Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Wanitaku,Hatiku, Nyawaku


__ADS_3

...Dulu salah satu rusukku memilih pergi...


...Lalu ia masuk kedalam raga lain...


...Raga itu adalah, Kamu.......


...Bagian dari diriku yang hilang...


...Lalu kutemukan lagi...


Dengan tertatih Brian mulai bangkit dari simpuhannya, Bella sedikit membantunya disini mencoba menopang berat tubuh kekasihnya. Ketika Brian sudah mulai berdiri ia menarik tangannya dari diri Bella, berat pasti menopang tubuhnya nanti, itulah mengapa Brian menariknya tak memperbolehkan kekasihnya itu menopangnya.


"Kenapa?" Tanya Bella, namun Brian hanya menggeleng.


"Kau terlalu lemah, aku takut kau nanti malah jatuh." Ujar Brian, ucapan itu seakan meremehkan. Bella benci sekali pada perkataan itu, sudah babak belur namun Brian masih sempat membuatnya kesal.


"Ya sudah, kau jalan saja sendiri!" Ketus Bella berancang-ancang pergi.


Suara helikopter dari langit mulai mendekat, Bella menghentikan aksinya itu. Sejenak ia mendongak mencari keberadaan helikopter itu, dari arah barat terlihat tiga helikopter menuju ke arahnya. Brian tersenyum menatap Bella yang sedang memandangi helikopter.


"Itu untuk apa?" Tanya Bella padanya, ada ide licik sekilas terbesit dalam kepala Brian.


"Sayang, sepertinya itu milik tentara Amerika." Ujar Brian panik, begitupun dengan Bella. Mendengar nama tentara Amerika disebut kekhawatiran itu menjalar memenuhi relung hatinya. Ia takut mereka akan membawa kekasihnya itu pergi darinya.


"Hunny ayo!!!" Ucap Bella panik seraya mendorong-dorong tubuh Brian ke arah pintu turun gedung. Brian berusaha menahan tawanya disitu, namun ia tak bergeming disana. Ia hanya mematung menikmati segala kekhawatiran yang ada pada Bella.


"Hun, kau ini cepatlah!" Pekik Bella lagi sekarang suaranya bergetar. Ia takut, sangking takutnya sampai meneteskan air mata dan menangis. Rasanya sudah cukup bagi Brian melihat reaksi ini. Brian berbalik menghadapnya mencengkram lembut kedua tangan yang berusaha mendorongnya itu.


Bella heran pada tindakan kekasihnya ini, di atas helikopter itu semakin mendekat ke arah mereka. Lalu, mengapa Brian bisa sesantai ini. Apa ia tidak takut pada kematian?


"Kau begitu takut kehilangan diriku ya?" Ujar Brian mendekatkan wajahnya ke arah Bella, mencoba mempersempit jarak pandang antara mereka, mematri kecantikan itu dengan seksama.


Degggg


Sial sekali rasanya bagi Bella ada di posisi ini, mengapa jarak mereka dekat sekali. Detak jantungnya begitu cepat, rasanya mungkin saat ini wajahnya sedang memerah. Mungkin biasanya Bella lah yang memulai hal ini lebih dulu, tapi ketika Brian bersikap semanis ini mengapa jantungnya selalu saja berdebar seperti ini.


"Sayang, aku mencintaimu." Ucap Brian, astaga meleleh sekali rasanya mendengar kalimat itu dari lisannya. Rasanya segala sifat menyebalkan yang ada padanya hilang begitu saja, ketika mengumbar kalimat sakral itu padanya.

__ADS_1


"Hun, ayo kita turun!" Ucap Bella beranjak, namun Brian menahannya.


"Jangan menghindari ku, helikopter itu bukan milik tentara Amerika. Itu pasukan Elite milik Kaneki. Sekarang hanya tinggal kita berdua disini, aku sudah menyelamatkanmu, aku sudah babak belur. Apakah aku tidak akan mendapatkan hadiah, setelah upayaku ini?" Tanya Brian lembut, Bella menundukkan kepalanya mendengar itu.


"Kau ingin apa?" Tanya Bella.


"Inginku sederhana, Sayang." Jawab Brian.


"Apa itu?" Tanya Bella lagi menatapnya. Bola mata sepasang kekasih ini beradu, di bawah rembulan malam yang cukup cantik. Dengan pemandangan Eiffel sebagai Backgroundnya, mereka berbicara melalui tatapan.


...Cinta terdiri dari satu jiwa yang mendiami dua tubuh...


...Tidak ada batasan untuk kekuatan mencintai...


"Aku ingin kau tetap bersamaku, sampai kita menua. Aku ingin kau menjadi milikku, aku ingin wajah pertama yang ku lihat ketika pagi menjelang adalah dirimu. Aku ingin, aroma masakan milikmu selalu menguar dalam dapurku. Aku ingin, menjadikanmu Ibu dari anak-anakku kelak. Menikahlah denganku, penantian ini sudah cukup panjang. Penantian ini sudah banyak menyita waktu, darah, juga tenaga." Ucap Brian serius, Bella tercengang mendengar itu. Apa ini lamaran kedua? Bukankah manusia ini sudah melamarnya?


