
...Terkadang ketakutan dan penolakan adalah musuh terbesarmu...
Seorang gadis muda sedang berjalan menyusuri lorong-lorong kantor polisi. Dia ada jadwal pertemuan hari ini.
Gadis itu memakai pakaian anggota polisi. Sebenarnya ia bukan anggota kepolisian. Hanya saja ia sedang menyamar disini untuk sebuah misi.
Ketika kakinya sampai tepat di sebuah sel. Gadis itu tersenyum. Terlihat disana seorang gadis sedang meringkuk, tubuhnya begitu jurus dengan rambut yang acak-acakan.
Dialah orang yang ingin gadis ini temui. Sebuah saja gadis ini adalah Annie. Seorang agen mata-mata dari Amerika yang di kirim kemari karena sebuah tugas.
Sebelum ia datang kemari. Ia di kejutkan perihal sebuah berita. Berita tentang salah seorang saudaranya di Perancis yang katanya sedang mendekam di Penjara.
"Aku terkejut melihat dirimu meringkuk disini tak berdaya, Tasya!" Ucap Annie.
Ya, Tasya adalah saudaranya. Mereka berdua ini kembar. Keduanya di besarkan di sebuah panti asuhan. Ketika salah seorang adopter membawa Annie pergi. Hal itu membuat Tasya berkeinginan pergi juga dari sana.
Keduanya terpisah oleh jarak dan waktu. Keduanya menjalani kehidupan yang berbeda. Namun Annie, dia tetap mengingat Tasya. Sekalipun mereka di pisahkan oleh jarak dan waktu. Bagi Annie, Tasya tetaplah saudaranya.
Ketika mendengar suara di depan jeruji besinya. Tasya melirik kecil ke depan. Sejenak netranya memperhatikan dengan seksama perihal siapakah gadis yang berdiri dihadapannya itu.
Wajahnya yang sama sepertinya membuatnya membuka matanya lebar-lebar kali ini. Terkejut bukan main rasanya tatkala melihat keberadaan saudara kembarnya.
"Kau?" Pekik Tasya tak percaya.
Disana Annie melambaikan tangannya sambil tersenyum membalas sapaan Tasya.
"Kau terkejut bukan?" Tanya Annie padanya.
Tasya merangkak mendekati Annie disana. Annie bersimpuh menatap saudara kembarnya dalam jeruji besi itu. Sejenak Annie memandangi seluruh ruang jeruji didalam sana. Sebuah jeruji yang mengurung Tasya selama bertahun-tahun disana.
"Apa yang membuatmu mendekam disini? Katakan!" Ucap Annie sambil menggeleng pelan lalu kembali memperhatikan Tasya disana.
"Ada seseorang yang paling ku benci disini. Bahkan dia membawa bayiku bersamanya! Dia juga merebut cintaku! Aku membencinya sungguh!"
Kali ini Tasya seperti orang gila rasanya. Sambil mencengkram jeruji besi dengan kedua tangannya ia menangis.
"Siapa namanya? Dan siapakah nama anakmu?"
Tanya Annie padanya. Informasi adalah hal terpenting dalam penyelidikan. Dan ia butuh hal itu dari Tasya. Sambil mengusap air matanya Tasya menatap lekat ke arah Annie.
__ADS_1
"Namanya adalah Bella Alexandria Drew! Untuk nama anakku, aku tidak tau itu! Sebab ketika dia baru saja di lahirkan, Bella membawanya pergi dariku. Sepertinya dia menamainya!" Jelas Tasya padanya.
Annie mengangguk mengerti. Melihat saudara kembarnya berada disini membuatnya tak terima rasanya.
"Aku akan mencarinya! Akan ku balas dia sebab karenanya kau berada disini!" Ucap Annie meyakinkan.
Tasya tersenyum penuh kemenangan disana. Lagi-lagi ia berhasil membawa ancaman dalam kehidupan Brian.
Annie berdiri setelah mengatakan itu, lalu ia memilih pergi disana meninggalkan Tasya lagi seorang diri disana.
"Pada akhirnya sekalipun tubuhku berada di dalam jeruji! Aku masih mampu mengirimkan beragam ancaman untukmu." Lirih Tasya.
Ia kembali mengingat seluruh kejadian yang membawanya kemari. Seluruh kejadian yang Brian dan Bella berikan padanya. Sungguh Tasya tidak akan pernah melupakannya.
