
Goresan luka berulang kali ia dapatkan, para pengikut setia Tuan Shawn, beberapa di antaranya, sama sekali tak tertarik, dalam misi pemberontakan yang Brian pimpin. Tetap saja, Brian adalah seorang yang ambisius, tak ada kata menyerah baginya, meskipun para pendukungnya tak sebanyak Shawn, tapi ia bangga maju di jalan yang benar kali ini.
'Tetesan darah ini untukmu Bella, setiap kali goresan luka menyayat tubuhku. Bayangan tentangmu selalu teringat! Aku berharap, setelah ini kau benar-benar akan bebas, dari ancaman para mafia ini!' Batin Brian, hatinya menjerit perih ketika bayangan gadisnya kembali.
"Kakak! Segeralah pergi menghabisi kakek tua itu!" Teriak Eddie sembari melawan anak buah Shawn, Brian mengangguk mendengar itu. Bunyi tembakan menggelegar, meriuhkan suasana markas mafia internasional ini. Brian berlari menyusuri lorong gelap, menuju tempat tetua Shawn, langkahnya berhenti tepat di depan pintu besar yang cukup megah. Brian membuka pintu itu perlahan, gelap tak satu pun penerangan, ada di dalam sana. Suara langkah kaki perlahan mulai mendekat, satu sorot lampu tepat menyorot ke arah lelaki tua paru baya, yang duduk santai di atas kursi berlapis emas. Sambil memperhatikan Brian, yang penuh luka. Lelaki tua, yang akrab di panggil Shawn ini menghisap rokoknya.
"Ada apa Brian? Bukankah ambisimu pun sama sepertiku? Lalu apa ini?" Ujar Shawn santai.
"Tidakkah kau memiliki sedikit saja rasa malu pak tua? Berapa lama kau mencuci otak kami? Mengarahkan kami pada kegelapan? Manusia macam apa kau ini?" Shawn menghisap rokoknya dengan santai sambil tetap memperhatikan Brian.
"Miris sekali, ayahmu bahkan di perlakukan tak adil! Kenapa kau harus membela, mereka yang kejam pada ayahmu?" Brian mengepalkan tangannya.
"Tetapi pembalasanku, hanya di tujukan pada satu orang saja! Bukan untuk dunia!"
"Kehidupan akan selalu seperti itu Brian, jika dengan kata kata mereka tak faham akan keadilan, maka kekuatan adalah kunci untuk mengusir ketidakadilan!"
"Jika dunia di isi dengan orang sepertimu, tidak akan ada keharmonisan tercipta! Tidak selalu kekuatan akan memenangkan, sebuah kompetisi!"
"Sudah berapa banyak, pelajaran yang kau terima Brian? Hingga tanpa ragu, kau berani memberiku ceramah yang membosankan?"
"Banyak, dan akan kujelaskan itu, ketika kau berhasil ku taklukan!" Shawn tersenyum kecil mendengar itu, dengan santai Shawn mematikan putung rokoknya, lalu membuangnya, perlahan ia mendekati Brian.
"Lakukan saja jika kau mampu!" Ujar Shawn tepat di hadapan Brian. Gerakan seakan secepat kilat, aksi adu kekuatan pun terjadi. Shawn mungkin seorang lelaki tua, tetapi ia adalah mantan Marinir Amerika yang melegenda, seorang ahli tempur yang handal, fisiknya yang tua sama sekali tidak mempengaruhi pergerakannya. Baik Brian dan Shawn keduanya sama sama unggul dalam pertarungan ini.
Anak dari seorang pemimpin pasukan Marinir, melawan seorang Marinir yang melegenda. Brian sama sekali tak lelah menangkis, setiap serangan yang Shawn berikan padanya. Dari kecil Brian selalu memperhatikan ayahnya, yang sedang berlatih.
Bahkan tak ragu dirinya pun ikut berlatih. Masa muda yang seharusnya ia nikmati, sirna ketika ayahnya pergi meninggalkannya. Memori yang paling menyedihkan adalah, Brian menyaksikan kematian ayahnya dihadapannya, beberapa pemberontak menghabisinya, menginginkan posisi ayahnya. Ketika orang itu berhasil merebut posisi sang ayah, sama sekali Brian tak mampu berkutik, Shawn dengan licik, memanfaatkan hal itu, mencuci otak Brian juga Eddie.
