Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Pertengkaran dan Lelucon


__ADS_3

...Kupastikan bahwa aku akan menyayangimu hari ini, esok, dan selamanya...


_______


Sudah hampir satu jam rasanya Brian berada tepat diluar ruangan penerbit. Bella didalam, mereka sedang berbincang-bincang perihal buku yang akan Bella terbitkan. Bukan Brian tak ingin masuk menemani sang istri disana, hanya saja mau bagaimana lagi, percakapan didalam berat rasanya untuknya. Sejak turun dari mobil tadi Bella sama sekali tak menyapanya, bahkan ketika dirinya bertanya pun Bella diam. Namun ketika dirinya ikut masuk kemari, barulah Bella tersenyum ke arahnya. Itu adalah pertanda baik untuk saat ini, setidaknya malam ini mereka akan tidur bersama, tidak ada pintu kamar yang tertutup untuknya.


Depppppp


Depppppp


"Baik Tuan, terima kasih atas kerja samanya. Saya senang sekali, semoga buku saya bisa secepatnya diterbitkan!"


"Tentu saja nyonya, kami pasti akan memberi kabar baik padamu!"


Percakapan terakhir dari dua orang dalam ruangan itu usai, Bella keluar dari ruangan itu sedangkan seseorang yang baru saja berbincang dengannya pergi meninggalkannya. Brian yang duduk tak jauh dari sana memperhatikan itu, Bella mengalihkan netranya ke arah Brian yang duduk tak jauh darinya. Bella menghampiri suaminya itu, rupanya acara mengamuknya tdi berhasil. Prianya itu tidak pergi kemanapun, ia hanya duduk disitu dengan wajah penuh tekanan.


"Hunny!"


Lirih Bella ketika berada tepat dihadapan Brian, namun Brian hanya mendongak sambil berdehem.


"Hunny, kau bilang ingin pergi ke kedai kopi?"


Kali ini Bella sedikit berbasa-basi membahas acara Brian yang sempat tertunda tadi karenanya. Mendengar itu Brian berdiri.


"Baiklah, Sayang! Mari kita pulang!"


Bella tersenyum mendengar itu, ia tau bahkan paham prianya ini sedang kesal padanya. Mau bagaimana lagi, Bella hanya ingin Brian menemaninya itu saja. Bella menangkup wajah tampan itu, memaksanya menatapnya.


"Hahaha... Pria besar ini marah rupanya!"


Ucap Bella seraya memainkan wajah suaminya itu, Brian hanya menyipitkan matanya namun tak menyingkirkan tangan Bella. Bagaimanapun, hatinya tak mungkin tega memarahi wanita ini. Bella adalah segalanya, Brian tidak akan pernah menyakitinya sungguh.


"Hun, mari kita pergi menikmati kopi bersama!"


"Sayang, tadi kau melarangku untuk tak pergi, sekarang?"


"Aku hanya ingin kau temani, apa itu salah?"


Mendengar itu Brian menghela nafasnya, tak akan menang dirinya jika berdebat dengan wanitanya disini. Bella tertawa melihat Brian yang semakin kesal padanya, disitu Brian yang geram pun muncul satu ide licik dalam kepalanya.


"Baiklah mari kita pergi!"


Grepppp


"Eh!"


Bella memekik ketika Brian menggendongnya, gendongan ala bridal style.

__ADS_1


"Hunny, turunkan aku!"


"Tidak!"


"Nanti ada yang melihat!"


"Biar saja, lalu kenapa!"


"Hei, ini tempat umum!"


"Biarlah, lagi pula lumrah bukan suami menggendong istrinya. Jika ada yang berprotes akan ku granat dia!"


Ujar Brian asal, ia berjalan keluar bersama Bella keluar dari dalam kantor penerbit. Beberapa pegawai disana menatap kagum ke arah mereka, ada pula yang berbisik iri sepertinya. Manusia memang selalu begini, ada yang menyukai dan tidak. Kita tidak bisa memaksa orang lain untuk selalu menyukai kita bukan.


"Jadi, kita akan menikmati kopi dimana?"


Bella bertanya ketika mereka tepat berada didepan mobil, disana Brian menurunkannya.


"Ke Observatorium?"


Brian mencoba memberi tawaran disini, Bella berpikir mendengar itu.


"Ini masih pagi Hun! Kita akan lihat apa disana?"


"Baiklah, aku mengikutimu saja!"


