Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Kemarahan Sepihak


__ADS_3

...Perasaan sayang yang berlebihan, esok lusa justru bisa menghasilkan kebencian tak terhingga...


Stevan mengepalkan tangannya melihat apa yang ada didalam ponselnya. Itu adalah Brian bersama dengan wanita lain. Mereka bercumbu mesra disana, saling memuaskan hasrat satu sama lain.


Stevan percaya satu hal, melihat seluruh tindakan Brian disana Stevan yakin pria itu sadar melakukannya. Apakah dia tidak berpikir bahwa Bella sedang mengandung benihnya. Lantas mengapa ia menanamkan benihnya pada wanita lain juga.


Brakkkkk


Stevan yang diliputi amarah seketika mebabat habis seluruh barang yang ada dimejanya. Ia geser begitu saja hingga terjatuh ke atas lantai.


"Akan ku bunuh kau sungguh!" Geram Stevan.


Pria itu berjalan ke arah lemari pakaian mengambil jasnya disana. Diliputi kebencian dalam hatinya, Stevan berniat pergi ke rumah Bella. Ia akan menunjukkan pada Bella, betapa kejinya Brian.


Mungkin benar apa yang ia inginkan dulu. Melenyapkannya adalah hal terbaik bagi kehidupan kakaknya. Jika tau begini, ia dan kakaknya tidak akan mati-matian menyelamatkan nyawanya yang akan dibinasakan melalui kecurangan.


Stevan berjalan ke arah parkiran mobil. Ia masuk kedalam mobilnya lalu pergi dari sana. Kecepatan mobilnya tidak stabil, sama dengan emosinya. Intinya pagi ini ia akan membongkar seluruh kedok Brian tepat dihadapan Bella.


Stevan akan membawa kakaknya itu bersamanya. Tidak peduli, Bella akan menolak atau tidak. Intinya paksaannya ini benar, sekalipun nantinya itu sulit bagi Bella.


__________


Guyuran air shower sejak tadi menghujani tubuhnya. Brian yang frustasi sudah hampir satu jam berada didalam kamar mandi. Sedang Bella, ia duduk ditepi ranjang sambil memperhatikan pintu kamar mandi yang tak kunjung terbuka.


"Hunny, kau mau mandi sampai kapan? Ini sudah satu jam, keluarlah!" Panggil Bella.


Rasanya tak kuasa mendengar suara yang menenangkan itu. Bagaimana Brian tega menyakiti wanita sebaik Bella.


Tidak, Brian tidak akan pernah tega menyayat hatinya. Apakah harus hidup dalam kepura-puraan sambil menutupinya. Sepertinya harus, Brian akan melakukannya asalkan wanitanya tetap tersenyum.


Glekkkkk


Brian membuka pintu kamar mandinya. Bella yang duduk di tepi ranjang tersenyum menatapnya. Brian mencoba memaksakan sebuah senyuman tetap ada Diana. Berpura-pura baik-baik saja, padahal sebenarnya hancur adalah hal yang paling sulit.


"Hunny, makanan sudah siap! Kau tak pulang semalam, makanlah dulu. Lalu istirahatlah!" Ucap Bella, Brian mengangguk mendengar itu.


"Terima kasih sayang! Apa kau sudah makan?" Tanya Brian padanya, pria itu sedang memakai bajunya.


"Tidak, aku menunggumu! Mari turun bersama di meja makan!" Jawab Bella padanya.


"Baiklah ayo!" Ucap Brian setelah selesai memakai pakaiannya.


Bersama dengan Bella disampingnya. Mereka berjalan menggunakan lift untuk sampai di lantai satu.


Mereka berjalan mendekati meja makan. Banyak hidangan lezat tertata rapi disana. Sengaja disuguhkan untuk memuaskan perut. Aroma harum masakan itu menguar mengisi penjuru ruangan.


Bagi siapa saja yang menciumnya niscaya mereka akan tergiur. Brian dan Bella duduk berdampingan dimeja makan. Bella mengambil satu piring kosong untuk suaminya, sebelum dirinya menyantap makanan ini, suaminya adalah prioritas utamanya.

