Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Setelah Saat Itu


__ADS_3

...Kegagalan seorang pria yang paling sulit yaitu ketika dia gagal untuk menghentikan air mata seorang wanita...


Hukuman bagi pembunuhan berencana adalah pidana seumur hidup. Itulah yang terjadi pada Tasya dan Reiner saat ini. Mereka berdua masih berada di dalam penjara.


Durasi kehidupan sudah menunjukkan sekitar delapan tahun lamanya. Sejak saat itu, Bella dan Brian kini hidup tenang dalam kediamannya.


Berbeda dengan Reiner dan Tasya. Masuk nya dirinya ke dalam jeruji ini, membuatnya Ling Lung bahkan tak ada semangat hidup. Itulah yang terjadi pada Tasya.


Ketika bayi miliknya dilahirkan didalam sel ini, pihak dari Bella langsung membawanya. Mengantarkan bayi itu ke rumah mereka untuk di rawat.


Akibatnya sampai saat ini, anak dari Tasya sudah delapan tahun hidup bersama Bella dalam kediamannya. Anak itu hidup bersama dengan Brian juga anaknya.


Tak jauh berbeda dengan Reiner. Pria ini, setiap hari selalu menggoreskan kapur di dinding membentuk angka satu. Itu adalah caranya menghitung hari selama disini.


Pedih bukan apa yang menimpa mereka. Itulah karma. Seperti Brian yang sulit mendapatkan kebahagiaan juga ketenangan, karma itu memiliki durasi.


Percayalah bahwa tiap apapun yang kalian lakukan dalam dunia. Perbuatan itu akan menuai karmanya suatu saat nanti.


Berhati-hatilah dalam bertindak. Sebab kita tidak akan pernah tau, balasan semacam apakah yang akan menimpa kita nantinya.


Seperti biasa pagi ini dalam kediaman Brian. Suara bahak tawa dia anak kecil memenuhi lorong-lorong rumahnya. Itu adalah ulah Prince selaku anak laki-laki mereka. Juga ulah Sienna, anak perempuan mereka yang tentunya Sienna adalah anak dari Tasya.


"Kakak berikan boneka ku!" Ucapnya dengan nada merengek-rengek.


"Ambil sendiri hahaha..." Ucap Prince menjawab apa Sienna katakan.


Bocah laki-laki ini memang semangat sekali apabila menggoda adiknya. Beberapa pegawai yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka, merasa bahagia sekali melihat kedua anak itu.


Suara mereka selalu saja mewarnai rumah ini. Mereka sudah bahagia melihat Tuan dan Nyonya mereka hidup dengan tenang. Ditambah saat ini, munculnya kedua bocah ini semakin membuat mereka tambah bersemangat.


Brukkk


"Huwahhhh kakak!!!"


Suara tubuh yang jatuh beserta tangisan itu seketika menghentikan aksi Prince. Bocah laki-laki itu datang ke arah Sienna, ia meletakkan boneka milik Sienna begitu saja di lantai lalu bersimpuh menyamai tinggi adiknya.


Mau bagaimana pun, sekalipun mereka berbeda ibu. Namun Bella sama sekali tak pernah membedakan keduanya. Prince menyayangi Sienna sebagaimana seorang kakak lain menyayangi adiknya.


"Kau tak apa Sienna?" Tanya Prince menunduk melihat wajah Sienna yang banjir air mata.


"Kakak Prince jahat!!!" Jawab Sienna semakin menangis.

__ADS_1


Prince menyesal disini, ia benar-benar merasa bersalah saat ini. Jika Bella tau ini, Prince yakin Mommy nya itu pasti akan naik pitam padanya.


"Maafkan aku Sienna!" Ucap Prince mengulurkan tangannya.


Seraya masih menangis, Sienna membalas uluran tangan itu. Prince membantunya berdiri.


"Prince? Ada apa ini?" Tanya Bella yang baru saja keluar dari dalam kamarnya.


Prince hanya berseringai lalu menunduk. Ia menyesal sungguh. Melihat itu Bella hanya tersenyum, sambil mengusap kepala kedua anaknya itu Bella bersimpuh.


"Apa kakakmu mengganggumu lagi Sayang?" Tanya Bella pada Sienna yang masih menangis.


Anggukan dari kepala adiknya itu seketika membuat Prince ciut. Prince hanya memilih menunduk saja, ia tak berani menatap ke arah Bella saat ini.


"Prince?" Panggil Bella lembut padanya.


Tak ada nada marah disana. Sepertinya aman bagi Prince untuk menoleh lalu menatap Mommnya nya. Dengan berat hati, masih dengan perasaan bersalah, Prince menoleh menatap ke arah Bella sambil menjewer sendiri kedua telinganya.