"Bukankah kita sudah tunangan Hunny?" Tanya Bella.


"Ya memang, aku ingin besok kita menikah! Segera!" Jawab Brian.


"Hei, kita perlu mengatur banyak hal untuk itu." Ujar Bella, namun Brian menggeleng layaknya seorang anak kecil dihadapan Bella.


Satu tarikan lembut itu membawa Bella masuk kedalam dekapannya. Ada yang aneh disini, sikap macam apakah ini.


"Hun, kau tak apa?" Tanya Bella, namun tak ada jawaban.


"Hunny? Hei!" Tanya Bella lagi seraya menepuk-nepuk pelan punggung Brian.


Ini berat sekali, tubuh kekar itu berat rasanya. Bella bersimpuh tak kuasa menahan berat tubuh kekasihnya. Ketika Bella menjauhkan tubuhnya darinya, samar-samar Brian membuka matanya.


"Sayang, aku lelah." Rengek Brian lalu kembali terlelap.


"Biarkan aku tidur sebentar ya!" Ucap Brian menyamankan dirinya di pangkuan kekasihnya.


"Hun, kita harus turun sekarang. Kau bisa seperti ini nanti kan, lihatlah darah di dahimu masih mengucur. Mari turun, mari temui Angela dan Eddie! Akan ku obati kau disana." Ucap Bella, protes an membuat Brian kesal rasanya. Sebenarnya obatnya sederhana, menaruh kepalanya di atas pangkuan kekasihnya itu sudah cukup. Pening bahkan darah yang mengalir itu, rasanya tak berarti bagi Brian selama Bella berada disisinya.


"Cium aku!" Ucap Brian masih terpejam, Bella membulatkan matanya terkejut mendengar permintaan itu.

__ADS_1


"Kau tak dengar ya? Cium aku sayang!" Ucap Brian lagi.


"Hei, sudah ayolah Hunny kau berdarah!" Ucap Bella yang juga kesal pada kekasihnya itu. Kali ini Brian lebih memilih diam tak menggubris apa yang Bella katakan.


Diam dari kekasihnya itu membuat Bella khawatir, ia menepuk-nepuk pelan wajah kekasihnya mencoba memastikan apakah Brian masih sadar. Melihat tak ada reaksi, Bella mendekatkan kepalanya ke arah jantung kekasihnya. Belum sempat kepalanya sampai disana, Brian mengarahkan kepala itu ke wajahnya. Satu ciuman lembut Brian berikan pada Bella, Bella yang masih terkejut perlahan mulai menikmati apa yang Brian lakukan. Bella memperdalam ciumannya, mulai hari ini tidak akan ada lagi masalah yang menimpa mereka itulah yang ia rasakan saat ini, bebas.


Ketika keduanya mengakhiri ciuman itu keduanya saling tersenyum, tertawa satu sama lain. Entah apa yang mereka tertawakan, tapi mendengar gema suara mereka itu adalah tanda kebahagian suara dari kebebasan dan segala penantian panjang yang terbayar.


***Drepppp


Drepppp


Drepppp***


"Brother!!!" Seru Eddie berlari ke arah mereka, Angela disampingnya yang ikut berlari sambil membawa kotak P3K nya.


Seruan itu menyita perhatian Brian dan Bella, ketika mereka melihat kehadiran siapakah yang datang kemari mereka tersenyum.


"Pertolongan pertama sudah datang." Lirih Brian, Bella tersenyum mendengar itu.


"Kau beruntung sekali di berkahi Eddie dan Angela yang sangat menyayangimu." Ujar Bella seraya mengusap lembut rahang tegas kekasihnya.


"Segalanya akan segera lengkap, jika kau menjadi milikku secepatnya. Tuan Besar ini butuh seorang selir." Ucap Brian, namun Bella tak menjawab itu ia hanya tersenyum lalu mengangguk.


"Kau, bagaimana bisa babak belur?" Pekik Eddie ketika tepat berada dihadapan Brian. Angela yang panik langsung mengeluarkan beberapa alatnya, mencoba memberikan pertolongan pertama disana.


"Kakak ipar, luka ini harus dijahit!" Ucap Angela, Brian hanya mengangguk mendengar itu.


"Bajingan sialan itu dimana?" Tanya Eddie penuh emosi.


"Akan kuceritakan nanti." Jawab Brian.


Jawaban itu menciptakan banyak pertanyaan dalam kepala Eddie, namun ia tak ambil pusing disini.


...Ada kegilaan dalam mencintaimu,...


...kurangnya alasan yang membuatnya terasa begitu sempurna...

__ADS_1


...Suara termanis dari semua suara adalah suara wanita yang kita cintai...


__ADS_2