
...Kenyamanan adalah hal pertama...
...yang dibutuhkan dua orang untuk menjalin hubungan...
Malam ini di depan televisi, dua sejoli ini sedang bersantai duduk di atas sofanya. Brian yang duduk bersandar sambil menikmati buah anggur sebagai camilan, Bella yang saat ini sedang bergelayut manja padanya tidur di pangkuan kekasihnya sambil menghadap televisi menikmati siaran acara yang di suguhkan disana. Sesekali tak jarang Brian menyuapkan sebutir buah anggur pada Bella di bawahnya, tak jarang pula tangannya membelai lembut pucuk kepalanya. Ada yang sedang Bella pikirkan beberapa hari ini, rasanya jenuh mulai menghinggapi dirinya. Satu keinginan kuat dalam hatinya, jenuh ini beralasan sepertinya sudah waktunya ia harus mengatakannya pada Brian sekarang entah ia mengijinkannya atau tidak tapi ia sungguh ingin.
"Hunny!" Panggil Bella lembut terkesan sedikit manja, hanya suara dehemen yang ia dapatkan dari sapaan itu.
"Hunny!" Panggil Bella lagi, kali ini Brian menatapnya.
"Ada apa?" Tanyanya kali ini, Bella tersenyum melihat itu. Bella mengangkat kedua tangannya ke arah kekasihnya itu seakan menyuruhnya mendekat. Brian mendekatkan kepalanya pada Bella, tak lama Bella menangkup kepala itu mendekatkan telinga kekasihnya itu padanya. Sebelum mengutarakan keinginannya Bella mengecup lembut wajah itu.
"Hunny, aku ingin bekerja setelah kita menikah boleh?" Tanya Bella, namun seketika Brian menggeleng mendengar permintaan itu.
"Sayang, mengapa harus bekerja. Padahal kau bisa menikmati segalanya di rumah ini." Protes Brian, sudah Bella duga akan seperti ini jawabannya. Memang perlu banyak usaha untuk meyakinkan pria nya ini.
"Hun, aku bosan kau tau kan. Kau pergi bekerja sedangkan aku dirumah sendiri, kau tau betapa bosannya aku di rumah." Keluh Bella, Brian menjauhkan dirinya dari Bella. Fokusnya masih berada pada televisi, tak ada jawaban untuk keluhan itu.
"Hun, bagaimana?" Tanya Bella lagi seraya menarik kecil lengan baju Kekasihnya itu.
"Tidak!" Satu jawaban yang mengesalkan sekali bagi Bella.
"Kenapa?" Tanya Bella meminta penjelasan, Brian memijat pelipisnya kali ini. Kenapa malam nyaman ini harus ada perdebatan konyol seperti ini, dan datang darimana permintaan itu.
"Karena aku hanya ingin kau berada dirumah ketika aku pulang. Jika kau bekerja, lalu setelah aku pulang nanti kau tak ada di rumah, lantas siapakah yang akan menyiapkan makanku, siapa yang akan menemaniku tidur, siapa yang akan ku ajak bercengkrama bercerita seluruh penat yang ku alami seharian? Siapa?" Ujar Brian panjang dan lebar.
"Kalau begitu, aku akan mencari pekerjaan yang sama waktunya denganmu. Apa kau setuju?" Ujar Bella, rasanya percuma memberikan Bella banyak protesan untuk melarangnya.
"Apa makan malam sudah siap?" Tanya Brian mengalihkan pembicaraan, Bella mendengus kesal mendengar pengalihan itu. Ia bangkit dari tidurnya merubah posisinya menjadi duduk kali ini.
"Seperti Angela dan Eddie yang sama-sama bekerja aku ingin kau memahami kejenuhan yang ku alami. Aku mencintaimu, Hunny." Ucap Bella, di akhiri dengan ciuman di pipi Brian tak lama ia pun pergi dari sana.
Melihat itu Brian membuang nafasnya kasar, ia tau Bella tidak akan mendengarkannya.
"Kakak!!!" Teriak seseorang dari pintu masuk rumahnya, itu sedikit membuat Brian yang duduk itu terkejut. Siapa malam-malam begini bertamu di kediamannya.
