Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Pemancar


__ADS_3

...Satu-satunya penjara nyata adalah ketakutan, dan satu-satunya kebebasan nyata adalah kebebasan dari rasa takut...


...Kita harus bebas bukan karena kita menuntut kebebasan, tapi karena kita mempraktikkannya...


Drttttttttt


Drttttttttt


Dering ponsel dibatas laci sedikit mengusik Bella masih terlelap. Semalam ia tak pulang, mungkin itu adalah panggilan dari Stevan untuknya. Bella masih nyaman berada didalam dekapan Brian saat ini.


Namun bunyi ponsel yang kunjung berhenti itu memaksanya untuk membuka mata. Bella mengerjap mencoba mengumpulkan kesadarannya. Bella menjauhkan tubuhnya dari Brian sambil menarik selimutnya. Olahraga semalam membuatnya tak memakai apapun di balik selimut itu.


Tangannya merayap di atas laci mengambil ponselnya. Bella tersenyum melihat nama siapa yang tertera disana. Itu adalah panggilan dari adiknya, Stevan. Bella menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang lalu mengangkat panggilan itu.


"Ya Stev?" Tanya Bella mengawali.


"Kakak kau dimana saja? Aku mencarinya semalam! Entah sudah berapa ratus kali aku menghubungimu kakak!" Ucap Stevan diseberang sana khawatir.


Bella terkekeh mendengar itu. Rasanya tak mungkin baginya menjawab apa saja yang sudah terjadi padanya semalam. Ini adalah privasi, Bella harus mencari alasan lain untuk menjawab adiknya itu.


"Aku pergi mengambil barang di rumah Brian!" Jawab Bella, hal itu membuat Stevan sedikit terkejut.


"Kenapa kau kesana?" Tanya Stevan padanya.


"Aku mengambil barang Stev!" Jawab Bella lagi.


"Baiklah kakak, sepertinya aku harus memberitahukan satu hal. Sepatu pemancar yang kau berikan pada Reiner. Pagi ini ada pergerakan, ia menuju gedung terbengkalai. Itu adalah gedung yang dulunya menyekapmu!"


Bella mendengar tiap apa yang adiknya itu katakan. Pemancar itu tidak hanya menunjukan lokasi, namun ia juga dapat merekam tiap pembicaraan yang terjadi disana.


"Tetapi sejauh ini masih belum ada percakapan! Sepertinya Reiner memang akan menemui seseorang disini."


"Baguslah kalau begitu! Bagaimana dengan rencanamu?"


"Tentu saja lancar sekali kakak! Asalkan target sudah ditemukan, menjebak mereka adalah hal yang mudah. Peretasan yang di lakukan anak buah ku berhasil. Aku akan pergi ke kantor sebentar lagi untuk mengeceknya. Sepertinya kita akan kedatangan banyak berita baik."


"Benar, dan aku tak sabar menantikannya!"

__ADS_1


"Baiklah kak, cepatlah pulang! Jangan berlama-lama disana. Bedebah itu pasti akan menemuimu nantinya!"


"Siap, aku akan pulang sebentar lagi!"


Tuttttt


Bella mengakhiri pembicaraannya bersama adiknya. Sepertinya waktunya bersama Brian sudah cukup. Saat ini waktunya menjalankan tugas. Bella mengecup sekilas wajah Brian yang terlelap.


"Aku pergi dulu sayang!" Ucap Bella dalam hatinya.


Bella pergi masuk kedalam kamar mandi. Selang beberapa menit, ia pun keluar dari dalam kamar mandi. Sambil memperhatikan Brian disana, Bella mengambil beberapa barangnya. Lalu mengecup lagi wajah suaminya yang masih terlelap disana.


Bella keluar dari dalam kamar meninggalkan Brian Seorang diri di kamarnya. Kediamannya cukup sepi sudah sejak semalam, sejak pertama kali kaki mereka berpijak kesini.


Brian meliburkan beberapa pegawai disana memang. Ia sengaja mengatur segalanya agar momen antara dirinya dan Bella tidak akan terganggu.


_______


"Ayo, sebenarnya kau ini memiliki rencana semacam apa?" Lirih Stevan sambil memperhatikan GPS dalam laptopnya.


Seperti yang dikatakan Stevan tadi. Reiner sudah memakai sepatu yang Bella berikan. Saat ini pemancar itu memberitahu lokasi Reiner pada Stevan dalam apartemennya.


"Kau sudah lama menungguku?"


