
...Di dalam kehidupan, kita tidak selalu berada dalam kondisi yang baik-baik saja...
...Namun bagi yang pernah mengalami cobaan dan berhasil mengatasinya, akan sangat mudah menghadapi kondisi yang sesulit apapun...
Beberapa menit lalu Bella menyuruhnya untuk istirahat. Namun Stevan baru saja menerima hasil rekaman Vidio dari kamera pengintai mikro juga satu rekaman suara. Saat ini Stevan sedang memperhatikan rekaman itu dalam laptopnya.
Disana terlihat Nami sedang berada didalam Toko buku Reiner. Rasanya kecurigaan Bella ada benarnya disini.
"Stevan aku pulang!" Suara itu sama sekali tak membuyarkan fokus Stevan pada laptopnya.
Dengan cermat ia masih mengawasi bahkan masih setia pada layar laptop itu.
"Hallo Tuan, apakah kau menjual buku tentang Antariksa? Aku ingin membelinya."
"Ah tentu saja nona, akan ku ambilkan!"
Terlihat Reiner berjalan menghampiri salah satu rak buku. Disana ia mengambil satu buku tebal, ketika ia mendapatkan buku itu iapun kembali mendekati Nami.
Sejenak Stevan mempause Vidio itu. Ia mencoba memperhatikan segala sisi dalam adegan itu. Ketajaman analisisnya, ketelitiannya ia satu padukan mencoba menguak barangkali ada satu petunjuk disana.
Klikkkk
Lagi dan Lagi, Stevan mengulang Vidio singkat itu hingga sepuluh kali. Itu adalah rekaman kamera pengintai mikro yang dipasang beberapa anak buah Stevan disana.
Stevan tidak bekerja sendirian. Anak buahnya
kesana berpura-pura membeli beberapa buku. Namun sebenarnya, mereka masuk kedalam toko itu untuk memasang kamera pengintai.
Hasilnya adalah ia mendapatkan rekaman Nami bersama Reiner disana.
"Stevan kau sedang apa?" Tanya Bella padanya sambil membuka pintu kamar Stevan.
Stevan menepuk pelan sisi ranjangnya, menyuruh Bella duduk disana. Kedua netranya sama sekali tak teralih dari laptopnya. Ia masih fokus, pada percakapan Reiner dan Nami.
Bella masuk kedalam sambil membawa segelas teh hangat di atas nampannya. Ia berjalan mendekati Stevan, menaruh teh hangat itu di atas meja disamping ranjangnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Bella padanya.
"Lihatlah kakak!" Jawab Stevan masih fokus, Bella pun duduk disampingnya.
Stevan memasangkan earphone miliknya pada telinga Bella. Ketika Stevan menekan tombol play, Bella terkejut mendapati Nami yang datang masuk kedalam toko buku Reiner.
"Hallo Tuan, apakah kau menjual buku tentang Antariksa? Aku ingin membelinya."
"Ah tentu saja nona, akan ku ambilkan!"
"Ini Nona!"
"Terima kasih!"
Ada sedikit ke anehan disana. Bagaimana bisa seorang pembeli mengiyakan juga menerima buku itu tanpa melihat isinya. Seakan buku yang dipilihkan Reiner adalah bulu yang dicarinya.
"Aku melihat ada keanehan disini Stevan!" Ucap Bella, menghentikan rekaman Vidio ketika Nami menerima buku itu dari Reiner.
"Coba katakan padaku, mengapa semudah itu pembeli menerima barang yang disodorkan penjual lalu membayarnya. Bukankah itu aneh, pembeli biasanya akan mengecek apakah buku itu cocok atau tidak untuknya. Namun Nami, lihatlah dia bahkan menerima itu lalu pergi dari sana." Jelas Bella sambil menunjuk ke arah Nami didalam layar.
Penjelasan itu benar, seorang pembeli akan menikah juga melihat benda yang sedang di tawarkan penjual. Mereka tidak akan membayar secara langsung, apalagi mengiyakan lalu membayar jika barang itu tidak cocok dengan mereka.
Kembali, Bella memundurkan rekaman Vidio itu lagi. Burung merpati putih dengan kalung dilehernya. Burung itu selalu berhenti didepan toko Reiner. Tiap pagi hingga malam menjelang, burung itu terus bertengger di atas tokonya. Bella selalu melihatnya, ada yang aneh dengan burung itu.
Terlihat disana burung itu datang bersamaan dengan Nami yang masuk kedalam. Burung itu berhenti tepat di depan Toko Reiner. Burung itu seakan sudah terlatih, ia hanya diam disana sambil mematuk-matuk tanah.
Ingatannya kembali diingatkan saat ketika Brian mengajaknya ke ruang persenjataan mafia. Bella sempat melihat-lihat beberapa alat canggih disana, sebuah alat yang hampir sama digunakan oleh seorang mata-mata.