Ditambah dengan lancangnya Bella mengambil anaknya darinya. Itu adalah hal yang paling Tasya benci rasanya sampai saat ini.
_________
**Kringgggggg
Kringgggggg**
"Sayang tolong matikan itu! Aku masih ingin tidur!" Lirih Brian sambil memeluk lagi gulingnya.
Nyatanya tidak ada yang menggubris ucapannya. Jam weker disana masih berbunyi begitu nyaring. Cukup rasanya, Brian benar-benar terusik sekarang. Brian terpaksa membuka kedua matanya lalu meraih jam weker itu mematikannya.
Matanya yang masih belum menemukan kesadaran sepenuhnya mengerjap beberapa kali. Tak lupa tangan kanannya mencari-cari keberadaan wanitanya. Namun ia tak menemukannya.
Saat itu ia kembali diingatkan perihal pertengkaran yang terjadi semalam. Brian merubah posisinya menjadi duduk sekarang, ia menunduk mencengkram selimutnya.
"Mengapa kau hadapkan aku pada dilema semacam ini sayang? Bukankah sudah kukatakan bahwa aku tak mau mengakuinya sebagai anakku!" Lirih Brian.
Pening mui menjalari kepalanya saat ini. Ia benar-benar tidak pernah menyangka akan mengalami situasi seperti ini dengan keluarganya.
Suara langkah kaki mendekati pintu membuat Brian menoleh. Ketika pintu itu dibuka terlihat Bella disana.
"Sayang.." Lirih Brian padanya.
Bella hanya tersenyum tipis sambil membawa nampan berisikan makanan ia berjalan mendekati Brian. Lalu meletakan nampan berisi makanannya di atas meja.
__ADS_1
"Ini makanmu ya, makanlah! Untuk baju kerjamu akan ku siapkan nanti setelah kau makan." Ucap Bella menjelaskan tanpa menoleh pada Brian sedikit pun.
"Apa kau sudah makan?" Tanya Brian padanya.
Bella hanya mengangguk mendengar itu lalu ia pun beranjak pergi dari sana. Namun sebuah tangan kekar menahan pergelangan tangannya.
"Apa kau masih marah padaku?" Tanya Brian lirih.
Bella tidak menjawab itu ia berbalik lalu berusaha melepaskan cengkraman Brian dari pergelangan tangannya. Namun nyatanya kekuatannya sama sekali tak memadai kekuatan Brian.
Pada akhirnya Bella menyerah lalu menatap datar ke arah Brian. Brian disana masih dengan tatapan satunya. Sejujurnya ia tak tega melihat ini, namun mau bagaimana lagi. Hal ini harus dilakukan bukan.
"Apa yang membuatmu marah padaku sayang? Bukankah dari awal sudah ku katakan aku tidak akan menerima anak itu!" Jelas Brian mencoba mengingatkan kembali Bella nya akan hal itu.
"Lepaskan aku!" Jawab Bella.
Brian benar-benar muak rasanya melihat wajah itu untuknya.
"Kau ini kenapa Bella!" Ucap Brian mulai murka.
Namun disana Bella hanya tersenyum miring. Kemarahan ini jarang terjadi di antara mereka. Namun demi Sienna Bella mampu melakukannya.
"Kau yang kenapa!" Jawab Bella padanya dingin.
"Aku?"
"Ya kau Brian! Apakah kau tidak melihat tindakanmu itu benar-benar berlebihan. Terima kenyataan bahwa dia anakmu. Memang bukan dariku, tapi tolong jangan siksa batin anak itu. Dia juga membutuhkanmu!"
"Dia bukan anakku Bella!"
"Oh ya? Apakah perlu tes DNA untuk membuktikan itu hah, tidak bukan? Kau, hatimu ini kemana? Jangan seperti ini!" Jelas Bella.
"Bisakah kau hargai keputusanku sayang? Bahkan aku juga sudah menghargai keputusan mu untuk membawa anak itu pulang bersama kita."
Bella menarik paksa tangannya dari cengkraman Brian. Hal itu membuat Brian terkejut.
"Jika kau masih mencintaiku dan Prince disini! Perlakukan Sienna seperti anakmu, bukan anak tiri. Sebab yang memohon perihal hal ini bukan hanya diriku, namun juga anakmu!"
Ucap Bella, setelah mengatakan itu ia pun pergi dari sana meninggalkan Brian sendirian di kamarnya.
__ADS_1