Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Daddy, Bolehkah?


__ADS_3

...Hidup tak boleh setengah-setengah. Karena kitalah yang menciptakan setiap kesempatan dalam hidup bukan orang lain....


Setelah seluruh persiapan sudah selesai. Bella kini mengantarkan kedua anaknya juga suaminya ke depan. Pagi seperti biasa, rombongan manusia yang Bella cintai ini masing-masing akan sibuk dengan tugas mereka.


Brian dengan koper miliknya di genggaman tangan kirinya. Prince dan Sienna dengan tas mereka masing-masing di atas punggungnya.


Setibanya tepat di ambang pintu mereka berhenti. Tentu saja ini adalah ritual suami istri, antara Bella dan Brian.


"Sayang aku berangkat dulu! Kau istirahatlah, aku tau kau pasti letih karena ulahku semalam."


Mendengar itu Bella mencubit lengan suaminya. Bisa-bisanya manusia ini mengatakan hal sevulgar itu di hadapan kedua anak mereka.


"Memangnya Daddy semalam kenapa?"


Pada akhirnya, anak mereka yang serba ingin tau melontarkan pertanyaan. Prince yang polos itu menatap aneh ke arah kedua orang tuanya.


Bella menoleh ke arah anak laki-lakinya itu lalu tersenyum dan menggeleng. Menandakan bahwa apa yang mereka bahas tidak terlalu penting.


"Tidak ada Sayang! Cepat masuklah ke mobil ya, Daddy mu akan menyusul kalian disana." Ucap Bella pada kedua anaknya.


"Ah iya Mommy, aku melupakan sesuatu!"


Kali ini anak perempuan mereka bersuara. Sienna menunjuk wajahnya, tepat di area pipi. Sebuah isyarat bagi Bella untuk memberi kecupan disana. Bella terkekeh melihat tingkah laku bocah perempuan itu padanya. Segera Bella mencium lembut pipi Sienna di susul dengan mencium lembut pipi Prince saat itu.


Namun rupanya Prince malah memundurkan dirinya mencoba menjauhi Bella. Anak laki-laki nya itu memang berbeda. Untuk hal semacam ini dia memang tidak terlalu suka.


"Prince? Mengapa kau berpaling dari Mommy mu?" Tanya Brian kelihatannya tak suka akan sikap Prince.


"Daddy lama sekali, kita akan telat nanti! Ayolah kita berangkat!" Ucap Prince.


"Prince, minta maaf pada Mommy!" Perintah Brian padanya.


Mendengar itu Prince menghela nafas panjang. Sekalipun dia menjauhi ciuman Bella, namun Prince juga sangat menyayangi Bella.

__ADS_1


Prince berjalan ke arah Bella. Bella bersimpuh mencoba menyamai tinggi anak nya itu disana. Tiap kali netranya menatap wajah anak ini. Rasanya ia seperti menatap wajahnya sendiri.


Lihatlah begitu miripnya Prince ini dengannya. Prince merentangkan kedua tangannya lalu memeluk Bella disana. Hangat sekali pelukan anaknya pagi ini. Bella membalas pelukan itu.


"Mommy, Daddy terlalu cerewet! Padahal aku menyayangi Mommy meskipun aku menolak ciumanmu." Jelas Prince padanya.


Penjelasan itu membuat Brian tersenyum. Hangat rasanya hatinya melihat adegan yang terjadi di hadapannya.


"Baik-baik lah di sekolah ya, Anakku! Jangan jadi anak yang jago berkelahi. Jadilah secerdas Mommy mu ini! Ingat kakek Drew adalah detektif terhebat di Amerika. Jadilah seperti dia!"


Ucapan itu mendapat anggukan mantap oleh Prince. Lagi kali ini Bella ingin menghampiri Sienna. Namun belum sempat ia menghampiri anak perempuannya itu. Brian pun menariknya, mencoba menyuruh Bella berdiri menghadapnya.


"Sudah Sayang! Waktunya bagi kami pergi, lagi pula kami ini akan pergi bertugas seperti biasanya bukan pergi berperang." Celoteh Brian.


Lumutan rasanya kakinya saat ini melihat Bella yang masih belum cukup mengoceh. Bella tertawa mendengar itu, namun di sela-sela tawanya itu senyum Sienna yang tadinya mengembang luntur begitu saja.


Satu kecupan di atas kening Bella mengakhiri segalanya. Suaminya beserta anak-anaknya itu pun pergi meninggalkan nya sendiri.