"Bagaimana jika berjalan-jalan disekitar Paris?"


Brian mengangguk mendengar itu, keduanya pun masuk kedalam mobil. Tak perlu waktu yang cukup lama untuk sampai tepat dihadapan Eiffel, mereka hanya memakan waktu dua puluh menit untuk sampai kesana.


Tibalah mereka dihadapan Eiffel, keduanya masih berada didalam mobil. Disana dari dalam mobil, Bella memotret megahnya Eiffel yang berdiri megah disana.


"Kau suka?"


Tanya Brian antusias, sambil memperhatikan Bella yang memunggunginya. Bella sedang memotret.


"Bagaimana aku tak menyukai Eiffel, Hun?"


"Rasanya melekat sekali ya, keindahan Eiffel, kota Paris ini, Perancis. Melekat menyatu dalam dirimu, seperti bersenyawa."


Mendengar itu Bella tersenyum, kembali netranya menatap Brian kali ini.


"Apa?"


Brian heran akan senyuman juga tatapan yang tertuju padanya itu.


"Kau ini polos atau apa hmm.."

__ADS_1


Sebelum Bella melanjutkan perkataannya Brian menciumnya lembut. Ciuman itu hanya berlangsung sepuluh detik, lalu mereka kembali saling menatap satu sama lain.


"Kau menggemaskan sekali sungguh, tak tahan rasanya jika hanya sekedar memandangi dirimu."


"Kau memuji, pasti ada sesuatu bukan?"


"Sayang, aku serius. Ini mengalun dari dalam hati!"


"Aku tidak percaya!"


Ujar Bella, di tengah kemesraan mereka dari jauh terlihat seorang anak berlari mendekati mobil mereka. Sambil membawa beberapa coklat ditangannya, anak itu mengetuk kaca mobil Brian yang tertutup ketika tepat berada didepannya.


**Tukkkkkk


Tukkkkkk**


Bella dan Brian sontak menghentikan perdebatan mereka, kedua netra mereka menatap ke arah kaca mobil. Bella membuka kaca mobilnya, lalu tersenyum ke arah bocah itu.


"Hai kakak!" Sapanya, bocah itu perempuan berjalan ditengah salju yang cukup lebat.


"Hai, ada yang bisa kubantu adik kecil?"


Gadis kecil itu menggeleng pelan, lalu ia menunjuk coklatnya.


"Aku menjual ini, jika kakak ingin kau boleh melempar berapun lembaran uang padaku. Sepantas dengan coklat ini."


Disana Brian dan Bella saking menatap, dilihat dari dalam bola matanya. Gadis kecil ini sepertinya memiliki masalah, entah apa masalahnya namun sepertinya besar. Seseorang yang pasrah, biasanya telah melalui hal yang besar.


"Memangnya, kau butuh uang untuk apa?"


Kali ini Bella mencoba bertanya padanya, gadis kecil itu tersenyum.


"Aku hanya tinggal berdua dengan adikku, sekarang dia demam. Aku ingin membelikan obat untuknya, namun tak ada uang untukku hari ini."


"Lantas kemanakah orang tuamu?"


Kali ini Brian mencoba bertanya padanya, namun hasil dari pertanyaannya itu membawa buliran air mata jatuh seketika. Gadis itu menangis, entahlah apa yang terjadi padanya. Bella menatap malas ke arah kekasihnya, rupanya masih belum berbakat menjadi seorang Ayah dia.


"Hei, jangan menangis. Aku akan membeli semua coklatmu ini."


"Hah! Benarkah kak, kau akan membeli seluruh daganganku ini?"


"Iya tentu saja!"


Brian tersenyum melihat Bella yang pandai sekali mengendalika suasana disini. Namun ada sesuatu yang Brian benci disini, ketika Bella merogoh saku celananya mengambil dompet Brian disana. Ketika Brian memekik, Bella hanya melempar tatapan tajam padanya seakan menyuruhnya untuk diam. Disana Brian terpaku, diam. Bella memberikan beberapa uang pada anak itu, senyum kebahagian tertera jelas dalam wajah anak itu, ia melompat-lompat kegirangan.


"Wah terima kasih kak, ini coklatnya!"

__ADS_1


Bella menerima coklat itu dengan senang hati, sedang anak itu setelah mendapatkan lembaran uang ia berpamit pergi.


...Rasanya pada saat ini seluruh alam semesta ada hanya untuk menyatukan kita...


__ADS_2