__ADS_1
"Kakak!!!" Teriak suara itu menggema semakin mendekati ruang tamu. Ketika pemilik suara itu sampai di ruang tamu Brian terkejut pada pemilik suara itu, Stevan rupanya.
"Kakak kau dimana?" Tanya Stevan seraya mengedarkan pandangannya ke segala arah, mencari keberadaan Bella kakaknya. Ketika Stevan menoleh ke arah ruang tamu tatapannya berubah menjadi kesal, begitu pun dengan Brian.
Sepertinya perang di antara mereka belum selesai sepenuhnya. Mungkin memang Stevan sudah memaafkannya, namun tidak melupakannya. Begitu pun dengan Brian, ia akan selalu mengingat apa yang Stevan berikan padanya termasuk jahitan di dahinya yang mengurangi ketampanannya.
"Kau, dimana kakakku?" Tanya Stevan dingin.
"Kau pikir kau sedang berada di lapangan bola ya? Kau bisa kecilkan suaramu bukan?" Jawab Brian.
"Sudahlah, kau terlalu banyak cakap layaknya wanita sungguh. Mungkin kau memang pantas menjadi seorang wanita, mengingat kau kalah denganku hari itu." Ujar Stevan, bagaikan air yang mendidih keduanya saling memanas-manasi suasana.
"Aku, kalah? Sadarlah hei, kau yang licik menyuruh pengawalmu memukul kepalaku dengan bata." Ucap Brian seraya berdiri, remote yang ada di genggamannya ia cengkram kuat kesal sekali rasanya, remote itu tak lagi menjadi remote sekarang remuk begitu saja rusak mungkin sudah tidak bisa digunakan lagi.
"Kau saja yang kurang strategi, lalu kau mau menyalahkanku. Mafia bodoh!" Maki Stevan, seraya menghampiri Brian. Bungkusan yang ia bawa di tangan kirinya ia letakan begitu saja di lantai begitupun dengan Brian yang membuang asal remote yang sudah rusak itu.
"Marinir licik!" Maki Brian.
"Mafia bodoh!" Maki Stevan, keduanya saling mencengkram kerah baju mereka masing-masing. Beruntungnya sebelum baku hantam terjadi disana, Bella datang dengan sebotol sake di tangannya.
"Mari duduk sebentar!" Ucap Bella seraya menuntun mereka duduk di sofa. Brian duduk di sofa sebelah kiri, sedangkan Stevan ia duduk di sofa sebelah kanan kedua sofa itu saling berhadapan, Bella lebih memilih duduk di sofa bagian tengah sekarang, rasanya ia seperti seorang wasit tinju yang akan melerai kedua belah pihak petarung jika sudah gelap mata.
"Steve, kau kemari untuk alasan apa?" Tanya Bella, namun tak ada jawaban dari pertanyaannya. Suasana canggung dan mencekam tercipta disana, Bella hanya memperhatikan kedua manusia yang masih tetap menatap satu sama lain. Bella membuang kasar nafasnya melihat itu.
"Kalian mau minum?" Tanya Bella, dua manusia yang sedang gelap mata itu sama-sama mengangkat gelas yang ada di hadapan mereka, lalu menyodorkannya ke arah Bella meminta Sake itu.
"Satu ronde boleh juga!" Ujar mereka, Bella menuangkan sake itu pada gelas mereka.
"Manusia sampah, kau bahkan akan ku kalahkan lagi!" Ucap Stevan, setelah meneguk habis segelas sakenya begitupun dengan Brian.
Glekkkk
Satu cangkir itu mereka teguk habis begitu saja, lalu kembali menyodorkan cangkir kosongnya pada Bella.
"Kau pun tidak mampu menyaingi ku!" Ujar Brian.
__ADS_1
"Tambahkan satu lagi kak!" Geram Stevan.
Segelas Sake itu habis lagi, mereka teguk dalam waktu singkat, namun mereka meminta lagi dan lagi.
