
...Satu teman palsu dapat melakukan lebih banyak kerusakan daripada lima musuh...
Sehari setelah pertemuan dirinya dan Bella. Tasya menjadi seorang pemurung, putus asa rasanya sungguh. Ketika hatinya ingin memiliki sosok pria yang ia kagumi, justru manusia itu menjadi milik orang lain.
Nami berdiri disini saat ini. Sebuah gedung terbengkalai dekat menara Eiffel. Tasya berdiri tepat di atas gedung, memandangi isi kota dari atas sana. Cahaya Surya cukup hangat, namun teriknya tidak membakar. Panas ini syahdu menenangkan, mungkin hanya alam alternatif terbaik pengobat lara.
Seandainya Tasya tau, gedung yang sedang ia pijaki ini adalah sebuah gedung tragedi. Dimana disana dulu, Brian memperjuangkan Bella dengan darah dan tenaganya. Ketika Stevan menculiknya beserta dengan konspirasi dari Nami, disana Brian hampir dibuat mati rasanya.
Ditengah kesedihannya itu suara langkah kaki dari balik tubuhnya perlahan mulai mendekat. Jangan ditanya siapakah pemiliknya, tak lain dan tak bukan manusia itu adalah Nami.
Beberapa hari lalu di toko roti, netranya melihat Tasya bersama dengan Brian disana. Nami paham dari dalam bola mata Nami, gadis ini sangat mencintai Brian. Mungkin memanfaatkannya saat ini perlu, itulah yang ada didalam pikiran Nami saat ini.
"Kurasa lara hatimu ini ada penyebabnya?"
Suara dari balik tubuhnya membuat Tasya berbalik. Disana tergiat satu sunggingan senyum tertuju untuknya. Sunggingan itu berasal dari seorang gadis, mungkin usia mereka sama.
Sejenak Tasya memperhatikan gadis itu. Raut wajahnya menceritakan bahwa ia bukan dari negara ini. Apakah dia turis disini, lantas mengapa harus datang ke gedung tua. Bukankah destinasi Paris amat banyak. Apa mungkin gadis ini kehilangan arah, atau terpisah dari rombongannya.
"Maaf, siapa kau? Aku sama sekali tak mengenal dirimu!" Pertanyaan dari Tasya membawa Nami lebih dekat lagi ke arahnya.
"Jika kita berkenalan tandanya kita berteman!" Nami berucap sambil menatap lurus kedepan. Ia menatap gedung-gedung tinggi dari atas sana.
"Tentu saja, mengapa tidak?"
Kali ini Tasya mengulurkan tangannya pada Nami, meminta berkenalan. Nami menyambut uluran tangan itu tanpa menatapnya. Pagi ini keduanya diam, hening, membisu menatap ke depan. Tubuh mereka di terpa sepoian angin juga terik matahari yang hangat.
"Jadi, apakah kau sedang ditolak seorang pria?"
Pertanyaan itu sekejap membuat Tasya terkejut. Apakah manusia disampingnya ini seorang peramal. Baru saja mereka bertemu namun manusia ini sudah tau isi hatinya.
"Sepertinya aku tidak perlu mengatakan apa yang kurasakan ya!" Ujar Tasya.
Nami tertawa mendengar itu, dugaan benarnya membuat dirinya semakin yakin disini. Niatnya kemari sepertinya benar, mungkin Tasya adalah manusia yang mampu di ajak kerja sama. Mungkin meracuni pikirannya sedikit akan berhasil. Gadis ini terlihat begitu polos sekali dimatanya.
"Hahaha... kau benar, kau tidak perlu bercerita padaku! Aku sudah tau apa yang kau alami."
"Huh? Bagaimana mungkin?"
"Karena aku seorang cenayang. Kurasa kau harus memberiku sepeser uang setelah ini."
Nami mencoba mencairkan suasana disini. Sekalipun gurauannya garing, namun rupanya disana Tasya masih tertawa menanggapi apa yang Nami ucapkan.
"Tentu saja, kau seorang cenayang. Datangmu tiba-tiba dan kau menebak hal yang benar dalam hatiku."
Nami kembali dibuat tersenyum mendengar itu. Sepertinya keberuntungan berpihak padanya, manusia ini bisa diperalat layaknya Reiner. Demi untuk membuat Brian hancur, Nami akan melakukan apa saja.
