sambil menganggukan kepalaku.


"Iya?"


"Menjalin suatu hubungan memang sulit, itu tidak mudah memang. Jika aku salah, kau harus bicara padaku, menunjukkan dimana letak salahnya. Hun, manusia bukan Tuhan. Manusia hanya mampu melihat, dan mendengar apa yang ada dihadapannya, juga apa yang diceritakan padanya. Suara-suara tersembunyi, bagaimana manusia bisa tau?"


Bola mata itu teduh sekali, tutur katanya, suara itu lembut sekali membelai hatiku. Bersyukur sekali rasanya memiliki dirinya disini, bahkan hanya dengan menatapnya saja rasanya itu sudah cukup. Bella ku, kekasihku, wanita ku satu hal yang kudapatkan, melalui banyak hal yang sulit. Sempat terbesit olehku, mungkin aku tak bisa memilikinya. Tapi sekarang, wanita ini, milikku seutuhnya. Mengapa bodoh sekali diriku, menyakiti hatinya semalam.


"Aku mendapatkan sesuatu yang paling indah dibumi ini, sungguh, rasanya saat ini hatiku dipenuhi bunga."


"Apa maksudnya?"


Bella tak paham apa yang kukatakan, ucapan yang ku ucapkan itu untuk dirinya, ucapan itu menggambarkan dirinya namun ia sama sekali tak merasakan itu rupanya.


"Aku mendapatkanmu dalam dunia yang kejam ini, sudah cukup bagiku!"


Cupppp


Usai mengatakan itu aku berdiri, mengecup puncak kepalanya, tak lupa membelai sebentar surainya. Semu merah itu perlahan menjalar memenuhi wajahnya, sekalipun aku sering melakukannya Bella masih tetap saja merona.


"Aku pergi dulu ya, Eddie pasti sedang menungguku disana!"


Mendengar hal itu Bella mengangguk, ia bangkit berdiri. Sambil menggandeng tanganku, kami pun turun dari kamar kami. Bella mengantarku ke halaman, ketika aku memasuki mobil membuka kaca mobilku, lambaian tangan darinya membuatku tersenyum. Pada akhirnya kedamaian diantara kami tercipta sudah, mengusir canggung yang sempat saja berlabuh. Semoga tak ada lagi pertengkaran ataupun acara saling diam diantara kami. Mungkin aku juga harus berterimakasih pada Stevan yang membawaku pulang saat mabuk.


...Bagiku kenyataan bahwa aku tidak sendirian membuatku bahagia...

__ADS_1


...Tidak ada satu orang pun di dunia ini yang dilahirkan benar-benar sendirian...


__ADS_2