
...Lelah merupakan tanda jika kau telah berjuang, baik untuk sesuatu maupun masa depan...
...Jangan pernah berhenti saat kau merasa lelah, namun berhentilah saat kau telah mencapai puncak...
...Meski ku putuskan untuk tetap bertahan, namun kadang kala rasa lelah memaksaku untuk pergi...
Bella sudah berada didalam apartemen Stevan. Adiknya itu masih belum pulang rupanya. Saat ini Bella sedang berada di dapur mencoba mengolah beberapa rempah-rempah disana. Sebab ia tau, jika Stevan pulang nanti ia pasti sangat kelaparan.
Aroma harum masakannya mulai menguar. Bella sedikit menyendok hasil masakannya mencicipinya. Dirasa bumbu-bumbu yang dicampur sudah pas, Bella pun mematikan kompornya.
Bella mengambil beberapa wadah dari dalam rak, lalu menuangkannya kedalam sana. Satu menu makanan akhirnya selesai ia buat dalam durasi waktu satu jam berdiri.
Merasa sudah cukup, Bella pun meletakkan itu di meja makan. Meninggalkannya disana, lalu dirinya pergi masuk kedalam kamar mandi.
Membersihkan tubuhnya sore ini mungkin mampu menenangkan apa yang mengitari kepalanya. Aroma sabu. dari dalam bathtub tercium, sejak tadi Bella sudah mengisi bathtub menggunakan air hangat.
Ketika balutan tubuhnya sudah terlepas, Bella pun berendam disana sambil menyamankan tubuhnya bersandar.
Bayangan tentang kejadian beberapa saat lalu mulai melintas. Ketika Prianya, Brian memeluknya sambil menangis.
Lagi-lagi keadaan membuat mereka saling menjauh. Bukan perihal masalah saling benci. Namun ini dilakukan untuk menemukan pelaku dalang dari semua ini. Pelaku yang senang sekali mengacaukan hubungan nya dan Brian.
Ada satu hal yang paling Bella takutkan. Ketika kekasihnya itu kehilangan kendali. Bella takut apabila Brian kembali pada sisi mafianya dulu.
Apapun ketika hilang akal dan putus asa semua bisa terjadi. Bagaiman jika keberingasan itu kembali menyelimuti suaminya, sementara yang mampu menyadarkan pria itu adalah dirinya. Tak ada yang lain.
Bella tau seberapa besar Brian mencintainya. Pria itu perasaannya tidak mampu dilukiskan lewat perkataan. Tak ada kata yang mampu menampung berapa besar perasaan dalam hati Brian untuknya.
Dicintai oleh pria semacam itu membuat Bella bersyukur. Namun terkadang ada juga beberapa sifat Brian yang sama sekali tak ia sukai. Yaitu ketika ia bertingkah posesif.
Juga aturan yang banyak sekali diterapkan untuknya, namun ketika jarak kembali memisahkan rasanya rindu akan itu semua.
Ditengah lamunannya itu dari balik pintu Bella mendengar suara langkah kaki. Sepertinya Steam sudah pulang.
**Tokkkk
Tokkkk**
__ADS_1
"Kakak, apa kau didalam?"
Benar saja, pertanyaan itu berasal dari satu suara yang Bella kenali. Itu adalah suara adiknya, Stevan.
"Ya Stev, aku disini!" Stevan menjauhkan tangannya dari pintu, ia mundur.
"Baiklah, kakak aku lapar!" Ucap Stevan merengek seperti anak kecil.
Bella sudah tau itu, beruntungnya ia sudah membuatkan makanan untuk adiknya di meja makan. Sekalipun saat di mall ia sudah makan, namun entah mengapa saat dirumah pun perutnya masih ingin di isi Sesuatu.
"Ya Stev, aku baru saja membuatkanmu makanan di meja. Makanlah!" Ucap Bella dari dalam kamar mandi.
"Kau sudah makan?" Tanya Stevan padanya.
"Tidak, aku sudah banyak memakan salad tadi."
Mendengar itu Stevan kesal rasanya. Mengapa Bella ini, padahal daging itu lezat. Tetapi kakaknya selalu memakan makanan vegetarian.
"Kak, berhentilah jadi seekor kuda dan makanlah daging atau semacamnya. Kau terlalu sering memakan dedaunan dan buah."
