
...Karena menjadi bebas bukan hanya untuk melepaskan rantai seseorang, tetapi untuk hidup dengan cara yang menghormati dan meningkatkan kebebasan orang lain...
"Lepaskan aku! Kau pikir kau siapa berani menyentuhku hah?"
Suara itu berasal dari seorang manusia yang sedang diborgol. Disamping kiri dan kanan tubuhnya terdapat Rey dan Themo. Manusia yang berontak ini adalah Reiner.
Selepas kepulangan Brian dan Bella kemari. Rey mengirim Reiner masuk kedalam markas pusat mereka. Brian mengatakan pada Rey, untuk membawa Reiner kesana.
Disana Brian juga mengatakan padanya untuk memberi hukuman apa saja pada Reiner, asalkan jangan sampai menghilangkan nyawanya.
Brakkkkk
Themo menendang pintu besi yang ada dihadapannya. Ketika pintu itu terbuka terlihat Eddie sedang berbincang bersama Stevan disana. Mereka terkejut melihat kedatangan Themo yang begitu tiba-tiba itu.
"Aku membawa bingkisan besar!"
Brukkk
Themo mendorong tubuh Reiner maju ke arah Stevan dan Eddie. Keduanya yang mendengar cerita dari Bella seketika murka saat itu, terlebih Stevan.
Menurut apa yang Brian katakan padanya, Reiner hendak melecehkan kakaknya saat itu.
"Keterlaluan kau, berani sekali melecehkan kakakku!" Geram Stevan yang hendak menghantamnya. Namun cengkraman tangan Eddie menghalanginya.
Kali ini ia kemari tidak bersama Nami. Sebab katanya wanita itu sedang ada keperluan mendesak.
"Jangan, kita tidak bisa melakukan kekerasan padanya Stev!" Jelas Eddie padanya.
"Ya benar, kau tidak mampu menyakiti ku disini Stevan. Sebab aku dilindungi oleh hukum negara, dan perihal kelakuan bejatku pada kakakmu. Kau sama sekali tak memiliki buktinya! Jika hanya memiliki bukti berdasarkan ucapan, maka buktimu tidak akan mampu memberatkanku."
Stevan sejenak tertegun mendengar itu. Namun tidak dengan Eddie, pria itu sungguh akan membalas apa yang Reiner lakukan pada keluarga kakaknya.
"Secara hukum kami memang tidak akan mampu meberatkanmu. Tapi secara kekuasaan, kami bisa menghancurkanmu! Mulai sekarang, hitunglah mundur!" Ucap Eddie serius menatapnya.
"Apa maksudmu?" Tanya Reiner yang sama sekali tak memahami apa yang Eddie katakan.
"Kau lupa sedang berurusan dengan siapa disini? Seekor kucing sepertimu berani bermain-main dengan seekor singa yang gagah. Maka, aku akan membuatmu menderita setelah ini."
Ujar Eddie lagi padanya. Baik Themo dan Rey pun sama sekali tak mengerti apa maksud Eddie disini.
"Seluruh perusahaanmu, karirmu, akan kujatuhkan dalam waktu tujuh hari. Perusahaan yang kau bangun itu berdiri di atas tanahku. Kau ingat, bahkan leluhurmu saja mengemis padaku saat itu. Tapi apa ini, kau, generasi barunya mengacaukan segalanya. Berani kau sentuh keluargaku, ku buat kau menderita!"
__ADS_1
Ancaman itu seketika membuat Reiner bungkam. Ia benar-benar tak percaya kekayaannya akan di ambil semudah itu.
"Bagaimana caramu mengambilnya? Perusahaanku sudah berdiri megah disana."
"Hahaha..." Eddie dibuat terkekeh mendengar pertanyaan Reiner.
"Kau ini bodoh ya? Kau selama ini hanya membayar sewa tanahnya saja. Tanah itu, gedung itu adalah milikku. Carilah tempat bernaung untuk bisnismu. Aku akan menaikkan harga sewanya sebesar sepuluh kali lipat. Jika kau tak mampu membayarnya dalam waktu seminggu, kau akan hancur!"
Tamat rasanya bagi Reiner saat ini. Sungguh ia benar-benar diliputi kebencian saat ini. Reiner berontak seketika ia melangkah cepat ke arah Eddie.
Ketika kaki itu hendak menendang Eddie, Stevan dengan sigap menghalanginya. Menendang kembali tubuh Reiner hingga ia tersungkur.
"Sialan kau, akan kuhancurkan kalian sungguh!" Ucap Reiner berteriak.
Themo dan Rey memegangi tubuh Reiner. Terlihat jelas amarah dari wajah itu mengalir untuk mereka dalam ruangan ini.
