Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Sebuah Fakta Lain


__ADS_3

...Hari esok pasti ada, tetapi esok belum pasti untuk kita...


...Ingat-ingatlah untuk menghadapi esok yang pastikan datang...


...Bukannya hati ini tak sakit dan bukannya hati ini tak hancur, bukan pula hati ini tak perih, namun hanya kepasrahan yang mengiringi ...


___________


.


Eddie baru saja menuruni pesawat. Ia baru sampai kembali ke Perancis, kerinduan hatinya pada kakaknya sudah tidak terbendung ditambah ia mendengar kabar langsung dari Bella bahwa sebentar lagi mereka akan memiliki seorang pewaris.


Sambil menggenggam tangan Angela, Eddie tersenyum keluar dari Bandara. Beberapa Paparazi turun berbondong-bondong memotretnya bahkan ada yang hendak mendekatinya. Namun karena dia adalah Tuan besar, salah satu miliarder disini bodyguard miliknya menghalaunya.


"Kenapa selalu seramai ini ya?" Tanya Angela ia sedikit bosan dengan kehebohan juga ketenaran yang ia dapatkan.


"Kau harus terbiasa dengan ini Sayang, sebab kau menikahi seorang miliarder sepertiku!" Eddie merangkul Angela sambil membanggakan dirinya.


"Ya tetapi rasanya seperti tidak bebas, Stevan!" Jawab Angela, sekilas Eddie mencium pipi Angela hal itu membuat si empunya bersemu.


"Mau bagaimana lagi? Popularitas kita sudah meroket bahkan seluruh Perancis tau siapakah pemilik Kaneki Corps."


"Aku merindukan bercengkrama dengan kakak ipar!" Ucapan Angela membuat Eddie tersenyum.


"Banyak hadiah yang kubawa untuk mereka kemari. Juga, katanya Bella sedang hamil?" Angela tersenyum mendengar itu.


"Ya, aku juga membelikan beberapa keperluan bayi hahaha.. Ku harap kakak ipar menyukainya!"


Mereka mengobrol sampai kedepan pintu gerbang bandara. Terlihat disana beberapa bodyguard mereka berdiri dihadapan Limosin. Penjemputan pribadi dan ini sudah pasti dan biasa. Ketika pintu Limosin dibukakan, mereka masuk kedalam.


"Themo?" Ucap Eddie heran ketika melihat Themo yang sudah duduk didalam Limosin sambil menatapnya.


"Wah ada apa kau kemari? Apa kau ingin menagih oleh-oleh dari kami, Brother?" Tanya Eddie lagi, mereka berdua sudah duduk didalam.


"Raut wajahmu itu kenapa?" Tanya Angela khawatir. Pasalnya raut wajah pria itu begitu sedih seperti sedang menyimpan duka yang paling perih.


"Tuan, ada yang harus kubicarakan padamu! Tentang kakakmu!"


Jawaban dari Themo sekitar membuat Eddie berhenti tersenyum. Raut wajah itu menggambarkan bahwa hal tentang itu tidak akan baik.


"Ada apa lagi sekarang?" Tanya Eddie serius padanya, Angela disampingnya juga ikut mendengarkan perihal apa yang akan Themo katakan tentang Brian.


"Beberapa hari yang lalu ada yang menjebaknya. Ia dijebak tidur dengan seorang wanita, sebab wanita itu mencampurkan obat perangsang pada makanannya dengan dosis tinggi."


Penjelasan utama, pembukaan itu membuat Eddie juga Angela saling membulatkan mata sekilas mereka saling tatap lalu kembali menatap ke arah Themo, mencoba mendengarkan hal pahit apalagi yang akan Themo lontarkan.


"Ya Tuhan, ini masalah apa lagi? Siapa perempuan durjana yang datang membuat konspirasi ini?" Tanya Eddie penasaran.


"Dia adalah Tasya, Tuan! Gadis itu nekad berbuat demikian sebab dia sangat mencintai Tetua!"


"Kegilaannya ini patut diberi pelajaran!"


Jawaban itu membuat Themo menunduk. Ia ingat bahwa jauh dari sini kira-kira membutuhkan waktu dua jam perjalanan. Brian sedang menyekap Nami bertujuan sebagai hukuman untuknya.


Eddie memperhatikan raut wajah Themo yang mendadak berubah lagi. Sepertinya ada masalah lain disini. Eddie menepuk bahu kawannya itu, itu membuat Themo mendongak.


"Aku tidak tau harus apa lagi Tuan, aku sudah melarang Tetua! Namun dia menyekap Tasya di kediamannya yang jauh."


Baik Eddie juga Angela mereka terkejut. Apa yang dilakukan Brian, ia menyekap seorang wanita. Sungguh Eddie tidak akan membiarkan itu terjadi. Sebesar apapun masalahnya jangan libatkan emosi didalam sana. Sebab emosi bisa menghancurkan segalanya, juga emosi mampu mengacaukan apapun.