Beberapa waktu berlalu, tujuh botoh sake kosong terpampang di atas meja berjajar layaknya seorang pedagang sake. Di sela kondisi mereka yang sudah mabuk, dengan racau an yang asal asalan Bella diam memperhatikan mereka sejenak lalu tersenyum, lucu rasanya melihat pemandangan langkah ini di depannya, tak lama ia pun bangkit dari sana.
Bella memanggil bodyguard Brian diluar, menyuruh mereka masuk kedalam. Bella memerintahkan mereka mengangkat tubuh Stevan, membaringkannya di kamar lantai dua.
"Kau ini, seperti anak kecil saja!" Lirih Bella seraya memperhatikan kekasihnya yang setengah sadar itu. Tak lama Bodyguard Brian kembali, disana Bella melambaikan tangannya meminta bantuan mereka lagi membawa Brian masuk ke dalam kamarnya, Bella mengikuti mereka dari belakang. Setelah Brian di baringkan di atas ranjang, para bodyguard itu pun pergi.
Bella menarik selimutnya untuk menutupi tubuh kekasihnya, ketika selimut itu sudah menutupi tubuhnya Bella hendak pergi dari sana, namun sebuah cengkraman kecil ditangannya menghentikannya.
"Sayang, jangan pergi!" Lirihnya, Bella menautkan satu alisnya mendengar itu. Teringat sesuatu, mengenai seseorang yang sedang mabuk segala ucapannya selalu jujur Bella pun tersenyum licik. Ia duduk di tepi ranjang itu, lalu mengelus kepala kekasihnya.
"Hunny, aku mau bertanya beberapa pertanyaan!" Ujar Bella lembut.
"Hmmm.." Deheman khas dari kekasihnya itu membuat Bella tersenyum.
"Bagaimana kau bisa jatuh cinta sedalam itu pada Bella? Itu muncul sejak kapan?" Tanya Bella, entahlah ia hanya ingin tau hal itu.
"Aku mencintainya, sejak ketika ia peduli padaku. Tak ada manusia yang baik bahkan lembut sepertinya. Aku merindukan Ibuku, dan dia datang padaku memberikan segala hal yang hilang dalam hidupku. Dia adalah salah satu target pelenyapanku, tapi, Tuhan meniupkan cintanya dulu padaku untuknya. Sampai detik inipun, aku tak mampu melepas kekasihku itu, aku sangat mencintainya." Jelas Brian, tersentuh sekali rasanya mendengar itu.
"Jika suatu saat nanti, Bella tiada apa yang akan kau lakukan?" Tanya Bella lagi.
"Aku benci tiap perpisahan yang ada di bumi ini, mengapa itu harus ada. Aku tidak berharap itu terjadi, sebisa mungkin jika ada yang harus di korbankan untuk nyawanya akan kuberikan sekalipun itu nyawaku. Lebih baik aku yang mati daripada dia." Jawab Brian, Bella meneteskan air matanya mendengar itu. Sebesar itu rupanya ketakutan Brian akan kehilangan dirinya. Bahagia sekali rasanya mendengar seluruh ungkapan itu, sebagai tanda terima kasihnya Bella mencium kening kekasihnya itu lama sekali.
"Kau pun, juga bagian dari nyawaku. Jika kau pergi dan hilang, maka aku akan sangat hancur, tetap bernafas untukku ya, Hunny." Batin Bella
Bella menghapus tiap air mata yang turun dari kelopak matanya, lalu berdiri dan pergi dari sana namun lagi lagi Brian menahannya.
"Sayang, jangan pergi!" Ucap Brian, Bella hanya tersenyum mendengar itu ia mencoba melepas cengkraman itu namun entah datang darimana kekuatan itu ketika mabuk. Satu tarikan kuat itu menjatuhkan dirinya, di atas tubuh kekasihnya. Malam itu tak ada pilihan lain rasanya bagi Bella, untuk tidur menemani kekasihnya itu.
...Kita menemukan kenyamanan di antara mereka yang sepakat dengan kita...
...Bukankah cinta itu lebih dari sekadar materi...
__ADS_1
...Tapi, lebih dari kenyamanan hati tanpa sekat tersembunyi....