Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Hitungan Mundur 3


__ADS_3

...Kamu yang setuju jika cinta tak perlu alasan...


...Seharusnya tidak perlu meminta penjelasan pada sebuah perpisahan...


...Cinta hanya retorika kalau tak ada tindakan nyata...


Setelah perkelahian yang terjadi kemarin pihak penjara sama sekali tak memberi pengobatan apapun untuk mereka. Entahlah, keji memang mereka diperlakukan layaknya binatang. Darah itu dibiarkan mengering sampai esok menjelang, saat ini baik Brian juga Alcopone berada dalam satu meja yang sama mereka tidak memulai perkelahian mereka masing-masing. Brian tetap tenang sambil mengunyah makanan pagi ini, Alcopone juga tenang dengan makanannya.


Satu hal yang membawa Alcopone kemari sejujurnya Alcopene mulai tertarik padanya. Manusia dihadapannya ini kuat, masih hidup setelah menerima beberapa hantaman keras darinya. Disana Alcopene mulai penasaran latar belakang Brian mengapa ia kemari dan apa yang membawanya masuk kedalam penjara terkejam di Amerika.


"Kau, kemari karena apa?"


Alcopone meletakkan sendok garpu ya sejenak, sambil menatap lekat Pria yang ukuran tubuhnya lebih kecil darinya itu. Brian mendongak kali ini netranya juga menatap serius ke arahnya.


"Ya, aku sudah bilang bukan, karena minimnya keadilan di bumi ini."


Ucapan Brian membuat Alcopone berseringai, bajingan bisa tobat juga rupanya itulah yang ada dalam kepala Alcopone saat ini.


"Aku Alcopone! Aku dijebloskan kemari karena tragedi pembunuhan saat Valentine."


Alcopone mengulurkan tangannya menawarkan sebuah pertemanan pada Brian, mendengar alasan dibalik dirinya Brian tersenyum tak membalas uluran tangan itu.


"Apa motifmu melakukan itu?"


Kali ini Brian bertanya seraya menatap lekat Alcopone.

__ADS_1


"Motif ya? Hmm motif, tidak ada.."


Kali ini Alcopone menarik kembali tangannya sambil menerka-nerka apa yang membuatnya membunuh sepuluh orang dalam pesta Valentine itu.


"Aku tidak tau, tapi aku datang kesana dengan kebencian. Mungkin karena Ibuku sudah dibunuh perusahaan besar miras itu, tapi itu sudah lama sekali."


Jawab Alcopone, ambigu rasanya sungguh. Apakah pria ini berbahaya dari dirinya, sungguh Brian tak tau. Jelasnya ia hanya mengerti satu hal, Pria ini disegani disini ditakuti. Bahkan namanya terkenal diantara penjara keji ini, sel blok C juga D bahkan mengenalnya. Namun Brian yakin satu hal, perkara yang merubah manusia pasti sangatlah fatal. Dunia kejam, laknat, tak berhati itulah yang selama ini Brian lihat.


"Aku tertarik padamu!"


Ucap Alcopone, Brian tersenyum mendengar itu. Apa sekirannya yang membuat manusia ini tertarik padanya.


"Lalu?"


Tanya Brian, merasa ada yang aneh disini. Terbesit satu ingatannya mengenai Pria yang di seret kemarin. Alcopone mengeluarkan sesuatu dari dalam sakunya.


Brian sedikit terkejut melihat itu, benda haram dalam penjara sebuah sabu-sabu. Lantas mengapa para militer tak menyitanya, mengapa para militer tak menghukum Pria ini, mengapa jika mereka tau mereka diam. Sebenarnya seberapa berkuasanya Pria ini disini.


"Jika kau ingin uang, kau bisa menemuiku! Ini perdagangan menarik bukan, sesama tahanan mereka disini adalah pecandu rata-rata. Pengusaha terkaya, juga licik, namun perdagangan ini tetap berjalan semestinya. Narkoba, adalah satu hal penyelesaian masalah yang berat. Jika kita menjualnya, tandanya kita menolong mereka dari keterpurukan itu mengeluarkannya membebaskannya."


Ungkapan bodoh sungguh, Brian muak rasanya mendengar seluruh celotehan itu dari diri Alcopone. Manusia ini besar namun otaknya dangkal, bagaimana ia bisa membanggakan barang haram ini dihadapannya. Mereka mungkin akan terbuai, namun keterbuaian itu akan menjebak mereka dalam kebodohan. Mereka pasti akan menambah dosis-dosis itu mencoba mencari pelampiasan yang lebih, lalu memasukkan sebanyak-banyaknya pil itu dalam diri mereka, lalu mati dalam keadaan hina. Bodoh bukan?


