
...Orang yang membunuh manusia adalah penjahat tapi, orang yang membunuh musuh adalah pahlawan ...
Sejak semalam ketika Angela pamit untuk pergi bekerja shift malam, sampai pagi ini pun ia masih belum pulang.
Sudah ada ribuan kali Eddie berusaha menghubunginya, istrinya itu tidak biasanya seperti ini. Bungkam, bisu tanpa kabar. Sungguh ini benar-benar membuat Eddie khawatir setengah mati rasanya.
"Astaga sayang, kau ini kemana? Mengapa sulit sekali menghubungimu!" Gerutu Eddie kembali menghubungi Angela lagi dan lagi.
Sesibuk apapun dokter cantik itu, ia akan selalu menghubungi suaminya. Eddie benar-benar takut hal buruk akan terjadi pada istrinya.
Glekkkk
Suara pintu ruangannya terbuka, namun sungguh Eddie benar-benar tak peduli itu kepada siapapun yang datang masuk kemari. Isi kepalanya hanya dipenuhi oleh Angela saja.
Bagaimana keadaannya saat ini? Dimana dia? Apakah ia baik-baik saja saat ini? Hanya ragam pertanyaan itulah yang memenuhi kepalanya saat ini.
Seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangannya itu adalah Brian. Ia baru saja datang dan ingin membicarakan sesuatu pada Eddie saat ini.
Namun Brian mengurungkan niatnya ketika melihat adiknya itu sedang gundah sepertinya. Brian memperhatikan Eddie yang sedang memunggunginya.
Sesekali ia menggerutu perihal tak ada jawaban dari panggilan di ponselnya. Lagi, untuk kesekian kalinya ia mencoba menghubungi seseorang.
"Adik, ada apa?" Tanya Brian di belakangnya.
Cukup, sungguh ia muak sekarang. Eddie berbalik lalu menggebrak mejanya sendiri. Brian sedikit terkejut melihat apa yang Eddie lakukan.
Pria ini jarang sekali meluapkan amarahnya. Sejauh yang Brian kenal, adiknya adalah pribadi yang lembut. Penyayang juga penuh simpati.
Jika saja ada satu hal yang memicu amarahnya. Itu adalah sesuatu yang sangat besar dan berharga pastinya.
"Ada apa?" Tanya Brian lagi padanya.
Eddie tak menjawab itu, ia hanya menyerahkan ponselnya pada Brian. Brian meraih ponsel itu lalu melihatnya. Sekitar seribu panggilan tak terjawab Eddie lakukan pada Angela.
"Kakak ini benar-benar sudah tidak beres!" Ucap Eddie padanya.
Benar apa yang Eddie katakan. Sesuatu semacam ini jarang terjadi. Bahkan tidak pernah sekalipun terjadi, hanya saat ini.
"Semalam dia pamit kemana?" Tanya Brian padanya.
__ADS_1
"Seperti biasa, ia pergi bekerja! Dia bilang ada shift malam! Aku akan ke rumah sakit untuk mencarinya! Sungguh kalut rasanya hatiku!"
Brian mengangguk menanggapi apa yang Eddie katakan. Ia paham sekali bagaimana rasanya ketika seorang istri tiba-tiba menghilang tanpa ada kabar.
"Kalau begitu aku, akan menemanimu!" Ucap Brian.
Eddie mengangguk mendengar tawaran dari kakaknya itu. Pagi ini mereka berdua bersama mencoba mencari keberadaan Angela.
Tujuan utama mereka saat ini adalah, rumah sakit tempat dimana Angela bekerja disana. Salah satu rumah sakit ternama dan terbesar di Perancis.
_________
Dilain tempat, Bella dan Stevan sedang duduk manis menghadap ke arah televisi. Sejak tadi mereka berdua duduk disana menikmati sebuah acara.
Sesekali mereka mengobrol membahas sesuatu lalu kembali fokus pada layar televisi.
Depppp
Depppp
Suara langkah kaki menuruni anak tanggal menyita perhatian mereka. Ketika mereka menoleh kebelakang, rupanya itu Tasya.
"Mengapa kalian menatapku semacam itu?" Tanya Tasya pada Stevan dan Bella.
Sungguh kedua saudara ini membuatnya muak rasanya. Andai saja hukum memperbolehkan membunuh, mungkin dua orang manusia dihadapannya ini sudah ia lenyapkan.