Kekesalan dari balik pintu itu membuat Bella tertawa. Bella mengingat bahwa ia juga sempat membelikan adiknya itu sekotak susu coklat. Lihatlah, rasanya Bella sudah menyetok seluruh keperluan bayi.
Ucapan itu membuat Stevan menelan ludah. Sudah lama ia tak meminum susu coklat.
"Baiklah kak, aku akan makan! Terima kasih ya, kau baik sekali sungguh. Aku menyayangimu!"
Ucap Stevan berlalu dari hadapan pintu lalu pergi ke arah meja makan.
___________
Di tempat lain setelah pertemuannya dengan Bella. Brian menyempatkan dirinya masuk kedalam sebuah bar. Sejak tadi ia berada disana menghabiskan banyak sekali bir.
Ia tak tau bahwa ditempat lain, Eddie sedang mencarinya. Ratusan panggilan dari dalam ponselnya ia acuhkan. Itu adalah panggilan dari Themo, Rey dan Eddie.
Enggan rasanya untuk kembali pulang ke rumah. Alternatif terbaik untuknya adalah minuman laknat ini. Rasanya ia tak mampu mengangkat kepalanya saat ini. Mengingat sudah banyak sekali tegukan cairan haram itu masuk kedalam perutnya.
Membuat tubuhnya terkulai lemah, sambil membiarkan kepalanya di atas meja. Waiters yang sedang melayaninya dibuat heran. Manusia dihadapannya ini sekuat ini meneguk bir.
__ADS_1
"Tambahkan lagi!" Ucap Brian sambil menyodorkan gelas kosongnya.
Waiters yang berada dihadapannya hanya mengangguk. Namun ia tak memberikan minuman itu.
"Apa kau tak dengar? Tambahkan lagi!" Ucap Brian berusaha mengangkat kepalanya saat ini.
"Tuan, anda sudah terlalu mabuk. Jika begini, lantas bagaimana cara anda pulang nanti?" Tanya waiters itu khawatir.
Sekalipun mereka baru saja bertemu. Namun tiap kali seseorang datang ke bar ini, itu adalah untuk pelampiasan. Entah mereka baru saja dilanda masalah hutang, ataupun perihal masalah cinta.
"Mengapa kau peduli? Sudahlah, berikan yang kuminta. Lagi pula, aku akan membayarnya nanti!"
"Tapi Tuan, Anda..."
"Berapa biayanya?" Seseorang datang berdiri tepat dihadapan Waiters, sambil menanyakan perihal biaya minuman yang Brian habiskan.
Pria itu tak lain adalah Eddie, dibelakangnya terdapat Rey dan Themo.
"Ya Tuan, sebentar aku akan mentotalnya!"
Waiters itu dengan sigap mulai menghitung berapa lembar uang yang harus dibayarkan untuk itu.
"Bawa kakak masuk kedalam mobil! Aku akan menyusul kalian!" Perintah Eddie pada Themo dan Rey di belakangnya.
Mendengar itu mereka berdua mulai menuntun Brian yang sedang mabuk berat itu keluar dari sana.
Ketika Waiters itu selesai menghitung, Eddie pun menyerahkan lembaran uang sesuai yang diminta lalu pergi dari sana.
"Aku benar-benar iba!" Ucap Themo setelah meletakkan tubuh Brian di kursi mobil belakang.
"Kita sudah membicarakan itu berulang kali Themo!" Ucap Rey.
Benar, mereka memang sudah membicarakan nasib Brian berulang kali. Saat ini bukan situasi yang pas untuk mengeluh. Mereka harus bersatu demi menemukan pelakunya.
Ketiak Eddie datang menghampiri mereka, satu perintah pun mulai Eddie berikan. Malam ini mereka akan membawa Brian kembali ke kediamannya. Rumah dimana tempat Brian seharusnya tinggal. Sebuah rumah yang Brian tinggali bersama Bella, Istrinya.
Mungkin ketika pagi menjelang, Eddie akan melontarkan banyak sekali pertanyaan pada kakaknya ini. Ada banyak hal yang harus dijelaskan oleh Brian padanya.
__ADS_1
...Diamku adalah tanda jika aku telah merasa lelah dan berharap agar kamu mengerti akan kesalahanmu...
...Genggaman tanganmu senantiasa menguatkanku di saat aku merasa lelah dalam menghadapi semuanya...