__ADS_1


Bella mengambil beberapa menu disana, setelah dirasa cukup Bella pun menyerahkan piringnya yang penuh pada Brian. Wanita itu tersenyum tulus sekali padanya. Tak ada pertanyaan terlontar lagi, yang ada hanyalah sebuah senyuman.


Brian meraih apa yang Bella berikan padanya lalu tersenyum. Paksaan bahagia ini sedikit membuatnya tersiksa. Ia ingin sekali jujur namun mengapa sesusah ini. Ia begitu takut, apabila kejujurannya nanti menjauhkan Bella darinya.


"Hunny, makanlah! Aku tau kau pasti sangat lapar! Aku tidak mau tubuh sesexy ini kurus atau terlihat kekurangan gizi." Goda Bella.


"Iya sayang, terima kasih ya!" Jawab Brian padanya.


Brakkkkkk


Suara meja digebrak dari arah luar mengalihkan perhatian mereka. Mereka yang tadinya sedang dimadu kasih mendadak membulatkan mata. Mereka terkejut, suara itu datang tiba-tiba.


"Brian! Dimana kau!" Rupanya biang masalahnya adalah Stevan.


Dengan penuh emosi Stevan berjalan memasuki kediaman Brian. Sejenak Brian dan Bella saling menatap, mereka tau itu suara Stevan. Keduanya mengangguk lalu berdiri, berjalan ke arah pintu masuk.


Setibanya disana, Stevan terlihat semakin gelap mata. Ia melepas jasnya, berjalan dengan penuh emosi ke arah Brian. Brian yang masih tak tau apapun hanya diam sambil memperhatikan Stevan yang mendekat ke arahnya.


"Bajingan gila kau!" Maki Stevan padanya.


Bughhhhhh


Bogeman mentah tanpa perlawanan mendarat mulus di wajah Brian. Beberapa anak buah Brian sigap menghampir Stevan. Namun Brian yang tersungkur mengangkat tangannya, memberi aba-aba pada bodyguard nya agar tidak ikut campur.


"Stevan! Kau gila Stev?!" Pekik Bella seraya membantu Brian bangkit.


"Apa kesalahannya, sampai kau memukulnya hingga tersungkur! Apa Brian membuatmu kesalahan padamu?"


Tanya Bella, kali ini intonasi suaranya meninggi. Ia tak terima melihat suaminya dihantam tanpa alasan yang jelas. Sekalipun orang itu adalah adiknya sendiri.


"Biar saja kak, dia pantas menerimanya! Kemari kau, kubunuh kau disini!"


"Stop! Kumohon berhenti Stev! Kau ini kenapa sebenarnya?"


Ketika Stevan hampir mendekati Brian. Bella dengan berani menghadangnya, ia menjadi perisai Brian saat ini. Berdiri didepannya sambil merentangkan tangannya. Tidak, Bella tidak akan membiarkan Brian di pukul lagi sungguh.


Brian mencoba mencari tahu apa penyebab Stevan bertingkah semacam ini. Ketika Stevan mengeluarkan ponselnya, Brian mulai menerka-nerka. Apakah si gila Tasya itu merekamnya? Apakah ia merekam lalu membagikan itu pada Stevan.


"Kau, istrimu sedang mengandung benihmu disini! Tapi kau, sibuk membagi benihmu bersama wanita lain disana! Mengapa kau tak menghargai kakakku disini!"


Benar, apa yang Brian pikirkan benar. Kalimat itu membuat Bella terkejut, apa yang Stevan katakan. Bagaimana mungkin suaminya ini melakukan hal bejat diluar sana. Sejenak Bella menatap Brian, namun pria itu masih menatap ke arah Stevan. Pria itu terpaku, fokusnya hanya pada Stevan.


"Hunny, apa yang Stevan katakan?" Kali ini Bella bertanya pada Brian yang masih terpaku.


"Apa yang akan kau tanyakan padanya kak? Mana mungkin pria sialan ini mengakuinya? Tidak, aku tidak akan membiarkan dia menyakitimu lagi kakak! Sekarang pergilah bersamaku, dan tinggalkan dia!"