Ketika dendam Brian terbalas, bukan malah melepasnya. Shawn memperalat Brian, dan menggunakannya sebagai senjata yang mematikan, tetapi saat ini yang sedang berjuang mengalahkan Shawn adalah Brian lain, yang tak lagi memiliki Badai dalam dirinya.
Brakkk
Shawn menendang tubuh Brian, membenturkannya pada sebuah lemari, darah segar keluar dari mulutnya. Brian babak belur saat ini, begitu juga Shawn. Lagi, Brian berlari menghampiri Shawn menyerangnya dengan brutal. Brian mematahkan kaki Shawn hingga ia terjatuh, dengan cepat Brian meremas kerah kemeja Shawn, memojokkannya ke dinding. Dua wajah penuh luka saling menatap, menahan perih yang tercipta akibat pertarungan mereka.
"Hebat kau kalahkan aku. Aku bangga padamu, ajaranku tak sia-sia padamu! Manfaat dari itu justru kau gunakan untuk mengadiliku?" Tatapan tajam mereka sama sekali tak redup.
"Separuh dari ajaranmu salah, pantas untuk diadili! Kau tidak sepenuhnya benar!"
__ADS_1
"Lalu?"
"Jika aku mau, tanganku bisa menghabisimu saat ini juga!" Shawn terkekeh mendengar itu.
"Silahkan." Ujar Shawn, Brian mengepalkan tangannya semakin kuat.
Brakk
Suara pintu terbuka kasar, Eddie dan beberapa anak buahnya datang memasuki ruangan Shawn. Shawn, matanya memperhatikan Eddie, tak lama ia pun tersenyum.
"Pengkhianatan yang luar biasa! Kau memang cerdas Brian!" Shawn menatap dalam mata Brian yang ada dihadapannya.
"Konspirasi yang sempurna, aku menyukainya!" Ujar Shawn, Brian melepas cengkraman tangannya dari kerah baju Shawn, detik itu juga Shawn terjatuh. Kakinya patah tak mampu menopang tubuh tua nya.
"Bawa dia, serahkan pada kepolisian kota Tokyo!" Shawn tersenyum mendengar itu, entah mengapa sama sekali tak ada ketakutan dalam raut wajahnya.
"Ketika kau menyerahkanku kesana, tandanya kau pun juga ikut terseret, dan mendapatkan hukumannya!"
"Setidaknya aku bangga karena mampu membawa pendosa sepertimu untuk di hukum!"
"Dan kau pun juga akan mati Brian!"
Kepolisian kota Tokyo sedang sibuk saat ini, Inspektur Han dengan cekatan menyelesaikan berkas-berkas yang berserakan di mejanya. Mafia internasional dari Amerika, membuatnya cukup sibuk akhir ini, setelah kematian detektif Takamura pada malam pesta dansa, pekerjaannya lebih sibuk lagi dari biasanya.
Jam menunjukkan pukul dua belas malam, tepat tengah malam. Suara bising mulai terdengar dari halaman kantor polisi Tokyo. Han berada tepat di ruangannya, suara bising di luar sana mulai mengusiknya. Tirai jendela mulai di bukanya, terlihat di bawa sana beberapa pemuda berjas hitam turun dari dalam mobil mewah. Pemuda bersurai pirang, keluar dari dalam limosinnya, membawa seorang lelaki tua dengan borgol ditangannya.
"Inspektur, anda sebaiknya turun saat ini!" Ujar salah seorang polisi, Han berbalik dan mengangguk kecil tak lama ia pun turun.
Tepat ketika Han berada di halaman kantor polisi itu, pemuda bersurai pirang itu maju mendekatinya, sambil membawa lelaki tua dengan borgol di tangannya.
"Berlututlah, Pak tua!" Ujar pemuda pirang, yang tak lain adalah Brian. Lelaki tua yang tak lain adalah Shawn, pun menuruti perintahnya. Brian menatap tepat ke arah Han.
