Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Mengungkap Fakta


__ADS_3

...Aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu...


__________


.


.


.


Malam ini Brian memutuskan untuk mencari tau, perihal siapakah manusia laknat yang datang mengusik kehidupannya ini.


Dalam hatinya, tetap ada satu ma yang terlintas. Itu adalah Nami, namun Stevan tetap menyangkal seluruh tuduhan itu padanya.


Ketika Brian bersikukuh dengan argumennya, Stevan menentang meninggikan intonasinya. Kerja sama antara dirinya dan Stevan masih berlaku.


Disofa tadi, Stevan merutuki dirinya berulang kali. Perihal betapa bodohnya ia tak mengingat angka plat mobil itu. Stevan hanya mengingat warna mobilnya saja.


Sebenarnya, jika malam ini Bella tak tidur mungkin Brian akan mengajukan banyak pertanyaan padanya. Barangkali Bella masih mengingat jelas, angka plat mobil yang akan menabraknya.


Didalam laptopnya, Brian menghubungi beberapa anak buahnya. Mereka sedang melakukan Vidio call. Nami adalah alihnya IT, ia adalah Hacker terbaik di Jepang.


Setelah detektif Takamura, ayahnya, mati karena ledakan. Gadis ini berprofesi sebagai seorang Hacker, membantu pemerintahan negaranya. Menyadap segala informasi melalui internet.


Disitulah Brian menghubungi tiga orang kepercayaannya. Mereka juga sama alih IT. Peretasan adalah salah satu senjata Nami.


Peretasan CCTV kemungkinan besar menjadi mudah dilakukan jika kameranya terkoneksi dengan jaringan internet terbuka sehingga perlindungannya lemah.


Apabila hacker sudah berhasil meretas kamera CCTV, maka keamanan individu ataupun data dan properti perusahaan akan terancam.


Disini, ketiga hacker dalam panggilan vidionya sedang mengerjakan sesuatu. Sesuai dengan apa yang Brian perintahkan.


Mereka mulai meretas beberapa CCTV ditempat kejadian. Para anak buahnya ini tentunya akan mendapatkan reward yang besar dari Brian. Apapun untuk Bella, apapun untuk keamanan Bella. CCTV itu diretas menggunakan jaringan siber.


Kejahatan siber atau kejahatan dunia maya adalah kejahatan yang menggunakan komputer yang berbasis pada kecanggihan teknologi internet.


Kejahatan ini mampu melampaui batas-batas dari suatu negara dalam periode waktu yang singkat dan tidak terbatas.


Dari sinilah, Nami meraup berbagai informasi secara mudah tanpa pergerakan. Para hacker milik Brian mulai menemukan titik terang.


"Tuan, aku sudah mendapatkannya!" Ucap salah seorang Anak buah Brian, bernama Richard.


"Kalau begitu tunjukkan padaku!"


Dari dalam Vidio call, Richard mengangguk. Dari sana ia mulai menunjukkan bukti CCTV itu pada Brian. Disana terlihat dari arah samping sebuah mobil Ferarri merah, melesat kencang ke arah Bella yang sedang menyebrang.


Dari sana Richard mulai memperlambat vidionya.

__ADS_1


Rekaman kualitas CCTV yang minim membuat Brian menyipitkan matanya, berusaha melihat plat nomor mobil disana.


Dari sana Richard mulai menaikkan resolusi output di DVR. Resolusi pada DVR adalah dimensi gambar yang ditangkap oleh kamera cctv dan diproses oleh DVR, baik itu proses displaying maupun record. Proses displaying adalah menampilkan gambar yang ditangkap oleh kamera cctv ke output berupa monitor.


"Bisa kau membuatnya lebih jelas lagi, Richard?"


Brian merasa gambar disana masih belum sepenuhnya jernih. Richard dari sana mulai melakukan tahap kedua, untuk menjernihkan Vidio didalam sana.


Solusi kedua untuk mempertajam atau menjernihkan video kamera CCTV adalah dengan menaikkan sharpen kamera CCTV. Sharpen adalah ketajaman gambar, semakin tajam gambar, semakin jelas juga video yang ditampilkan.


Terakhir Richard, menambah kontras, ini bisa menjadi cara yang tepat untuk meningkatkan cahaya gambar supaya lebih dominan.


Dalam layar gambar itu terlihat jelas. Disana Brian melihat plat nomor itu. Segera ia mencatatnya.


"Pause vidionya!" Perintah Brian.


Plat mobil pelaku sudah berada ditangannya, kini Brian mencatatnya pada sebuah kertas. Tiga orang anak buahnya disana, memiliki tugas masing-masing.


"Aldonova, kau bisa melacak plat mobilnya? Milik siapakah itu?"


Perintah dari Brian membuat Aldonova disana mengangguk. Tangannya mulai cekatan menari diatas keyboardnya.


