
...Kadang-kadang, menjauh dari apa yang paling kamu inginkan adalah tindakan terbaik untuk diambil...
...Karena hal itu memberi proses momentum untuk mengambil jalannya sendiri...
Bella terkejut ketika mendengar suara ketukan pintu yang teramat keras juga berulang pagi buta ini. Sejenak ia mengerjapkan matanya, jam masih menunjukkan pukul tiga pagi, tapi siapa yang datang sepagi ini. Bella berlalu dari atas ranjangnya mendekat ke arah pintu kamar hotel, sebelumnya ia menyalakan penerangan yang sempat ia padamkan. Sebelum membukanya dari bawah Bella memperhatikan bayangan kaki manusia yang datang itu, dari selubung kaca kecil ditengah pintu, Bella pun mengintipnya. Rupanya itu adalah Themo, Rey juga Eddie. Terbesit satu pertanyaan dalam kepalanya sekarang, untuk apa mereka kemari sepagi ini. Tanpa berpikir panjang Bella pun membuka pintunya untuk mereka diluar.
Klekkkkkk
Ketika pintu terbuka terlihat raut tegang ketiganya seakan akan mengatakan sesuatu hal yang buruk. Eddie masuk kedalam beserta dengan dua orang temannya.
"Ada apa, Ed?"
Bella menutup kembali pintu lalu berbalik seraya menanyakan ada perihal apakah mereka sepagi ini datang kemari.
"Ini gawat Bella, persidangan Brian dimajukan besok!"
Degggggg
Bagai disambar petir rasanya Bella pun bungkam seketika mendengar itu. Bukankah tinggal sehari lagi persidangan itu dimulai, lalu mengapa harus dipercepat.
"Ba... bagaimana itu bisa terjadi hah? Bukankah itu akan dilakukan lusa? Lantas mengapa dimajukan?"
Tanya Bella tak percaya, Themo menatap Rey kali ini, lalu Rey kembali menatap Eddie mereka bertiga mengangguk setelah bertatapan.
"Aku harap kau tabah melihat hal yang kami selidiki selama berada didalam kapal pesiar, tak jauh dari Alcatraz."
Ujar Eddie, Themo membuka kopernya disana ada banyak peralatan mata-mata miliknya, milik mereka melakukan pengintaian. Themo mengambil laptop miliknya lalu mengeluarkannya, ia berjalan ke arah ranjang Bella duduk di tepinya. Themo membuka laptop itu menancapkan Flashdisk itu ditempatnya.
"Kemarilah dan lihatlah ini!"
Bella mendekati Themo mendengar itu, berada disamping Themo namun lebih memilih berdiri. Itu adalah Vidio, ketika Themo menekan tombol Play disana. Terlihat Brian sedang dipukuli oleh seseorang, itu adalah Vidio pergulatanan antara Brian juga Alcopone disana terlihat militer bahkan para napi sama sekali tak melerai mereka rasanya itu semacam tontonan yang indah bagi mereka.
__ADS_1
Bella membulatkan matanya melihat itu, sesak dalam dadanya yang ia tahan berhari-hari kini mulai merambatinya lagi, memerintahkan air mata itu turun sebagai tanda bahwasanya hatinya sangat sakit. Vidio kedua terlihat lagi perkelahian itu, Bella memperhatikan wajah lebam, dengan darah yang mengering itu tak diobati disana. Biadab sungguh keji sejak kapan manusia menjadi Iblis. Sejak kapan kekerasan untuk para narapidana itu diwajarkan. Ketidakadilan dalam militer hari ini ia menyaksikan itu sepenuhnya, wajar bila dahulu Kekasihnya itu sampai gelap mata, membantai siapa saja pembunuh ayahnya bahkan membunuh seluruh keluarga korban yang tak bersalah juga.
Vidio ketiga adalah Vidio yang membuat Bella semakin terisak tak mampu rasanya ia menyaksikan itu, kekasihnya meringkuk tak berdaya didalam sel penjara seperti sedang sekarat disana. Bella masih terus mematri itu sekalipun hatinya sakit, namun ia harus menyaksikan agar nanti dipersidangan sebagai seorang saksi ia mampu memaparkan hal apa saja yang terjadi dalam penjara itu. Lalu Vidio itu berada di akhir dimana dalam kurungan gantung Brian dimasukan disana, lalu diturunkan kebawah ke laut, lalu ditarik lagi diturunkan lagi. Bella mengepalkan tangannya melihat itu, tak ada yang mampu ia lakukan sekarang ia hanya percaya satu hal. Keadilan tak pernah memenggal kepala manusia yang tak bersalah.
"Apa besok aku bisa bertemu dengannya?"
Lirih Bella menghapus air matanya, Eddie diam mendengar itu ada sesuatu dalam pikirannya kali ini.
"Mungkin memang pengadilan akan mempertemukan kalian, dijalur yang sama sebelum kalian memasuki ruang persidangan. Hanya itu kurasa momen pertemuan kalian.
"Hubungi Han, lalu berundinglah dengannya aku dan Stevan akan bersiap segera untuk nanti. Jam berapakah sidang itu dimulai?"
Ucap Bella pada mereka, Themo melepas flashdisk itu dari dalam laptopnya lalu menyerahkan itu pada Bella sebagai bukti, sebagai keringanan untuk membebaskan Brian. Bella menerima itu, Themo berdiri melihat ke arahnya.
