
...Bukankah lucu betapa hari demi hari tidak ada yang berubah...
...Tetapi jika Anda melihat ke belakang, semuanya berbeda...
...Hal terindah di dunia harus dirasakan dengan hati...
________
Dari dalam mobil sepasang mata menatap bosan ke arah gedung-gedung tinggi. Disana ia termenung menatap jalanan, ada banyak hal dalam kepalanya saat ini.
Hal-hal yang berada dalam kepalanya adalah sesuatu yang buruk. Sejenak tangan kanannya merogoh sesuatu dari dalam jaket Hoodienya.
Dia adalah seorang gadis, tak lain Nami namanya. Sambil menatap jalanan kota yang cukup ramai, sebuah pistol dari dalam sakunya ia keluarkan.
Bodyguard disampingnya melirik kecil apa yang sedang Nami lakukan. Degup jantung miliknya mulai beradu, bodyguard bertubuh kekar itu takut. Nami semakin hari semakin menggila memang.
Tak jarang para bodyguardnya dibuat bergidik ngeri rasanya. Kegilaannya akan dendam merubahnya menjadi seorang Iblis perlahan.
Mobil itu melipir sejenak, berhenti tepat disamping seorang pria tua berkas hitam.
Tukkkk
Tukkkk
Pria itu mengetuk kaca mobil Nami, disana Nami mulai membuka kaca mobil miliknya. Lelaki tua ini adalah lelaki yang sama, yang juga menemui Stevan beberapa saat lalu.
"Nona!"
Sapanya ketika kaca mobil itu terbuka. Disana Nami hanya menatapnya dingin, Lelaki tua itu melepas topi miliknya.
"Nona, beritanya buruk! Tuan Stevan masih tidak ingin bergabung."
Nami sudah menduga hal itu, kecintaan Stevan pada keluarganya membuatnya lupa pada dirinya. Ketika pertemuan Bella dan dirinya terjadi, Nami seakan tidak dipedulikan lagi olehnya.
"Baiklah, terima kasih! Terus awasi saja dia!"
Perintah itu membuat Pria tua itu mengangguk. Nami menutup kembali kaca mobilnya, sebelum mobil itu berjalan pergi. Nami memperhatikan iPad nya. Sebuah seringai jahat mengembang dalam wajahnya.
"Ke Toko Buku!"
Perintah tujuan itu membuat supirnya mengangguk. Mesin mulai dijalankan kembali. Toko Buku adalah tujuan utamanya saat ini.
______
Bella sedang berada didalam Toko buku saat ini. Kepalanya haus refrensi, internet lah yang mengundangnya kemari.
Iklan semalam bertuliskan akan ada promo besar ditoko buku ini, itulah mengapa hapa Bella kemari saat ini.
Sebelum membeli beberapa sumber ilmu itu, Bella membacanya disana. Sambil berdiri, netranya jeli menikmati tiap isi narasi disana.
Seseorang dari kejauhan sejak beberapa menit lalu memperhatikannya. Toko buku itu memang tidak terlalu ramai, hanya seseorang dengan minat baca saja yang tertarik kemari.
Deppppp
Deppppp
Depppp
Suara langkah kaki itu sedikit menyita perhatian Bella sekarang. Pria yang tadi berdiri diujung lorong, yang hanya memandangnya sejak tadi berjalan menghampirinya.
Saat ini Pria itu berdiri tegap dihadapannya. Sepasang sepatu yang berhenti didepannya membuat Bella mengalihkan netranya.
"Iya?"
Bella bertanya sambil mendongak menatapnya, disana Pria itu tersenyum sambil mengulurkan tangannya. Hal itu membuat Bella menaikkan satu alisnya.
__ADS_1
"Nona Bella Drew? Saya Reiner, pemilik perusahaan penerbit."
Perkenalan itu membuat Bella membulatkan matanya. Betapa senangnya ia bertemu dengan salah seorang pendukung literasi.
Dengan senang hati, Bella menjabat tangan Reiner. Mereka berdua sama-sama saling melempar senyum.
Hari ini, Bella tidak bersama Brian. Suaminya itu bilang padanya, bahwa seharian ini ia akan sibuk. Itulah mengapa Bella memutuskan untuk datang kemari, sekaligus jalan-jalan.
"Wah, senang sekali bertemu dengan anda Tuan!" Ucap Bella.