"Ya Mommy, aku bersalah disini! Aku sudah meminta maaf, jadi tolong maafkan aku. Aku juga tak ingin, Sienna terjatuh lalu menangis semacam itu." Jelas Prince menyesal.


Bella tersenyum mendengar itu. Lega rasanya melihat anak laki-lakinya itu menyadari kesalahannya. Bella berdiri lalu mengusap kembali puncak kepala kedua anaknya.


"Kalian sudah cukup rapi, jadi jangan bermain dengan sesuatu yang kotor atau membahayakan. Jam nya sudah tepat pukul enam pagi. Sudah waktunya bagi kalian untuk sarapan kali ini." Ucap Bella mengajak keduanya.


"Baik Mommy!" Ucap keduanya serentak..


Bella menarik lembut kedua tangan anaknya. Menuntunnya ke meja makan. Setibanya disana, Prince sedikit heran.


Dimanakah keberadaan Daddy nya. Tidak biasanya Daddy nya belum ada di meja makannya. Ketika Bella menarik kedua kursi untuk anak-anaknya, Prince tak duduk. Hanya Sienna saja yang duduk disana.


"Ada apa Prince?" Tanya Bella padanya heran.


"Daddy dimana, Mommy?" Prince bertanya sambil menunjuk ke arah kursi yang sering Brian tempat i.


"Daddy mu sedang ada di kamar! Dia sedang tidak enak badan!" Jelas Bella padanya.


Mendengar itu Prince mengangguk, ia ingin pergi menemui Daddy nya sekarang begitupun dengan Sienna.


"Hei, mau kemana?" Tanya Bella pada mereka, sontak mereka berdua berhenti.


"Aku mau melihatnya!" Jawab Prince, Sienna disampingnya hanya mengangguk.

__ADS_1


Bella menepuk pelan keningnya. Suaminya disana sedang telanjang dibawah selimutnya. Hasil olahraga semalam membuatnya bangun terlalu siang hari ini sepertinya.


"Sudah, kalian kembali saja kesini! Makan dulu! Aku akan merawat Daddy sebentar. Setelah itu, barulah kalian berpamitan dengan Daddy mu di atas." Ucap Bella berusaha menahan kedua anak nya untuk naik ke atas sana, ke kamar mereka.


"Baiklah baiklah, kami akan makan dulu!" Ujar Prince menyerah.


Hal itu di ikuti dengan Sienna di belakangnya. Kedua anak itu kembali duduk di meja makan, menyantap tiap makanan yang di sajikan disana.


Kesempatan bagi Bella rasanya untuk membangunkan suaminya di kamar. Bella pun berjalan ke arah kamarnya, lalu masuk kesana, tak lupa ia menutup kembali pintunya.


Dan benar saja, suaminya itu disana masih terlelap dengan balutan selimut yang menutup tubuh polosnya. Pakaian mereka masih berceceran di lantai. Bella benar-benar lupa membereskannya sungguh.


Satu persatu pakaian itu mulai Bella bersihkan, lalu menaruhnya di tempat lain. Bella yang masih di balut dengan setelan piyama kimono, duduk manis disamping ranjang mereka.


"Sayang bangun.." Lirih Bella mengusap-usap lembut wajah suaminya itu.


Sekejap Brian membuka kedua matanya, menatap lekat ke arah Istrinya disana. Rasanya seperti sedang melihat kehadiran Dewi disana.


Bukannya bangun, Brian malah menempatkan kepalanya di atas pangkuan Bella lalu memeluk pinggang istrinya itu.


"Hunny.. Sudah pagi!" Ucap Bella padanya.


"Aku masih kurang memelukmu!" Jawabnya asal.


Sungguh padahal semalam, suaminya itu sudah sangat lama memeluknya. Namun pagi ini, ia masih mampu mengatakan kurang padanya.


"Hunny, kau tidak akan mengantar anak-anak sekolah?"


Kali ini Bella bertanya sambil membiarkan Brian tetap tertidur nyaman di atas pahanya, sesekali Bella memainkan Surai pirang suaminya.


"Cium aku!" Ucap Brian padanya.


Bella pun menghela nafas mendengar itu.


"Ya sudah, bangunlah!" Perintah Bella padanya.


Pada akhirnya Brian pun mengubah posisinya menjadi duduk. Bella menciumnya disana, sebuah ciuman singkat. Ketika ciuman itu usai, Bella hendak pergi dari sana. Namun satu tarikan kuat membuat tubuh mungilnya itu kembali jatuh ke atas ranjang.


"Tidak mau!" Rengek Bella ketika menemukan seringai mesum suaminya.


Sungguh sepertinya olahraga semalam akan terjadi selama beberapa menit lagi disini.

__ADS_1


__ADS_2