Ketika mobil mereka sudah pergi dari sana. Bella pun memilih masuk kedalam lagi. Sambil memeluk tubuhnya akibat cuaca di luar yang dingin.


Sejak dulu rasanya masih tetap sama. Itulah yang Sienna rasakan. Perlakuan Brian pada Prince sangat berbeda dengannya. Prince seperti mendapatkan perhatian khusus dari Brian.


Sebenarnya iri itu sedang menghinggapi hati Sienna setiap kali Prince berbicara begitu akrab dengan Brian selalu ayahnya.


Berbeda dengan saat ketika Sienna mencoba mengajak bicara Brian. Jawaban ketus, atau kadang Sienna sama sekali tak di gubris itu sering sekali.


Namun Sienna bisa apa? Dia hanya seorang anak kecil yang tak tau apapun. Dia hanya seorang anak kecil yang bahkan hanya mampu menerima tanpa berprotes.


"Daddy..." Lirih Sienna di jok belakang yang sejak tadi hanya diam menatap ke arah Prince dan Brian di depannya.


Hanya ada suara deheman saja yang Brian lontarkan. Sungguh sebenarnya merawat Sienna dalam rumahnya bukan keinginan seorang Brian. Itu adalah keinginan istrinya tercinta, Bella.


"Bolehkah nanti ketika pulang aku duduk di depan seperti kakak Prince?" Pintanya.

__ADS_1


Mendengar itu Prince pun menoleh ke belakang. Prince tersenyum disana. Tentu saja tak apa bagi Prince jika Sienna meminta duduk didepan bersama Brian.


"Kau ingin duduk di depan adik?" Tanya Prince padanya. Sienna mengangguk menanggapi itu.


"Baiklah, kau boleh duduk didepan nanti ketika pulang!" Ucap Prince padanya.


Sungguh, Segala sifat baik yang Prince miliki berasal dari Bella. Brian hanya mampu menghela nafas saja mendengar apa yang Prince katakan.


Sampai kapanpun hatinya enggan menerima keberadaan Sienna disini. Tidak akan pernah!


"Bukankah di belakang dan di depan sama saja? Apa bedanya?" Tanya Brian sembari fokus menyetir.


"Bedanya adalah Daddy tidak pernah menyapa ataupun berbicara denganku." Lirih Sienna dalam hatinya.


"Aku hanya ingin merasakan bagaimana enaknya duduk disampingmu." Jawaban dari Sienna seketika membuat Brian terbungkam.


Prince memandangi Daddy nya itu, disana ada raut wajah yang sama sekali tak Prince mengerti. Prince selaku kakak yang baik kembali menoleh ke arah Sienna.


"Adikku tersayang, mobil ini milik kita! Terserah padamu kau akan duduk dimana. Kau tidak perlu meminta ijin pada Daddy soal itu. Sebab yang berkuasa disini adalah aku, Prince Alexandria Drew!"


Ucap Prince membanggakan diri. Lihatlah, anaknya ini sekarang benar-benar membuat Brian kesal. Penyampaian kalimat yang Prince utarakan benar-benar hampir mirip seperti Stevan dan Bella.


Namun bagi Brian, asalkan Prince nya bahagia itu sudah cukup.


"Yang berkuasa disini itu aku! Bukan kau anakku!" Ucap Brian menimpali apa yang Prince katakan.


"Paman Stevan mengatakan padaku jika kelak aku akan jadi pewaris Daddy! Jadi artinya aku akan menggantikan Daddy."


Oh sekarang Brian tau asal dari sifat mengesalkan Prince disini. Rupanya adik iparnya itu yang sudah meracuni pola pikirnya.


"Hah... Yasudah Prince belajarlah yang giat! Kita sudah hampir sampai sekarang!" Ucap Brian padanya.


Lagi-lagi Sienna sama sekali tak mendapatkan kalimat yang sama dengan Prince. Kalimat itu hanya di tujukan. pada Prince bukan dirinya. Perih rasanya sungguh.

__ADS_1


Bukan keinginannya menjadi anak yang dibedakan. Sebab itu adalah hal yang paling sakit bagi seorang anak. Mendengar segala percakapan Brian dan Prince, Sienna hanya diam lalu menunduk.


...Pesimis itu setengah kegagalan. Optimisme itu setengah keberhasilan...


__ADS_2