
...Cinta memang butuh pengorbanan tapi jangan sampai kita yang jadi korban...
...Dan kesetiaan adalah sesuatu yang mulia tapi jangan sampai kesetiaan kita sia-sia...
...Cinta terdalam tidaklah menghasratkan pengorbanan, tetapi pengabdian...
_______
Stevan Drew POV
Apapun yang salah pada tubuhmu akan menjadi pertanyaan besar untukmu. Saat itu ketika menjalankan misi telingaku sering berdengung. Hal itu diiringi kepalaku yang sakit rasanya.
Luar biasa sakit, seperti ada sesuatu yang ingin meronta keluar dari dalam kepalaku. Hari itu aku memutuskan pergi menemui dokter. Sebuah rumah sakit besar ternama di Perancis.
Aku di arahkan ke arah dokter penyakit dalam. Ketika hasil CT scan kepalaku berada ditangan dokter, mereka mengarahkanku ke arah dokter onkologi. Sebelum kesana dokter menjelaskan padaku bahwa, ada tumor didalam kepalaku.
Dokter bilang padaku bahwa ini sudah cukup lama. Tuhan, aku terlalu takut merasakan kematian sekali lagi. Tidak, aku ingin hidup panjang disamping kakak ku dan menjaganya. Jika aku tiada bagaimana dengannya nanti? Keparat itu sudah membuat kakakku berada dalam situasi yang sulit.
Mengapa kau berikan kami hantaman cobaan bertubi-tubi Tuhan? Jika memang leluhur kami yang bersalah, mengapa karma mereka masih menghantui kami sampai saat ini. Bukankah seluruh tragedi yang menimpa ayah juga keluarga kami sudah cukup.
Tolong, ini sangat berat untukku dan Bella kakakku. Bebaskan kami setelah ini dari segala nasib buruk. Setidaknya aku akan menerima nasibku yang pedih ini, lalu berlalu padamu dengan ikhlas. Sungguh, aku akan melakukannya hanya jika kakakku disini sudah terjamin bahagia.
"Uhukkk.... Uhukk...."
Batukku tak kunjung berhenti ditambah kepalaku yang semakin sakit. Aku berada didalam kamar mandi pengadilan. Darah dari lubang hidungku masih mengucur deras tak kunjung membaik.
Kamar mandi pria ini berdampingan dengan kamar mandi wanita. Tepat disampingnya adalah kamar mandi wanita.
Merasa tak ada gunanya terus mendekam disini, aku memutuskan untuk keluar. Obat biasa tidak akan mempan untukku, aku membutuhkan morfin. Itu adalah satu-satunya pereda sakit paling ampuh untukku.
Perlahan aku berjalan sambil tertatih. Ketika aku keluar dari sana aku menabrak seseorang.
"Apa kau tak punya mata?" Ucap orang itu terjatuh, ia bangkit lalu menatapku.
Tunggu, aku mengenalnya. Suara itu juga surai ini, benar saja dia adalah Nami.
__ADS_1
"Kau kenapa?" Tanyanya sambil menatapku, amarahnya hilang seketika ketika menatapku yang tertatih sambil memegangi hidungku.
"Tak apa, aku hanya sedikit sakit!" Jawabku, Nami memperhatikanku dengan seksama mencoba mencari-cari sesuatu.
"Kau kenapa menatapku seperti itu?" Tanyaku padanya heran. Lagi pula mengapa ia tidak berada di penjara saat ini. Bukankah hakim sudah mengatakan bahwa kebebasannya besok.
"Kau sendiri kenapa masih ada disini? Bukankah kau seharusnya berada didalam penjara? Hakim bilang padamu jika kau dibebaskan esok?"
Pertanyaan itu membuatnya mengangguk sekaligus berseringai. Ia menatapku sambil melipat kedua tangannya.
"Stevan, terkadang seseorang yang menyembunyikan sesuatu akan buruk hasil akhirnya. Jika kau membutuhkan bantuan, katakan! Jangan diam, sebab aku tau kau akan mati setelah ini!"
Pernyataan itu membuatku terkejut. Sepertinya gadis ini tau apa yang sedang ku derita. Nami dari dalam sakunya merogoh sesuatu. Ia meraih tanganku meletakkan sesuatu itu tepat diatas telapak tanganku. Nami mendekatkan kepalanya padaku, berbisik tepat di telingaku.
"Ini adalah obat yang kau cari! Aku memungut salah satunya ketika berada di kediamanmu. Aku tidak ingin kau mati sekarang, karena aku juga masih ingin menyiksamu. Tunjukkan padaku aksi-aksi heroikmu selama melindungi kakakmu, aku adalah penikmat berat aksimu!"
Setelah mengatakan itu ia menjauh ia melambaikan tangannya ke arahku sambil tersenyum lalu pergi. Sejenak aku tetap berada disana, ketika aku membuka telapak tanganku rupanya itu adalah morfin. Segera kuminum obat penyelamat itu, beberapa menit setelahnya sakit dalam kepalaku hilang.