"Heran saja aku padamu! Mengapa kau masih memijakkan kakimu dirumah ini, padahal keberadaanmu sama sekali tak dianggap!"
Lagi, ucapan Stevan selalu saja membuat Tasya kesal disini. Tasya mengepalkan kedua tangannya, Bella memperhatikan itu. Rasanya tak benar jika terus bersikap semacam ini pada Tasya.
Bella mencengkram pergelangan tangan Stevan yang sedang berdiri sambil menatap ke arah Tasya disana. Merasakan sentuhan kecil dari tangan kakaknya, Stevan berusaha menepisnya.
Amarah kembali menguasai Stevan saat ini. Bagi Stevan, membela kakak nya adalah prioritas utamanya.
"Kau ingin tau mengapa aku masih betah disini?" Tanya Tasya seraya menantang.
Wanita itu berkacak pinggang sekarang berseringai memicingkan kedua matanya. Stevan yang gelap mata merasa tertantang saat ini, sontak pria itu maju mendekati Tasya saat ini namun tak mampu sebab tangan Bella menahannya kembali.
"Wanita murahan ini benar-benar!" Geram Stevan.
__ADS_1
"Apa hah? Apa kau ingin memukulku? Silahkan, aku sama sekali tak takut padamu. Aku disini sebab anak Brian juga ada padaku. Sudah seharusnya anak ini dilahirkan dalam keluarga ini."
"Dasar wanita tak tau malu! Mengapa kau bekerja sebagai seorang sekretaris dulu. Jika tubuhmu saja semurah ini! Wanita tak beradab kau, murahan!"
Kata-kata panas itu terlontar begitu saja dari bibir Stevan. Usai mengatakan itu dengan amarah yang memuncak, Stevan memegangi kepalanya yang mulai berat rasanya.
Tumor dalam kepalanya kembali menyiksanya. Pria itu limbung mencoba mencari tumpuan, sedangkan Tasya disana ia hanya berseringai melihat itu.
Memang ia tak terlalu tau apa yang terjadi pada Stevan saat ini. Namun melihat pria sialan itu kesakitan, Tasya benar-benar bahagia.
Bella dengan sigap membantu Stevan untuk duduk kembali. Sambil terus memegangi kepalanya Stevan memekik.
"Mungkin Tuhan akan segera mengambil nyawa pria menyebalkan sepertimu sebentar lagi!" Ucap Tasya pedas.
"Hei!!!" Pekik Bella memicingkan matanya ke arah Tasya.
Ia sungguh tidak terima ketika Tasya mengatakan itu pada adiknya.
"Kau mau apa hah? Apa kau juga akan menyumpahiku? Aku tidak peduli sebanyak apapun kalian memakiku! Intinya Brian adalah milikku, dan tidak akan kubiarkan kau memilikinya dengan tenang. Selama Tasya masih hidup, segala masalah akan datang menimpamu, Bella! Sampai kau sendiri yang akan menyerahkan Brian padaku dan pergi meninggalkannya."
Jelas Tasya, Bella menyamankan tubuh adiknya itu di atas sofa. Cukup baginya mendengar seluruh yang Tasya katakan, saat ini waktunya membungkam mulut wanita ini.
"Kau merebutnya dariku, berani sekali?"
Ucap Tasya lagi padanya, Bella tersenyum kecil mendengar itu. Wanita ini semakin tidak waras saja rasanya.
"Siapa disini yang merebutnya? Dia datang sendiri padaku. Dan apakah tindakan yang sudah kau lakukan itu kau sebut Cinta? Dimana letak cintanya? Tidakkah lebih banyak paksaan disini?"
Tasya melotot mendengar itu, beraninya gadis dihadapannya itu menjawab kalimatnya.
"Beraninya kau menentang kehendakku? Siapa kau?" Ucapnya.
"Kau yang siapa? Dia tidak memilihmu untuk menjadi pasangannya. Lalu, mengapa kau tidak tau diri sama sekali. Semakin kau menyakiti orang terdekatnya, semakin dia menjauhimu."
Tasya dibuat geram rasanya mendengar apa yang Bella katakan. Wanita ini benar-benar bedebah sekali dimatanya.
Tak ingin terlalu banyak menghabiskan waktunya disini, Tasya pun memutuskan untuk pergi meninggalkan Bella setelah segala perdebatan yang terjadi disana.
...Aku sangat mencintainya sehingga aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dengan diriku sendiri...
__ADS_1