
...Kau tidak dapat memisahkan perdamaian dari kebebasan karena tidak ada yang bisa berdamai kecuali dia memiliki kebebasannya...
________
.
"Emhh.."
Lenguhan kecil itu mengiringi kedua netranya terbuka. Bella terkejut mendapati dirinya saat ini sedang dalam kukungan seseorang. Ia sedikit melupakan apa yang terjadi semalam padanya.
Ketika Bella menjauhkan tubuhnya dari kukungan itu, justru kedua tangan kekar yang sedang memeluknya itu kian mendekapnya enggan melepaskannya.
"Pagi Sayang!"
Suara itu membuat rasa kalut dalam hatinya menghilang seketika. Ini Brian rupanya, Bella mendongak mencoba melihat wajah suaminya itu.
"Hunny..." Lirihnya, disana Brian menyunggingkan senyum ke arahnya, lalu mengecup kening Bella lembut.
" Aku tau, kau pasti sedang bertanya-tanya bukan? Bagaimana bisa aku kemari, lalu memelukku seperti ini. Juga menelanjangimu!"
Apa yang Brian katakan itu benar. Namun kalimat akhir dari ucapannya membuat Bella bersemu. Seketika Bella memutar bola matanya mengintip ke arah selimut. Dan benar saja apa yang Brian katakan.
"Mesum!!!" Pekik Bella sambil menjauhkan tubuhnya.
Namun tentu saja, dia hanyalah seorang wanita
Tenaganya jauh berbeda dari Brian bukan, pria itu disana semakin mengeratkan pelukannya. Brian berusaha menciumi Bella sekarang.
"Hunny, sudah!" Ucap Bella padanya.
"Tidak mau!" Ucap Brian berusaha menggapainya.
"Hunny aku tidak bisa bernafas astaga, lepaskan aku!" Ucap Bella lagi.
Namun rupanya Brian masih bersikukuh ingin mendapatkan satu ciuman selamat pagi.
"Baiklah, diam dulu!" Ucap Bella padanya, Brian diam mendengar itu.
Saat ini telapak tangan Bella sedeng berada di atas bibir Brian. Kedua netra mereka bertemu satu sama lain.
"Apa kau akan terus menatapku seperti itu sayang? Dimana sambutan selamat pagi untukku?" Tanya Brian kembali mengingatkan bahwa dirinya masih belum mengecap bibir manis istrinya itu.
Bella mengerutkan keningnya, sungguh prianya benar-benar mesum.
__ADS_1
"Tutup matamu!" Ucap Bella padanya, namun rupanya Brian hanya berseringai menanggapi itu.
"Kenapa kau tersenyum?" Tanya Bella bingung.
Brian mengecup lembut telapak tangan Bella itu. Mencoba menghirup aroma wangi yang menguar disana.
"Hah, aku ingat dulu pernah memintamu hal seperti ini juga! Ketika aku memejamkan kedua mataku, kau kabur!"
Bella membulatkan mata mendengar itu. Ia kembali diingatkan akan ulahnya dulu. Tapi memang itulah yang akan Bella lakukan nanti, ketika Brian terpejam. Bella akan memberinya ciuman singkat lalu berlari ke arah kamar mandi membersihkan dirinya.
Berlama-lama dalam satu selimut bersama dengan Brian. Itu akan meningkatkan gairah mesumnya lagi. Tidak, tubuhnya saja sudah cukup lelah saat ini. Jika permainan Suaminya semalam terulang, entahlah mungkin ia tidak akan mampu berjalan dengan baik hari ini.
"Tidak Hunny, lagi pula dulu kau memintanya sebab kita belum memiliki ikatan ini bukan?" Bella mencoba mencari cara lain, agar Brian mau percaya padanya.
"Benarkah, baiklah! Aku akan memejamkan mataku! Beri aku French kiss!"
Sungguh permintaannya semakin kesini semakin jauh. Semakin mereka berada dalam posisi ini, semakin banyak pula permintaan yang akan Brian ajukan.
"Iya, tutup matamu dulu!" Ucap Bella.
Brian mengangguk ia menuruti apa yang Bella katakan. Bella menarik seluruh selimut itu untuk menutupi tubuhnya, menjauhkan tubuhnya. Sebelum kedua kakinya bersiap masuk ke kamar mandi, ia mencium lembut wajah suaminya itu lalu pergi dari sana.
"Selamat pagi sayang!"
Suara langkah kaki yang menjauh beserta pintu kamar mandi yang tertutup membuat Brian membuka matanya. Wanitanya yang malu-malu itu menggemaskan sungguh. Pagi ini mungkin, Brian akan mengajaknya untuk menikmati lautan. Sebab kapal masih belum berlabuh.