"Saya juga Nona! Emm, acara promo besar ini juga kami yang menyelenggarakan. Saya salah satu penggemar novel milikmu! Sebagai hadiah, bagaimana jika anda memilih beberapa buku disini secara cuma-cuma." Ujar Reiner.
Rasanya bagaikan memenangkan tiket lotre. Bella berbunga-bunga rasanya.
"Wah terima kasih banyak Tuan Reiner, aku hargai itu!"
"Bagaimana jika kutemani kau berkeliling?"
Ajakan itu membuat Bella mengangguk. Dua orang itu hari ini berjalan beriringan menikmati jajaran buku promo disana.
Minat mereka sama disini. Itulah yang membuat obrolan-obrolan antara mereka tak meredup. Topik pembicaraan tentang buku, adalah sesuatu yang paling Bella minati.
Sejak pagi Bella sudah ada disana, jam tepat menunjukkan pukul 16.00, senja mulai datang menyelimuti langit. Petang akan hadir sebentar lagi, rembulan di angkasa mulai mempersiapkan dirinya untuk tampil menawan di atas langit.
"Terima Kasih Tuan Reiner! Saya sangat menikmati acara yang anda selenggarakan." Ucap Bella sambil menjabat tangan Reiner.
"Sama-sama Nona! Jika buku yang anda minati disini masih ada, silahkan ambil saja ya! Atau mungkin, aku bisa mengirimkannya ke rumah anda."
Tawaran yang begitu baik dari orang asing yang ia kenal beberapa jam lalu. Bella hanya mengangguk sambil terus tersenyum.
"Terima kasih sekali lagi, anda memang sangat baik Tuan! Saya terkesan atas segala sanjungannya. Obrolan hari ini cukup rasanya untuk sekedar mengusir jenuh dalam hati saya."
Reiner menaikkan satu alisnya. Seorang Istri miliarder yang sangat cantik ini, mengapa harus jenuh. Harta milik mereka melimpah, lantas, bahagia semacam apa yang tak mampu mereka beli.
"Ya tentu saja!"
"Tapi, bagaimana mungkin nona? Kau seorang istri miliarder di Perancis. Kejenuhan semacam apa yang melanda seorang sultan?"
"Terkadang menjadi ikon yang disegani seakan sempurna kehidupannya Dimata orang lain. Aku hanya jenuh perihal sepele."
Rasa ingin tau Reiner semakin besar rasanya. Baru pertama kali ia berjumpa langsung dengan Bella, namun saya tarik wanita ini luar biasa.
"Bolehkah saya tau Nona?" Pertanyaan itu membuat Bella mengangguk, pertanda bahwa Reiner boleh mengetahuinya.
"Aku jenuh, sebenarnya aku ingin bekerja!"
Rasanya hampir dibuat tak percaya. Mengapa Bella mencari pekerjaan, sedangkan uang terus mendatanginya. Namun disana Reiner bahagia, mungkin lowongan Editor buku di tempatnya bisa diisi oleh Bella.
"Ah iya, aku baru saja kehilangan salah seorang pegawaiku! Barangkali nona ingin mengisi posisinya, sebagai seorang Editor?"
"Huh, benarkah? Mungkin aku bisa memikirkannya lagi."
Pernyataan ambigu itu membuat Reiner heran. Bukankah tadi Bella mengatakan bahwa dirinya membutuhkan pekerjaan.
"Iya, semua tergantung pada suamiku!"
Ucapan itu membuat Reiner mengangguk. Bella melambaikan tangannya ke arah Reiner.
"Aku permisi dulu ya, ini sudah hampir malam! Sampai jumpa, Tuan Reiner!"
Sebelum Bella pergi, Reiner memanggilnya lagi saat itu. Hal itu membuat Bella berbalik ke arah Pria itu, disana Reiner berjalan mendekati Bella. Dari dalam saku jas miliknya, sebuah kartu nama ia berikan padanya.
"Ini kartu nama milikku, barangkali nona berkenan dan diizinkan. Silahkan hubungiku, disitu nomor teleponku tertera."
Bella menerima itu seraya mengangguk dan tersenyum. Setelah berpamitan untuk kedua kalinya, Bella pun benar-benar pergi meninggalkan Reiner seorang diri mematung di ambang pintu.
__ADS_1
Rasanya cukup melegakan hari ini. Puas rasanya menikmati waktunya didalam toko buku. Kali ini Bella keluar tanpa mobil ataupun bodyguard.
