
...Jangan pernah berharap jalan hidupmu akan seperti orang yang lain...
...Perjalanan hidupmu adalah sesuatu yang unik seperti dirimu...
Jam sudah menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah setengah jam sejak kepulangan adiknya, Bella terdiam sambil mematri langit malam.
Kepalanya tertidur nyaman diatas paha Brian. Prianya sejak tadi sibuk dengan bukunya, mereka berdua duduk di balkon, tepat di atas ayunan panjang dengan alas duduk yang sangat empuk.
Perih rasanya mata Brian saat ini. Apa yang ia baca malam ini rasanya membuat kepalanya pening saja. Itu adalah laporan hasil penjualan dari usaha mereka.
Cukup bagus penjualan mereka akhir-akhir ini. Namun juga cukup melelahkan bagi pemilik usaha mereka bekerja lebih keras lagi.
Brian mengusap lembut Surai hitam kekasihnya itu. Bella terdiam masih menatap lekat ke arah langit, taburan bintang malam ini cukup indah. Sambil merasakan belaian nyaman kekasihnya ini, sungguh nyaman rasanya.
"Sayang, maafkan aku jika lalai dalam menjagamu! Jika saja tadi aku lengah, mungkin kau akan kehilangan suaramu!" Ucap Brian.
Bella tersenyum mendengar itu, ia meraih telapak tangan kekar yang sedang memanjakan kepalanya itu membawanya tepat dihadapan hidungnya lalu menciumnya.
"Hunny, mengapa kau berkata seperti itu? Bukankah kemampuanmu dalam menjagaku selama ini sudah cukup. Hanya kau yang berani mempertaruhkan nyawamu untukku, tak ada yang lain. Aku tidak pernah menyalahkan dirimu perihal apa yang menimpaku." Ucap Bella mencoba menenangkannya.
"Tapi banyak hal yang mengancammu tiap kali aku bersamamu!"
"Maka tetap berdirilah bersamaku melawannya! Apakah kau ingat perihal saat aku berusaha membawamu pulang saat di Alcatraz? Tuhan, sungguh itu perjuangan kami yang paling besar untuk menyelamatkan dirimu. Aku bersyukur sekali kau kembali." Ucap Bella mencoba mengatakan seluruh isi hatinya.
"Aku takut kehilangan dirimu!"
Ucapan itu sekali lagi Brian ucapkan. Ucapan yang akan selalu menyentuh hatinya. Nada pengucapannya dalam, hanya ada ketulusan mengalun tepat disana.
"Aku juga!" Jawab Bella padanya.
Bella bangkit, mendudukkan dirinya lalu menatap tepat ke arah wajah suaminya itu.
"Aku ini anak detektif besar, tapi aku jatuh cinta pada musuh para detektif. Saat itu jika kau masih belum mencintaiku, mungkin aku akan mati di tanganmu."
Brian terkekeh ketika Bella kembali mengingatkannya pada masa lalu. Kenangan dimana saat itu Bella berusaha merubahnya mulai bermunculan.
Hanya Bella, hanya wanita ini saja yang mampu mengubahnya. Brian menyentuh pipi kanan Bella, lalu menangkup wajahnya mengarahkannya padanya.
Rembulan di atas sana adalah saksi dimana mereka menyampaikan segala perasaan terdalam mereka melalui ciuman.
__ADS_1
Bella mendorong kecil tubuh Brian mencoba mengakhiri ciumannya. Sebab rungunya mendengar suara klakson mobil masuk dalam kediamannya.
Dari atas sana mereka melihat satu mobil masuk dalam rumah mereka. Itu adalah mobil milik Tasya. Brian mengepalkan tangannya, rasanya ingin sekali hari ini ia membunuh wanita itu.
Seorang wanita yang menjadi biang masalah keluarganya. Seorang wanita yang hinggap dalam rumah tangga mereka sebagai benalu.
Bibir haram hasil konspirasi itu memang berasal darinya. Namun sungguh, Brian sama sekali tak ingin menyentuh wanita lain selain Bella nya.
Hadirnya wanita iblis itu disini membuat Brian was-was tiap kali pergi jauh meninggalkan Bella seorang diri dirumah.
Namun wanitanya ini sama sekali tak memperbolehkan dirinya mengamuk sedemikian rupa di hadapan Tasya.
Bella dengan hati tulisnya justru menawarkan sebuah tawaran baik pada Tasya. Namun dengan serakah Tasya menolak itu semua, katanya dia lebih memilih Brian daripada harta bendanya.
"Aku ingin mengamuk dihadapannya, sebab dia berencana mencelakaimu!" Ucap Brian padanya.
"Kita sudah memiliki satu bukti. Mari kumpulkan lebih banyak lagi untuk mengusirnya. Lalu aku akan mengambil anaknya bersama dengan kita."
