
...Tidak memiliki situasi terbaik...
...Tetapi melihat yang terbaik dalam situasimu adalah kunci kebahagiaan...
...Pada saat-saat tergelap kita, kita harus fokus untuk melihat cahaya...
_________
.
.
Noah juga Gabriel dibuat tercengang atas apa ya g mereka lihat, itu sebuah rekaman mengenai apa saja yang sudah terjadi di Alcatraz. Dunia tidak pernah mengetahui seluk beluk penjara Alcatraz, namun hari ini, hari ini kebusukan para aparat penjara dipaparkan, di pertontonkan begitu saja.
Terlihat dilain tempat Ham juga Eddie menyamar memasuki gedung siaran, Themo beserta Rey membuka jalan mereka untuk mengakses siaran televisi negara. Bersamaan dengan dipertontonkannya Vidio itu dalam persidangan mereka sudah menyalurkan Vidio itu lewat siaran televisi, sehingga rakyat Amerika melihat betapa bobroknya keadilan dalam bumi ini.
"Ini sudah langsung tersalur ke seluruh negara, jadi apapun yang dikatakan persidangan akan terekam disini saat ini. Dunia akan tau menau mengenai, betapa laknatnya manusia." Ujar Eddie.
"Bahkan manusia pun memiliki sisi iblis dalam diri mereka masing-masing." Tambah Han.
Ruangan siaran itu diretas oleh mereka, juga sebelum hal itu dilakukan Han juga Eddie melumpuhkan beberapa pegawai dalam ruangan itu.
Kembali ke persidangan, disana Hakim sebelum mengambil keputusan mereka berunding satu sama lain. Bella duduk diam namun netranya masih memperhatikan Brian yang duduk sebagai penengah pihak mereka dan Noah. Rasanya ingin sekali segera membawa tubuh lelah itu pergi dari sana, sesekali dalam hati Bella berdoa agar sidang ini dimenangkan olehnya dan Stevan.
Beberapa menit kemudian kembali hakim memukul palunya dimeja, itu membuat perhatian manusia didalam ruangan terdiam menunggu keputusan apa yang akan hakim paparkan.
Dari balik kaca telivisi banyak manusia yang sudah menyaksikan siaran langsung sidang itu, mereka terpaku serius menyaksikan hasil keputusan itu. Setelah melihat Vidio itu, mereka menjadi iba pada tahanan dalam Alcatraz. Hati mereka ingin menuntut keadilan penuh, pada hakim negara untuk menghukum oknum-oknum yang semena-mena pada para tahanan. Tahanan bukan seekor anjing, ataupun ternak, mereka masih manusia, maka perlakukanlah mereka layaknya seorang manusia.
"Berdasar dengan bukti, juga segalanya yang telah dipaparkan. Terhitung dari jumlah nyawa yang sudah dilenyapkan, juga pemalsuan bukti dari saudara Noah juga Gabriel. Disini dengan sangat terpaksa, kejahatan yang dilakukan oleh Saudara Brian cukup besar. Lebih besar dari sekedar kebohongan, dirinya sudah banyak merenggut nyawa manusia tak berdosa, menghancurkan kantor polis Tokyo, membunuh detektif Takamura, lalu meledakkan kediamannya, ada sekitar seratus nyawa manusia kala itu melayang."
Jelas Hakim, degup jantung Bella berdetak tak beraturan rasanya. Tapi, apa yang dikatakan Hakim ini ada satu yang tak benar. Bella mengacungkan tangannya.
__ADS_1
"Maaf, Yang Mulia!"
Ujar Bella, hakim menoleh ke arahnya seakan bertanya ada apa? Mengapa kau mengangkat tangan padaku.
"Ya, Saudara Bella?"
"Untuk peledakan dalam kediaman detektif Takamura, itu bukan ulahnya. Melainkan ulah Shawn!" Ujar Bella.
Disana Gabriel kembali tertawa lalu menatap Bella yang berdiri, ia melipat tangannya.
"Ulah Shawn? Lantas bidaknya? Bidaknya adalah kekasihmu yang pembunuh ini!" Ujar Gabriel.
"Tidak!" Jawab Bella, netranya masih menatap Hakim.
"Tidak? Bodoh ya, dia bahkan hampir membunuhmu tapi kau membelanya. Cintamu konyol, buta, tak berperikemanusiaan!"
Kali ini Gabriel melontarkan kalimat-kalimat pedas itu kembali pada Bella.
"Kau maki kakakku lagi kubunuh kau!"
Stevan geram, kedua tangannya kembali menggebrak meja seraya matanya tajam menatap Gabriel disampingnya. Stevan kembali menatap Hakim saat ini.