Eddie memerintahkan supir untuk membawanya kerumah Brian yang jauh. Supir sudah tau tempat itu, mereka pun berbalik arah menjauhi pusat kota menuju ke arah tempat yang jauh dari keramaian kota Paris.

__ADS_1


________


Selama dua Minggu ini bahkan Bella dan Stevan dilibatkan dalam satu pertanyaan. Satu pertanyaan yang dalam kepala mereka. Bebasnya Nami dari dalam penjara sama sekali tak menyulut masalah baru.


Saat ini Bella sedang berada didalam toko buku Reiner. Mereka berdua sedang akrab berbincang, mereka sedang mendiskusikan perihal buku. Perihal novel yang akan Bella rilis setelah ini.


Sepasang mata dari seberang toko buku memperhatikan mereka. Seorang Pria bertubuh kekar dengan jaket Hoodie. Hatinya berkecamuk rasanya melihat Bella bersama pria lain.


Pria ini adalah Brian. Dengan balutan Hoodie juga kacamata ia sedang memantau Bella sejak tadi. Sakit rasanya sungguh, bahkan Bella mengacuhkannya total. Segala pesan juga panggilan sama sekali tidak di jawabnya.


Disana Brian tetap menunggu wanita itu. Hari ini mereka harus bicara, tak peduli apa yang akan Bella katakan padanya. Atau makian apa yang akan Bella lontarkan, sungguh ia tak peduli.


Sedangkan dua jam perjalanan di tempat lain kini Eddie, Themo dan Angela sampai ke kediaman itu. Mereka masuk kedalam, hanya ada beberapa bodyguard disana. Tidak cukup banyak.


Ketika Themo akan pergi ke rubanah, Rey datang menghampirinya.


"Themo, Tuan tidak ada disini!" Ucapan itu semakin membuat Eddie kalut rasanya. Namun saat ini yang terpenting adalah Tasya yang sedang di rawan olehnya.


"Apakah gadis itu baik-baik saja?" Tanya Eddie padanya.


"Kalian bisa melihatnya, mari!" Rey menuntun Eddie ke arah rubanah. Disana ada satu ruangan dengan pintu besi.


Rey mengeluarkan kuncinya lalu membukanya. Berapa mirisnya pemandangan disana. Seorang gadis berdiri dengan kedua tangan juga kaki yang terikat. Melihat kedatangan Tuannya yang lain, Tasya disana berontak berusaha menyampaikan sesuatu namun mulutnya tersumpal lilitan kain.


"Kakak, apa yang kau lakukan?" Pikir Eddie tak percaya.


"Apakah sebaiknya kita lepaskan Disa Tuan?" Tanya Rey padanya, namun Eddie menggeleng.


"Lepaskan ikatannya, tapi biarkan dia tetap disini. Jangan biarkan dia kabur! Sebab kita juga pasti aka membutuhkannya nanti. Sudah berapa lama dia disini?" Tanya Eddie pada Rey.


"Sekitar dua Minggu!" Jawab Themo disamping Rey. Eddie manggut-manggut, saat ini pikirannya hanya satu dimana Brian berada.


Themo mengatakan bahwa Brian bersama gadis ini melakukan hubungan terlarang.


"Ada apa sayang?" Tanya Eddie pada istrinya.


"Hunny, aku harus memeriksanya. Kesalahan atas itu jika membuahkan hasil maka akan terjadi masalah yang sangat runyam."


Eddie mengerti apa yang Angela maksud disini. Ketika Rey akan membuka ikatannya, Eddie melarangnya.


"Kita akan tinggalkan Angela disini bersamanya selama setengah jam! Lebih baik para lelaki keluar dari sini!" Ucap Eddie.


"Sayang, bisa tolong ambilkan beberapa barangku didalam Limosin? Aku selalu menyimpannya di bagasi. Keperluan medis?"


Ucap Angela sambil menatap ke arah Eddie, Pria itu tersenyum lalu mengangguk. Segera ia keluar dari sana mengambil barang yang Angela maksud lalu kembali masuk kedalam rubanah.


Eddie menyerahkan koper kecil itu pada Angela, lalu ia pun pergi dari ruangan itu. Mereka para lelaki menunggu tepat di depan ruangan.


______


"Aku pulang dulu ya!" Ucap Bella pada Reiner.


Rasanya sudah cukup bagi Bella berkunjung di toko buku ini. Ia kemari diantar oleh Stevan tadi sebelum berangkat bekerja.


"Apakah harus ku antar kau pulang Bella?"


"Tidak perlu, aku bisa naik bus atau taxi saja! Terima kasih ya, aku menikmati kunjunganku kemari dan itu selalu."


Reiner tersenyum mendengar itu, bahkan keakraban ini membuatnya berani menghilangkan kata nona dari nama Bella. Memang itu atas permintaan Bella, sebab ia risih jika ada embel-embel nona didepan namanya.


Mendengar bahwa Bella puas datang kesana, Reiner sangat bahagia. Ketertarikannya pada Bella membuatnya berani melakukan apapun, asalkan Bella kembali tersenyum.