"Pagi nanti jam delapan pagi, kau harus sudah ada disana bersama dengan Stevan juga pengacara itu. Aku dan Rey akan mencoba masuk kedalam stasiun televisi, bersamaan dengan keputusan yang kami dengarkan jika sidang tetap memaksa Tuan kami menemui kematian, maka aku, Rey, Eddie dan Han akan menggunakan Massa, kami akan menyadarkan mereka! Aku harap kita masing-masing mampu berjuang yang terbaik untuk Brian juga kebebasannya."
Ungkapan dari Themo itu sedikit melegakan hati mereka, ambisi besar itu seakan kembali menyemangati mereka. Themo juga Rey mulai pergi dari sana, begitupun dengan Eddie yang mengekori mereka dari belakang. Bella kembali menutup pintu hotelnya, lalu berlalu darisana menyiapkan apa yang perlu ia bawa dalam persidangan.
_________
Pintu sel Brian dibuka hari ini tepat pukul tujuh pagi mereka akan berangkat ke pengadilan untuk mengadili dirinya. Brian yang masih lemas itu, rasanya seperti terkena hipotermia tak ada baju ganti setelah hukuman dalam sel gantung itu. Selama satu jam ia terus dibuat kehabisan nafas lalu ditarik lagi lalu dimasukkan lagi kedalam air, terus begitu berulang kali sampai satu jam.
Brian dipaksa berdiri mengikuti mereka menuju kapal yang akan membawanya keluar dari Alcatraz menuju pengadilan. Disana terlihat Noah juga Gabriel dibelakangnya memperhatikan raga yang sudah tak berdaya itu.
"Apa yang terjadi padanya?"
Kali ini Noah merasa aneh dengan kondisi Brian yang babak belur, pucat, juga bahkan tak sanggup berdiri itu.
"Bukankah kau tau ini sel terkejam, itu ulahnya mencari gara-gara dengan Alcopone."
Kali ini Gabriel mencoba menutupi kelakuan para anak buah militernya yang memang sering melakukan hal tak senonoh pada tahanan. Noah memang tidak memantau disini, ia hanya akan datang mengantar juga menjemput para napi yang masuk dan pergi ke pengadilan untuk diadili.
__ADS_1
"Lalu bagaimana Alcopone?"
Kali ini Noah mencoba bertanya perihal Pria itu, Gabriel menunduk memasang raut muka kecewa.
"Copone mati karena ulahnya!"
Ujar Gabriel pada Noah, seketika Noah dibuat terkejut mantan mafia dihadapannya ini masih sama rupanya. Penjahat tetaplah penjahat bagi Noah.
Singkat waktu perjalanan dari pulau ke pengadilan sekitar 45 menit, mereka sampai di pengadilan saat ini berjalan diantara lorong menuju ruang persidangan. Ketika tepat dihadapan pintu rombongan Noah berhenti ketika melihat rombongan Bella datang berpas-pasan dengannya. Bella menatap tak percaya ke arah Pria yang menunduk sambil di bopong itu, Stevan juga tak percaya pada apa yang dilihatnya manusia ini apakah ia masih hidup, ataukah ia sekarat saat ini.
Stevan membulatkan matanya melihat itu, menatap bergantian ke arah dua anggota CIA yang ada dihadapannya itu.
"Kalian menyiksanya?"
Tanya Stevan tak percaya, Gabriel berseringai mendengar itu berbeda dengan Noah yang tetap tenang sembari menatapnya.
"Kami tidak mungkin melakukan hal keji itu Tuan! Justru mafia laknat yang kau bela inilah yang membunuh salah satu tahanan kami, bernama Alcopone."
Noah memaparkan apa yang ia ketahui dari Gabriel saat ini. Bella menunduk mendengar itu tubuhnya mendekat maju ke arah Noah lalu menatapnya lekat-lekat dan tersenyum.
"Terkadang mereka yang diberikan kekuasaan, lupa cara menggunakan mata mereka. Mereka hanya mematri satu sisi kebenaran yang palsu, namun tidak memperhatikan kebenaran sesungguhnya disisi lain." Ujar Bella.
Kali ini Noah diam, tak mengerti apa maksudnya itu. Bella netranya melirik Brian yang berada dekat disampingnya saat ini, mata itu seakan berusaha melirik Bella ketika kedua pasang mata itu bertemu Bella menunduk mencoba memeriksa wajah kekasihnya itu. Kali ini kedua mata itu kembali bertemu dekat sekali, bahkan kening mereka saling bersentuhan disana. Brian hanya melempar satu senyum tipis padanya, Bella merasakan tubuh itu menggigil saat ini, iba, namun dirinya harus kuat.
Cupppp
Satu kecupan lembut ia berikan diatas kening Brian cukup lama. Ia ingin kekasihnya itu tau, dari tindakannya ini ia ingin Brian menahan hal ini sebentar saja. Bella pasti membebaskannya, itu pasti ia takkan menyerah sungguh.
"Aku mencintaimu!"
Lirihnya ketika kembali menatapnya lalu pergi ke arah Stevan. Mereka berdua pun masuk kedalam ruang pengadilan. Siap menyambut sidang yang akan meringkus Brian.
__ADS_1
...Jika kamu mengambilnya selangkah demi selangkah ...
...Kamu tidak akan melawatkan satu langkah pun...