"Kau meminta pada manusia yang salah! Jika kau ingin berdagang, maka lakukanlah! Jangan libatkan aku disini! Kau paham?"


Brian berdiri setelah mengatakan itu, Alcopone tidak pernah ditolak oleh seseorang baru kali ini ada manusia yang berani menolak permintaannya, bahkan pergi dari hadapannya tanpa memberi penghormatan. Lancang sekali baginya Brian ini.

__ADS_1


Bruakkkkkk


Sebuah piring melayang begitu saja ke arah Brian, Alcopone melempar cepat piring itu ke arahnya. Namun beruntungnya Brian tau hal itu, ia mengelak menghindari itu. Piring itu terhempas tepat menabrak dinding.


"Kau mencari gara-gara denganku! Sampah!"


Alcopone bangkit dari duduknya berdiri, ia berancang-ancang akan berduel dengan Brian pagi ini. Pertarungan mereka pagi ini di ruang makan terjadi, bahkan para napi juga para militer tak peduli akan hal itu. Luka kemarin masih belum sembuh namun saat ini ia harus dihajar lagi oleh pria ini.


___________


Bella berdiri di balkon hotel saat ini. Ia sendiri disini membiarkan terpaan angin pagi ini menerpa dirinya, sesekali ia memijat pelipisnya. Tangan kirinya menggenggam sebuah ponsel disana Bella mendengar tiap apa yang Brian katakan. Sebuah rekaman suara, ucapan-ucapan yang menenangkan dirinya. Sudah tiga hari, tiga hari terlewatkan sudah. Selama tiga hari itu Brian rutin mengirimkan rekaman suaranya untuk Bella. Rindu, ia sangat merindukan Pria itu merindukan segala sikap menyebalkannya, merindukan peluk tubuhnya, merindukan segala kehangatannya.


"Hei Bella, selamat malam, aku merindukanmu malam ini sungguh. Aku baik disini, semoga kau juga disana. Aku harap kau tak merindukanku atau memikirkanku terlalu sering ya, sebab cintamu akan lebih besar nanti padaku jika kau rutin memikirkanku. Bella, sayang, dimanapun aku berada jiwaku, hatiku, selalu memanggil namamu kemanapun itu. Segalanya tak mungkin disatukan, tapi cinta membuat dua orang berjuang bahkan untuk hal yang mustahil."


Bella menekan lagi rekaman suara yang lain, rasanya walaupun diulang berapa kalipun ia masih ingin mendengarnya. Itu adalah caranya melepas kerinduannya, bahkan beberapa sajak dalam diary nya mulai penuh, tiga hari itu tiap malam Bella selalu menulis keluhan hatinya, laranya, dalam buku kecil yang selalu ia bawa. Brian adalah prasasti terbaik dalam hatinya, seseorang yang tak akan pernah Bella lepaskan.


"Hei pagi! Ingat selalu untuk tetap mengisi perutmu secara rutin. Makanlah daging sesekali, kau ini manusia bukan seekor domba penikmat sayur. Bagaimana pun bentukmu kau tak perlu khawatir, aku akan tetap mencintaimu bagaimanapun dirimu. Setelah aku pulang nanti, aku ingin kita berdua menghabiskan waktu di Paris, akan kubawa kau ke suatu tempat yang indah, hanya kita berdua. Sekaligus menikmati masa-masa Honeymoon kita bukan? Aku sedang belajar menguatkan hati agar kelak jika kita dipertemukan kembali. Tidak ada lagi air mata dan rasa sesak di dada. Aku suka bagaimana kau menyertai hatiku. Selalu ada senyuman yang merekah, bahkan ketika kita berjauh-jauhan."


Itu adalah rekaman terakhir dari Brian, rasanya menangisi hal-hal yang sudah terjadi tidak merubah apapun. Bella membawa ponsel itu kembali masuk kedalam sakunya, seraya menatap langit cerah pagi ini Bella tersenyum miris.


"Kenapa penyatuan kami sulit sekali, Tuhan. Apa karmanya masih belum usai? Padahal Kematian sudah merengkuhnya saat itu, membawanya pulang kehadapanmu. Lalu hidupnya kali ini, untuk apa, jika kau tuntun ia masuk kembali pada mautnya?". Lirih Bella.


Bagaimanapun manusia, sepandai apapun mereka. Alur juga roda waktu hanya Tuhan saja yang mengerti dan paham akhirnya.


...Kadang-kadang, pilihan terbaik adalah menerima...

__ADS_1


...Rindu terbaik adalah diam-diam mendoakan...


__ADS_2