Bella tidak terlalu asing dengan benda-benda itu. Saat itu Bella melihat ada beberapa hewan yang digunakan untuk mata-mata, ada dengan cara memasukkan peralatan canggih ke dalam tubuhnya atau menggunakan robot dengan bentuk yang mirip.
"Merpati putih ini! Entah dia robot atau ada kamera pengintai dalam tubuhnya." Bella lagi-lagi menunjukkan pada Stevan hal-hal yang ia lewatkan disana.
"Artinya dalam buku yang diterima Nami pasti ada sesuatu. Nami mengetahui segalanya tentang kondisiku itu juga karena ia menggunakan kamera pengintai. Seluruh sistem CCTV kota rupanya ada yang tidak dapat di retas olehnya. Itulah mengapa ia menggunakan merpati ini untuk mengawasiku. Sebab jangkauannya minim!" Jelas Bella.
Merpati adalah hewan dengan saya ingat yang sangat kuat. Dengan bermodalkan daya ingatnya yang kuat inilah, merpati akan terbang menuju rumah pertamanya.
__ADS_1
Jika merpati tersebut berhasil tiba di tempat tujuannya dengan selamat, orang yang sudah menunggu di tempat tujuan merpati akan mengambil pesan yang diikat pada kaki sang merpati dan membacanya.
Namun kehebatan merpati di bidang militer belum terbatas sampai di sana. Merpati juga bisa digunakan untuk melakukan pengintaian secara diam-diam.
Pada tahun 1908, Julius Neubronner mendapatkan hak paten dari kantor paten Jerman mengenai kamera merpati yang sedang ia kembangkan.
Julius aslinya mengembangkan kamera merpati untuk mengambil gambar dari udara layaknya drone. Namun saat Perang Dunia I, tujuan penggunaan kamera merpati menjadi bergeser dari tujuan awalnya.
Apa yang disebut sebagai kamera merpati pada dasarnya adalah kamera kecil yang dipasang pada tubuh merpati. Merpati tersebut kemudian dilepas ke lokasi yang hendak diintai.
Dengan metode ini, pihak yang menggunakan kamera merpati bisa mengetahui informasi-informasi penting seperti topografi kawasan setempat, lokasi musuh, hingga senjata yang digunakan oleh pihak musuh.
Karena merpati berukuran kecil dan nampak tidak berbahaya, merpati yang dipasangi kamera memiliki peluang yang amat tinggi untuk menuntaskan misinya.
Dari sekian banyak merpati dengan kamera yang dikirim ke medan perang, sebanyak 95 persen di antaranya berhasil menyelesaikan misinya dengan selamat.
Saking pentingnya peran merpati di medan perang, medali penghargaan khusus pun sampai diciptakan khusus untuk hewan-hewan yang sudah dianggap berjasa.
Medali penghargaan tersebut bernama Dickin Medal of Honor. Ada 54 medali yang dibuat untuk tujuan ini dan 32 di antaranya dianugerahkan untuk merpati.
"Aku hampir lupa bahwa ia juga adalah anak dari Detektif terbaik di Jepang!" Ucap Stevan kembali mengingat tentang Detektif Takamura, selaku ayah dari Nami.
"Benar, akupun juga melupakan hal itu!" Tambah Bella, rasanya kecurigaannya sudah terbukti benar.
Nami, Reiner dan Tasya mereka bertiga bersekongkol dalam menghancurkan rumah tangga Brian dan dirinya.
"Jadi, kira-kira bagaimana kita akan menghadapi ini?"Tanya Stevan mencoba memancing kakaknya untuk kembali berfikir.
"Stevan kau lebih muda dariku, seharusnya kau yang memikirkan itu!" Ucap Bella sambil berseringai, sejenak Stevan dibuat terkekeh mendengarnya.
"Baiklah, aku ada rencana bagus! Kau menunjukkan bukti yang membuatku tak ragu lagi untuk meringkusnya kakak." Ucap Stevan.
Apa yang Brian katakan benar. Stevan tidak akan pernah menyentuh Nami apabila bukti atas kejahatan yang ditujukan padanya tak ada.
Perlahan konspirasi jahat itu mulai terkuak satu persatu. Bella dan Stevan akan semakin teliti menyelidikinya dengan hati-hati tentunya.
__ADS_1
Argumen dalam satu ruangan ini beradu. Mereka berbincang selama setengah jam hingga mencapai satu kesimpulan yang sama. Sebuah kesimpulan yang akan membuat Nami terpojok.
...Wanita yang benar-benar mencintaimu mungkin akan marah karena berbagai alasan tetapi dia tidak akan pernah meninggalkanmu karena satu bahkan ribuan alasan...