"Buka borgolnya!" Perintah Eddie.
"Tapi Tuan?" Tanya Themo tak percaya.
"Buka saja!" Perintah Eddie kembali.
Themo dan Rey pun membuka borgol Reiner. Reiner kembali menatap Eddie kali ini sedangkan Eddie disana hanya berseringai sambil mengacungkan jempolnya.
Reiner yang geram pun berbalik bergegas pergi dari sana sambil membawa rentetan amarah yang terkumpul luas di hatinya.
Sumpah serepah banyak ia lontarkan dalam hati. Kedua tangannya ingin sekali melenyapkan Eddie beserta Brian rasanya. Kedua mantan mafia itu benar-benar membuatnya murka.
"Tujuh hari, kau keren sekali!" Puji Stevan memuji apa yang Eddie katakan pada Reiner..
"Tentu saja, kekuasaan selalu menang bukan?" Themo mencoba mencampuri ucapan Stevan disini.
"Maaf, aku tidak bicara dengan berandalan! Aku hanya bicara pada orang-orang terhormat."
Ucap Stevan pada Themo. Themo tertegun mendengar itu, ia memicingkan matanya ke arah Stevan kali ini.
Stevan hanya tersenyum padanya, sama sekali tak ada penyesalan dalam hatinya setelah mengatakan itu. Eddie yang tau Stevan hanya mencoba memancing amarah Themo, ia diam saja sambi memperhatikan keduanya.
"Apa maksudmu memanggilku berandal hah?" Tanya Themo tak terima.
"Oh iya, sepertinya aku yang salah disini. Mungkin, mantan eksekutor benar dan cocok untukmu." Jawab Stevan lagi.
__ADS_1
"Agen mata-mata dungu!"
Kalimat itu membuat Stevan terkekeh. Ia tau Themo sedang berusaha meredam amarahnya, Rey disamping Themo hanya menggelengkan kepalanya melihat sekilas perdebatan yang terjadi didepannya.
**Drttttttt
Drtttttt**
Getaran ponsel Stevan menyita perhatiannya. Stevan mengambil ponsel itu dari dalam sakunya, rupany itu adalah panggilan dari Nami.
"Dari siapa?" Tanya Eddie padanya.
"Mengapa kau ingin tau urusanku?" Jawab Stevan.
"Aku akan memukulnya!" Ucap Themo berjalan menghampiri Stevan. Namun lagi-lagi Eddie kembali menahannya.
"Ya, Hallo?"
Stevan mengawali pembicaraannya sambil pergi meninggalkan Eddie disana. Ia pergi tanpa berpamitan, baru beberapa langkah dari ruangan itu tubuhnya berpas-pasan dengan seseorang.
"Stevan?" Panggil Brian.
Ya orang itu adalah Brian yang baru saja sampai kemari. Stevan mematikan ponselnya sejenak, lalu menatapnya.
"Bocah besar, bagaimana kabarmu?" Tanya Stevan sambil melipat kedua tangannya.
"Aku baik, terima kasih atas bantuanmu ya! Sepertinya aku telat mengucapkan itu. Apa ada sesuatu yang kau inginkan? Mungkin aku bisa memberikannya padamu."
Ucap Brian ramah, ia kembali mengingat kebaikan Stevan padanya. Adik Bella ini sudah banyak membantunya, jika bukan karenanya mungkin Reiner akan benar-benar membawa Bella pergi.
Membayangkan itu saja Brian sama sekali tak mampu. Sebab tanpa Bella, mungkin ia akan gila. Bella adalah jantungnya dalam kehidupan ini.
Stevan diam mendengar itu, namun ia mengangguk. Sepertinya ada keputusan dari dalam kepalanya, yang akan ia lontarkan pada Brian dihadapannya.
"Kalau begitu aku meminta satu hal padamu!" Ucap Stevan padanya.
"Ya katakan! Apa itu?" Tanya Brian tak sabar mendengarkan apa yang Stevan katakan.
"Jaga kakakku, jangan pernah buat dia menangis lagi. Jangan biarkan dia terluka lagi, biarkan dia terus bahagia. Jangan buat dia kecewa, atau aku akan datang ke rumahmu lalu membawanya pergi lagi."
Ucap Stevan, hal itu membuat Brian tersenyum. Untuk hal itu rasanya tak perlu Stevan memintanya. Tentu saja ia akan melakukan hal itu untuk Bella. Sebab hatinya sudah terpaut dengan wanita itu.
__ADS_1
"Aku akan melakukannya, aku janji!"
Jawaban darinya membuat Stevan mengangguk. Tanpa sepatah katapun, Stevan pun pergi dari sana meninggalkan Brian.