Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Petang ini dan Sebuah Seringai


__ADS_3

...Perjalanan Lika liku asmaraku rumit...


...Namun bagaimana pun itu, aku akan menempuhnya...


...Sebab cintaku datang menyapaku ramah...


...Merengkuhku, menyayangiku, tanpa syarat apapun...


Jam menunjukan tepat pukul 23.00, satu jam lagi tepat tengah malam. Menunggu kepulangan suaminya malam ini cukup membuat Bella jenuh. Akhirnya ia memutuskan pergi keluar sejenak membeli sesuatu di swalayan.


Diantar dengan supir memakai mobil Ferrari. Bella keluar dari dalam mobilnya. Ia berjalan kearah swalayan itu, lalu masuk kedalam.


Rupanya hanya ada beberapa manusia disana. Maklum saja ini sudah hampir larut malam, manusia akan memilih terlelap pulas di atas ranjangnya daripada pergi keluar.


Salah seorang pegawai dekat pintu masuk menyambut kedatangan Bella. Dua orang bodyguard Bella menunggu tepat didepan pintu masuk Swalayan. Akan risih rasanya jika sekedar berbelanja Bella tetap diikuti.


Bella yang sibuk mencari-cari sesuatu sesuai inginnya sedaritadi diperhatikan. Oleh seorang manusia berjaket Hoodie, dengan sekotak susu ditangannya.


"Kakak!" Panggilnya sambil menepuk pelan bahu Bella yang membelakanginya.


Rupanya Pria itu adalah Stevan. Entah darimanakah dia selarut ini.


"Steve? Kau mengagetkanku saja!"


"Hahaha... maafkan aku, aku tak bermaksud."


"Kau sedang apa disini kakak?" Tanya Stevan penasaran.


"Aku sedang ingin mencari camilan saja!"


Stevan mengerutkan keningnya mendengar itu. Malam-malam begini, Bella mencari camilan itu bukan hal biasa.


"Itu seperti bukan jawaban darimu kak. Kau keturunan kuda, vegetarian sejati. Bagaimana mungkin semalam ini kau ingin mencari camilan. Bahkan kau, takut gendut!"


Ujaran dari dalam lisan Stevan sekejap menghentak aktivitas Bella. Wanita itu berbalik, berkacak pinggang sambil menatap adiknya. Kesal sekali rasanya mendengar ucapan itu. Benar memang diriny vegetarian, tetapi dia adalah manusia bukan keturunan kuda..


"Stevan, kau menghina kakakmu?" Tanya Bella padanya.


Disana Stevan hanya berseringai. Bella yang kesal dihadapannya membuatnya terkesan lucu. Tak ingin membuat keributan disini, Stevan mengangkat kedua tangannya tanda bahwa dia menyerah tak ingin melanjutkan perdebatan ini.


"Kau semalam ini akan kemana?"


Bella kembali mengajukan pertanyaan sambil berjalan melihat beberapa camilan, barangkali dirinya ingin membelinya.


"Aku ada patroli malam ini." Jawaban dari Stevan membuatnya mengangguk.


"Patroli?"

__ADS_1


"Iya kakak, sebuah patroli. Atasan bilang padaku ada hal aneh beberapa waktu lalu di dekat Eiffel. Disana tepat ditempat aku ingin membunuh Brian, ku temukan beberapa foto mengenaskan."


"Foto mengenaskan?"


"Iya, salah satunya foto seseorang pemilik mobil yang hendak menabrakmu."


Mendengar itu Bella terdiam. Bungkusan makanan yang berada didalam tangannya ia masukan ke keranjang belanjaan. Saat itu ia menatap ke arah Stevan, mencoba mencari tau sesuatu dalam bola mata itu.


Sejenak dirinya teringat pada panggilan telepon beberapa saat lalu sebelum kemari. Mungkin membicarakan hal ini pada Stevan itu hal benar.


Daripada dirinya membicarakan hal ini pada Brian. Pria itu sudah sangat sibuk, rasanya tak tega apabila Bella menambah pikirannya.


"Ada apa kak?"


Stevan bertanya perihal Bella yang bungkam sambil menatapnya. Sepertinya ada sesuatu dalam kepalanya saat ini.


"Stev, ada yang ingin kubicarakan padamu!"


"Katakan!"


"Beberapa saat lalu, aku menerima panggilan telepon. Aku tidak tau itu siapa? Nomor itu baru, dan aku tidak mengenalnya. Dari suaranya dia adalah seorang pria."


"Menurutmu siapakah pria yang menelponmu kak? Apakah ada nama yang kau curigai?"


"Aku tidak tau, apakah itu dia atau bukan. Tetapi, untuk apa dia melakukan hal itu padaku."