Beberapa jaringan mulai ia retas disana. Netranya jeli menatap ke arah layar laptopnya. Disana Aldonova dibuat bingung, pasalnya nama yang tertera disana adalah nama seseorang yang telah tiada.


"Tuan, sepertinya itu mobil curian!" Ucap Aldonova, Brian mengerutkan keningnya.


Sejenak, Brian memijat pelipisnya. Rasanya sudah habis akalnya untuk mencari tau.


"Atas nama, Gabriel!" Ucap Aldonova disana, menyebutkan pemilik dari mobil itu.


"Pria tua ini wafat lima tahun yang lalu!"


Brian mengangguk mendengar itu. Mungkin besok ia akan menuju ke lokasi untuk memeriksa. Barangkali ada sesuatu yang bisa ditemukan disana.


"Baiklah, maafkan aku yang telah mengganggu waktu malam kalian! Lagi pula, ini sudah larut. Silahkan beristirahat!" Ucap Brian.


"Baik Tuan, tak masalah! Ini adalah pekerjaan kami, kau bisa menghubungi kami kapan saja."


Brian kembali mengangguk mendengar itu, ia mengacungkan jempolnya seraya tersenyum.


"Terima kasih banyak atas segala bantuannya, Rekan, aku akan selalu mengingatnya!"


Ucapan terima kasih itu diakhiri dengan berakhirnya Vidio call itu. Sejenak Brian menyandarkan dirinya disofa, menyamankan tubuhnya.


Pikirannya masih belum tenang, selagi penjahat itu masih belum terkuak. Jam sudah menunjukan pukul dua pagi, namun Brian disini masih terjaga.


Dari anak tangga, Bella tertatih mencoba turun kebawah. Wanita ini terbangun ketika melihat Brian tak ada disampingnya.

__ADS_1


Keremangan ruangan malam ini membuat netranya sedikit berupaya, memperjelas apa yang dilihatnya. Ketika netranya melihat satu manusia, duduk bersandar membelakanginya.


Bella berjalan tepat ke arah manusia itu. Kedua tangannya terangkat, ketika tubuhnya berada dekat dengan Manusia itu. Bella memijat lembut kepala suaminya itu, ia merasakan didalam sana ada beban yang teramat memberatkan.


"Sayang, mengapa kau turun kebawah?" Pertanyaan itu membuat Bella tersenyum, Brian meraih salah satu tangan yang sedang memijat kepalanya itu, menciuminya.


"Bagaimana aku bisa terlelap, jika suamiku sibuk disini sendiri. Entah apa yang sedang menghinggapi pikiranmu ini Hunny!"


Ujar Bella, Brian menarik pergelangan tangan istrinya. Menuntunnya untuk duduk bersamanya. Bella mengikutinya, ia duduk tepat disamping Brian. Sejenak Brian memperhatikan kaki Istrinya yang bengkak.


"Apa masih sakit?" Tanya Brian lembut, namun disana Bella menggeleng.


"Tidak Hunny, mungkin jika aku tetap dirumah selama beberapa hari ini akan segera sembuh!"


Nada bicara lirih itu membuat Brian tersenyum. Wanita ini selalu cantik dimatanya, intonasi suara miliknya adalah gema termerdu didunia.


"Tidurlah sayang!" Ucap Brian, Bella merentangkan tangannya


Perilaku manja ini, membuat Brian gemas sekali. Bella ingin di gendong sepertinya. Disana Brian berdiri, ia mengangkat tubuh istrinya itu. Bella mengalungkan tangannya ke melingkari leher Brian.


"Mengapa kau turun, jika pada akhirnya kau meminta kembali ke atas Sayang?"


Bella mengembungkan pipinya, Brian tetap berjalan menaiki anak tangga sekarang.


"Aku hanya ingin bermanja-manja denganmu, apanitu tak boleh?"


"Tentu saja boleh, mengapa tidak?"


"Lantas mengapa kau berprotes padaku, Hunny?"


"Terkadang itu perlu sayang!"


"Untuk apa? Kau sudah mengizinkanku bukan, bahwa aku boleh melakukannya."


"Memang, tapi terkadang kau pun juga harus sadar diri. Kita bukan anak-anak lagi, kau sudah tua!"


"Kau pun juga, kau malah sempat menjadi seorang om-om berjenggot yang jelek sungguh!"


Brian tertawa mendengar itu. Ia mengingat kali pertama dirinya dan Bella bertemu. Bahkan Bella sama sekali tak mengenali penampilannya dulu.


Brian membawa masuk Istrinya ke kamar, membaringkannya disana. Mereka berdua memutuskan terlelap malam ini sambil saling merengkuh satu sama lain.


...Cinta kan tidak butuh tali, ia membebaskan...


...Jadi untuk apa kita melawan arusnya dan malah saling menjajah...


______

__ADS_1


__ADS_2