
...Manusia yang hati dan tubuhnya tidak saling berhubungan tidak bisa di sebut manusia...
Saat ini Nami sudah berada dalam selnya. Stevan dengan berat hati membawanya kesana, atas tindakan pembunuhan juga pencurian mobil. Pak Tua pemilik mobil yang Nami naiki, memang mati. Namun itu bukan karena dia yang membunuhnya.
Hari itu selepas dari swalayan, Nami memerintahkan anak buahnya untuk mengambil mobil pak tua itu. Nami melihat disana kunci mobil masih terpasang, itulah yang membuat dirinya mengincar mobil itu.
Bertepatan dengan itu juga dari layar iPad nya ia diperlihatkan lokasi Bella saat itu. Dendam dalam hatinya saat itu membesar, membuatnya ingin menyingkirkan siapa saja yang menghalangi jalannya.
Posisi Bella yang pas untuk di eksekusi menurutnya membawanya beserta anak buahnya melesat kesana, menggunakan mobil curian.
Tepat ketika mobil itu keluar dari dalam swalayan, kakek tua pemilik mobil ini keluar. Ia berusaha mengejar mobilnya, namun apa daya tubuh tuanya tak mampu berlari sekencang remaja.
Kakek itu memilih pergi ke arah gang sempit diantara gedung tinggi. Setibanya disana sepertinya para berandal mengincar kalung juga cincin emas miliknya. Sebab ketika jasadnya di autopsi ada bekas-bekas luka penyiksaan.
Itulah yang membuat Nami tenang saat ini. Dari CCtV kota ia mengambil bukti itu. Ketika persidangan menuntutnya atas dasar pembunuhan, Nami akan memainkan sedikit taktik miliknya disana.
Membungkam para hakim yang sok tahu itu dengan satu bukti akurat. Persidangannya diputuskan dua Minggu lagi, itu cukup bagi Nami menjalankan segala rencananya.
Jam menunjukkan tepat tengah malam, dan kini Nami sedang asyik mengotak-atik arloji canggihnya. Sebuah rundingan percakapan grup dari Reiner dan Tasya. Nami memaparkan segala rencananya disana, hal itu disambut baik oleh Reiner dan Nami.
Dua manusia penuh obsesi itu tertarik, sekalipun rencana yang Nami buat keji. Bagi mereka hal itu tak apa, asal mereka mampu mendapatkan apa yang mereka mau.
Baru saja Nami akan membalas pesan itu, seseorang datang sambil membawa makanan di atas nampannya. Refleks hal itu membuat Nami menghentikan aktivitasnya.
"Nami, waktunya makan! Kau belum menyentuh makananmu sejak tiba disini."
Rupanya itu adalah Stevan, sejak tadi ia memperhatikan Nami yang sama sekali tidak mencomot makanannya. Akibatnya, makanan itu dibawa kembali oleh petugas.
Grekkkkk
Stevan membuka pintu sel itu lalu masuk kedalam. Sebelum duduk ia menutup kembali pintu itu, lalu mengambil tempat disamping Nami dan duduk. Disana Nami hanya terdiam, ia tak ingin berbicara banyak saat ini pada Stevan.
Mungkin hatinya merasa nyaman tiap kali Stevan berada disampingnya. Namun, Nami tak ingin membuat Stevan kecewa padanya.
Mencintai Stevan sama artinya dengan menyerah pada tugas dan dendamnya. Cinta adalah kelemahan bagi Nami, berbeda dengan Stevan yang terus terang mengatakan padanya. Bahwa ia menyayangi Nami, sekalipun tindakan yang ia lakukan keji.
"Makanlah!" Perintah Stevan seraya menyodorkan sepotong roti pada Nami.
"Mengapa kau harus repot-repot kemari? Bukankah lebih baik kau tidur diatas ranjang nyamanmu?"
"Bagaimana aku bisa tidur, jika kau berada disini?"
"Omong kosong! Kau yang membawaku kemari lalu sekarang aku menyesal?"
Ucapan itu membuat Stevan diam sejenak. Roti yang ia serahkan pada Nami ia urungkan kembali.
"Aku tidak akan toleransi pada hal yang tak baik, Nami!" Nami berseringai mendengar jawaban itu.
"Dan aku benci manusia yang datang dengan segala kebohongannya! Aku muak melihatmu, kau terlalu naif!"