"Reiner!"


Tak ada reaksi apapun yang Stevan berikan, setelah dirinya menyebut nama itu. Stevan hanya tersenyum lalu mengangguk, dan pergi.


Ditempat lain melalui IT jaringan siber teknik peretasan. Nami memantau seluruh hal yang terjadi didalam sana. Percakapan antara Bella dan Stevan. Sepertinya rencana berhasil sekarang.


"Senang sekali rasanya membuat hidupmu terancam. Ketakutanmu ini, adalah kemenangan untukku, Bella!"


Entah sejak kapan gadis ini begitu kejam. Matanya buta akan ambisi membuatnya tak mampu memilah. Musuhnya adalah Brian disini, namun dia yang buta saat ini pun juga menganggap Bella sebagai musuhnya. Begitulah dendam merubah seorang manusia.


_____


Beberapa menit setelah berbelanja, Bella sudah tiba tepat didepan kediamannya. Ketika kakinya melangkah keluar dari dalam mobil, di halamannya ia sama sekali tak melihat keberadaan mobil suaminya.


'Kemanakah manusia ini?' Pikir Bella.


Kedua tangannya penuh memeluk belanjaan. Bella memutuskan untuk masuk kedalam. Remang-remang pencahayaan didalam sana, sengaja memang tiap malam mereka memakai pencahayaan semacam ini.


Bella memutuskan pergi ke dapur menaruh beberapa belanjaan miliknya. Para pelayan di jam ini sudah terlelap. Bella membuka pintu lemari es nya meletakkan beberapa makanan yang ia beli didalam sana. Tak lupa Bella meletakkan es krim miliknya di freezer.


Ketika kegiatannya hampir selesai sepasang tangan kekar memeluk tubuhnya dari belakang. Bella mendapatkan tepukan kecil dibahunya, berasal dari kepala manusia yang saat ini bertengger manja disana.

__ADS_1


"Sayang!" Panggil Brian sambil mencium lembut tengkuk kepala Bella.


"Hunny, mengapa kau harus saja pulang?" Tanya Bella.


"Iya, Eddie memberiku banyak sekali pekerjaan disana."


"Kau lapar Hunny?"


Pertanyaan dari Bella membuat Brian menggelengkan kepalanya. Bella memtuskan menutup pintu lemari es nya lalu berbalik menatap lekat ke arah suaminya itu.


"Kau pasti lelah bukan? Mari kita tidur!" Brian mengangguk mendengar itu.


"Ya mari kita tidur!"


Brian mengangkat tubuh istrinya itu, itu membuat Bella sedikit memekik terkejut. Namun tak lama kedua tangannya melingkari leher Brian.


"Aku mengambil cuti tiga hari, Sayang!" Brian berbicara sambil berjalan menuju ke arah lift.


"Cuti? Wah Hunny, aku ingin jalan-jalan juga. Kau tau saja istrimu ini jenuh dirumah." Brian tersenyum mendengar itu.


Suara manja itu selalu membuatnya gemas. Sekilas Brian mengecup lembut bibir ranum istrinya itu.


"Memangnya kau ingin kemana?" Tanya Brian padanya.


"Emmm bagaimana jika kita ke Dubai?" Brian menaikkan satu alisnya mendengar itu.


Negara apa itu, bahkan ia tidak mengenalinya. Lantas apa menariknya disana, dan ada apa?


"Dimana itu, apa menariknya negara itu? Ada apa disana?" Ragam pertanyaan dari suaminya itu membuatnya terperangah sejenak.


"Hunny, aku akan menunjukkannya padamu nanti!"


"Baiklah, jelaskan padaku nanti dan tunjukkan ada apa saja disana!" Bella mengangguk mendengar itu.


"Bersenang-senanglah disana sayang, pilih apapun yang kau mau. Aku ingin kau menikmati liburanmu!"


"Terima kasih!"


Kecupan lembut itu mengiringi mereka berdua masuk kedalam lift. Lift itu menuju tepat ke atas, tepat di lantai dua rumah mereka. Ketika lift berbunyi, pintunya terbuka. Sepasang suami istri ini pun pergi masuk kedalam kamarnya malam ini.


"Sayang, apa perlu lampunya dimatikan?" Tanya Brian pada Bella.


Mereka berdua sudah berada di atas ranjang sekarang. Disana sembari wajahnya bersemu, Bella pun mengangguk. Satu malam panjang hari ini terjadi lagi. Dua sejoli itu sedang melakukan olahraga mereka di atas ranjang.


...Aku tidak akan membagimu dengan siapapun...


...Sampai kapan pun...

__ADS_1


...Kau milikku, satu bersenyawa dalam diriku...


__ADS_2