Jembatan Dosa

Jembatan Dosa
Mencoba Mencari Celah


__ADS_3

...Ingat, ini hanya hari yang buruk, bukan kehidupan yang buruk...


Malam menjelang adalah waktunya bagi Bella untuk sibuk di dapur. Sekalipun ia memiliki banyak pegawai disana, namun untuk suaminya, Bella benar-benar ingin memanjakannya dengan hasil masakannya sendiri.


Steak Wagyu adalah makanan kesukaan Brian. Malam ini Bella sedang sibuk membuat menu itu, sambil melihat resep di ponselnya kedua tangannya dengan cekatan mencampur rempah-rempah, menjadikannya dalam satu wadah mengolahnya.


Dhea disana hanya sebagai pesuruh saja. Ia tidak ikut mengolah, namun ia mengambilkan tiap rempah-rempah atau sesuatu yang Bella butuhkan.


Padahal berulang kali Dhea melarangnya untuk tidak memaksakan diri. Dhea hanya mengkhawatirkan kondisi Bella yang sedang hamil. Ia takut apabila Nyonya ini terlalu letih, maka tak baik untuk calon bayinya.


"Nyonya, padahal kau bisa menyuruhku untuk membuatnya! Mengapa kau repot-repot melakukan ini?" Tanya Dhea bingung.


Wanita ini sekaya ini, hanya tinggal memerintah namun mengapa ia tak melakukan itu.


"Aku ingin melayani suamiku!" Jawab Bella.


"Aku tidak mampu menentang Nyonyaku memang!"


Jawaban Dhea membuat Bella terkekeh. Selang beberapa menit setelah itu, Steak Wagyu buatannya sudah matang. Bella menyajikannya di atas piring.


"Aku tinggal mandi dulu ya!" Ucap Bella sambil melepas celemek nya.


Dhea mengangguk mendengar apa yang Bella katakan. Wanita hamil itu pun bergegas naik ke atas kamarnya untuk membasuh diri.


____________


Jalanan Perancis malam ini cukup padat. Padahal malam sudah menjelang, tak biasanya sepadat ini. Brian terlihat menghela nafas ketika melihat lampu lalu lintas masih tetap merah. Rasanya hampir lima menit ia menunggu, Brian memilih menyandarkan tubuhnya di kursi yang ia duduki menyamankannya.


Mungkin agar tak jenuh menikmati perjalanan, tak ada salahnya jika ia menelpon istrinya.


[Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif]


Tiga kali Brian mencoba menelponnya. Namun rupanya ponsel Bella tidak aktif. Brian hanya tersenyum miring menanggapi itu.


Lampu kembali hijau, Brian menginjak gas mobilnya lalu melaju untuk pulang. Dalam perjalanan pulang hanya ada musik yang menemaninya. Jarak antara markas dan rumahnya cukup memakan waktu sekitar setengah jam.


Ketika setengah jam sudah berlalu, mobilnya kini berhenti tepat di gerbang rumahnya. Para bodyguard dari dalam gerbang mulai membukakan pintu gerbang mereka untuk Brian.


Tuan besar mereka sudah sampai. Brian memarkirkan mobilnya tepat didepan garasi. Namun disana Brian melihat satu mobil asing terparkir. Ketik Brian turun dari dalam mobilnya, Brian mencoba menanyakan perihal mobil siapakah yang sedang singgah dirumahnya.


"Ada siapa didalam?" Tanya Brian pada salah satu pegawainya yang berada di ambang pintu.

__ADS_1


"Itu adik Nyonya, Tuan!" Jawab salah satu pegawai sambil memberi hormat.


"Oh begitu, baiklah..."


Jawab Brian tak masalah. Sempat ia berfikir bahwa itu mobil Reiner. Brian masuk kedalam rumahnya, di ruang tamu sama sekali tak ada siapapun. Ketika kakinya sampai di dapur.


Terlihat Bella, Stevan juga Nami sedang duduk di meja makan. Brian membulatkan matanya ketika melihat kehadiran Nami disana. Terbesit pikiran buruk dalam kepalanya sekarang.


"Hunny, kau sudah pulang?"


Tanya Bella berdiri ketika melihat kedatangan suaminya. Brian hanya tersenyum menanggapi itu. Istrinya itu datang menghampirinya, mengambil tas kerjanya.


"Kau mau langsung makan, atau mungkin mandi saja dulu?" Tanya Bella. Brian menatapnya lalu mencium lembut kening Bella.


"Sayang aku lapar, mungkin aku akan mencuci tangan dulu lalu makan saja!"


Jawab Brian lembut. Bella mengangguk mendengar itu, ia pun menaruh tas suaminya itu sejenak di atas sofa lalu kembali ke meja makan menyiapkan makanan.


"Kakak menu hari ini mewah sekali, Wagyu?" Puji Stevan pada Bella yang sedang menyajikan makanan Brian.