"Aku tidak perduli berapa banyak ucapan kasar yang akan kau lontarkan. Intinya aku akan tetap menemanimu, seburuk apapun kau. Namun jangan paksa aku untuk berdiri disampingmu sambil mendukungmu! Sebab cara pandang kita tidak sejalan! Penilaian kita tidak setara!"
Rasanya percuma Nami menjelaskan lara hatinya pada Stevan. Bagaimana pun Stevan tidak akan pernah paham apa yang ia rasakan. Lebih baik Nami segera mengusirnya dari sini.
Tanpa sepatah katapun, jari jemari Nami meraih roti itu. Pelan, ia memakannya tanpa menatap ke arah Stevan. Stevan disampingnya dibuat bahagia saat ini. Pada akhirnya Nami memakan makanannya, menikmatinya pelan.
Selang beberapa menit setelahnya, makanan di atas nampan itu habis bersih. Stevan membereskan wadah-wadah itu, ia berdiri mendekati pintu sel lalu menariknya, membawa tubuhnya keluar dari dalam sel Nami.
__ADS_1
Merasa situasi sudah aman, Nami kembali melanjutkan aktivitasnya. Menyusun segala rencananya dengan baik dan benar. Ada dua manusia layaknya robot yang harus ia manfaatkan disini. Nami tidak akan menyia-nyiakan kesempatan itu.
Alasan dari hancurnya hubungan Brian dan Bella nantinya adalah dua manusia itu. Bak sebuah dalang Nami akan mengendalikan. mereka dari dalam jeruji besi tempat dimana dirinya berada saat ini. Sampai kapan pun Nami tidak akan pernah membiarkan Brian tenang.
________
Malam ini tepat dibawah cahaya purnama Brian dan Bella masih terjaga. Brian memeluk istrinya itu dari belakang, dagunya menopang manja di bahu Bella. Keduanya menatap langit malam ini.
"Indah ya?" Ucap Bella, Brian menanggapi hal itu dengan anggukan kepala.
"Iya sayang, ini indah!"
"Hmmm... aku merindukan Saporo rasanya!" Ucapan Bella membuat Brian tersenyum disana.
Jepang memang indah, disanalah tempat Brian menemukan Bella. Disana adalah tempat Brian untuk pertama kalinya tunduk, pada seorang gadis yang sedang ia peluk saat ini.
Gadus yang sedang padanya membawa satu tantangan. Satu tantangan dengan durasi satu bulan. Belum sempat waktu itu habis, Brian sudah dibuat bertekuk lutut rasanya pada seorang Bella.
Untuk pertama kalinya seorang mafia berat menarik pelatuk pistolnya. Seorang mafia dibuat bungkam ketika gadis ini berdiri di hadapannya.
"Aku menyadari ratuku ini istimewa!" Lirih Brian.
"Kau menyebutku ratu?"
"Tentu saja, wanita ini mengalahkan diriku yang dipenuhi dendam. Wanita ini sabar menuntunku ke arah cahaya kehidupan. Aku bangga memilikimu sayang!"
Bella merasakan ucapan yang baru saja Brian lontarkan itu indah, begitu tulus rasanya. Bella berbalik ke menghadap Brian kali ini, ia mengalungkan kedua tangannya pada Brian. Tak lama Bella sedikit menjinjit mencoba menyamai tinggi wajah Brian.
Cuppppp
Satu ciuman lembut Bella berikan pada suaminya malam ini. Brian membalas ciuman itu lembut. Dibawah cahaya rembulan, pagutan demi pagutan terlaksana begitu syahdu.
Ditengah pergulatan panas keduanya, dering ponsel di laci meja Bella sejenak membuatnya teralih. Bella mendorong pelan tubuh Brian, hal itu membuat Brian berguling kesamping.
"Siapa pengganggu malam ini?" Gerutu Brian tak terima. Bella duduk di tepi ranjang, membuka lacinya lalu mengambil ponselnya.
Disana tertera nama penelpon itu adalah Stevan, adiknya sendiri.
"Adikku!" Ucap Bella pada Brian.
Namun pria itu sama sekali tak menggubris, setelah mendengus kesal Pria itu berbalik kesamping memunggungi Bella. Bella hanya terkekeh melihat tingkah laku Brian.
"Hunny, kau tak pantas berprilaku semacam itu dedapanku! Aku geli melihatnya!"
"Biar saja, adikmu selalu saja mengganggu momen-momen indah kita sayang!"