Tak lama suara wanita mulai terdengar dalam pembicaraan mereka. Sayangnya alat pemancar hanya mampu merekam suara saja. Tidak dengan gambar ataupun perekam Vidio.


"Suara ini, suara Nami!" Lirih Stevan.


Ia sangat mengenali suara wanita itu. Ini adalah milik Nami, Stevan yakin sekali.


"Ya aku sudah cukup lama menunggumu, dan ini sudah hampir lima belas menit." Ucap Reiner.


"Kalau begitu katakan padaku, sejauh mana perkembangannya. Bagaimana, apakah Bella sudah mencintaimu?"


"Entahlah aku tak tau, namun bersamaku dia selalu mengulum senyum."


"Bukan berarti tandanya dia mencintaimu bukan?"

__ADS_1


"Sepertinya kita harus membunuh Brian!"


"Hah? Kau gila ya? Bukankah rencanamu sudah berhasil. Lantas mengapa kau ingin mengakhiri nyawa Brian sekarang?"


"Kau lihat sendiri, Bella masih belum mampu mencintaimu sebab Brian masih hidup. Jika dia mati, maka Bella akan melupakannya cepat atau lambat. Namun jika dia hidup, maka kau pun tidak akan mampu mendapatkan Bella. Itu hanya akan menjadi angan-angan semata."


Stevan membulatkan matanya mendengar apa yang sedang Reiner dan Nami rencanakan. Sebuah pembunuhan dengan alat-alat canggih mulai dibicarakan disana.


Rasanya ini sudah terlalu jauh. Kegilaan Nami sudah tak tertolong. Stevan harus segera menangkapnya. Namun ini hanyalah rekaman suara, bukti semacam ini tidak lah kuat.


Stevan kembali teringat pada burung merpati bersama dengan Kameranya. Stevan harus mengambil data peretasan dari anak buahnya. Lalu kembali merancang satu rencana besar yang akan langsung menangkap Nami juga para sekongkolnya.


"Ini diluar dugaanku! Kupikir dia hanya akan bertindak sampai sini. Nyatanya, ia masih ingin melenyapkan Brian. Tidak Nami, kau lebih baik mendekam didalam penjara. Daripada melakukan dosa disini." Lirih Stevan.


Stevan menutup kembali laptopnya. Ia yang baru saja bangun itu bangkit, berjalan ke arah lemari. Disana ia mengambil jas kesayangannya lalu memakainya. Sambil masih terbatuk, Stevan pun memutuskan untuk pergi ke kantornya.


Melihat juga mengambil hasil peretasan yang sudah didapatkan anak buahnya. Ketika Stevan membuka pintu apartemennya, disana terlihat Bella sedang berdiri.


"Kau akan kemana?" Tanya Bella padanya, pertanyaan itu membuat Stevan tersenyum.


"Sudah kubilang aku akan ke kantor bukan, kakak!" Ucap Stevan padanya.


"Maukah kau buatkan sarapan?" Tanya Bella menawari.


"Tidak perlu kakak, lagi pula aku harus segera bergegas. Ini demi dirimu juga calon keponakanku. Aku harus memberimu kebebasan, agar kau bisa hidup seperti orang-orang lain. Memang resiko mencintai seorang mafia seperti Brian! Tapi aku bangga padamu, sebab kau berpegang teguh pada hatimu. Bahwa Brian tidak bersalah, dan itu benar. Tuduhanku padanya harus ditebus, maka kakak duduk atau istirahatlah disini. Berita-berita baik akan kubawakan." Ujar Stevan ia pun pergi dari hadapan Bella saat itu juga.


Bella menatap punggung adiknya yang mulai menjauh dari tempatnya berada. Tak lama setelah tubuh Stevan benar-benar menghilang, Bella masuk kedalam apartemennya.


Bella menaruh beberapa barangnya lalu ia menuju ke arah kamar Stevan. Jika ia lelah, ia pasti akan berbaring di kamar itu.


Sebuah laptop dengan Earphone berada di atas ranjangnya. Bella yang merasa penasaran pun membukanya. Dirinya dibuat terkejut akan rekaman yang sedang ia dengarkan.


...Aku bukan burung, dan tidak ada jaring yang menjeratku...


...Aku adalah manusia bebas dengan kemauan sendiri...


...Kebebasan tidak berharga jika tidak menyertakan kebebasan untuk melakukan kesalahan...

__ADS_1


__ADS_2