Dirinya ingin menikmati waktunya sendiri. Sempat beberapa kali bodyguard Brian menawarkan tumpangan, mereka sangat protektif pada Bella.
Dari dalam mobil, seorang gadis tak lain adalah Nami tersenyum ketika mendapati Bella berjalan seorang diri tanpa pengawasan.
Disana terlihat Bella berhenti sejenak. Ia akan menyebrangi jalan untuk menuju halte bus didepan sana.
"Jalan!"
Perintah itu membuat supir Nami bingung. Namun sang supir hanya diam, ia tau tindakan gila semacam apa yang akan majikannya perbuat. Merasa tak mendapatkan apa yang ia mau, Nami yang duduk di kursi sebelahnya pun menggesernya.
Supir Nami dipaksa keluar dari dalam mobil. Ketika kemudi berada dalam tangannya, Nami menginjak gas mobil dibawahnya. Ia melajukan mobil miliknya ke arah Bella yang sedang menyebarang disana.
Bella berjalan disana tanpa mengerti, dari arah samping ada mobil gila yang siap melenyapkan nyawanya.
"Mati kau!" Geram Nami, sambil menatap benci ke arah Bella disana.
Sembari terengah-engah seseorang dari balik tubuhnya berlari sekencang-kencangnya ke arah Bella. Ia melihat laju mobil yang akan datang ke arahnya.
Pria itu adalah Stevan. Ia baru saja pulang dari pekerjaannya. Sumpah demi apapun, jika hari ini mobil itu menabrak kakaknya. Stevan akan membunuh sang pengemudi.
"Kakak!!!" Teriak Stevan sejadi-jadinya.
Brukkkkkkk
Bella terdorong jatuh kedepan akibat ulah Stevan. Begitupula dengan Stevan, ia juga ikut jatuh kedepan bersama dengan Bella.
Sorot mata beberapa manusia disana dibuat terkejut akan tindakan itu. Beberapa diantara mereka bersyukur, Stevan datang diwaktu yang tepat.
"Steve?" Pekik Bella pada adiknya yang masih mengatur nafas. Bella melirik ke arah mobil yang mulai menjauh itu.
"Kau ini bagaimana!"
Pekik Stevan, mereka berdua terduduk saat ini. Namun kengerian akan kehilangan saudanya sama sekali belum hilang dalam hatinya.
"Mengapa kau tidak bersama para bodyguard Brian kak?"
Pertanyaan itu membuat Bella menunduk. Sepertinya benar apa yang Stevan katakan. Seharusnya ia tak pernah lupa, suaminya adalah seorang mantan mafia. Musuh dimasa lalu pasti masih mengintai mereka.
"Maaf!" Lirih Bella menyesal, disana Stevan menghela nafas mendengarnya. Tangannya menepuk pelan bahu kakaknya, lalu beridiri.
"Mari pulang kak! Akan ku antarkan kau pulang!"
Stevan mengulurkan tangannya, membantu Bella berdiri. Ketika kakaknya sudah berdiri, mereka pun berjalan pergi dari sana. Mereka pulang menaiki bus hari ini.
Dalam bus mereka berdua sama sekali tak bicara
Stevan pikirannya mencoba menerka-nerka, siapakah manusia bajingan yang datang ingin melenyapkan kakaknya ini.
Nama Nami terlintas saat itu juga. Namun disana Stevan menolak percaya, bahwa Nami lah yang sedang berniat jahat pada kakaknya.
Pasalnya, jika dendam Nami hanya untuk Brian, dia pasti tidak akan menyentuh kakaknya. Itulah satu hal yang Stevan percayai.
Terancamnya nyawa saudaranya disini membuat Stevan semakin bertekad. Ia harus segera menemukan pelakunya.
Bella adalah satu-satunya keluarga yang ia cintai. Satu-satunya keluarga yang Stevan miliki saat ini, tak ada yang lain tempatnya pulang, mengeluh juga bercerita tiap kali ada masalah jika tidak pada keluarganya, yaitu Bella. Sumpah demi apapun, Stevan akan melindungi Bella.
...Bunga yang mekar dalam kesulitan adalah yang paling langka dan indah dari semua...
...Kadang-kadang jalan yang benar bukanlah yang termudah...
...Jika kamu tidak berpikir, maka kamu tidak boleh berbicara...
______
__ADS_1