"Mungkin ini telepon penting, aku akan mengangkatnya sebentar!"
Ucapan Bella membuat Brian mengangguk. Pria itu masih membelakanginya, ia sama sekali tak menatap Bella.
"Hallo?" Suara Bella mulai mengawali panggilannya.
"*Kakak, kenapa kau lama sekali mengangkatnya?"
"Stevan, ini sudah malam tentu saja aku terlelap. Dan kau membangunkan diriku malam ini!"
"Hahahaha... maafkan aku kakak, tapi aku harus mengatakan ini padamu dan Brian tentunya*!"
__ADS_1
Sebutan nama Brian disana membuat Bella melirik ke arah suaminya. Rupanya pria itu sudah terlelap, sepertinya ia sangat kelelahan.
"*Sepertinya dia sudah tertidur!"
"Bangunkan dia kakak!"
"Tidak, ada apa kau bisa mengatakannya padaku bukan? Besok pagi aku pasti akan menyampaikannya pada Brian, kau tenang saja!"
"Hmm... Baiklah aku akan mengatakannya padamu."
"Iya?"
"Kakak, perihal pelaku yang akan mencelakaimu itu. Dia sudah tertangkap*!"
Perasaan lega juga rasa syukur Bella ucapkan saat ini. Satu ancaman sudah di amankan, rasanya ketenangan dalam hidupnya akan kembali mulai saat ini.
"*Benarkah? Siapa dia? Apakah kau mengenal orang itu?"
"Aku mengenalnya dengan sangat baik*!"
Bella mengerutkan keningnya, jika Stevan mengenalnya dengan sangat baik lantas mengapa pencarian atas dirinya membutuhkan waktu yang panjang.
Adiknya beserta ayahnya adalah seorang mata yang dikenal cepat dalam menangani tiap kasus. Namun untuk satu kasus ini, Stevan membutuhkan waktu bahkan berbulan-bulan lamanya.
"*Siapa dia?"
"Nami kakak*!"
Rupanya gadis itu lagi biang masalahnya. Namun mengapa target pelenyapannya jadi mengarah padanya. Bahkan telapak tangan Bella bersih, ia sama sekali tak melakukan tindakan keji disini.
"*Mengapa ia jadi gelap mata padaku, Stev?"
"Dia bilang siapapun yang menghalangi rencana akan di singkirkan!"
"Mengapa kau tidak mencurigainya?"
"Brian sudah mencurigai Nami, namun aku mengatakan padanya bahwa dia tidak mungkin tega melakukan hal itu padamu. Aku menepis segala tuduhan yang Brian lontarkan tentang Nami*."
Dari penjelasan itu Bella menemukan satu fakta. Adiknya ini mencintai Nami, itulah mengapa hatinya tak terima ketika Brian menuduh Nami.
"*Kau mencintainya?" Tanya Bella penasaran.
"Bagaimana aku tidak jatuh hati padanya kakak? Dia menolongku ketika aku hampir sekarat dulu. Dia yang datang padaku menawarkan berbagai macam solusi juga bantuan. Adikmu ini tidak akan hidup, apabila Nami tidak datang saat itu untukku disana. Menolong tubuhku yang berlumuran darah tergeletak atas tanah, teriakan lirihku hanya didengar olehnya."
"Aku memahami apa yang kau rasakan, adikku! Aku berterima kasih pada Nami, namun aku juga ingin dia dihukum. Sebab kesalahannya sudah fatal!"
"Hmmm iya, kasus pencurian mobil juga membunuh pemiliknya. Aku tidak bisa membayangkan hukuman apa yang akan pengadilan berikan untuknya. Juga, aku belum sepenuhnya paham tentang hukum di Perancis."
"Tugasmu adalah menganalisa kasus dan mencari buktinya. Soal pengadilan, biarlah pengacara dan hakim yang menangani."
"Kau benar kak! Terima kasih sudah mendengarkan ocehan ku malam ini. Aku akan menutup teleponnya, selamat malam, kakak!"
"Selamat malam, Stevan*!"
Tutttttt
Panggilan beberapa menit itupun berakhir. Berakhirnya panggilan itu membawa Bella kembali berbaring di atas ranjang, lebih baik ia memejamkan mata saja malam ini.
__ADS_1
...Melihat mimpi kita terwujud itu memang menyenangkan tapi bisa hidup untuk hari ini pun itu sudah cukup...