"Tentu saja, aku menyukainya!" Jawab Brian yang baru saja mencuci tangannya.


"Istriku begitu pandai memasaknya, steak Wagyu buatannya adalah yang terbaik menurutku." Puji Brian pada Bella.


Sebelum menyantap itu, netranya beralih ke arah Nami yang juga menatapnya. Brian dengan tatapan curiganya, sedangkan Tasya dengan tatapan tak sukanya.


"Mengapa dia ikut kemari?" Tanya Brian mengalihkan tatapannya ke arah Stevan.


"Mengapa tidak? Niatnya baik!" Jawab Stevan, sambil mengiris daging santapannya.


Brian menaikkan salah satu alisnya lalu menatap ke arah Bella. Istrinya disana hanya tersenyum lalu mengangguk, namun sungguh Brian sama sekali tak mengerti apa maksudnya.


"Apa Sayang?" Tanya Brian mencoba meminta penjelasan pada Bella.


"Hun, dia datang untuk minta maaf padaku! Hanya itu, tak ada yang lain."


Brian tertegun rasanya mendengar apa yang Bella katakan. Nami minta maaf pada Bella. Itu hal yang tak mungkin rasanya bagi Brian.


"Kau minta maaf pada istriku?" Tanya Brian tak percaya.


"Stevan tolong bilang padanya, aku tidak ingin berbicara dengannya." Jawab Nami sambil tetap menikmati makanannya.

__ADS_1


"Sudahlah, dia kesini. bukan untuk menemuimu! Dia hanya ingin bertemu kakakku, jadi diam dan kembalilah makan." Ujar Stevan pada Brian.


"Lalu dia tidak meminta maaf padaku?" Tanya Brian sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Untuk apa? Kau yang melenyapkan keluargaku, sampai mati pun aku tidak memaafkanmu. Aku akan berhenti mengurusi kehidupanmu mulai saat ini!"


Bria tersenyum tipis mendengar apa yang Nami katakan. Sepertinya satu masalah dalam hidupnya sudah hilang satu. Brian mengalihkan pandangannya lagi ke arah Bella. Wanitanya itu hanya minum satu gelas susu malam ini.


"Mengapa kau tak ikut makan sayang?" Tanya Brian padanya.


"Aku sedang ingin es krim sebenarnya, Hunny! Mau kah kau membelikannya?" Tanya Bella padanya dengan wajah memelas.


"Keponakanku yang meminta, kau harus menurutinya! Lekas pergilah kau tinggalkan kami sekarang dan belikan es krim!"


Ujar Stevan sambil menunjuk ke arah Brian. Sedang Brian, ia hanya menghela nafas panjang. Bukan ia tak ingin membelikannya. Namun Bella pun juga butuh asupan.


"Makan dulu ya, Sayang!" Ucap Brian lembut pada Bella.


"Mual..." Rengeknya, Brian mengusap pucuk kepala wanitanya lalu mencubit gemas pipinya.


"Sedikit saja, lima suapan!" Perintah Brian sambil mengiris daging santapannya.


Ketika daging itu sudah berada di garpu, Brian memberikannya pada Bella. Namun wanita hamil itu segera menutup mulutnya sambil menggeleng.


"Aku mau salad buahku saja di lemari es!" Jawab Bella.


Brian tersenyum, ia kembali meletakkan garpu miliknya. Brian berdiri menghampiri lemari es nya. Tepat ketika tubuhnya berdiri disana, Brian membukanya. Sekotak salad buah itu masih tertutup rapat wadahnya. Brian pun mengambilnya.


"Awhh.."


Brian meringis kecil ketika menyentuh wadah itu. Entah mengapa tangannya begitu perih, ketika Brian menarik kembali tangannya. Terlihat jempol miliknya mengeluarkan darah. Memang tak banyak, namun masih perih rasanya.


Brian memperhatikan luka itu sejenak lalu memencetnya. Ah iya mengenali sumber dari luka ini. Ini berasal dari serpihan kaca.


Sejenak netranya menatap ke atas, tepat ke arah CCTV rumahnya. Disana Brian tersenyum. Brian kembali menghampiri meja makan tanpa membawa apapun. Ketika ia berada disana ia menghampiri Stevan, lalu berbisik tepat di telinganya.


Bella dan Nami saling menatap sejenak. Mereka dibuat bingung disini, dua pria di depannya itu terlihat begitu asik mengobrol. Tak lama Brian dan Stevan bangkit dari duduknya.


"Kami ada perlu sebentar, kalian nikmati saja makanan kalian!" Ucap Brian lalu pergi dari sana.


Sebelum pergi, Stevan menghampiri Nami lalu berbisik padanya. Bisikkan itu membuat Nami tersenyum. Stevan pergi menghampiri Brian ketika usai membisiki Nami.

__ADS_1


...Semakin sulit sebuah perjuangan, semakin indah saat saat mencapai kemenangan...


__ADS_2