__ADS_1


"Ya sudah, terima kasih sekali lagi ya!" Ucap Bella lagi, kali ini ia berdiri memberi salam sedikit lalu melambaikan tangan pergi.


Perginya Bella dari sana membuat Brian yang sejak tadi berada diseberang toko ikut bangkit. Dari belakang ia mulai mengikuti Bella. Perjalanan dari toko ke halte bus cukup memakan waktu sepuluh menit.


Bella berhenti sejenak hal itu membuat Brian mengumpat lalu memperhatikannya dari tempat persembunyiannya. Bella tak berbalik namun ia tersenyum.


Sisi detektifnya tau bahwa ia sedang diikuti. Sengaja Bella mengarahkan langkahnya melewati gang sempit, merasa itu adalah tempat yang pas Brian mempercepat langkahnya.


Greppppp


Brian menarik pergelangan tangan Bella. Sontak wanita itu memberi perlawanan disana, sebuah perlawanan yang Brian ajarkan padanya.


Brian sama sekali tak melawan serangan itu ia menerima seluruh perlawanan itu membiarkan tubuhnya jatuh ke tanah, hal itu juga membuat kacamatanya terlepas.


"Ughhh..."


Brian meringis kesakitan, namun tak lama ia tersenyum. Tak sia-sia rasanya mengajarkan pada Bella teknik pelumpuhan. Ini lumayan untuk pria sebesar dirinya.


"Brian?" Ucap Bella terkejut. Brian mendongak mencoba menatap istrinya itu.


"Mengapa kau kemari?"' Tanya Bella padanya sambil mengulurkan tangannya. Brian menyambut uluran tangan itu lalu berdiri.


"Sayang aku .." Bella menempatkan hari telunjuknya pada bibir Brian mencoba menyuruhnya berhenti.


"Aku tidak ingin mendengar apapun! Kita sudah selesai disini!" Ucapan itu membuat Brian membulatkan matanya. Bagaimana semudah itu Bella mengatakan bahwa hubungan mereka usai.


"Kau menyiksaku sayang sungguh! Kumohon dengarkan penjelasannya, aku tidak bersalah disini!" Pekik Brian.


Disana Bella merasakan itu. Seluruh perasaan pahit ketika tak ada yang mendengarkan, ketika dunia memilih menutup mata dan tak percaya atas seluruh penjelasan nyata yang benar. Sebab bukti yang hanya berasal dari perkataan itu kurang kuat.


"Aku tau kau pun tidak mungkin mengkhianatiku! Tapi aku perlu bukti untuk mengumpulkan kebenaran. Aku memahami ini berkaitan dengan Nami, dia yang memiliki akses sebesar itu pada siber membuat aku tak mampu melakukan apapun." Batin Bella.


"Sudah cukup ya, kumohon tolong tinggalkan aku sendiri!" Bella mengatupkan tangannya pada dihadapan Brian, mencoba membuat Brian mengerti disana.


Ketika Bella memunggunginya, Brian mendekat lalu memeluknya. Sejenak Bella membiarkan itu, ia merasakan tubuh Prianya bergetar. Bahkan Bella juga mendengar suara isak tangis disana.


"Kau membuatku hampir mati rasanya! Mengapa kau tega menyiksaku semacam ini, jika kau tau aku bahkan sulit bernafas tanpamu di sisiku. Katakan apa yang membuatmu tega melakukan ini?" Lirih Brian.


Suara itu begitu menyiksa hati Bella rasanya. Suara ketidakberdayaan, namun Bella harus tetap menolak ini semua. Ini demi hubungan mereka.


Sekilas Bella memperhatikan ada CCTV di atas gedung ini, Bella berbalik lalu melepaskan pelukan Brian ia menatap Brian sekarang. Sejujurnya ia juga sedang menahan air matanya untuk tidak jatuh.


"Perasaanku hilang padamu ketika kau berbuat kesalahan fatal dengannya. Dan mulai saat itu, hubungan kita berakhir. Aku ingin kita berjalan di jalan kita masing-masing. Sebab aku sudah tidak mencintaimu lagi!"


Deggggg


Gila, rasanya bagaikan di hujani jutaan pisau yang menusuk jantungnya. Brian mencoba menguatkan hatinya disana, juga Bella yang sebenarnya sulit mengutarakan itu. Sebab ucapannya bertentangan dengan hatinya. Bella pergi disana meninggalkan Brian yang mematung tak berdaya dengan hati yang terluka.


"Maaf Hunny!" Lirih Bella dalam hatinya.


Keduanya sama-sama sakit. Keduanya sama-sama menahan lara yang teramat perih rasanya.


_________


...Orang menangis bukan karena mereka lemah...


...Itu karena mereka terlalu tangguh untuk waktu yang lama...


...Tuhan, kumohon berikan kesabaran untuk menghadapi sakit hati yang amat mendalam ini dan rasa sedih yang amat mendalam ini...


...Orang-orang tidak menyadari ini, kesepian selalu dianggap remeh...

__ADS_1


__ADS_2