Brian teringat sesuatu, ia teringat sejak semalam setelah pertengkarannya dan Reiner. Brian sama sekali belum menemui anak buah setianya itu. Brian memungut pakaiannya lalu memakainya, ia harus segera menemui Rey saat ini.
Brian keluar dari dalam kamarnya. Sejenak ia menatap layar ponselnya, sinyal ponsel miliknya membuatnya berdecak kesal.
Tibalah Brian dibagian aula kapal. Disana ada banyak pegawai kapal, Brian mulai menanyakan keberadaan Rey sambil menunjukkan foto Rey di ponselnya.
"Oh orang ini, dia ada dibagian persediaan. Semalam, aku melihatnya masuk kesana bersama dengan kapten. Anda bisa menemui mereka di ruang persediaan, Tuan!" Ucap salah seorang pegawai memberi penjelasan.
"Terima kasih Tuan!" Ucap Brian.
Brian mulai mencari keberadaan ruang persediaan yang pegawai itu maksud. Dengan melihat denah peta kapal, tak butuh waktu lama. Brian pun berhasil menemukannya.
Brian membuka pintu itu. Terlihat disana, Reiner duduk diikat disebuah kursi. Disampingnya ada Rey yang berdiri menatapnya.
"Bagus sekali Rey!" Puji Brian yang Barus saja datang.
Rey yang tadinya sibuk mengintrogasi Reiner seketika dibuat terkejut. Ia pun berbalik menatap Brian.
__ADS_1
"Tetua, kau disini! Bagaimana kau tau aku disini?" Tanya Rey sambil berjalan menghampiri Brian disana.
"Tentu saja aku tau, ikatan batin kita kuat!" Ucap Brian padanya, Rey tertawa mendengar itu.
"Hmmmp....hmmphh..." Reiner dengan lakban dimulutnya berusaha berontak.
Baik Rey dan Brian keduanya tersenyum ke arah Reiner saat ini. Mereka berdua sama-sama melipat tangannya.
"Berandal kecil, sudah kubilang! Kau salah jika bermain-main denganku. Tidakkah kau tau altar belakang kami? Kau sedang bermain-main dengan mantan eksekutor terkejam! Apabila malam itu Bella tidak sadar, mungkin tanganku ini sudah kembali melenyapkan nyawa seseorang." Ucap Brian.
Brian kembali mencoba mengingatkan Rey bahwa ia pun juga mampu melakukan apa saja, selama hal itu menyangkut wanitanya.
"Menyentuh kepunyaanku, bukanlah hal yang baik! Reiner, akan ku buat kau bangkrut setelah ini. Tunggu saja itu! Kau sudah terlalu lancang, bahkan semalam ka berniat melecehkannya. Persetan rasanya denganmu!"
Kali ini Brian berucap sambil mendekat ke arah Rey. Kedua tangannya berada disisi-sisi kursi. Kedua netranya menatap tajam ke arah Reiner. Sedang Reiner pun juga menatapnya kesal.
"Kau tau, aku tidak akan pernah main-main! Reiner!" Tambah Brian lagi, kali ini ia menjauhkan tubuhnya.
"Coba sewa beberapa pegawai kapal, untuk menjaganya. Dia harus di beri hukuman setibanya di Perancis. Sementara tahan dia!" Ucap Brian pada Rey.
"Baik Tetua, aku akan melaksanakan perintahmu!"
Brian mengangguk ia pun pergi dari dalam ruang persediaan. Brian kembali ke kamarnya, menemui kekasihnya disana.
Ketika tangannya membuka pintu, ia disambut dengan sunggingan senyum dari Bella disana.
"Kau darimana Hunny?" Tanya Bella padanya.
"Aku baru saja menyelesaikan masalah kita!" Jawab Brian mendekat ke arah Bella, mengulurkan tangannya.
"Ada apa?" Tanya Bella padanya, ia menatap aneh ke arah uluran tangan suaminya itu.
"Hei sayang, apakah kau tak ingin menikmati laut? Anggap saja kita sedang berlibur saat ini!" Ucap Brian riang pada Bella.
"Memangnya dimana tujuan kita saat ini?" Tanya Bella padanya lagi.
"Australia!" Jawab Brian.
Jawaban itu membuat Bella menyambut uluran tangan Brian. Disana, Brian pun mengajak Bella menikmati seluruh fasilitas kapal. Bersenang-senang sejenak itu perlu bukan, lagi pula suami istri ini sudah lama tidak sebebas ini.
Rentetan masalah yang datang, membuat mereka tak mampu bernafas rasanya. Sejenak, mereka ingin bernafas lega atas apa yang sudah menimpa mereka.
...Dunia tidak akan dihancurkan oleh mereka yang melakukan kejahatan, tetapi oleh mereka yang menontonnya tanpa melakukan apa pun...
__ADS_1