Wajahku menatap lekat ke arah wastafel. Disana ada banyak sekali pertanyaan tentang hatiku, juga apa yang baru saja Nami katakan. Ada satu teka-teki yang harus diselesaikan dalam kata-kata itu. Satu misteri besar dari balik kalimatnya.
Bella : Stevan, aku berada di kedai es krim bersama Reiner saat ini! Datanglah kemari dan ikutlah bercengkrama sebentar.
Stevan : Baiklah kakak, aku akan segera kesana kau tunggu saja!
Bella : Kau tak apa? Sepertinya tadi kulihat kau seperti sedang menahan sakit?
Stevan : Hanya masalah kecil, masalah perut! Aku tak sanggup menahannya itulah mengapa aku bergegas pergi meninggalkanmu. Hahaha... Maaf ya!
Bella : Kebiasaan sewaktu kecil ya! Baiklah, cepat datang ya mungkin kita akan mengobrol bersamanya setengah jam saja lalu pulang. Aku ingin istirahat setelah ini!
Stevan : Apapun perintahmu kakak, aku akan melaksanakannya!
Aku memutuskan untuk segera pergi dari dalam toilet menuju ke kedai es krim yang kakakku maksudkan. Kedai itu dekat dengan tempat pengadilan, ketika kakiku menapak tepat di depan pintu gerbang pengadilan. Sebuah mobil polisi terlihat disana.
Tak lama beberapa polisi dari dalam gedung keluar sambil membawa Nami, menggiringnya masuk ke arah mobil polisi. Dia akan segera dibawa ke penjara untuk satu malam ini.
__ADS_1
Kami sempat bertatapan sejenak, Nami melempar sebuah seringai padaku. Ketika tubuhnya masuk kedalam mobil, polisi pun segera membawa pergi Nami dari sana.
Seandainya kau berada dalam kebaikan, kau pasti tidak akan berakhir seperti ini Nami. Sekalipun ini salah paham menurut hakim, tetapi aku yakin dalam kepalamu itu ada sejuta konspirasi yang akan kau mainkan, untuk memuaskan dendammu. Aku tidak akan membiarkanmu, sungguh!
"Stevan!" Sebuah suara memanggil namaku ketika aku berjalan melintasi kedai es krim.
Itu adalah suara kakakku, rupanya mereka sedang duduk di meja yang terletak diluar kedai. Pilihan tempat yang bagus sungguh, sembari menikmati es krim kita juga bisa menikmati lalu lintas kota.
"Wah buku-bukunya banyak sekali disini!" Aku sedikit memuji tumpukan buku yang berada diatas meja kami. Kulihat Reiner tersenyum setelah ucapanku.
"Ya, ini buku rilisan terbaru bulan ini! Namun aku hanya membawa tiga buku, karena aku belum membacanya jadi kemanapun aku pergi aku akan selalu membawanya. Sekarang, ambillah nona!" Ucap Reiner ramah sembari memberikan buku-buku itu pada kakakku.
"Ahh bagaimana aku bisa menerimanya sedangkan kau saja belum sempat membacanya?"
Kakakku memang gadis yang baik ia tidak egois. Disana Reiner mengangguk sambil masih tersenyum.
"Kau tenang saja nona, aku masih memiliki banyak buku didalam tokoku. Silahkan ambil ini, dan nikmatilah karyanya!" Ucap Reiner lagi.
Kakak mulai mengambil beberapa buku itu memasukannya kedalam tasnya. Aku senang melihatnya tersenyum disini. Kesedihan panjangnya terkadang mengiris hatiku, jika bersama Reiner dan buku adalah kebahagiaannya mungkin menitipkan Bell pada Reiner adalah hal yang tepat.
Bukan niatku menikahkan mereka. Namun aku juga manusia yang sibuk bukan, daripada kakakku berada di apartemen sendiri tanpa adanya teman akan lebih baik apabila aku membebaskannya.
Seperti jalan-jalan di taman mungkin. Atau mengunjungi toko buku milik Reiner. Itu mungkin akan membantunya lupa pada sesuatu yang meremukkan hatinya.
"Kakak sepertinya kau harus lebih sering mengunjungi tokonya! Kau kan maniak buku!" Mendengar ucapanku Bella tersenyum lalu mengangguk.
"Memang, tetapi aku terlalu malas untuk kesana tanpa ada yang mengantar."
"Aku akan menjemputmu jika kau ingin nona! Bukan itu hal sederhana, aku hanya ingin toko bukuku ramai. Jika memungkinkan, aku juga ingin memiliki pelanggan setia " Reiner menawarkan bantuannya setelah mendengar jawaban kakak.
Sepertinya mereka satu frekuensi, baiklah ini bagus. Semoga saja kedekatan ini akan selalu membuat kakaknya tersenyum selagi dia tak ada bersamanya.
...Indahnya cinta bisa pudar ketika datang cobaan...
...Kau harus menghadapi cobaan tersebut dengan sabar supaya cinta yang indah kembali indah dan tidak pergi meninggalkanmu...
__ADS_1
...Yakinlah ketika kau memperjuangkan cinta, maka kebahagiaan akan datang menyelimutimu...