__ADS_1
"Bolehkah ku tau siapa nama pria ini?" Tanya Nami.
"Dia pengusaha besar disini, lagi pula apa dayaku yang hanya jelata kecil disini. Seharusnya sudah sejak dulu aku punya malu!"
"Mencintai manusia itu wajar bukan? Kasta tidak berlaku apapun, jika memang cinta itu murni tulus dari dalam hati. Kau bebas mencintainya bagaimanapun caranya?"
"Seorang kecoa sepertiku rasanya sudah tidak memiliki kesempatan. Tuan Brian ini orang terpandang disini."
"Namun dia juga manusia yang keji, andai saja kau tau itu. Tapi memberitahumu itu juga tidak penting, lebih baik aku fokus pada segala rencanaku." Batin Nami.
Netranya memperhatikan raut wajah Nami yang putus asa. Sepertinya sudah saatnya dirinya menawarkan bantuan disini.
"Bagaimana jika ku katakan padamu, aku bisa membantumu?"
Ucapan itu sekejap membuat Tasya menoleh. Apa yang dikatakan manusia ini, membantunya katanya.
"Membantuku? Kau gila ya, bahkan lelaki ini sudah beristri!"
"Jika kau mencintainya kau pun bisa menjadi istri keduanya bukan?"
Segala kata-kata racun itu mulai Nami lontarkan. Ia berharap kata-kata itu berhasil membuat Tasya berbelot. Ia ingin hari manusianya mati, simpatinya mati. Ia ingin agar Tasya mengejar kembali Brian dengan satu tekad.
Tasya diam, sejenak dia berfikir. Rasanya apa yang Nami katakan ada benarnya. Mencintai manusia lain itu tak salah. Sepertinya sudah saatnya ia egois disini. Cukup, ia harus melakukannya sekarang.
"Sepertinya kau benar, mungkin aku bisa mengikuti caramu ini. Tolong, bantulah aku disini!" Ucap Tasya mantap.
Tasya membalas uluran tangan itu. Dia orang manusia di atas gedung itu tersenyum, satu perjanjian hari itu mulai mendapat persetujuan. Selain Reiner disampingnya, hari ini Nami juga memiliki satu senjata baru.
Dengan ini Brian akan segera hancur. Kisah cintanya tidak akan semanis dahulu. Sudah saatnya manusia itu merasakan, bagaimana rasanya jika cintanya sendiri memutuskan pergi darinya nanti. Sumpah demi apapun, Nami tidak akan menyia-nyiakan hal ini.
_______
Perjanjian beberapa saat lalu kini membawa Nami berada disini. Bersama dengan Reiner dan Nami. Tempat ini semacam sebuah markas, penerangannya remang-remang. Tak ada manusia lain selain ketiganya.
Diatas meja terdapat sebuah peta disitu Nami mulai menjelaskan sesuatu. Besok ia ingin menyerahkan diri pada Han dan Brian. Seluruh tugasnya akan dilaksanakan oleh Reiner dan Nami.
"Kalian harus melanjutkan misi ini! Ketika nama kalian bersih dan aku tertangkap. Maka kecurigaan mereka terhadap kalian tidak akan ada. Bekerjalah dibalik selimut, setelah kalian mendekati tujuan. Barulah, tunjukkan wajah asli kalian!" Jelas Nami.
"Apa kau akan menyerahkan dirimu pada mereka?"
Reiner bertanya setengah tak percaya rasanya. Gadis dihadapannya ini nekad sekali sungguh. Namum jawaban dari pertanyaan itu adalah sebuah anggukan. Hal itu semakin membuat Reiner kagum rasanya.
"Tentu saja, hal ini perlu! Pengorbanan itu perlu!"
Tasya membulatkan matanya. Lantas mereka yang tak paham bagaimana caranya menghancurkan hubungan Brian dan Bella bagaimana. Darimana mereka akan mendapat arahan itu nantinya.
__ADS_1
Sejenak Nami melirik ke arah Nami. Ia tau ada banyak ragam pertanyaan dalam kepalanya. Nami melipat tangannya sambil masih tersenyum.
"Kalian tenang saja, ragaku memang pergi dari kalian? Tetapi, otak dan segala rencanaku masih menyertai kalian." Jelas Nami.
"Bagaimana caranya?" Tanya Reiner tak percaya.