"Aku saksinya! Aku saksi dari ledakan besar itu! Anaknya yang bernama Nami, merawatku ketika aku sekarat. Ketika Ayahnya mati dalam ledakan itu, aku masih memantau kakak ku kami berdua merencanakan penangkapan Brian. Kami mengawasinya, sebelum ledakan itu. Brian bersama kakakku, berada di gedung yang sama. Ada sebuah acara mewah disana, saat itu sebelum keluar dari kediaman itu aku melihat mereka berdansa bersama. Lalu aku keluar bersama Nami, kami mencoba membahas sesuatu diluar kediaman Ayahnya. Lima belas menit setelah itu, ledakan besar itu terdengar sampai ketempat kami. Kami berlari kembali ke kediaman Takamura, namun yang kami lihat hanyalah pemandangan gedung terbakar. Juga sepasang manusia yang saling tindih, mencoba melindungi manusia dibawahnya, itu mereka, Bella dan Brian."
Stevan menceritakan dengan detail apa yang ia lihat selama ini. Ia memaparkan segala yang dirinya ketahui. Hakim terhenyak mendengar itu se detail itu, sebenarnya para manusia pembela keadilan ini juga di iming-iming oleh bayaran kasus ini, jikalau Brian mati maka sudah dipastikan para oknum ini akan menerima bayaran besar, juga belum lagi media massa yang akan mengangkat kasus ini lebih besar lagi. Mereka melenyapkan satu nyawa demi kepuasan, demi kesenangan mereka semata. Lantas bagaimanakah cara mereka memenangkan pertempuran ini, jika memang tak mudah semoga saja Tuhan memberi mukjizatnya.
"Berdasarkan pertimbangan juga keputusan yang kami buat saudara Brian, tetap bersalah karena bagaimanapun menghilangkan nyawa seorang manusia tetap tidak dibenarkan! Sekalipun nyawanya terancam saat itu, ia bisa melarikan diri menghindari pergulatan yang akan membawanya pada hasil negatif."
Bella membulatkan matanya mendengar itu, apa yang dikatakan Hakim ini. Lantas apakah tak berguna bukti-bukti yang sudah ia paparkan tadi. Mengapa segampang itu lisannya membuat keputusan.
Terlihat sepasang mata berbinar kagum melihat apa yang ia saksikan didalam layar laptopnya. Ya itu Nami, dari Perancis ia meretas situs siaran Amerika sehingga dengan kedua matanya dirinya mampu melihat juga menyaksikan apa yang terjadi dalam persidangan itu.
__ADS_1
Sungguh bahagia sekali rasanya Nami melihat itu, luar biasa rencananya membawa kembali Brian pada kematian rupanya akan berhasil. Kemarahan juga segala kebenciannya, mengenai dendam atas kematian Ayahnya akan segera tuntas.
"Akhirnya apa yang ku harapkan akan segera terjadi, aku harap semoga kau tenang disana Ayah."
Ujar Nami seraya matanya masih menyaksikan layar laptopnya.
"Brian akan segera dihukum gantung hari ini tepat pukul dua belas siang. Jika ada harapan terakhir untuk disampaikan, mohon segera katakan!"
Hakim memberitahu hasil keputusannya, lemas rasanya Bella mendengar itu. Kakinya seakan tak mampu menahan beban tubuhnya, ketika tubuh itu akan limbung Stevan menangkapnya. Mencoba mendudukkan kakaknya itu, juga terlihat Noah dan Gabriel yang berseringai ke arah mereka bahagia melihat kemenangan yang sudah diumumkan.
"Saudara Brian, apakah ada keinginan terakhir?"
Hakim mencoba bertanya lagi pada Brian, namun tak mendapat jawaban apapun. Kepala itu susah payah terangkat menatap ke arah hakim lalu tersenyum.
"Jika aku dikembalikan kedalam sel untuk menunggu waktu matiku, maka biarkan aku berada disana bersama Istriku. Aku ingin menunggu waktu itu bersama dengannya, boleh ku habiskan waktuku sebelum mati bersamanya?"
Ungkapan terakhir itu membuat Bella meneteskan mata, apakah benar mereka sudah kalah kali ini.
"Baiklah, harapan terakhir anda dikabulkan!"
Tokkkkkk
Tokkkkkk
Tokkkkkk
Tiga ketukan palu dari hakim menyelesaikan semuanya. Dari balik layar televisi beberapa manusia yang menyaksikan tergugah hatinya, mereka sadar jika memang orang yang sudah mati, diberi kesempatan bernafas lagi. Lantas mengapa negara mengambil nyawanya lagi, bukankah hukumannya sudah selesai. Juga melihat apa yang terjadi di Penjara mereka semua geram, bahkan mereka semua berfikir, jika Brian memang seorang pembunuh yang licik ia pasti akan kabur dengan segala cara dari dalam penjara itu. Namun tidak, ia tidak melarikan diri, bahkan dari Vidio itu, sebelum dipukul Brian pun tak memukul. Mengapa hal itu sama sekali tidak dipertimbangkan? Mengapa harus hukum mati lagi yang diberikan, keadilan macam apa itu.
...Dengan cara yang lembut, kamu bisa mengguncang dunia...
...Diam adalah hal terakhir yang dunia akan dengar dari saya...
__ADS_1