Jawaban itu sedikit membuat Brian berat menerimanya. Sampai saat ini bahkan hatinya masih enggan menerima, hasil benihnya dan Tasya.
"Mari kita bereskan dia sayang! Aku ingin hidup tenang tanpa gangguan sama sekali." Jawab Brian.
"Tak ada hidup tanpa masalah Hunny, masalah akan selalu datang selagi kita hidup. Sebab itu bagian dari takdir." Jelas Bella.
Tak ingin memperpanjang pembahasan perihal Tasya. Brian pun memilih bangkit dari duduknya.
"Mari tidur sayang!" Ucap Brian menghadap ke arah Bella.
Wanitanya itu merentangkan tangannya bak seorang bayi. Itu adalah isyarat untuk Brian agar menggendong tubuhnya.
"Kau seperti bayi besar sayang!" Ucap Brian padanya.
"Aku tidak peduli, aku hanya ingin bermanja-manja dengan suamiku!" Jawab Bella padanya.
Settttt
Pada akhirnya Brian pun mengangkat tubuh itu kedalam gendongannya. Keduanya sama-sama tersenyum saat itu juga. Bella menciumi wajah suaminya itu beberapa kali, sebagai ungkapan terima kasih karena menggendongnya.
Brian membaringkan tubuh Bella di atas ranjang, lalu dirinya juga berbaring disana. Posisi mereka saling berhadapan, ketika Brian menepuk tangannya, lampu dalam kamar mereka mati.
__ADS_1
Detik kemudian, Bella memilih menenggelamkan kepalanya masuk ke dalam dekapan hangat suaminya. Brian membalas pelukan itu, dalam satu selimut keduanya terpejam mengarungi lautan mimpi.
Kita lihat pada Tasya saat ini. Sesampainya didalam Tasya segera menuju ke arah dapur. Malam ini pencahayaan disana meremang, memang sudah selalu seperti ini.
Tasya melihat salad buah dalam lemari es itu tak ada. Ia dibuat girang rasanya, pikirnya adalah rencananya saat ini pasti berhasil dan Bella mungkin sudah tersiksa oleh serbuk kaca yang ia tabur disana.
"Mungkin wanita itu sedang menangis saat ini! Hahaha... Aku senang sekali apabila dia memakannya! Selamat menikmati kebisuanmu Bella!"
Ditengah lirihannya itu dari anak tangga seseorang berjalan pelan tanpa sepengetahuannya. Sambil memperhatikan Tasya yang menungguinya, seseorang itu melipat kedua tangannya.
"Kau sedang mencari apa?"
Suara baritone dari balik tubuhnya mengganggu kesenangan Tasya dalam sekejap. Sontak netranya mengarah ke arah belakang mencoba mencari tau suara siapakah yang sedang ada dibalik tubuhnya.
Tasya terkejut mendapati Stevan berdiri tepat dibelakangnya. Tasya mengenali pria ini, pria ini adalah teman Nami juga asik dari Bella.
Tasya juga tau bahwa profesi pria ini adalah sebagai seorang detektif besar. Tapi apa yang membuatnya datang kemari.
"Kau terkejut ya? Sepertinya kau mengenaliku bukan? Jadi aku tidak perlu berkenalan lagi!" Ucap Stevan.
"Mengapa kau datang kemari? Ada perihal apa kau datang kemari?" Tanya Tasya padanya.
"Hahahah... lihatlah kau seperti pemilik rumah ini saja!" Sindir Stevan.
Tasya melipat kedua tangannya lalu berseringai ke arah Stevan disana.
"Aku memang juga pemilik rumah ini!" Jawab Tasya yakin.
Hal itu membuat Stevan menghela nafas panjang. Sungguh tak tau malu wanita dihadapannya ini. Mengakui kekayaan Brian sebagai miliknya, padahal statusnya saja bukan siapa-siapa.
"Memangnya kau ini siapa disini? Hanya penumpang!"
Degggg
Sungguh Tasya rasanya geram sekali pada Stevan disini. Ia mengepalkan tangannya saat ini sebagai tanda bahwa ia sangat membenci Stevan.
"Dengar ya, aku tidak akan melepaskan mu! Dengan memberi kakakku makan serbuk kaca, kau lupa bahwa dia memiliki adik seorang detektif. Jangan terlalu senang, sebab aku sudah membuang salad itu jauh darinya. Dan aku, akan berada disini sebagai CCTV mu!"
Ancam Stevan padanya, setelah mengatakan itu ia pun pergi dari sana.
__ADS_1
...Jangan membandingkan Diri kamu dengan Orang Lain...
...Bandingkan Diri kamu dengan Pribadi yang Kemarin...