"Kau lupa sedang berbicara pada siapa? Aku ahli peretasan, IT! Komputer dan internet adalah segala-galanya bagiku. Melalui jaringan siber aku juga bisa menghubungi kalian. Selama internet masih ada disini, aku berkuasa."
Jawaban itu sekejap membuat kedua rekannya bungkam. Benar apa yang Nami katakan, ahli IT semacam dirinya memang hebat. Namun bagaimana Nami akan bermain di penjara, bahkan ponsel saja tak di izinkan dibawah.
"Kau akan bermain dengan IT, tapi bagaimana itu? Kau ingat bahwa penjara sama sekali tak mengizinkan buronannya membawa ponsel?"
"Itu benar, itulah mengapa aku menyiapkan ini!"
Sebuah arloji kecil Nami pamerkan. Arloji itu seketika mendapat tanggapan buruk dari Reiner juga Tasya disana.ereka dibuat heran, itu adalah sebuah arloji lantas apa untungnya untuk mereka.
"Itu hanya sebuah Arloji, untuk apa kau memamerkannya pada kami? Tolong jangan buat teka-teki yang harus kami tebal Nami!" Ucap Reiner.
Muak rasanya jika IQ miliknya bahkan tak mampu menandingi apa yang sedang Nami jelaskan disini. Tatapan juga jawaban itu membuat Nami tertawa. Lucu rasanya melihat manusia berotak usang seperti Reiner ini terperangah.
Namun sepertinya ia harus menjelaskannya, agar mereka tau apa fungsinya. Disamping itu dia sebelahnya terlihat Tasya juga dibuat bingung olehnya. Sejenak Nami menghela nafas melihat itu sebelum menjelaskan.
"Ini Arloji digital! Fungsinya sama seperti ponsel. Namun ada tombol rahasia disini. Dua tombol, satu tombol berfungsi merubah jam ini menjadi jam biasa. Dan satu lagi berfungsi mengubahnya menjadi sebuah jam digital layaknya fitur ponsel."
Rasanya tak percaya ketika Nami menjelaskan itu. Namun ketika jari jemari lentik itu mempraktekan caranya, Reiner dan Tasya dibuat kagum. Manusia dihadapan mereka ini cerdas melebihi apapun.
"Apa kau yang membuatnya?" Tanya Reiner penasaran ia ingin tau apakah jam itu juga Nami yang membuatnya.
"Tidak, untuk desainnya ini yang membuat kawanku. Namun untuk fitur IT didalamnya, tentu saja aku yang membuatnya."
"Wah ini hebat sekali sungguh! Kau bisa menjadi seorang Miliyarder apabila jam ini kau jual." Ucap Reiner.
"Sayangnya tujuanku disini bukan itu. Tujuan ku disini adalah membantu kalian mencapai tujuan kalian. Kita kembali ke topik permasalahannya, mari kita bahas dan selesaikan secepat mungkin."
Ucapan Nami membuat kedua rekannya kembali menatap ke arah meja. Jari jemari juga lisannya kembali menjelaskan, memaparkan apa yang berada dalam otaknya saat ini.
Butuh waktu sekitar dua jam bagi kedua rekannya untuk paham. Setelah merasa kedua rekannya ini paham, Nami tersenyum. Besok adalah hari terakhir yang akan membuatnya masuk kedalam penjara.
Itu artinya ia akan ketemu dengan Stevan kembali. Mungkin apa yang ada dalam hatinya ini bisa dikatakan rindu. Sebab jika kalian tau, Nami pun juga sebenarnya mencintai Stevan.
Hanya saja keduanya berada dijalan yang berbeda. Itulah mengapa penyatuan keduanya sulit. Coba saja mereka berada di Jalan yang sama. Mungkin benih-benih cinta akan memenuhi hati mereka.
Sayangnya takdir Tuhan tidak berkata demikian. Nami tetap bersikukuh dengan dendamnya hingga buta melakukan segala hal untuk mencapainya.
Sedangkan Stevan menurut Nami adalah Pria yang begitu mencintai kakak perempuannya. Ia begitu mencintainya melebihi apapun. Disana Nami pun juga merasakan kebutaan Stevan atas cintanya pada kakaknya.
__ADS_1
...Aku dulu berpikir bahwa musuh adalah orang terburuk di dunia...
...Namun itu hingga saya bertemu teman palsu dan menyadari bahwa mereka jauh lebih buruk. ...