Grepppp

__ADS_1


Stevan menarik paksa pergelangan tangan Stevan. Disana Bella berontak, ia ingin tau kebenarannya sebelum Stevan membawanya.


"Lepaskan aku!" Perintah Bella padanya, Stevan membuang kasar nafasnya.


Bella kembali beralih ke arah Brian sekarang. Ia menatapnya lekat.


"Hunny, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi disini. Jika kau bungkam, apa aku akan mengerti."


"Sayang aku, aku tidak tau bagaimana hal itu bisa terjadi. Semalam aku mengantarnya pulang, lalu bertamu kedalam apartemennya. Dan kami..."


Brian tak kuasa rasanya menceritakan apa yang terjadi padanya dan Tasya. Bella masih menunggu jawaban itu, ketika Bella serius. Stevan menunjukkan rekaman Vidionya tepat dihadapan wajah kakaknya.


Disana Bella dibuat hampir mati rasanya. Bagaimana tidak, dia yang pertama kalinya mengenal Brian. Dia yang pertama kalinya membuat Brian sadar, untuk menghargai dunia dan berubah. Bahkan dia, adalah manusia yang sangat mencintai pria ini.


Tak masalah bagi Bella mati untuknya. Susah payah Bella mengeluarkan Brian dari hukuman mati. Namun apakah ini yang Bella peroleh? Mengapa sesakit ini rasanya. Namun mengapa, hatinya menolak, bahwa Brian tidak melakukan hal itu.


Apakah ini yang dinamakan cinta buta? Mencintai seorang manusia memang harus menerima konsekuensi sakit.


"Apa ini? Mengapa kau tega berbuat semacam itu padaku?"


Kali ini Bella rasanya tak kuasa menahan sesak didadanya. Buliran air mata itu turun, ia menangis terisak dihadapan Brian.


"Aku tidak bersalah disini Sayang! Sungguh, jika kau mempercayaiku, tolong tetaplah disampingku. Aku selalu mencintaimu, tidak ada perempuan lain dalam hatiku selainmu."'Jelas Brian.


Greppp


Stevan mencengkram kerah baju Brian. Kedua matanya gelap dipenuhi amarah, rasanya Brian tak peduli sekarang. Berapa kalipun Stevan memukulnya, itu rasanya sepadan untuknya.


"Kau pikir, kakakku ini hanya sebuah wadah penampung benihmu saja hah?! Lalu kau, seenak pergi tiap malam bersenggama dengan wanita lain! Persetan denganmu, lebih baik kau mati saja sungguh! Hidupmu terlalu menyedihkan!"


Melihat pertengkaran tak kunjung usai itu membuat Bella lelah. Hatinya mungkin sakit, namun tetap saja. Melihat suaminya diperlakukan semacam itu, nuraninya sama sekali tak terima.


Bella berjalan mendekati mereka. Melepas tangan adiknya dari kerah baju Brian. Bella menuntun Stevan ke arah pintu.


Brian terkejut melihat itu, apakah Bella benar-benar akan meninggalkannya. Tidak ia tidak akan menerima ini. Ketika Brian hampir mendekatinya Bella berhenti.


"Berhenti!" Perintah Bella, wanita itu masih memunggungi Brian. Stevan disamping kakaknya, ia iba menatap kondisi kakaknya saat ini.


"Tolong jangan ikuti kami, aku ingin sementara waktu kita saling menjauh. Hatiku terlalu sakit menerima fakta ini! Kumohon Brian, jika kau mencintaiku jangan temui aku."


Bella mengatupkan kedua tangannya sambil menatap lekat ke arah Brian. Kalimat macam apa itu, bahkan setelah mendengarnya tubuh Brian seakan membeku. Tubuh itu diam disana tak bergeming, Bella kembali meneruskan langkahnya pergi dari dalam rumah itu.


...Di dunia yang penuh dengan kebencian, kita harus tetap berani berharap...


...Dalam dunia yang penuh dengan kemarahan kita harus tetap berani hidup dengan nyaman...


...Di dunia yang penuh dengan keputusasaan, kita harus tetap berani untuk bermimpi...

__ADS_1


...Dan di dunia yang penuh dengan keraguan, kita harus tetap berani percaya ...


__ADS_2