"Sepertinya, kau berhasil selamat dari ledakan itu!" Ujar Brian, Han sedikit bingung namun ia mengingat sesuatu ledakan yang di maksud Brian, adalah ledakan di kediaman detektif Takamura.
"Siapa kau?" Brian tersenyum kecil mendengar itu.
"Lelaki tua, yang sedang bersimpuh ini. Adalah pemimpin Mafia Internasional Amerika! Yang dengan keji mengerahkan anak buahnya, untuk meledakkan kantor polisi Tokyo. Aku menyerahkannya pada kalian!"
__ADS_1
Han terkejut mendengar itu, bagaimana mungkin? Menangkap pemimpin organisasi keji itu, sangatlah sulit bagi Han lalu, bagaimana seorang pemuda biasa yang sedang berdiri dihadapannya mampu.
"Lalu siapakah kau?" Tanya Han.
"Kau tidak mengenalku? Aku pemuda yang ikut bersama Bella di acara pesta dansa malam itu, yang sempat memukulmu!" Han tersenyum mendengar itu.
"Kau rupanya, tidak ku sangka!"
"Segera bereskan dia! Lalu aku!" Brian bersimpuh tepat dihadapan Han. Bingung dengan apa yang dilakukan Brian, Han terdiam memperhatikan apa yang sedang Brian lakukan.
"Aku Brian, salah seorang anggota mafia, yang sempat meledakkan kantor polisi terbesar kota Tokyo. Menghilangkan dua nyawa, akibat ledakan itu. Dan aku disini bersimpuh dihadapanmu! Aku bersedia menerima hukuman apapun itu, jika memang hukumannya adalah kematian, maka biarkan negaraku, yang menghukumku. Dan aku ingin Bella menyaksikan kematianku itu. Dia pun berhak menghukumku!" Tegas Brian, keberanian mengakui fakta itu membuat Han salut padanya. Ia berfikir kecil 'apa yang terjadi pada mafia ini sehingga dengan berani dia menjemput kematiannya sendiri?' Fikir Han.
"Tetapi biarkan aku mengajukan satu permintaan untuk terakhir kalinya, izinkan aku pergi menemui Bella! Setelahnya bawa aku ke negaraku, bersama dengan lelaki tua ini!" Shawn melirik kecil Brian di sampingnya.
"Jadi, karena seorang gadis kau memberontak?" Shawn menatap tajam, Brian juga begitu menatap tajam Shawn disampingnya.
"Bukan urusanmu, Pak tua!"
"Akan ku pastikan gadis itu lenyap Brian!" Brian tersenyum kecil pada Shawn.
"Jika kau mati lalu siapa yang akan melenyapkannya?" Shawn mengepal kuat mendengar itu.
"Baiklah Brian, aku izinkan kau pergi!" Han mengeluarkan keputusannya, Brian bangkit mengangguk kecil ia pun berlalu dari hadapan Han.
"Satu langkah lagi, kau akan mati Brian!" Ujar Shawn, namum Brian mengacuhkan hal itu. Shawn tersenyum licik kemudian.
Dorr
Satu tembakan menggema. Entah darimana asalnya, bunyi itu membuat langkah Brian terhenti. Peluru panas menembus kulitnya, tubuhnya sakit luar biasa. Darah keluar dari dadanya, nafasnya mulai terengah-engah. Tubuhnya limbung ambruk menyentuh tanah, baik Eddie juga Han pun terkejut lalu menghampiri Brian yang sedang terluka itu.
"Ya Tuhan! Telfon ambulance secepatnya!" Ujar Han.
"Brian, Brother jangan tidur! Tetap buka matamu!" Eddie menepuk-nepuk pelan wajah Brian agar kesadarannya tak menghilang tetapi tetap saja, Brian pun juga seorang manusia yang punya batas lelah.
Bola mata biru seindah safir itu pun redup, kehilangan cahanya, matanya tertutup kesadarannya pun menghilang.
..."Kali pertama kematian datang, namamu lah yang selalu terngiang dalam benakku. Dalam deru nafasku setiap saat hanya kau lah yang di serukan. Aku pergi, meninggalkanmu bukan berarti aku tak mencintaimu. Aku pergi untuk kebebasan cintaku!" ...
__ADS_1
.........